
"Jangan menerima tamu, siapa pun dia!" ancam Bram saat mereka sarapan.
"Emang kenapa? kalau temen-temen aku ke sini masa aku malah tutup pintu,"
"Suruh temen kamu kapan-kapan ke sininya. Nggak tau orang lagi repot,"
"Lah? siapa yang ngerasa direpotin?" tanya Rachel kesal menyuap nasi goreng buatannya.
"Justru kalau aku nggak ada nanti kenapa-kenapa kan aku yang direpotin,"
"Ya nggaklah! Tuan rumahnya aku. Dan nggak mungkin kenapa-kenapa kan temenku rame,"
"Ngerti nggak sih? udah jangan terima tamu dulu kalau aku nggak ada," kata Bram beranjak meninggalkan ruang makan.
"Dia kenapa sih?" tanya Rachel. Noey mengangkat bahu tanda tak mengerti.
Akhir minggu Rachel menghabiskan waktu di rumah saja. Ia mau beberes sedikit di rumah dan menanam beberapa pot bunga untuk sekeliling rumah. Untung ada Noey yang membantunya, jadi pekerjaan itu akan terasa menyenangkan.
Rachel menanam beberapa bunga bougenville dan mawar di beberapa pot bunga yang sudah dibelinya beberapa waktu yang lalu. Lalu ia meletakkan secara berjejer di teras rumah. Ia menatap puas pada hasil karyanya.
Rachel duduk di teras menikmati indah pemandangan rumahnya sambil menunggu Noey mengambilkan air minum. Samar ia mencium aroma yang sudah lama ia lupakan. Wangi parfum yang dikenalnya terasa menusuk indera penciumannya.
Rachel duduk tegak mengawasi sekitarnya mencari sosok atau mungkin pergerakan sekecil apapun di sekitar rumahnya. Tapi ia tak menemukan apapun. Ia hanya menghirup dalam-dalam aroma yang sekarang disukainya. Kemarin ia merasa takut, tapi sekarang ia menyukainya. Aroma manis dari parfum itu.
"Kak?" Noey menowel bahunya.
"Ngagetin!" kata Rachel.
"Melamun aja, nih minum!" Noey menyodorkan segelas minuman. Rachel meminumnya hingga tiga perempat gelas.
"Noey, coba kamu hirup udara sekitar sini. Ada wangi parfum itu lagi," kata Rachel. Noey segera menghirup udara di sekitar mereka.
"Nggak ada kak!" kata Noey mengendus-endus udara di sekitar mereka.
"Serius ah,"
"Beneran kak, nggak ada loh,"
"Kok jadi merinding yah, masuk yuk!" ajak Rachel. Mereka masuk kembali ke dalam rumah meski di luar terasa amat nyaman.
"Aneh ya kak, kok aku sama kak Bram nggak ada nyium wangi-wanginya gitu. Kakak sendiri aja gitu," kata Noey.
"Udah deh nggak usah di bahas, jadi serem meski siang gini," kata Rachel.
"Kalau serem kita jalan aja yuk!" ajak Noey. Rachel mengangguk dengan semangat. Mereka segera bersiap-siap pergi jalan hanya sekedar jalan dan cari cemilan.
Mereka pergi ke salah satu mall yang tak jauh dari rumah Rachel dengan angkot. Rachel lebih senang naik angkot dengan segala hiruk pikuknya. Setelah sampai mereka berjalan keliling untuk melihat beberapa pakaian yang sedang diskon.
Saat melihat sehelai pakaian ia melihat Bram sedang berjalan dengan seseorang yang digandengnya.
"Ssst kakak kamu tuh! Diam-diam aja dia udah dapat cewek tapi nggak ntraktir kita," kata Rachel menyenggol Noey.
"Wuih cantik banget! Samperin yuk!" ajak Noey.
"Nggak ah, kita foto aja. Nanti di rumah baru kita todong," kata Rachel cekikian memotret beberapa foto Bram.
Setelah itu mereka menjauhi Bram dan berkeliling mencari sesuatu yang menarik. Rachel membelikan sebuah tunik untuk Noey. Betapa senang hati Noey, lalu mereka beranjak menuju food court. Memesan makanan cepat saji, kentang goreng, salad dan minuman dingin.
"Kalian di sini?" tanya Bram saat Rachel memakan saladnya.
"Iya dong," kata Noey, Rachel mengacungkan jempolnya karena mulutnya terisi penuh.
"Kita gabung di sini yah?" kata Bram, Rachel dan Noey terdiam karena melihat pergerakan tangan cewek yang bersama Bram.
"Tempat lain penuh, aku capek," Bram menarik kursi untuk si cewek. Mau tak mau ia duduk dan melemparkan senyuman.
"Oh ya, kenalin ini cewekku. Tania. Tania ini adikku Noey dan ini sahabat super rese' Rachel," Bram mengenalkan mereka. Noey dan Rachel bergantian mengulurkan tangan berkenalan dengan Tania.
"Tania,"
"Rachel,"
"Noey,"
Sesekali mereka tertawa dan bertukar cerita. Perlahan perasaan sungkan mulai luntur dari Tania. Sepertinya mereka akan berteman baik.
Dering ponsel Rachel menghentikan tawa mereka. Rachel ijin mengangkat telpon. Dari Cecil.
"Halo?"
.....
"Ya, aku lagi di luar. Kenapa?"
....
"Sebentar, oke yang tenang. Kamu dimana?"
....
"Oke, di sana aja. Nanti kita samperin,"
....
"Nggak, sama adikku aja, oke? bye," Rachrl menekan tombol merah pada ponselnya. Raut wajahnya terlihat cemas.
"Ada apa?" tanya Bram.
"Temen aku, Cecil. Lagi ada masalah dan minta jemput,"
"Mau bareng jemputnya?"
"Nggak usah, aku sama Noey aja," kata Rachel.
"Nggak apa-apa. Ini kita juga udah selesai. Sekalian aja, biar nggak lama nunggu angkot," kata Bram. Rachel melirik Tania, merasa tak enak jika Bram dan Tania direpotkan menjemput temannya.
"Nggak usah deh, beneran gak apa,"
"Sekalian aja nggak apa kok, aku nggak keberatan," kata Tania.
"Makasih sayang," kata Bram sambil menggenggam tangannya dan dibalas senyuman oleh Tania.
"Maaf ya, jadi ganggu waktunya," Rachel merasa tak enak hati.
"Nggak apa, udah yuk. Kasian temen kamu nungguin," ajak Tania.
Mereka berempat segera beranjak meninggalkan food court lalu melintasi jalanan menuju tempat Cecil.
"Temen kamu kenapa?" tanya Bram melirik kaca melihat Rachel.
"Nggak tau, nanti dia bakal cerita katanya. Tapi kedengerannya agak panik gitu tadi," ungkap Rachel. Mendengar penuturan Rachel, Bram segera menginjak gas lebih dalam agar mereka cepat sampai. Rachel sudah memberitahukan posisi Cecil saat ini.
Tak lama mobil berhenti tak jauh dari sebuah mini market. Rachel melirik di sekitarnya tapi tak menemukan sosok Cecil dimanapun. Ia berinisiatif menelpon gadis itu, tiba-tiba...
"Rachel!" Cecil menghambur memeluknya sambil menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Rachel. Ia hanya menggeleng.
"Ayo pergi dari sini!" pinta Cecil.
"Iya, ayo!" Rachel menggamit tangan Cecil mau mengajaknya naik mobil. Namun saat berbalik justru Cecil kaget melihat siapa yang bersama Rachel.
"Aku... Aku pergi aja," kata Cecil.
"Kenapa sih? udah ah, ayo ikut aja!" Rachel menarik tangan Cecil. Tapi Cecil menggeleng dan menolak dengan keras.
"Nggak usah! Beneran! Maaf ya ngerepotin," Cecil berbalik dan mulai melangkah tapi...
"Cecillia!" panggil Bram, sukses membuat gadis itu berhenti seketika.
"Kamu...?" Rachel menunjuk Bram dan Cecil bergantian. Bram berjalan melewatinya ke arah Cecil.
"Sudah, ikut kami aja. Kenapa harus menghindar?" tanya Bram pelan. Cecil menatapnya tak percaya.
"Nggak! Aku ngerasa nggak enak aja. Aku nggak apa-apa. Aku pergi dulu," Cecil berputar tapi tangannya langsung di tarik Bram menuju mobil mereka dan menyuruh gadis itu naik. Tinggal Rachel dan Tania yang melongo. Mereka saling kenal?