Dari Peristiwa Menjadi Cinta

Dari Peristiwa Menjadi Cinta
Siapa Mereka


Ketika Olivia sedang menenangkan diri tiba-tiba saja ada nomor yang tidak di kenal menelpon nya. Olivia merasa heran siapa yang menelponnya, lalu ia mengangkat telpon itu karena penasaran.


📞"Halo siapa ini?"


📞"Apakah kau yang bernama Olivia."


📞"Ya ada apa?"


📞"Sepertinya kau tidak mendengarkan tentang, untuk tidak mencari tau lagi mengenai berita itu ya."


📞"Kenapa, apa hak mu. Kenapa kau berani mengurusi ku."


📞"Kau!" tiba-tiba terdengar suara satu orang lagi yang berada di dalam telpon tersebut. "Haha! wow kau sangat menarik ya, heh' baru kali ini aku bertemu dengan orang seperti mu. Apakah kau berani dengan kami," kata orang kedua dalam telpon itu.


📞"Siapa yang takut denganmu, jika kau mampu carilah lokasi ku."


📞"Apakah kau meremehkan ku, kau terlalu menyepelekan kami. Kalau begitu bersiap siaplah untuk bertemu," kata orang pertama.


Setelah mengatakan hal itu sambungan telpon itu langsung di matikan oleh mereka. Olivia lalu menatap layar ponsel nya. "Siapa tadi? mereka berdua dan mereka tau tentang diriku, apakah mereka juga akan menemukan lokasi ku." Batin Olivia ber firasat kalau mereka pasti akan menemukan keberadaannya.


"Heh' aku menantikan nya." Olivia bermonolog kepada dirinya sendiri sambil menunggu orang misterius yang menelponnya tadi. Ketika Olivia selesai berbicara seperti itu tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya. Olivia sontak langsung berbalik dan bersiap-siap untuk menyerang.


"Hey tenanglah ini aku," ujar Valdo menangkis serangan Olivia.


"Ohh ternyata kau Valdo, maaf."


"Ada apa denganmu Olivia, kenapa kau sangat berhati-hati. Apakah kau sedang ada masalah?"


"Aku tidak mungkin mengatakan hal yang baru saja terjadi tadi kepada Valdo, ini adalah masalahku aku tidak ingin melibatkan nya." Batin Olivia yang tidak ingin merepotkan Valdo.


"Tidak tidak ada masalah, ada apa kau mencari ku?"


"Ayahku mengatakan kalau kau tidak perlu menginap di hotel, kau bisa tinggal di rumahku."


"Eh' tapi aku merasa tidak enak."


"Tidak apa tidak apa, ayolah ayo. Kak Vania juga akan memberikan beberapa baju untuk kau kenakan."


"Baiklah baiklah."


"Kalau begitu silahkan jalan lebih dulu."


"Ya ya ya terserah apa yang kau katakan."


Olivia berjalan lebih dulu sedangkan Valdo berjalan pelan-pelan dibelakang Olivia melihat Olivia yang sudah berjalan agak jauh Valdo berhenti. Ia lalu mengambil ponsel nya dan menghubungi seseorang. Orang itupun mengangkat telpon dari Valdo.


📞"Halo ada apa kau menelpon ku, bukankah aku sudah menelpon mu tadi."


📞"Itu tadi sewaktu aku sedang berada di pemakaman sekarang aku sudah berada di rumah."


📞"Huuuhh, ya terserah apa yang kau katakan. Lalu ada apa kau menelpon ku?"


📞"Seperti nya kau sudah sangat menyayangi keluarga mu ya, kalau begitu apapun yang kau katakan aku akan mengikuti nya sesuai keinginan mu."


Valdo memutuskan sambungan telpon nya setelah orang itu berbicara, lalu melanjutkan berjalan masuk ke rumahnya.


****************


Malam hari pun tiba, Olivia yang berada di balkon di kamar yang sudah di sediakan oleh keluarga nya Valdo sedang melamun memikirkan tentang orang asing yang menelpon nya sambil menatap langit malam yang di taburi bintang serta cahaya bulan yang terang.


"***Sebenarnya siapa mereka, aku takut terjadi sesuatu kepada kakak ku jika seandainya mereka tidak menemukan lokasi ku mungkin saja mereka mengancam ku dengan keluarga ku. Tapi jika seandainya mereka menyentuh keluarga ku sedikit saja maka aku akan membunuh mereka tanpa ampun."


"Aku tidak peduli kedudukan apa yang mereka punya, jabatan apa atau kekuasaan apa yang sedang mereka raih. Jika mereka sudah menyentuh keluarga ku maka lawannya adalah aku***." Tekad Olivia dalam batinnya.


Setelah mengatakan hal itu Olivia lalu tersenyum dan pandangan matanya berpindah ke arah Valdo yang sedang berada di halaman rumah dan sedang menelpon seseorang sambil menyeringai.


Valdo yang sedang menelpon lalu melihat ke arah balkon kamar Olivia, dan melihat kalau ada Olivia disana. Ia lalu melambaikan tangannya lalu tersenyum ke arah Olivia. Olivia yang melihat itu tersipu lalu membalas lambaian tangan Valdo.


"***Dia selalu bersikap seperti itu, aku tidak bisa menebak apakah dia menyukai ku atau tidak aku tidak. Tapi bagaimana jika seandainya dia mengatakan kalau dia juga menyukai ku apa yang harus aku katakan."


"Ahhhk! sudahlah aku bahkan tidak mau memikirkan tentang hal itu, tidak akan ada kata kata apapun yang keluar dari mulut ku. Hahh' baiklah kalau begitu aku akan pergi tidur***." Olivia lalu berbaring di ranjang tempat tidurnya.


"Emm' aku mendengar dari kak Vania kalau ketika kakak nya Valdo sedang sakit dia selalu mengungkit tentang Valdo dalam igauan mimpinya dan juga ibunya. Hmm' yaa kurasa itu baik, karena rasa bersalah selalu menyelimuti hatinya." Perlahan lahan Olivia menutup matanya.


Sebelum ia terlelap tidur hatinya berbisik. "Tapi ngomong ngomong, ketika aku melihat foto keluarganya Valdo dan melihat wajah ibunya ternyata ibunya sangat cantik." Mengatakan itupun akhirnya Olivia tertidur.


****************


Keesokan harinya, Olivia yang sudah bangun di pagi hari dan sudah bersih-bersih lalu di panggil oleh Kevin untuk makan di ruang makan. Olivia lalu turun dan makan di ruang makan.


Ketika Olivia sedang makan Valdo mengajaknya berbicara. "Olivia, apakah kau ingin pergi bersamaku untuk melihat-lihat kota ini. Aku juga sudah lama tidak kemari, mungkin saja ada perubahan di kota ini." Ajak Valdo.


"Emm' tentu." Disertai anggukan pelan dari Olivia dan kemudian melanjutkan makan.


Setelah selesai makan Valdo dan Olivia berpamitan untuk pergi keluar melihat-lihat kota Swiss. Valdo lalu mengeluarkan mobil dari garasi dan memanggil Olivia untuk masuk ke dalam mobil.


Olivia lalu masuk ke dalam mobil mereka lalu pergi ke Alun-alun Kota, ketika sampai di Alun-alun Kota Valdo lalu memarkirkan mobilnya. Mereka berjalan-jalan di Alun-alun Kota, Olivia melihat arah pasangan yang membeli es krim.


"Hehh' andaikan aku berada di posisi wanita itu." Lirik Olivia melihat sepasang kekasih membeli es krim. Valdo yang melihat Olivia memandangi sepasang kekasih tersebut pun berniat membelikan nya juga untuk Olivia.


"Apakah kau mau? aku akan membelikan nya untukmu." Valdo memegang tangan Olivia dan membawa pergi ke tempat penjualan es krim itu. Setelah membeli es krim Olivia melihat ada air pancuran di tengah Alun-alun.


Dia menarik tangan Valdo untuk pergi melihat air pancur itu. "Kenapa, ada apa? kenapa kau menarik ku?" tanya Valdo keheranan karena Olivia tiba-tiba saja menarik tangannya.


"Itu, aku ingin pergi ke tempat air pancur itu." Olivia menunjuk air pancur yang berada di tengah Alun-alun.


"Haihh sebaiknya kau mengatakannya lebih dulu sebelum menarik tangan ku." Valdo menarik nafas pelan melihat tingkah laku Olivia.


...****************...


...Di setiap kehidupan selalu ada masalah yang menghadapi. Ada kalanya rasa kebahagiaan dan ada kalanya rasa sedih dan marah di sebabkan sebuah masalah yang merundung....