Dari Peristiwa Menjadi Cinta

Dari Peristiwa Menjadi Cinta
Kejujuran


Setibanya Valdo di mes nya ia terkejut melihat pintu mes nya sudah rusak ia lalu bergegas masuk, ketika masuk ia melihat di sofa ada seseorang. "Ohh kau sudah datang," ucap Olivia menyambut kedatangan Valdo dengan nada suara yang dingin.


"Kau!" tegas Valdo.


Tanpa berpikir panjang Olivia melemparkan botol alkohol ke arah Valdo, Valdo mengelak dari lemparan botol alkohol tersebut. "Kenapa kau melemparkan itu kepadaku!"


Olivia tidak memperdulikan apa yang Valdo katakan ia tetap melemparkan botol-botol alkohol itu ke arah tetapi Valdo selalu mengelak dari lemparan botol alkohol tersebut, hingga ketika Valdo lengah dan hanya terfokus ke setiap botol yang di lempar Olivia, Olivia mengubah caranya melempar dengan melemparkan dua botol alkohol ke arah Valdo.


Valdo hanya bisa terfokus ke salah satu botolnya tetapi tidak fokus ke satu botol lagi hingga membuat botol yang di lempar Olivia itu mengenai kepalanya sampai mengeluarkan darah. "Tsk! auww." Valdo memegang kepala nya yang berdarah.


"Ohh apakah itu sakit Valdo, he' itu tidak sesakit apa yang kau lakukan kepadaku."


"Ukh! apa yang kau katakan, Olivia keluar lah dari tempat ini."


"Ha? kenapa aku harus keluar, sedangkan aku mempunyai urusan yang sangat penting untuk ku bicarakan dengan mu."


"Keluar lah Olivia! aku meminta mu untuk keluar!!" teriak Valdo kepada Olivia yang memekikkan.


Olivia bangkit dari tempat duduk nya dan berjalan ke arah Valdo lalu menarik kerah bajunya kemudian menyeret nya ke sofa, Olivia menjambak rambut Valdo dan mendekat kan wajahnya ke wajah Valdo hingga jarang wajah mereka hanya sejengkal saja.


"Hey siapa kau yang beraninya berteriak kepadaku, apakah aku perlu memperjelas prinsip ku di hadapan mu. Kedudukan bukanlah apa-apa bagiku mau setinggi apapun jabatan yang kau punya jika kau tidak bisa menghargai ku, maka jangan harap kau bisa ku hormati."


"Aku tidak peduli dengan prinsip mu, aku hanya meminta mu keluar."


"Hee~ apakah seperti ini sikap Jenderal Valdo kepada wanita tidak ingin melawan?"


"Apa yang kau katakan." Mengatakan itu Valdo lalu mencengkram bahu Olivia dan menukar posisi nya dengan posisi Olivia. "Seperti ini yang kau katakan? aku berani bertindak Olivia hanya saja aku tak ingin melukai mu."


"Kau telah melukai ku melukaiku sangat dalam, bahkan aku tidak tau luka ini bisa di sembuhkan atau tidak."


"Apa yang kau katakan?"


"Kenapa kau tidak membalas pesan dariku, kenapa kau tidak mengangkat telpon ku dan bahkan kau tidak menelpon ku balik. Ada apa? apakah aku melakukan kesalahan? kau tinggal katakan saja, tidak perlu bersembunyi seperti ini. Kau tau ini sama saja kau melukai ku."


"Aku tidak menelpon mu, aku tidak membalas pesan mu bahkan aku tidak menelpon mu balik itu karena aku sudah tidak membutuhkan mu lagi."


"Ohh begitu ya sekarang kau tidak membutuhkan sapu tangan yang kotor lagi kan!"


"Apa … apa yang ingin kau bicarakan?"


Olivia mengeluarkan sapu tangan yang berada di dalam tas nya lalu membersihkan darah yang mengalir di wajah Valdo, setelah membersihkan nya Olivia membuang sapu tangan tersebut. "Kau membuang ku persis seperti sapu tangan yang ku buang itu, kau mengerti sekarang."


"Kau hanya menginginkan ku disaat kau perlu!! apakah seperti itu Valdo! katakan yang sebenarnya, kau menganggap ku seperti itu bukan!!" sambung nya lagi dengan berteriak tidak tahan dengan perlakuan Valdo kepadanya.


"Tidak, aku tidak menganggap mu seperti itu."


"Lalu seperti apa!ohh apakah kau menganggap ku sebagai tempat pelarian mu disaat kau merasakan kesakitan dan kepedihan yang mendalam!"


"Kau ingin tau kenapa aku begitu peduli denganmu."


"Ya katakan kenapa? he' disaat orang lain menjauhi ku tetapi kau malah mendekatiku, aku berpikir kalau kau itu gila."


"Ya kau benat! aku gila karena mencintaimu. Kau sudah puas!!"


Mendengar kata-kata seperti itu dari Olivia Valdo hanya bisa terdiam tidak bisa berkata-kata lagi.


"Itulah yang ingin ku katakan, kau bertanya kenapa aku peduli kepadamu karena aku mencintaimu. Aku tidak tau kenapa tetapi tiba-tiba saja perasaan ini semakin lama semakin dalam, dan karena itulah hatiku sangat terluka ketika kau tidak mengabariku …"


Valdo berbalik memalingkan wajahnya dan tidak berani menatap wajah Olivia, Olivia yang tadinya duduk langsung berdiri. "Apakah hanya itu yang ingin kau katakan? jika hanya itu kau boleh pergi."


"Untuk apa kau terus menghindari ku, sebaiknya kau mengatakan yang sebenarnya. Apa sebenarnya yang kau sembunyikan hingga membuat mu menjauh dariku, sebaiknya kau mengatakan nya sebelum aku mencari tahunya."


"He' aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari dirimu, aku menyembunyikan ini sebelum kejadian kau di culik."


"Apa maksud mu?"


"Aku akan mengatakannya dan sisanya itu tergantung kepada dirimu, kau ingin membenci ku atau tidak itu semua tergantung kepada dirimu."


"Katakan saja."


"Sebenarnya sebelum kau di culik waktu itu aku sudah tau kalau ada dua orang yang ingin menculik mu." Tukas Valdo menjelaskan dengan detail dan singkat kepada Olivia.


"Apa! bagaimana kau bisa tau." Olivia terkejut mendengar pengakuan dari Valdo.


"Orang yang menculik mu itu adalah orang yang ingin ku hadapi sebab itulah aku tau, sewaktu di Kota Swiss aku mendengar percakapan mu dengan mereka, aku lalu menyuruh orang terdekat kun untuk mencari tau pergerakan tentang mereka berdua sampai saat kita tiba di Kota Tiongkok ini."


"Orang itu mengatakan kalau aku harus menyerahkan boom waktu ku kepada mereka."


"Boom waktu??"


"Ya, kau disebut nya boom waktu. Kaulah yang membuat semua rencana kami yang seharusnya di jalankan dengan perlahan tiba-tiba saja menjadi cepat, maka demi mengetahui lokasi mereka dia menyuruh ku untuk membiarkan mu tertangkap oleh mereka."


"Aku berkata kalau aku tidak ingin menyerahkan mu tetapi dia menyuruh ku untuk memikirkan nya lagi, aku memikirkan nya selama seminggu tetapi aku lupa kalau mereka berdua sudah kembali ke Kota Tiongkok. Dan aku mendapatkan kabar kalau kau di culik."


"Aku menyelamatkan mu di dalam kapal itu karena melihat di sudut kapal ada begitu banyak boom aku lalu bergerak lebih cepat dan membawa mu pergi. Kapal itu lalu meledak dan diriku hanya bisa berkata di saat itu seandainya aku sedikit saja menyelamatkan mu maka kau akan mati karena itulah aku menjauhi mu, aku tidak ingin kau menjadi boom waktu ku."


"Siapa yang menjadi boom waktu mu? hanya dialah yang menganggap ku sebagai boom waktu mu sedangkan aku hanya menganggap diriku sebagai aku."


...****************...


...Lambat laun semua nya akan terungkap seiring berjalan nya waktu, karena sebuah perasaan jika selalu di bendung akan semakin meluap......