Dari Peristiwa Menjadi Cinta

Dari Peristiwa Menjadi Cinta
Kebenaran


"Valdo, ini Andi apakah kau bisa mendengar ku?" tanya Andi melalui Wokitoki.


"Ya ada apa Andi?" tanya Valdo balik.


"Ibumu!"


"Ibuku, ada apa? bisakah kau berbicara dengan jelas."


"Ibumu! bukankah ibumu mati karena kecelakaan!"


"Iya."


"Kecelakaan itu bukanlah suatu kebetulan melainkan itu sudah direncanakan."


"Apa yang kau katakan!" tegas Valdo yang sedikit tidak percaya.


"Ibumu, dia mengetahui informasi yang sama seperti ku. Mungkin saja ibumu sudah tau mengenai eksperimen ini sejak awal, tetapi karena orang itu tidak ingin infomrmasi ini bocor dia membunuh ibumu."


"Ha." Dengan amarah yang menggebu dan kebencian yang menyelimuti diri Valdo ia menggenggam Wokitoki yang ia pegang dengan sangat kuat hingga Wokitoki tersebut hancur.


"Valdo! Valdo kau mendengar ku? Valdo … Valdo!" teriak Andi memanggil nama Valdo melalui Wokitoki tetapi tidak ada respon sedikit pun dari Valdo.


"Cih! aku memang harus menyusulnya." Andi segera pergi dari ruangan itu dan bergegas mencari Valdo.


Sesampainya dia di tempat di mana awal ia masuk, disana ia melihat mayatnya Rian dan Syahrul. "He! mengenaskan sekali kalian, hanya demi keuntungan kalian rela berbuat seperti ini dan kalian mati karena ini."


"Kalian benar-benar sudah berubah, maafkan aku tetapi aku benar-benar tidak sedih atas kematian kalian, aku hanya kecewa karena kalian lebih memilih keburukan dari pada kebaikan." Andi menatap mayat Rian dan Syahrul dengan tatapan jijik lalu pergi menuju ke arah Valdo.


Sedangkan Valdo yang sudah mendengar kebenaran dari mulut Andi. "He! aku sudah menduga ini adalah rencana mu, aku sudah sangat menduga nya. Kalau begitu mari cari dia." Valdo mencari orang yang disebut-sebut nya kesana kemari dengan aura dingin yang mencekam dari dirinya.


Tiba-tiba saja Valdo melihat ada pistol yang mengarah ke dirinya, Valdo tidak bisa melihat orang itu dia hanya bisa melihat tangannya saja karena orang itu bersembunyi di balik dinding. Orang itu lalu menembak dan Valdo mengelak, dia terus menembak dan menembak hingga pelurunya habis.


Ketika dia ingin mengisi ulang Valdo menembak tangannya hingga membuat pistol yang berada di tangan orang itu terjatuh, dan Valdo berlari menuju ke arah dinding itu lalu melihat siapa yang berada di balik dinding. Ketika Valdo melihat orang yang berada di balik dinding itu dia langsung menembak seluruh tangan dan kakinya hingga tertancap dua puluh peluru di tangan dan kakinya.


Valdo menyeret orang itu. "Akh! kau … kau, kau putra dari Clara kan. Uhuk … uhuk … uhuk," ujar orang itu terengah-engah menahan sakit di kedua tangan dan kakinya yang di akhiri dengan batuk darah dari mulutnya.


"Kau tidak berhak menyebut nama orang tuaku pemerintah William, jika kau menyebut nama orang tua ku sekali lagi akan ku penggal kepala mu. Diam dan tutup lah mulutmu!" tegas Valdo yang di selimu rasa kebencian mendalam dengan William.


Di tengah perjalanan Valdo bertemu dengan Andi, Andi yang melihat Valdo seperti orang yang sudah tidak bisa di kendalikan lagi hanya bisa membiarkan Valdo lewat sembari menyeret William orang bi*ad*p itu.


Valdo lalu menyeret pemerintah William sampai di awal di mana Valdo masuk, Andi hanya bisa terdiam dan mengikuti Valdo dar belakang.


Olivia yang berada di situ dengan anak-anak yang ia temukan sewaktu dia mencari sesuatu. "Ha, Valdo? siapa yang diseret nya." Olivia bertanya-tanya di dalam hatinya siapa orang yang sedang Valdo seret.


Andi berlari ke arah Olivia. "Dari mana kau menemukan ketiga orang anak ini?" tanya nya.


"Aku menemukan anak-anak ini di suatu tempat, dia di sekap dan dia tidak bisa melihat apa-apa, mata mereka di ambil dan mereka bahkan tidak di berikan makan sedikit pun. Sepertinya mereka baru di beli dari Panti Asuhan." Tukas Olivia.


Beralih ke Valdo yang meletakkan William di dekat mayat Rian dan Syahrul tergeletak. "Kau katakan, kau yang membunuh ibuku bukan!" tegas Valdo dengan nada suara nya yang dingin tatapan kejam yang terlihat jelas di wajahnya.


"Hehe' apa peduli mu," jawab William tertawa di saat-saat kritis nya.


Valdo yang tidak senang dengan jawaban dari William langsung menginjak perut William hingga membuat nya muntah darah. "Uhuwuek …" muntah William.


"Aku bertanya sekali lagi jika kau tidak menjawab nya dengan benar maka aku benar-benar akan membunuhmu. Apakah kau yang membunuh ibuku," ucap Valdo sambil memegang bom di tangannya.


"I'iya-" Setelah mengatakan itu Valdo langsung memasukkan bom kedalam mulut William hingga membuat nya tidak bisa berbicara dan membuatnya jegang-jegang seperti orang terkena struk.


"Valdo! apa yang kau lakukan!" teriak Olivia terkejut melihat Valdo yang memasukkan bom ke dalam mulut William.


"Tidak perlu banyak bertanya. Cepat! kalian berdua gendong lah anak-anak itu dan aku akan menggendong salah satunya lagi, disetiap sudut markas ini ada boom waktu yang baru saja diletakkan oleh mereka dan kita harus segera keluar." Tukas Valdo.


Olivia dan Andi lalu mengambil satu dari ketiga anak itu dan Valdo mengambil satunya lagi, mereka bergegas untuk keluar dari markas itu.


Sesampainya mereka di pintu luar boom yang berada di dalam markas itupun meledak membuat mereka bertiga terlempar, karena tidak ingin anak-anak itu terluka mereka lalu memeluk anak-anak itu.


Markas itu hancur dan seluruh eksperimen nya meledak, seluruh berkas dan semuanya telah habis. Valdo berdiri ia berkata, "Andi Olivia apakah kalian tidak apa-apa?" tanya nya melihat Andi dan Olivia.


Andi dan Olivia bangkit. "Aduh sakit sekali.Hahh … aku berpikir kau tidak akan menanyai ku," ujar Andi yang memegang tengkuk leher nya.


"Iya aku baik-baik saja, bagaimana dengamu?" tanya Olivia balik.


"Ya aku baik-baik saja." Disertai anggukan pelan dari Valdo.


Toni Arya Fani dan Laura bergegas berlari menuju arah Valdo. "Jenderal Valdo apakah anda baik-baik saja?" tanya Toni panik.


"Olivia apakah kau baik-baik saja?" tanya Fani yang panik melihat Olivia.


"Yaa begitulah jika seseorang sedang mengkhawatirkan orang lain, yaa bagaimana lah nasib ku ini hahh … ." Andi menarik nafas nya melihat Olivia dan Valdo yang sedang di khawatir kan oleh teman-temannya.


"Apa yang kau katakan Andi, bukankah Valdo tadi baru saja mengkhawatirkan mu," ucap Olivia melihat Andi.


"Andi?" Toni merasa tidak asing dengan nama tersebut dan seketika ia tersadar dan terkejut setelah mengetahui siapa orang yang bernama Andi. "Anda! apakah anda Laksamana Andi!"


"Ya aku adalah Laksamana Andi." Andi menjawab dengan santai.


Sontak saja Toni Arya Fani dan Laura terkejut dan memberi hormat kepada Andi.


"Senang bertemu dengan anda Laksamana, kami berpikir kalau anda sudah mati." Toni memberi hormat dengan semangat dan sigap.


"Hee~ enak sekali menjadi terkenal, aku juga ingin menjadi terkenal dan masuk ke dalam surat kabar," ujar Olivia minder melihat Andi yang terkenal.


"Kau sudah terkenal hanya saja kau pensiun."