
Rachel bergegas berjalan, napasnya sudah tak beraturan. Ia harus menemui seseorang dan membantunya. Rachel berjalan memasuki sebuah gang perumahan. Ia merutuk menyesali bahwa ia harus berjalan masuk ke gang ini. Padahal lumayan jauh. Mobil yang dikendarai Tania tiba-tiba bannya kempes tak jauh dari gang. Terpaksa Tania menelpon orang bengkel dan ia justru naik taksi untuk pulang. Momen yang pas dimana ia harus berjalan ke rumah seseorang.
Rachel membuka pintu gerbang rumah tersebut lalu berjalan menaiki beberapa anak tangga dan mengetuk pintu dengan keras. Berulang kali ia mengetuk dengan tak sabar. Akhirnya pintu terbuka dengan kasar.
"Siapa sih!" Bram membuka pintu dengan wajah kesal.
"Bram, ayo kita kencan!" kata Rachel dengan cepat. Bukannya merespon ucapan Rachel, pria itu justru menjitak kepala Rachel dengan keras.
"Ogah! Kesambet apa kamu?" tanya Bram sambil masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Rachel.
"Iiih serius Bram!"
"Dua rius! Ogah!" jawab Bram cuek.
"Hiiii pleaseeeee!" Rachel memaksa.
"Duduk!" perintah Bram, Rachel duduk lalu menunggu jawaban Bram. "Ada rencana apa sampe ngajakin aku kencan?" Bram menginterogasi.
"Yaaaa nggak ada, cuma mau ngajak aja," kata Rachel. Bram menarik napasnya dan bersandar ke sofa.
"Hel... "
"Iya... Iya... Ada reuni, tapi aku nggak ada temennya, nggak punya pacar juga. Temenin aku ya, pleaseeee,"
"Nggak mau!"
"Bram, pleaseeee... Disana ada cowokku, ntar aku kenalin!"
"Heh! Repot banget sih! Nanti aku jadi kambing congek! kalo udah ada cowok, ya udah pergi sama dia. Kenapa malah ngelibatin aku?" kata Bram.
"Yaaah kan kamu tahu kalo dia hilang ingatan, ayolah Bram. Aku nggak ada temen!" rengek Rachel.
"Hmmmm..."
"Please Bram, cuma ini kesempatannya," pinta Rachel.
"Iya... Iya... Ntar ditemenin. Tapi sebagai temen, ogah sebagai pacar,"
"Sip! Atur aja, ngaku jadi bapakku juga boleh!" kata Rachel.
"Ngelunjak nih bocah!"
"Eeeh iya, ampuuun... Nggak gitu, janji!" Rachel nyengir lebar sambil mengangkat dua jatinya membentuk tanda V. Rachel terdiam, ia merasa ini seperti De Javu. Rasanya ia pernah mengalami percakapan seperti ini tapi entah kapan, ia tak ingat.
Tak lama Rachel pamit pulang, kali ini ia memesan taksi online. Sesampainya di rumah, Rachel merebahkan dirinya di sofa. Terasa sepi. Biasanya ada Bram, Cecil, Noey sesekali ia ditemani oleh Jim. Tapi sekarang tak ada seorangpun yang menemaninya.
Rachel segera mandi dan menuju dapur untuk masak makan malam. Namun ia lupa, ia tak pernah mengisi kebutuhan dapurnya sejak Cecil pergi. Rachel mengenakan Hoodie-nya lalu berjalan keluar mencari penjual makanan. Sejenak langkahnya terhenti di depan gerbang. Berharap bayangan Jim ada di sana. Tapi taman itu hanya ada beberapa pemuda yang sedang berkumpul.
Rachel memesan nasi goreng dan juga es jeruk di salah satu stand penjual makanan di ujung gang rumahnya. Setelah memesan dan menunggu, akhirnya pesanannya datang. Rachel menyantap makanannya dengan nikmat, karena memang ia sangat lapar.
Saat sedang makan, seorang gadis datang dan duduk di sampingnya sambil tersenyum meminta ijin. Karena meja lain sudah penuh. Rachel mengangguk setelah melihat ke sekelilingnya sudah ramai orang.
Gadis itu sangat cantik. Kulitnya bersih dan sehat seolah kulitnya memancarkan sinar. Saat gadis itu sudah duduk, Rachel melihat dan bisa membayangkan betapa lembut kulitnya.
"Ayo makan! Apa di tubuhku ada sesuatu?" tanyanya tersenyum ramah. Secara otomatis Rachel salah tingkah begitu juga beberapa orang disekitar mereka yang memperhatikan gadis itu.
"Maaf, silahkan makan!" kata Rachel menyuapkan makanan ke mulutnya dan mencoba untuk tidak memperdulikan sekitarnya. Sesekali ia melirik gadis itu yang dengan tenang dan santai menghabiskan makanannya.
"Kamu punya kisah yang belum selesai..." ucap gadis itu sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
"Ha...?" Rachel seperti orang kebingungan
"Kamu... Punya kisah yang belum diselesaikan,"
"Selesaikan kisahmu, seseorang yang lupa masa lalunya harus segera disadarkan dan diingatkan," ucap gadis itu dengan tenang.
"Maksud kamu apa?"
"Jangan pura-pura tidak tahu. Sebenarnya aku membenci tugas ini," ucapnya santai dan meminum minumannya.
"Aku masih nggak ngerti," ujar Rachel.
"Aku hanya mengingatkan, bahwa seseorang yang berarti di hati kamu sekarang tidak baik-baik saja. Dan kamu sebaiknya menemuinya,"
"Maaf tapi kita..."
"Laki-laki itu mungkin ada sedikit ingatan tentang kalian. Dan carilah kesempatan untuk menemuinya," ucap gadis itu lalu ia beranjak pergi. Rachel hanya termenung menatap kepergian gadis itu. Rachel berpikir keras tentang apa yang dimaksud gadis itu. Apa itu tentang Jim? Tapi bagaimana gadis itu tahu tentang dirinya dan Jim? Siapa dia?
Saat Rachel sudah menyadari siapa yang dimaksud, Rachel ingin memanggil gadis itu tapi dia sudah tidak terlihat lagi. Jadi Rachel memutuskan untuk kembali ke rumah dengan kepala yang penuh tanda tanya.
* * *
Rachel berjalan gontai keluar dari rumahnya menuju ke kantor. Hari ini tubuhnya terasa lemas, mungkin karena kurang tidur. Semalaman ia tak bisa tidur memikirkan siapa perempuan yang ditemuinya di tempat makan, memikirkan bahwa ia akan segera bertemu dengan Jim, apa yang harus dikatakannya bila bertemu. Rasa rindu dihatinya sudah menumpuk tapi mengingat Jim yang mungkin saja belum ingat segalanya membuat Rachel kembali lesu.
"Yuk semangat! Lemes banget!" sebuah suara di belakangnya membuat Rachel memutar tubuhnya.
"Andre..." bisik Rachel.
"Kamu kenapa? Lemes gitu..." tanyanya.
"Nggak apa-apa..." Rachel menggeleng pelan.
"Ya udah ayo masuk!" Andre mengajak Rachel menaiki mobilnya. Rachel terdiam sebentar menatap Andre.
"Kenapa?" tanya Andre yang melihat Rachel hanya bergeming dan menatap Andre diam.
""Nggak apa-apa, ayo!" ajak Rachel yang masuk ke mobil Andre. Andre bergegas memutari mobilnya dan segera mereka menuju kantor.
"Hari ini kamu mau libur?" tawar Andre.
"Nggak Ndre, masuk aja," balas Rachel.
"Kamu kenapa hari ini? Hmmm?" tanya Andre.
"Nggak apa-apa. Cuma kurang tidur aja,"
"Ada yg kamu pikirin?" tanyanya
"Sedikit, tapi nggak apa-apa," Rachel berusaha tersenyum meski sedikit dipaksa.
"Yakin?" tanya Andre. Rachel mengangguk.
Andre segera menjalankan mobilnya menuju ke salah satu tempat sarapan favoritnya. Ia beranggapan pasti Rachel belum sarapan.
"Kita mau kemana?" tanya Rachel.
"Sarapan dulu, biar semangat!"
"Tapi..."
"Aku belum sarapan, kamu temenin!" perintahnya. Rachel hanya mengangguk meski rasanya malas dan perutnya tidak merasa lapar.
Mereka turun saat sampai di salah satu tempat makan. Mereka segera memesan makanan dan mulai makan meski Rachel dengan sedikit dipaksa. Tak lama kemudian, satu rombongan pria memasuki tempat yang sama. Karena suara mereka yang sangat berisik, Rachel mengangkat wajahnya dan langsung melihat dua pasang mata yang juga saat itu tengah menatap dirinya.
Sejenak Rachel membeku, ini seperti De Javu...Dia-seseorang disana... Yang menatapnya adalah...