Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
14


"Helll? Rachel!" pipi Rachel ditepuk keras oleh Bram.


"Hmmmh," Rachel membuka matanya perlahan.


"Kamu ngapain tidur di sini? pintu nggak di kunci lagi," kata Bram.


"Hah!" Rachel langsung duduk dan melihat sekeliling ruangan. Ia masih di lantai atas dengan kondisinya masih terbaring di lantai tak jauh dari meja kerjanya. Jendela dan tirainya sudah di buka, angin memainkan tirai jendela dengan normal. Ia teringat buku yang membuka, segera ia berlari ke meja kerjanya dan tak melihat buku itu. Ia mencari ke laci mejanya dan buku itu tersimpan rapi di dalamnya. Apa ia bermimpi di pagi hari? Rachel menggaruk kepalanya.


"Kamu kenapa?" tanya Cecil mendekat.


"Tadi itu... Nggak! Nggak ada apa-apa. Ayo turun!" ajak Rachel. Mereka bertiga turun ke lantai bawah.


Cecil memasak sedangkan Bram duduk di dekat Rachel dan menanyainya. Cecil tak mau mengganggu dua sahabat itu meski ia tetap mencuri dengar karena jarak dari dapur dan tempat duduk Rachel tidak jauh dan tidak bersekat.


"Kamu kenapa tadi?" tanya Bram.


"Nggak apa-apa. Mungkin aku capek," kata Rachel tak ingin membuat Bram cemas dan menelpon orangtuanya. Tentu orangtuanya akan segera datang. Belum lagi jika Cecil ketakutan dan tak mau lagi tinggal di rumah itu. Rachel akan semakin takut.


"Yakin? kamu pingsan dengan kondisi jendela dan tirai tertutup. Pintu nggak terkunci. Aku kira kamu kenapa tadi,"


"Iya nggak apa-apa. Aku capek, tadi malam nggak bisa tidur. Kerjaanku numpuk," kata Rachel. Meski Bram menatapnya tak percaya.


"Istirahat aja dulu, nih minum dulu," Cecil memberikan segelas air. Rachel meminumnya dan merasa lega.


"Mau aku bantu masak?" tanya Bram.


"Nggak usah, kamu mah bukan bantuin. Bikin kerjaanku nambah," kata Cecil sambil tertawa dan kembali sibuk di dapur.


"CLBK pak? Tania apa kabarnya?" tanya Rachel berbisik pada Bram.


"Hmmm..."


"Playboy cap buaya," kata Rachel.


"Biarin, kepo banget kamu," kata Bram. Lalu ia pergi ke dapur membantu Cecil. Rachel beranjak ke kamar, daripada melihat dua sejoli yang cintanya nggak kelar-kelar.


Rachel masuk ke kamar dan membanting tubuhnya ke kasur dan menatap langit-langit. Terasa hening.


Braakk


Tiba-tiba sebuah buku jatuh tanpa ada angin. Rachel duduk dan memperhatikan sekitar. Tidak ada yang berubah dan tidak ada gerakan apapun. Bagaimana mungkin sebuah buku bisa jatuh ke bawah dari rak atas?


Rachel memperhatikan buku yang jatuh. Itu buku yang ada di ruang kerjanya. Halaman tengah kembali terbuka dengan sebuah tulisan baru yang muncul.


Aku ingin berteman. Sungguh.


Rachel mengambil buku itu dan berlari ke lantai atas. Ia membuka semua laci meja dan rak buku di periksa dengan teliti. Itu memang buku yang ditinggalkan di meja kerjanya. Bagaimana mungkin buku itu bisa berada di kamarnya. Dan tulisan itu? Rachel semakin takut. Ini teror. Tapi bagaimana bisa melaporkannya?


Rachel menimang buku di tangannya. Haruskah ia memberitahu Bram tentang hal ini? Tapi nanti Bram akan menertawainya lagi seolah ini lelucon yang dibuatnya sendiri.


Rachel berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya memikirkan hal ini. Dua kali ia menerima pesan untuk berteman. Tapi siapa?


Tok... Tok... Tok


Rachel kaget mendengar ketukan pintu. Cecil muncul di ruang kerjanya sambil tersenyum.


"Ayo turun! Aku sudah selesai," katanya. Rachel mengangguk dan membawa buku itu turun bersamanya. Ia meletakkan buku itu di kamar sebelum bergabung dengan Cecil dan Bram di meja makan.


Saat makan ponsel Rachel berdering. Tania menelpon. Rachel ijin menjauh mengangkat telepon dari Tania.


"Ada apa Tania?" tanya Rachel.


"Bram ada di sana?" tanyanya. Rachel melirik sebentar, begitu juga dengan Bram yang menatapnya.


"Emangnya kenapa?" tanya Rachel.


"Kami ada janji mau pergi, tapi kayaknya dia lupa deh. Aku telepon dari tadi nggak diangkat. Apa dia di sana?" tanya Tania lagi.


"Ada, nanti aku sampaikan yah,"


"Makasih ya Hel, maaf harus lewat kamu,"


"Nggak apa-apa, santai aja," Rachel tersenyum. Lalu mereka menyudahi pembicaraan.


Rachel berjalan menuju ruang makan sayup terdengar pembicaraan Cecil dan Bram.


"... aku juga nggak mau kamu disakiti lagi. Aku minta maaf untuk semua tapi bisakah kita mengulang semua dari awal?" tanya Bram.


"Tidak, aku nggak bisa," jawab Cecil.


"Kenapa? Apa di hatimu masih ada Adit?"


"Tidak!"


"Lalu?"


"Tapi... "


"Ehem... Hai, maaf kelamaan," sapa Rachel berdehem memberitahu bahwa ia datang.


"Nggak apa, ayo lanjut makannya. Tuh masih banyak loh," kata Cecil ceria. Rachel tersenyum ke arahnya dan menatap sinis Bram.


"Apa?" tanya Bram. Rachel mengangkat bahu tak peduli.


Setelah makan mereka membersihkan meja makan dan dapur. Saat Cecil sedang mencuci piring, Rachel menarik tangan Bram menjauhi Cecil.


"Kamu gila yah?" kata Rachel


"Apaan nuduh sembarangan," jawab Bram


"Kamu ada janji hari ini?" tanya Rachel sambil bertolak pinggang.


"Nggak ada,"


"Yakin?" tanya Rachel lagi.


"Iya, emang kenapa sih?" tanya Bram.


"Yakin nggak punya janji dengan Tania? Dia nungguin kamu taunya ngerayu mantan di sini. Aku nggak mau terlibat dengan urusan kalian yah," kata Rachel.


"Ya ampun aku lupa! Aku pergi dulu ya!" Bram berlari masuk dan terdengar pamitan pada Cecil lalu berlari keluar dan terburu-buru mengendarai mobilnya.


"Hel? masuk yuk!" ajak Cecil. Mereka masuk ke dalam rumah.


"Cil, kamu beneran mantan Bram?" tanya Rachel.


"Iya, kenapa Hel? Apa aku ganggu?"


"Nggak, perasaan kamu ke Bram gimana sekarang?" tanya Rachel.


"Biasa aja, aku mau temenan atau sahabatan kayak kamu dengan dia. Aku lebih nyaman begitu," kata Cecil.


"Adit?" tanya Rachel.


"Aku..."


"Maaf ya aku jadi ngingetin soal dia, aku nggak bermaksud,"


"Iya aku ngerti Hel, jujur aku masih sayang tapi juga takut. Dan aku nggak mau lagi dapat perlakuan jahat dari dia. Aku mau sendiri, nyaman dan bebas," kata Cecil memotong pembicaraan Rachel. Rachel mengangguk mengerti.


"Baguslah kalau akhirnya kamu mau ninggalin laki-laki model Adit. Bukannya melindungi malah nyakitin kamu," kata Rachel.


"Ngomong-ngomong kamu kenapa tadi kok pingsan di lantai atas?" tanya Cecil.


"Uhm... aku mau nanya, kamu percaya... hantu?" tanya Rachel.


"Hahahaha..." bukannya menjawab pertanyaan Rachel, Cecil malah tertawa lebar.


"Kok ketawa sih? Ih kamu mah," Rachel jadi kesal.


"Hantu nggak ada nongolnya pagi-pagi," kata Cecil.


"Tapi ini beneran!"


"Iyaaaa, iyaaaa... emang pernah liat?" tanya Cecil.


"Ya belum sih,"


"Tau hantu dari mana?" tanya Cecil. Benar juga! Rachel mengetuk-ngetuk sisi kepalanya. Dia belum pernah melihat sosok itu.


'Iiiih amit-amit jabang bayik! jangan sampe!' batin Rachel sambil bergidik.


"Nggak tau juga sih, tapi aku ngerasa aneh,"


"Perasaan kamu aja kali, ini kan rumah baru. Wajar sih adaptasi,"


"Tapi ini nggak cuma sekedar adaptasi!" protes Rachel.


"Lalu?" tanya Cecil.


Tiba-tiba angin berhembus membawa aroma parfum yang sangat dikenali oleh Rachel. Rachel berdiri kaku. Matanya mengerling kesana kemari berharap melihat suatu pergerakan.


"Brakkk!"