Dari Peristiwa Menjadi Cinta

Dari Peristiwa Menjadi Cinta
Tentang Clara


"Istri anda?" tanya Olivia bingung dengan perkataan yang di ucapkan oleh Edwin.


"Ya, kepribadian kalian sangat mirip. Namun sifat dan sikap kalian sangat berbeda, he' jika aku melihat dirimu kau orang yang sangat kasar tetapi di balik kata-kata kasar itu kau memiliki sifat yang lemah lembut dan penyayang, kepribadian mu sangat tidak bisa orang lain menerka nya."


"Jika di depan orang ramai kau hanya menunjukkan wajah yang dingin seakan-akan tidak perduli dengan orang lain, walaupun sebenarnya itu bukanlah kenyataan nya. Tetapi istriku berbeda, dimana saja dan apapun yang dialami nya dia hanya melakukan nya dengan tersenyum dan menjalaninya. Tidak peduli sebesar apa masalah yang dia alami, ia selalu tersenyum." Tukas Edwin.


"Emm' Valdo juga pernah bercerita tentang hal ini,tetapi ia tak pernah menjelaskan nya secara detail tentang Bibi Clara."


"Apakah kau sangat tertarik mendengarkan cerita nya."


"Ya jika Paman tidak keberatan menceritakan nya, aku akan mendengarkan nya."


"Haahh' baiklah, aku akan memulainya sewaktu aku menikah dengannya."


FLASHBACK ON*


Waktu itu ketika aku menikah dengannya, aku langsung membawanya pergi ke rumah ku dan aku juga mengatakan persyaratan yang harus dia setujui mau ataupun tidak mau.


"Aku menikahi mu dan aku membawamu ke rumah ku sendiri, jadi kau harus menyetujui persyaratan yang aku katakan. Pertama, jangan berharap cinta dariku. Kedua, kau tak berhak melarang ku untuk mendekati siapa saja yang aku suka. Ketiga, aku berhak melakukan kewajiban ku sebagai seorang Suami."


"Keempat, kau harus melakukan kewajiban mu sebagai seorang istri dan jangan mengandalkan pembantu di rumah ini saja. Dan yang terakhir kau tidak boleh bercerita kepada orang tuamu ataupun orang tuaku tentang segala hal yang aku lakukan kepadamu baik di dalam ataupun di luar rumah. Kau mengerti!" tegas Edwin kepada Clara.


"Iya … aku berjanji, aku tidak akan mengatakannya." Lirih Clara menerima persyaratan yang sangat tidak adil bagi dirinya itu namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Pernikahan kami terjadi karena kakek ku dan kakek nya membuat perjanjian pernikahan sehingga kami menikah, pernikahan kami berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan, dia bahkan tidak melarang ku ketika aku bersama dengan wanita lain. Dan sesuai persyaratan aku menjalankan tugas ku sebagai seorang suami dan itu aku lakukan dengan terpaksa.


Karena waktu itu aku mempunyai banyak masalah dan dialah yang menjadi tempat pelampiasan ku. Ketika pagi hari aku terbangun aku melihat kondisi itu.


"He' kau tau, aku memenuhi kewajiban ku sebagai seorang suami dan bukankah ini yang kau minta," ucap Edwin dengan nada bicara nya merendahkan istrinya sendiri yaitu Clara.


Clara tidak berkata apa-apa, dia hanya membalikkan badan nya membelakangi ku. Hingga beberapa minggu berlalu dan dia mengatakan kepadaku bahwa dia sedang hamil, dan aku tidak memperdulikan hal itu.


"Aku akan tetap mempertahankan anak ini, karena dia adalah anak mu. Walaupun kau tidak peduli aku akan tetap menjaganya sendiri." Kekeh Clara melihat ke arah Edwin dengan keyakinan sembari memegang perut nya.


"Terserah apa yang kau katakan, aku ingin keluar." Mengatakan hal itu Edwin langsung pergi meninggalkan Clara yang sedang hamil.


Beberapa bulan pun berlalu, Clara melahirkan dan anak itu di beri nama Alvaro. Ketika Alvaro lahir aku tidak peduli, bahkan aku mengatakan kepada semua keluarga ku kalau aku sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negeri dan tidak bisa di tinggalkan.


Clara tau kalau aku tidak sedang berada di luar negeri melainkan aku berada di suatu tempat di mana aku bisa bersenang-senang. Hingga enam tahun pun berlalu, waktu itu aku sangat mabuk lalu teman-teman ku membawa ku pulang ke rumah dan dia membukakan pintu lalu memapahku dan membawa ku ke kamar.


Sedangkan Alvaro ia titipkan kepada Kevin yang waktu itu sudah mulai bekerja di rumah ini, waktu itu aku tidak sadar apa yang telah ku lakukan ketika aku terbangun di pagi hari aku melihat nya berada di samping ku tertidur sambil mengigau.


"Edwin, bisakah kau tidak membuat ku menjadi seperti ini. Aku menyukai mu dan selalu menyukaimu walau kau membuat ku sebagai pelampiasan mu." Igauan Clara dalam mimpinya.


Ketika aku mendengar nya aku merasa seperti kasihan dengannya, tetapi rasa kasihan itu hilang seketika. Aku beranjak dari ranjang itu lalu membersihkan diriku dan langsung pergi.


Hingga beberapa minggu berlalu, dia mengatakan kepadaku kalau dia hamil lagi. "Pertahankan lah anak yang berada di dalam perut mu itu, dan jangan terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja. Ambillah cuti karena kau sedang hamil," ucap Edwin yang tatapan sedikit berubah menatap Clara, biasanya selalu dingin kini sedikit berubah perhatian.


"Eh' emm' baiklah, aku akan mengambil cuti dari pekerjaan ku." Clara mengangguk lalu ia tersenyum, dia sangat bahagia hingga anak yang berada di dalam perut nya itupun lahir dan akulah yang memberi nama pada anak itu, namanya adalah Valdo.


Aku melihat nya tumbuh dewasa, dari setiap sikap kepribadian dan sifat yang ia tunjukkan kepada orang lain dia sama seperti ibunya. Tetapi Alvaro dia mirip seperti ku, Valdo dan Alvaro berbeda sangat jauh Valdo suka bermain teka teki dengan Alvaro, dia selalu menang dan Alvaro selalu kalah. Hingga kejadian itu tiba-tiba saja menimpanya.


Sebelum kejadian itu datang, Clara sangat sibuk. Dia seperti menyembunyikan sesuatu, dia seperti dalam kekacauan sangat panik dan sangat terkejut. Entah hal apa yang membuat nya menjadi seperti itu, ketika bertanya kepadanya dia hanya mengatakan kalau ada masalah di tempat kerjanya dan dia ingin mengundurkan diri dari tempat kerjanya.


Aku tidak terlalu peduli karena aku tau seorang ilmuwan pasti selalu mempunyai masalah dalam menciptakan sesuatu, dan aku berpikir kalau dia ingin lari dari masalah itu. Walaupun aku dan dia sudah sedikit banyak berbicara dengan dirinya tetapi kelakuan masih tetap sama, aku masih bermain dengan wanita lain di luar.


Dan yang membuat ku terkejut waktu kejadian itu Varo menelpon ku dan menyuruh ku untuk pergi ke rumah sakit, ketika aku sampai di rumah sakit aku melihat sosok Valdo yang berbeda sangat berbeda dari yang sebelumnya. Orang yang selalu tertawa ceria lemah lembut penyayang selalu menunjukkan hal hal baru sekarang hanya bisa terdiam dengan tubuh nya yang di penuhi oleh darah ibunya.


...****************...


...Penyesalan selalu datang terlambat, karena jika ia datang di awal maka sudah tentu tidak ada yang mau melakukan nya......