Dari Peristiwa Menjadi Cinta

Dari Peristiwa Menjadi Cinta
Suram


πŸ“ž"Hah! apa maksud mu. Aku tidak akan menyerahkan boom waktu ku kepada mereka, dan aku juga tidak setuju dengan solusi yang kau berikan." Valdo terkejut dan menolak rencana yang orang tersebut berikan.


πŸ“ž"Ohh ternyata begitu, kalau begitu maka aku akan bertanya kepadamu Valdo. Apakah ada cara lain lagi untuk mengetahui lokasi mereka?"


Valdo seketika terdiam mendengar perkataan itu dan tidak bisa berkata apa-apa.


πŸ“ž"Kau pikirkan lah itu baik-baik Valdo." Setelah mengatakan hal tersebut orang itu langsung mematikan sambungan telepon nya.


Valdo meletakkan ponsel nya di atas meja ruang tamu lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Heh' ternyata kebahagiaan itu sangat cepat berakhir, aku lupa tentang yang ini dan kenapa aku harus memilih. Kenapa kau menjadi boom waktu, kenapa kau membuat semua ini menjadi cepat. Aku tak ingin kehilangan mu, jadi apa yang harus aku lakukan saat ini … Olivia." Valdo bermonolog kepada dirinya sendiri sembari memikirkan Olivia.


****************


Seminggu pun berlalu, Olivia yang sedang duduk di ruang tamu di malam hari menunjukkan wajah yang sangat suram, bahkan Ivan yang melihat itu menyuruh Anggi membawa Chika untuk bermain di dalam kamar. Tidak berapa terdengar suara pintu yang terbuka, ternyata yang membuka pintu adalah Jefri. Ia datang ke rumah Ivan untuk bertamu .


Ia lalu menyapa Ivan yang sedang berdiri menghadap ruang tamu. "Ivan, kenapa kau berdiri disana?" tanyanya sembari berjalan menuju arah Ivan dan melihat apa yang sedang dilihat oleh Ivan.


"Heeehh, apakah suasana seperti ini yang sedang kau lihat Ivan," ucapnya setelah melihat apa yang sedang dilihat Ivan sedari tadi.


"Ya begitulah."


Jefri melihat suasana di ruang tamu yang sangat mencekam, tatapan Olivia melihat ponsel nya sangat dingin seperti ingin membunuh seseorang. "A'ada apa dengan nya Ivan?" tanya Jefri yang penasaran kenapa Olivia menjadi seperti itu.


"Aku tidak tau, dia seperti ini semenjak ia pulang dari Swiss bersama Valdo, tetapi hari ini dia menjadi sangat dingin dan suram."


"Apakah kau ada menanyakannya kepada Valdo, apa ini semua karena ulahnya?"


"Tiga hari yang lalu aku menghubungi Valdo dan Valdo berkata kalau mereka tidak ada masalah."


"Lalu kenapa dia menjadi seperti ini."


"Hmm' aku juga tidak tau."


Di saat Jefri dan Ivan sedang berbincang mengenai Olivia, tiba-tiba saja Olivia berbicara."He' kau tidak membalas pesan ku, kau tidak mengangkat telpon ku bahkan kau tidak menelpon ku balik."


"Sebenarnya apa mau mu, oh apa jangan-jangan kau sudah melupakan jasa ku ini yang telah menyatukan mu lagi bersama keluarga mu. He' dasar pria bejat, aku akan mengambil cuti nanti untuk bertemu dengan dirimu." Olivia lalu mengambil ponsel nya lalu berjalan menuju kamarnya, ia melewati Ivan dan Jefri.


Ivan dan Jefri tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa melihat Olivia yang melewati mereka seperti angin. Setelah Olivia melewati mereka dan masuk ke kamar nya, Ivan dan Jefri lalu duduk di ruang tamu.


"Dirinya yang seperti itulah yang tidak ingin ku lihat, ketika aku melihat dirinya yang seperti itu dia seperti ingin menerkam seseorang dan mencabik cabik nya," ujar Jefri mengatakan isi hatinya.


"Hufhh, aku tidak tau apa yang sedang terjadi. Bagaimana aku bisa menyelesaikan masalah ini aku juga tidak tau, hanya mereka berdua yang bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri." Ivan menarik nafas pelan melihat situasi Olivia dan Valdo yang sama sekali tidak ia pahami.


"Yaa ku harap semuanya baik-baik saja dan tidak akan terjadi apa-apa."


****************


"Huhh apa sebaiknya aku menanyakan nya pada Fani, tapi bukankah dia sedang latihan? aku tidak ingin mengganggu. Tapi rasa khawatir ku sangat besar, jadi aku akan menelpon nya jika tidak di angkat maka aku tidak akan menggangu lagi," ucapnya lalu mengambil ponsel dari dalam tas nya.


Sambil berjalan ia menelpon Fani. "Ddrrtt … ddrrtt … ddrrtt …" Terdengar suara deringan ponsel Fani. Fani yang saat itu sedang latihan sedikit linglung, ia lalu diperintahkan oleh Jenderal untuk beristirahat. Ketika ia duduk dia mendengar suara deringan ponsel nya, Fani yang mendengar nya lalu mengambil ponsel nya dan mengangkat sambungan telepon itu.


πŸ“ž"Halo ada apa Olivia?"


πŸ“ž"Eh' Fani ternyata kau mengangkat nya, apakah kau tidak latihan."


πŸ“ž"Sebenarnya aku latihan hanya saja aku merasa ada yang salah."


πŸ“ž"Ohh ternyata begitu. Emm' Fani apakah aku bisa bertanya kepada mu."


πŸ“ž"Iya boleh, apa yang ingin kau tanyakan Olivia?"


πŸ“ž"Ini tentang Valdo."


πŸ“ž"Iya, emang ada apa tentang Jenderal Valdo."


πŸ“ž"Aku-" Sebelum Olivia menyelesaikan apa yang ingin dia katakan tiba-tiba saja ada tangan seseorang yang ingin menutup mulut Olivia. Olivia yang menyadari hal itu langsung menghindar.


"Siapa kalian berdua!" tegas Olivia menghindari dua orang yang sudah sedari tadi mengikuti nya itu dan dengan sambungan telpon yang belum dimatikan.


Fani yang mendengar kata-kata itu dari dalam telpon langsung berteriak panik memanggil nama Olivia. "Olivia! ada apa di sana!" teriak Fani yang panik.


Laura yang sedang latihan sedikit terganggu dengan teriakan Fani menyebut-nyebut nama Olivia, karena khawatir Laura meminta izin untuk istirahat sebentar melihat Fani dan Jenderal mengizinkan nya.


"Fani ada apa? kenapa dengan Olivia, ia baik-baik saja kan?" tanya Laura yang berlari ke arah Fani.


"Laura! coba kau dengar ini." Fani menyalakan speaker ponsel nya dan menaikan volume ponsel nya agar Laura mendengar apa yang sedang terjadi.


***************


Beralih ke Olivia yang sedang berhadapan dengan dua orang misterius yang mengikuti nya. "Siapa kalian, kenapa kalian menutupi wajah kalian dengan topeng, apakah kalian takut wajah kalian di kenali?" tanya Olivia curiga dengan orang-orang misterius itu.


"He' bukankah kami sudah mengatakan kepadamu kalau kami akan menemukan lokasi mu," kata orang misteriusΒΉ.


"Heh! ternyata kau cukup menarik, kau bahkan sempat menghindar sebelum aku menutup mulut mu. He' lain kali aku tidak akan memberikan mu peluang." Sambung orang misteriusΒ².


Olivia langsung mematikan sambungan telpon nya dengan Fani dan langsung memasukkan ponsel nya ke dalam tas. "Ohh ternyata kalian, aku menantikan kalian datang menjemput ku. Yaa karena sudah seperti ini maka jika seandainya aku kalah kalian bisa membawaku tetapi jika kalian yang kalah melawan ku maka sebaliknya kalian yang akan ku bawa."


Mengatakan hal tersebut Olivia langsung berkelahi dengan dua orang misterius tersebut.


...****************...


...Adakalanya masalah itu tidak datang sekali tapi berkali-kali dan itu tidak bisa kita perkirakan kapan ia akan datang lagi......