Dari Peristiwa Menjadi Cinta

Dari Peristiwa Menjadi Cinta
Kebencian


" Pintu rumahnya terbuka,apakah ada masalah aku takut terjadi apa apa sebaiknya," kata Jefri kepada Ivan dengan nada yang sedikit khawatir kepada Olivia.


" Heh … tanpa kau beritahu aku juga akan bergegas pergi kesana," ucap Ivan kepada Jefri.


Ivan pun bergegas berlari menuju rumahnya Olivia. Sesampainya di dalam rumah Olivia,Ivan pun melihat Fani dan Laura yang berada di depan pintu kamarnya Olivia.


" Fani Laura di mana Olivia?" tanya Ivan yang sedikit panik itu kepada Fani dan Laura.


" Oh Olivia,dia ada di kamarnya," jawab Laura kepada Ivan.


" Haa … ada di kamarnya,kenapa?apakah terjadi sesuatu kepada dirinya?biasanya jam segini dia tidak pernah berada di dalam kamarnya."


" Fani apakah terjadi sesuatu kepada Olivia,katakan!" tegas Ivan kepada Fani sembari bertanya kepadanya tentang keadaan Olivia.Tetapi Fani yang mendengar pertanyaan dari Ivan itu hanya bisa terdiam sambil memalingkan wajahnya dari hadapan Ivan.


" Fani jawab pertanyaan ku.Kenapa kau memalingkan wajahmu dari ku?kenapa kau tidak berani menatapku,heh … Laura kau pasti tau apa yang terjadi pada Olivia,kalau begitu katakan kenapa dia menjadi seperti ini?" tanya Ivan lagi kepada Laura.


Tetapi sama saja Laura juga ikut terdiam seperti Fani sambil memalingkan wajahnya dari hadapan Ivan dan tidak berani untuk melihat wajah Ivan dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Olivia.


" Kalian memalingkan wajah kalian seperti ini … jangan bilang kejadian waktu itu terjadi lagi.Fani Laura katakan!" tegas Ivan kepada Laura dan Fani yang terdiam itu.


Jefri yang melihat ekspresi Ivan itu hanya bisa terdiam dan tidak bisa mengatakan apapun,ia hanya bisa menundukkan wajahnya ke bawah.Sedangkan Ivan yang tidak mendapatkan jawaban dari Fani dan Laura pun memutuskan untuk mendobrak kamarnya Olivia.


" Grrebaakk … grrebaakk … grrebaakk."


" Berhentilah mendobraknya,jika kau terus mendobraknya maka pintu dan lemari ku akan rusak kau buat," kata Olivia yang berada di dalam kamarnya.


" Olivia ini aku kakak mu Ivan!buka pintu ini,biarkan aku melihat keadaan mu. Setelah itu aku akan-" belum sempat Ivan menyelesaikan kata kata nya Olivia langsung memotong perkataan nya.


" Pergilah aku tidak peduli kau siapa,lagipula aku tidak pernah menganggap mu ada … pergilah kalian semua tinggalkan aku sendiri dan jangan pernah mencariku anggap saja kalau aku sudah mati,dan anggaplah kalian tidak pernah mengenal orang yang seperti ku ini," ujar Olivia menyuruh mereka semua untuk pergi dari rumah nya dan meninggalkan nya sendiri di rumah nya itu.


Ivan yang mendengar perkataan Olivia yang seperti itu hanya bisa terdiam dan tidak berkata apa.


" Tidak mengenal … tidak di anggap … bahkan menganggap dirinya sudah mati,perkataan ini … perkataan yang baru setelah kejadian waktu itu. Jika waktu itu dia tidak menganggap ku sebagai kakaknya maka kali ini dia sudah tidak menganggap ku ada. Jika waktu itu dia mengatakan dirinya adalah sebuah sampah yang tidak bisa menyelamatkan teman nya sendiri maka kali ini dia menganggap dirinya sudah mati." Batin Ivan yang sedikit sedih dan dilema mendengar perkataan Olivia.


Laura Fani dan Jefri terkejut melihat Ivan yang sedang menangis sembari menundukkan kepala nya.


" Ivan … sudah berapa lama kau menahan rasa sakit itu,kau tau bahkan di saat kematian orang tuamu kau tak pernah meneteskan air mata sedikitpun, tetapi kali ini kau meneteskan air mata itu. Ivan … seberapa berat beban yang sudah kau tanggung." Batin Jefri yang ikut merasakan kesedihan yang Ivan rasakan.


" Aku tidak pernah melihat kak Ivan menangis,tetapi kali ini di depan mata ku dia menangis seperti sudah begitu banyak kesalahan yang ia buat,ia merasa seperti bersalah karena sikap Olivia yang seperti ini." Batin Laura yang mengerti kenapa Ivan menjadi seperti itu.


" Kak Ivan sebenarnya beberapa hari yang lalu Olivia sedang menyelidiki tentang sesuatu tetapi demi menyelidiki hal itu kami harus membantu nya untuk mencuri sesuatu dari markas militer,tetapi setelah kami mencuri nya tidak berselang lama Jenderal Valdo pun mengetahuinya dan menghukum kami."


" Kami di bawa ke ruang bawah tanah dimana tempat penyiksaan bagi para militer yang berkhianat atau mencuri beberapa berkas penting atau apapun itu. Tetapi sebelum aku di tangkap,aku sempat mengubur HP ku di dalam tanah tetapi Laura dia sudah tertangkap sebelum bisa menyembunyikan HP nya." jelas Fani kepada Ivan tentang bagaimana awal mula keadaan Olivia bisa menjadi seperti itu.


" Ya benar aku sudah tertangkap,setelah aku tertangkap Jenderal Valdo pun mengambil HP ku dan menelpon Olivia untuk datang ke markas militer. Olivia langsung bergegas pergi kembali kemari,ia pun tiba di siang hari dan langsung pergi ke markas militer. Setelah itu ia … ia … ia-" sebelum menyelesaikan perkataan nya,Laura sudah tidak sanggup melanjutkan perkataan nya lagi.


" Ia kenapa Laura!cepat katakan!" tanya Ivan dengan nada yang sedikit membentak sambil menangis bertanya kepada Laura.


Laura menundukkan kepala nya sembari menangis tidak sanggup menjawab pertanyaan dari Ivan.


" Katakan Laura," tanya Ivan lagi kepada Laura dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipi nya itu. Fani langsung menyambungi perkataan Ivan.


" Ketika Olivia sampai ia langsung bergegas mencari kami dan ia pun menemukan kami di ruang penyiksaan,setelah itu Olivia berdebat dengan Jenderal Valdo disaat itu kami tidak bisa membantu Olivia karena kaki,tangan beserta diikat dan di tutup. Kami hanya bisa melihat nya dan tiba-tiba Jenderal Valdo pun mengungkit masa lalunya,yang entah bagaimana dia bisa tau."


" Setelah itu seperti yang kakak lihat saat ini," jelas Fani kepada Ivan dengan teliti dan rinci.


" Oh begitu ya … jadi Jenderal Valdo yang mengungkit tentang masa lalunya,kalau begitu terimakasih," ujar Ivan sembari mengusap air matanya dan langsung pergi meninggalkan Laura dan Fani yang masih berada di rumah Olivia.


" Ivan tunggu aku,kau ingin kemana?jangan katakan bahwa kau ingin kesana," kata Jefri sembari berjalan mengikuti Ivan.


" Haa … memang nya kenapa,jika Jenderal Valdo itu bisa membuat adikku menjadi seperti ini maka apa salahnya jika aku membuat nya lebih menderita dari pada apa yang adikku rasakan saat ini," ucap Ivan yang di penuhi rasa dendam dengan sosok Jenderal Valdo yang di ceritakan oleh Fani dan Laura tadi.


" Tapi Ivan … kita masih belum tau siapa Jenderal Valdo itu,bahkan kita tidak pernah bertemu dengan dirinya," jelas Jefri kepada Ivan