
Sore itu semua teman Rachel sudah pulang, Rachel termasuk yang terakhir pulang karena pekerjaannya yang menumpuk. Setelah membereskan mejanya ia keluar dan melihat Andre menunggunya.
"Kirain betah kerja di dalam, sampe mau nelpon bu Andini biar kamu dikasih bonus," komentar Andre.
"Syukur kalo emang dapat," kata Rachel.
"Yuk, kamu capek?"
"Nggak juga sih, kenapa?" tanya Rachel.
"Aku mau ngajak kamu jalan,"
"Uhm... aku... "
"Aku lupa kamu habis sakit, kamu istirahat aja dulu," Andre mengusap kepala Rachel. Rachel menarik tangan Andre dan mencubitnya.
"Rusak nih!" protesnya. Andre tertawa dan mengajak Rachel menuju mobilnya.
Di kejauhan sepasang mata milik Andini penuh kebencian melihat keakraban diantara Andre dan Rachel. Ia benci melihat itu. Tapi ia harus bersabar, ia akan membuat kesenangan itu menjadi penyesalan. Ia berjanji dalam hati. Andini berbalik dan menunggu mereka berlalu dari parkiran. Baru ia pulang.
***
Andre mampir di toko buah. Ia membeli beberapa kilo buah dan cemilan untuk Rachel.
"Nih, biar cepat sembuh. Nanti kalau sudah fit, kita jalan-jalan. Kamu masih punya janji,"
"Ini sih ngamuk namanya, hmmm iya. Maaf ya, aku capek banget hari ini," kata Rachel.
"Nggak apa kok, hari lain masih ada. Yang penting kamu sehat dulu,"
"Thanks," Rachel tersenyum.
Andre membelokkan mobilnya menuju rumah Rachel.
"Mampir dulu?" tawar Rachel.
"Makasih, lain kali aja. Kamu istirahat ya, salam buat bunda," Andre melambai ke arah Rachel dan Bram yang wajahnya menekuk.
"Udah pulang? tumben cepet," kata Rachel.
"Hmmm,"
"Bantuin bawa ini dong!" pinta Rachel, tapi Bram cuek dan berlalu masuk ke dalam rumah.
"Nyebelin!" protes Rachel membawa 1 kantong buah, sementara itu satu kantong cemilannya ia letakkan di teras.
"Ya ampun, borong buk," komentar Cecil.
"Hmmmh... kerjaan pak Andre," kata Rachel.
"Wuah gencar banget dia hihihi," Cecil membantu Rachel membawa masuk belanjaan.
"Rachel! Kemana aja? kok telat pulangnya? itu belanjaan banyak banget!" komentar bunda.
"Rachel tadi emang ada kerjaan banyak bun, ini tadi Andre yang belanja sekalian nganter Rachel pulang,"
"Andre yang kemarin ke sini?" tanya bunda.
"Iya bun,"
"Hmmmh, calon mantu bunda ya?" tanya bunda yang duduk di samping Rachel.
"Diiih...! Nggak kok. Udah ah Rachel mau mandi," Rachel beranjak ke kamarnya.
"Gitu aja marah, pasti belum di tembak sama Andre ya?"
"Bundaaaaaa.... ih rese'!" Rachel teriak dari pintu kamar mendengar kejahilan bundanya.
***
Setelah makan malam, Rachel duduk di ruang kerjanya sambil menulis cerpen. Dari dulu selain hobi menggambar, Rachel suka menulis cerpen. Hanya untuk mengungkapkan ide atau hal yang pernah ia alami dalam bentuk cerita.
Rachel meregangkan tangannya setelah selesai menulis. Bram masuk dan berdiri di depan jendela kamar menatap ke halaman.
"Bram?" panggil Rachel.
"Hmmm... "
"Kamu kenapa sih?"
"Cuma mau bilang, nggak usah kelewat dekat dengan Andre,"
"Kenapa?"
"Dia nggak sebaik yang kamu bayangin. Belum saatnya kamu tau, tapi kamu harus jaga diri juga," kata Bram yang kini beralih duduk di depan Rachel.
"Kalau ada apa-apa telpon aku,"
"Iyaaaa, aku nggak tau kenapa kamu bisa bilang Andre bukan orang baik tapi kamu juga nggak sebutin kenapa, aku penasaran!"
"Nanti kamu tau sendiri,"
"Okey," Rachel menyerah.
"Oke deh, aku turun dulu. Jangan tidur larut,"
"Sip!"
Sepeninggal Bram, Rachel berjalan menuju jendela dan menatap langit malam. Malam ini bulan tidak terlihat tapi banyak bintang bersinar. Suara ayunan berderit membuat Rachel mengalihkan pandangannya ke bawah. Pria itu bermain ayunan tapi kepalanya menunduk. Entah apa yang dipikirkannya.
Rachel memperhatikannya lama tapi pemuda itu berdiam diri menunduk. Rachel ingin berteriak memanggil pria itu tapi urung. Takut suaranya mengganggu dan membuat Bram atau bundanya datang.
Rachel mengambil sebuah buku dan buah. Ia duduk di balkon dan duduk sambil membaca. Sesekali matanya mengarah pada pria misterius itu. Rambut keperakan itu bersinar di malam gelap. Siapapun yang melihat pasti terpana melihat kesempurnaan pria itu. Idaman para gadis.
'Pasti banyak perempuan mengejarnya,' batin Rachel.
Tepat pada saat itu pria itu mendongak menatap langit dan ia turun dari ayunan. Sesaat menghilang lalu kembali lagi dengan tarian sedihnya. Tubuhnya kembali meliuk dengan mimik wajah sayu. Rachel tak bisa konsentrasi lagi dengan bacaannya. Ia menutup bukunya dan bangkit melihat pria itu dari balkon.
Pesona pria itu membuatnya sulit berpaling. Siapa yang nggak kagum dengan wajah, tubuh dan gaya tariannya? Mak author aja juga kesengsem! hehehe
Pria itu berputar dan mendongak. Ia melirik ke arah Rachel. Ia tersenyum lalu menyelesaikan tariannya. Ia mengangguk melihat Rachel. Rachel bertepuk tangan pelan tanpa suara. Pria itu membungkuk mengucapkan terimakasih. Ia menyeka keringat di dahinya dan duduk kembali di ayunan. Napasnya tak beraturan.
Rachel turun, menyambar sebotol minuman dan keluar menuju taman di depan rumahnya.
"Hai! Kamu lelah?" tanya Rachel sambil menyerahkan sebotol minuman untuknya.
"Hai! Lumayan. Thanks, tapi maaf aku sudah ada ini," ia menjawab sambil mengacungkan botol minum di sampingnya dan menenggak isinya.
Rachel duduk di ayunan tepat di samping pria itu dan memainkan botol minuman di tangannya.
"Kamu sering menari di sini?" tanya Rachel.
"Ya, di sini tempat aku latihan. Aku nggak punya tempat latihan khusus," jawabnya.
"Oh ya, aku Rachel. Nama kamu siapa?" tanya Rachel mengulurkan tangannya. Pria itu menatap tangan Rachel lama.
"Akuuuu... "
"Sebentar ya... " kata pria itu sambil beranjak ke sisi lain taman. Rachel hanya diam menatap pria itu. Tak lama ia kembali.
"Maaf, namaku Jim," ia mengulurkan tangannya yang putih. Rachel menyambutnya.
"Jim si penari," kata Rachel sambil tersenyum.
"Ya, boleh juga," ia tersenyum.
Mereka duduk dan menatap bintang di langit. Pendar cahaya bintang membuat keduanya merasa takjub.
"Aku suka melihat langit, apalagi pendar bintang," kata Rachel.
"Aku juga, kadang aku bertanya apa aku bisa meraih satu bintang untuk ku simpan? Bintang itu seperti harapan bagiku," kata Jim.
"Apa yang kamu harapkan?" tanya Rachel.
"Hidupku," ia menjawab sambil membersihkan sisa air minum di bibir merahnya.
"Kamu hanya perlu menjalani hidup dan berharap semua akan berjalan dengan baik,"
"Hmmm... tapi hidupku tidak baik-baik saja,"
"Kenapa?" tanya Rachel.
Jim tersenyum ke arahnya. Matanya semakin menyipit karena senyumnya.
"Kamu akan tau suatu saat nanti," jawabnya mengalihkan pandangannya kembali ke langit.
"Kenapa orang-orang di sekitarku penuh rahasia!" Rachel mengeluh.
"Terkadang rahasia bisa melindungi seseorang. Jadi sabar aja, semua akan ada waktunya,"
"Tapi aku penasaran,"
"Simpan aja itu semua, percayalah semua rahasia itu akan terbuka dengan sendirinya," kata Jim menatap Rachel.
Rachel bingung harus menanggapi. Ia hanya diam dan kembali menatap langit.
'Mungkin benar, ngapain ngurusin sesuatu yang malah bikin kita semakin penasaran!" batin Rachel.