
Rachel bergerak dalam tidurnya dan menyebut satu nama.
"Jim..." Rachel memanggilnya pelan. Kepalanya yang awalnya terasa sangat berat perlahan terasa ringan dan seolah badannya terasa seringan kapas. Semua rasa sakitnya perlahan lenyap. Seolah-olah ia seperti terlahir kembali.
Rachel membuka matanya dan sedikit memicingkan matanya karena sinar matahari tepat menusuk ke matanya. Rachel menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya menghindari cahaya alih-alih bangun dari tidurnya.
"Apa sinarnya mengganggumu?" tanya seseorang yang dikenalinya. Rachel menyingkirkan tangannya dan menoleh ke samping tempat tidurnya. Jim berdiri di depan pintu sambil bersandar dan tersenyum.
"Jim!" Rachel berlari dan memeluk pria itu yang membuka kedua tangannya dan menangkap tubuh mungil di hadapannya.
"Hei...! Kenapa?" tanya Jim saat mendengar isak tangis dari Rachel.
"Kamu jahat!"
"Apanya?" tanya Jim.
"Eeeh? Bukannya kamu sakit?" tanya Rachel melepas pelukannya.
"Lihat aku, apa aku terlihat sakit?" tanya Jim. Rachel menggeleng dan kembali memeluk Jim.
"Benarkah ini kamu? Kamu baik-baik saja?" tanya Rachel menangkup kedua pipi Jim. Pria itu tersenyum meraih kedua tangan Rachel dan mengecupnya sesaat. Membuat pipi Rachel merona.
"Kamu mengkhawatirkanku?" tanya Jim.
"Tentu saja! terakhir aku melihatmu koma dan..."
"Tenanglah, aku di sini dan baik-baik saja. Ayo sarapan," ajaknya.
"Tapi..."
"Kenapa lagi?"
"Bukannya aku sedang di rumah sakit?" tanya Rachel bingung.
"Ya, itu sebulan yang lalu,"
"Sebulan yang lalu?"
"Iya, apa kamu lupa? Sepertinya kamu lupa, ya sudah ayo kita sarapan dulu," ajak Jim sambil menarik tangan Rachel lalu memaksa menggandengnya.
"Aku membuat sedikit makanan tapi ada yang sedikit gosong, aku harap kamu tidak mempermasalahkannya,"
"Ya nggak dong,"
Mereka sampai di ruang makan dan melihat aneka sarapan diatas meja mambuat perutnya meronta minta di isi.
~kruuuuukkkk
Rachel menunduk sambil menekan perutnya, malu. Apalagi suaranya terdengar oleh Jim, karena ruangan itu sangat hening. Pasti terdengar jelas hingga membuat Jim menahan tawanya. Terlihat dari bahunya yang berguncang dan kedua tangannya menahan perut.
"Kamu menertawakanku!" Rachel memukul lengan Jim.
"Tidak! Kamu itu lucu! ayo makan sebelum..."
~krrruuuuuuuk kkruuk
Kali ini tawa Jim membahana di ruang makan itu, ia tak dapat lagi menahan tawanya.
"Kamu jahat!" Rachel akan kembali ke kamarnya tapi lengannya ditahan oleh Jim.
"Makan dulu! Ayo!" kali ini Jim menuntun Rachel ke kursinya. Mendorong kursi untuk Rachel duduki lalu ia memutari meja untuk duduk di kursinya sendiri.
"Ayo habiskan, maaf ini sedikit gosong tapi lebih baik dari yang lain," kata Jim.
"Terimakasih, lalu yang lain mana?" tanya Rachel.
"Kamu mau yang mana?"
"Maksudku, yang gosong lainnya," kata Rachel. Jim salah tingkah menggaruk kepalanya.
"Jangan dipikirkan," ia tersenyum lalu menyuap banyak makanan ke dalam mulutnya hingga ia tidak bisa bicara.
"Makan pelan-pelan dan secukupnya! Kebiasaan makan sampe penuh gitu mulutnya!" omel Rachel. Lalu ia menggigit roti yang sedikit gosong itu. Jim tersenyum diantara kunyahannya membuat matanya yang sipit seperti tinggal segaris.
Setelah sarapan, keduanya segera bersiap menuju ke rumah orangtua Jim. Sebelum Jim mengajak Rachel piknik mereka akan mampir sebentar.
Sepanjang perjalanan tak henti Jim bersenandung dan tangannya tak pernah lepas dari tangan Rachel. Ia menautkan jari-jari panjangnya ke jari-jari mungil Rachel.
"Bahagia banget," komentar Rachel saat melihat Jim yang terus tersenyum.
"Apa bahagia itu di larang?"
"Tidak! Tapi melihatmu jadi serem, udah over aja itu senyuman dari tadi,"
"Hmmmh..."
"Kenapa? Nggak percaya?" tanya Jim sambil mengecup punggung tangan Rachel.
"Jim! Udah ah! Lagi nyetir jangan aneh-aneh gini!" kata Rachel.
"Tenang aja, pagi ini jalanan sepi,"
"Bukan masalah sepinya tapi tetap harus hati-hati!"
"Iyaaaa... Ini kan hati-hati,"
"Jim!"
"Iya, sebentar doang nggak boleh,"
"Bukan nggak boleh tapi ini di jalan, hati-hati."
"Iyaaaa, cerewet!" kata Jim melirik Rachel.
"Biarin, demi keselamatan kita. Aku nggak mau kita kenapa-kenapa. Aku mau kita selalu gini, sehat-sehat dan menikmati hari sama-sama," kata Rachel sambil tersenyum. Jim juga tersenyum lalu kembali fokus pada jalanan.
Mereka akhirnya sampai di depan gerbang dan mobil memasuki halaman rumah orangtua Jim.
"Wuaaaah sampai juga! Ayo masuk, sarapan sekalian yuk!" ajak Sandra, ibu Jim sambil menggandeng Rachel.
"Kami udah sarapan tante," kata Rachel.
"Tante? Mama... Ih kamu kebiasaan. Udah dibilangin panggil mama," ujar Sandra gemas sambil membawa Rachel ke meja makan. Rachel tersenyum kecut. Jujur saja ia gugup bertemu keluarga Jim.
Jim duduk di samping ayahnya dan mengobrol, sementara itu kakak laki-lakinya baru beranjak dan akan ke kantor. Ia hanya mengangguk sekilas pada Rachel lalu berpamitan pada yang lain.
"Jim! Istrimu ini loh susah dibilangin!"
"Iii... Istri?" tanya Rachel menatap ibunya Jim.
"Kenapa ma?"
"Manggil mama tu tante terus,"
"Yaaa mungkin wajah mama masih kayak tante-tante, bukan kayak mama-mama," jawab Jim tersenyum geli.
"Iiih apaan sih kamu! Ayo Rachel dimakan,"
"Kami udah sarapan tadi ma, maaf," ucap Jim.
"Ooooh... Iya udah gak apa, tapi nanti bawa cemilannya ya, udah mama siapain,"ucap Sandra.
"Oke ma, ya udah kami pamit dulu,"
"Cepet banget sih!"
"Nanti kami datang lagi, mungkin menginap," kata Jim.
"Benar ya? Mama tunggu pokoknya. Awas kalo nggak jadi!" ancam Sandra.
Setelah itu Sandra sibuk membungkus aneka makanan untuk mereka berdua dengan dalih bahwa di tempat piknik tidak ada yang menjual makanan.
Setelah itu mereka pamit dan kembali melanjutkan perjalanan.
"Aku masih bingung," kata Rachel.
"Bingung kenapa?" tanya Jim.
"Kita sudah menikah?" tanya Rachel. Jim tertawa.
"Kamu gimana sih, masa lupa. Kita pengantin baru tepat sesudah kamu sadar dari rumah sakit,"
"Itu artinyaa...."
"Kamu istri aku, aku suami kamu,"
"Bukan..."
"Udah, jangan terlalu memberatkan pikiran kamu. Kita di sini untuk bersantai. Rileks. Oke? Tidurlah, perjalanan masih cukup jauh," Jim mengusap kepala Rachel. Meski masih banyak pertanyaan di kepalanya, Rachel setuju untuk bersantai dan tidur sejenak karena matanya mulai mengantuk.
Jim tersenyum sepanjang jalan. Ini adalah mimpinya, ia ingin selalu bersama dengan Rachel. Ia tak ingin berpisah. Entah bagaimana awalnya hingga ia bisa menyukai Rachel, semua mengalir begitu saja. Jim kembali melajukan mobilnya agar mereka cepat sampai.
Rachel benar-benar tertidur pulas, ia bahkan mengabaikan Jim saat Jim berhenti di sebuah jembatan dan mengajaknya turun. Tapi Rachel hanya membalikkan badannya dan melanjutkan tidur. Jim kembali membiarkan Rachel tidur dan ia mengambil beberapa foto dirinya dan pemandangan sekitar sebelum melanjutkan perjalanannya.