
"Ya kurasa dia benar, mungkin aku terlalu kasar kepada anak ini. Dia tidak tau tentang diriku … jadi untuk apa aku harus marah, lagipula aku mengingat sesuatu di umur seperti anak ini aku sangat menyayangi orang itu." Sekilas Valdo mengingat kenangan masa kecilnya.
"Hahahaha, iya benar aku adalah Paman mu. Lalu siapa namamu? karena paman baru saja bertemu dengan dirimu dan juga Paman tidak pernah berkomunikasi dengan kedua orang tua mu selama beberapa tahun, sebab itulah Paman tidak mengetahui siapa namamu," jelas Valdo merubah sikap dingin nya kepada Tristan menjadi sikap yang lemah lembut dan ramah.
"Oh ya, nama ku adalah Tristan. Apakah Paman tidak ingin pulang dan bertemu dengan ayah dan ibu?" tanya Tristan dengan polosnya.
"Ah' itu tidak-" Olivia lalu menutup mulut Valdo sebelum ia menyelesaikan perkataan nya. "Tidak apa? apakah Paman tidak ingin bertemu dengan ayah dan ibu," ujar Tristan sembari memiringkan sedikit kepalanya.
"Ahahaha, tidak bukan seperti itu. Paman mu mengatakan kalau dia tidak keberatan pergi ke rumah, lagipula dia akan tinggal di sana." Olivia tersenyum dengan tangan nya yang masih menutup mulut Valdo.
"Hore! apakah itu benar Bibi Olivia."
"Ya tentu saja."
"Kalau begitu ayo kita segera pulang dan bertemu dengan ibu." Tristan naik ke mobil dan mengajak Olivia beserta Valdo untuk ikut dengannya pulang ke rumah.
Olivia lalu melepaskan tangannya dari mulut Valdo, sedangkan Kevin yang sudah mendengar seluruh pembicaraan antara Valdo Olivia dan Tristan pun berjalan ke arah mereka.
"Kenapa kau menutup mulut ku," kata Valdo sedikit kesal dengan perbuatan Olivia yang menutup mulutnya.
"Ya itu karena … ya' emm' oh iya, bukankah kau ingin menunjukkan sifat keluarga mu kepadaku. Jadi karena itu aku menerimanya," tukas Olivia mencari alasan yang masuk akal.
"Kau ini, bukankah kita bisa nanti saja mendatangi mereka."
"Untuk apa harus nanti, jika seandainya hari ini kita bisa mendatangi mereka secara langsung tanpa menunggu hari esok."
Olivia berjalan meninggalkan Valdo dan masuk ke dalam mobil. "Tuan Muda Valdo, jika anda tidak mau saya tidak akan membawa anda pulang ke rumah, melainkan saya akan membawa anda ke-" sambung Kevin tetapi omongannya di potong oleh Valdo.
"Tidak perlu Paman Kevin, aku akan menuruti apa kata Olivia. Bawa aku pulang ke rumah itu."
"Anda tidak perlu memaksakan diri anda Tuan Muda Valdo!"
"Tidak aku bukan memaksa diriku, hanya saja aku ingin melihat apakah perkataan Olivia itu benar atau salah."
Mendengar itu Kevin hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata apa apa, Valdo lalu membuka pintu mobil. Sebelum masuk kedalam mobil Valdo berkata,"Mari kita kembali ke tempat seperti neraka itu." Setelah mengatakan hal itu Valdo lalu masuk ke dalam mobil.
Kevin lalu bergegas masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil nya menuju rumah.
Di tengah perjalanan Tristan bertanya sesuatu kepada Valdo. "Paman Valdo, kenapa ketika aku lahir kau tidak ada? bahkan ketika aku berumur 6 tahun sekarang, aku baru melihat mu saat ini. Kemana saja kau selama ini?" tanya Tristan penasaran kemana Valdo selama ini.
"Oh tentang itu, Paman sedang berada di luar negeri, karena Paman terlalu sibuk untuk bekerja jadi Paman tidak bisa pulang. Dan hari ini Paman mengambil cuti untuk bisa kembali kemari."
"Oh ternyata begitu ya."
"Aku berbohong demi kebaikan dan itu juga agar hubungan ku dengan Tristan tidak menjadi buruk."
Tidak berapa lama mereka pun sampai di rumah, Tristan yang tidak sabar bertemu dengan ibunya lalu bergegas keluar dari mobil dan berlari menuju ke arah ibunya yang berada di halaman rumah lalu memeluk ibunya.
"Ibu!" teriak Tristan sembari berlari memanggil ibunya.
"Tristan sayang kau kemana saja? Ibu bahkan menelpon ayahmu untuk menjemput mu di sekolah karena Asisten Kevin sangat lama membawa mu pulang," ujar Vania cemas serta khawatir ketika melihat Tristan yang baru saja pulang.
"Ibu tadi aku pergi ke pemakaman nenek."
"Hah? untuk apa kau pergi ke sana?"
"Ah' aku pergi kesana un-" Perkataan Tristan terpotong karena terdengar suara seseorang dari dalam rumah. "Apakah kau sangat merindukan nenek mu cucuku tersayang," kata orang itu menimpali pembicaraan Tristan dan Vania.
"Kakek!" ucap Tristan sembari berlari menuju ke arah seseorang yang di sebut nya dengan sebutan kakek,yang tidak lain dan tidak bukan adalah Edwin ayahnya Valdo. Tristan pun memeluk Edwin. "Tidak, hanya saja Paman Valdo dan Bibi Olivia ingin pergi ke pemakaman nenek."
Mendengar nama yang di sebutkan oleh Tristan sontak membuat Edwin merasa terkejut. "Siapa mereka?" tanya Edwin yang kelihatan tidak asing mendengar nama yang di sebutkan oleh Tristan.
"Apakah Kakek tidak tau, kalau Paman Valdo itu adalah Adik nya ayah berarti dia adalah Paman ku."
Sontak mendengar itu Edwin merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, sedangkan Valdo Olivia dan Kevin yang masih berada di dalam mobil dan belum keluar sama sekali dari mobil. "Apakah dia Ayahmu?" tanya Olivia ketika melihat sosok Edwin dari dalam mobil.
"Apakah aku benar-benar harus menganggap nya sebagai Ayah ku Olivia," ujar Valdo yang enggan menganggap bahwa Edwin adalah Ayah kandungnya.
"Hanya mulutmu yang berkata tidak tetapi hati mu berkata iya."
"Tuan Muda Valdo apakah saya harus membawa anda pergi dari sini?" tanya Kevin merasa tidak enak membawa Valdo ke tempat yang sangat di bencinya.
"Ee-" Perkataan Valdo terpotong oleh Olivia. "Tidak perlu, Paman Kevin kau bisa keluar dari mobil. Aku akan memaksa orang ini untuk keluar dan bertatap muka dengan Ayahnya!" tegas Olivia.
"Baik Nona Olivia." Kevin pun keluar dari dalam mobil, ketika ia baru saja keluar ia langsung di panggil oleh Edwin. "Kevin, apakah benar yang dikatakan oleh Tristan kalau dia bertemu dengan Valdo," ujar Edwin yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Tristan cucu nya yang polos itu.
"Iya benar, sekarang Tuan Muda sedang berada di dalam mobil itu," tukas Kevin mengiyakan perkataan Edwin dan melihat ke arah mobil tempat di mana Valdo berada.
"Kalau begitu panggilkan dia un-" Sebelum Edwin menyelesaikan perkataan nya tiba-tiba terdengar suara mobil yang mengerem dengan mendadak, lalu orang dari dalam mobil itu keluar sembari berteriak memanggil nama Vania.
"Vania!" teriak orang itu sambil berlari menuju arah Vania.
...****************...
...Kebahagiaan akan datang seiring berjalannya waktu, tapi sebelum itu kita harus siap untuk menerima kesedihan sebelum datang kebahagiaan....