Dari Peristiwa Menjadi Cinta

Dari Peristiwa Menjadi Cinta
Curahan Hati


" Ohh ternyata kau … " ujar Ivan yang telah mengingat siapa sebenarnya sosok Valdo.


" Ya senior ini saya, apakah anda mengingat saya?" tanya Valdo sambil membenarkan perkataan Ivan dan Jefri.


" Ya … " lirih Ivan sembari hati nya merasa kecewa kepada Valdo yaitu junior nya sendiri.


Ivan pun merasa kecewa dengan Valdo kenapa dia bisa melakukan hal sekeji itu kepada adiknya, dengan rasa yang tidak bisa di deskripsi kan dan pikiran yang bingung Ivan tidak tau harus memilih adiknya atau memilih Valdo yang sebagai mantan junior nya itu.


" Ivan kali ini apa yang akan kau pilih, sebuah pilihan yang sangat berat berada di tangan mu. Memilih adikmu yang sekarang tidak menganggap mu lagi atau memilih orang yang sudah kau anggap seperti adikmu sendiri." Batin Jefri yang penasaran dengan pilihan Ivan antara adiknya Olivia atau mantan junior nya yaitu Valdo.


" Seperti nya anda dalam suasana kesal, apa yang membuat anda menjadi kesal seperti ini senior Ivan. Dan seperti nya anda sangat terburu-buru mencariku, sebenarnya ada urusan apa?" tanya Valdo kepada Ivan yang penasaran kenapa tiba-tiba ia datang ke mes untuk mencarinya.


" Bagaimana ini, disatu sisi aku sangat menyayangi adikku tapi disisi lain aku sudah menganggap orang yang berada di hadapan ku ini sebagai adikku sendiri bahkan ketika aku melihatnya … aku melihat wajah adikku sendiri. Apakah aku sanggup memarahinya itu tidak mungkin sama sekali." Batin Ivan yang bingung harus memilih Olivia atau Valdo karena baginya mereka berdua sama sama sangat berharga.


" Senior ada apa?" tanya Valdo lagi yang melihat Ivan sangat kebingungan dan hanya bisa terdiam.


" Jadi aku harus bagaimana … ohh bagaimana dengan ini, aku harus mengatakannya secara langsung." Batin Ivan yang mendapat sebuah ide .


" Senior Ivan apakah kau baik baik saja?" tanya Valdo kepada Ivan yang sedari tadi hanya terdiam dana termenung seperti memikirkan sesuatu.


" Aku merasa kecewa dengan dirimu Valdo," kata Ivan kepada Valdo yang sontak perkataan itu membuat Valdo terheran dan bingung.


" Haa, apa maksud anda senior? apakah anda baik baik saja? apakah terjadi sesuatu?" tanya Valdo kepada Ivan dengan beribu pertanyaan yang di lontarkan nya karena bingung dengan apa yang di katakan oleh Ivan.


" Tidak terjadi apa apa hanya saja, kau Valdo bertindak terlalu jauh tanpa memikirkan hati orang lain," ucap Jefri kepada Valdo.


" Haa … tidak memikirkan hati orang lain, apa maksud anda senior Jefri?" tanya Valdo yang sama sekali tidak mengerti yang dikatakan oleh Jefri dan Ivan.


" Apa maksud senior Jefri mengatakan seperti itu, bertindak terlalu jauh … dan tidak memikirkan hati orang lain? aku tidak pernah melakukan hal sekeji itu. Tapi apa jangan jangan." Timpal Valdo dalam batin nya yang kemudian menyadari apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh kedua senior nya itu.


" Kau pasti bertanya kenapa aku kecewa padamu bukan? heh aku kecewa padamu karena satu hal, kau menyakiti hati seorang wanita dan wanita itu adalah adik kandungku!" tegas Ivan kepada Valdo sembari memberitahukan kepada Valdo bahwa Olivia adalah adik kandungnya.


Sontak Valdo pun terkejut dan terpaku mendengar perkataan dari Ivan yang mengatakan bahwa Olivia adalah adik kandungnya.


" Kenapa kau terdiam Valdo, bukankah aku sudah pernah mengatakan kepada dirimu bahwa aku mempunyai seorang adik! aku pernah mengatakan hal itu ketika aku menyelamatkan nyawa mu di dalam suatu misi, dimana misi itu kau sendiri yang menyelesaikan nya," ujar Ivan dengan penuh penekanan kepada Valdo.


" Ivan aku tidak sanggup melihatmu yang seperti ini, mungkin aku hanya akan mendengarkan perkataan mu tanpa melihat wajahmu sama sekali." Batin Jefri sambil membalikkan badannya membelakangi Ivan dan Valdo.


" Ohh iya aku lupa, bahwa senior Ivan pernah mengatakan dia memiliki seorang adik tetapi dia tidak pernah menyebutkan nama ataupun gender adiknya itu." Batin Valdo yang mengingat perkataan Ivan di saat dia memberitahukan bahwa dia memiliki seorang adik.


" Kau tau Valdo berapa sakitnya di tinggalkan oleh ayah dan ibu, aku tau kau pasti pernah merasakan hal itu bahkan kau pasti akan menangis ketika mereka mati bukan. Tetapi aku berbeda aku bahkan tidak meneteskan setetes air mata pun ketika kematian ayah dan ibuku, aku tak pernah menangis Valdo!" tegas Ivan kepada Valdo sembari menahan rasa sesak di dada nya yang menyakitkan.


" Kau tau akan hal itu, apakah kau pernah melihat ku menangis ketika aku menjalankan misi, apakah kau pernah melihat ku meneteskan air mata ketika aku melihat teman temanku mati di hadapanku sendiri, kali ini aku menangis di hadapanmu hanya karena aku ingin menegakkan keadilan untuk adikku yang telah kau lukai di dalam hatinya bukan fisikanya," timpal Ivan lagi sambil meneteskan air mata karna tidak sanggup menahan sesak di dada nya.


" Apakah aku salah … ." Batin Valdo yang merasa bersalah dengan tindakan nya kepada Olivia.


" Kau tau Valdo … ketika kejadian itu terjadi kepada adikku, waktu itu dia bahkan tak menganggap ku sebagai kakak kandungnya dia menganggap dirinya sebagai sampah yang tak berguna karena tak bisa menyelamatkan teman temannya, bahkan dia mengusir ku dari rumah ku sendiri," jelas Ivan kepada Valdo sambil tak hentinya meneteskan air mata.


" Sampai di hari pernikahan ku dia bahkan tidak pernah datang, ketika aku menemuinya pintu rumah selalu tertutup, rumahku seperti rumah yang tak pernah di gunakan oleh manusia. Bahkan seperti tidak pernah ada orang yang pernah datang kesana," ucap Ivan lagi kepada Valdo sembari menangis tak henti hentinya di hadapan mantan junior nya itu.


" Apa aku benar benar salah." Batin nya lagi yang berulang kali mengatakan hal yang sama atas tindakan nya itu.


" Seperti itulah adikku ketika kejadian itu pertama kali menimpanya, aku masih bisa menerima semua hal itu dan aku beserta teman temannya sepakat untuk tidak pernah mengungkit hal itu lagi di hadapannya. Tapi tiba-tiba kau mengungkit nya!" kata Ivan sembari mengusap air mata yang sedari tadi menetes dari pipinya itu.


" Kau tau apa yang dia katakan kali ini Valdo! dia mengatakan bahwa aku bukanlah siapa siapa bahkan dia telah menganggap ku tidak ada di dunia ini dan dia mengatakan bahwa dia sudah mati. Apakah kau melihat wajahnya? apakah kau melihat ekspresinya waktu kau mengungkit kejadian itu?" tanya Ivan kepada Valdo sembari ber linangan air mata.