Dari Peristiwa Menjadi Cinta

Dari Peristiwa Menjadi Cinta
Terungkap


"Kurasa begitu, bagaimana kalau kita telusuri tempat ini," ujar Andi memberikan saran.


"Sebaiknya kita berpencar, jika kita memeriksa satu persatu secara bersamaan maka ini tidak akan selesai, sebaiknya berpencar," ucap Valdo memberitahukan idenya.


Olivia dan Andi setuju, Olivia memilih untuk pergi ke arah kanan, Andi memilih ke arah depan dan Valdo memilih ke arah kiri.


****************


Beralih ke Olivia sedang berjalan sembari berjaga-jaga di sekitarnya ia lalu melihat ada sebuah pintu di depan nya, ketika ia ingin membukanya tiba-tiba saja orang yang berada di dalam ruangan itu langsung keluar dan ingin menyergap Olivia.


Olivia yang mempunyai insting sangat kuat cepat menghindar. "Hee~ ternyata kau masih hidup, aku tidak menyangka kalau kau masih hidup, ternyata Valdo cepat juga menyelamatkan mu," ujar orang misterius¹


Sewaktu mereka sedang asik berbicara Olivia sempat menembak tangan kanan mereka berdua. "Di peperangan tidak ada yang namanya banyak bicara jika bertemu," ucap Olivia dengan tatapan tajam dan aura dingin yang keluar dari dirinya.


Mendengar perkataan Olivia dan tembakan nya yang tepat sasaran membuat kedua orang misterius itu marah. "Ruangan ini begitu sempit, sebaiknya aku kembali ke tempat awal aku masuk. Tempat itu memudahkan ku untuk bergerak." Olivia berbalik dan pergi meninggalkan mereka berdua yang sedang mengeluarkan peluru dari tangan mereka.


Tidak berapa lama Olivia sampai di awal dia masuk dan dua orang itu pun mengikuti nya. "Hehehe' sebenarnya aku sangat takut tertangkap dengan kalian untuk yang ke dua kalinya, tetapi aku sudah membuat taruhan dengan Valdo bahwa aku harus menembak kepala kalian berdua Syahrul Rian." ujar Olivia.


"Aku mengetahui nama kalian baru saja, dan aku tidak tau di antara kalian yang mana Syahrul dan Rian yang jelas taruhan tetaplah taruhan." Sambung nya lagi.


"Hanya baru saja menembak kedua tangan kami kau merasa bangga dan bisa mengalahkan kami? kau bercanda!" tegas Syahrul meremehkan Olivia.


"Hee~ seperti nya aku mengenal wajahmu, bukankah kau adalah Inspektur Jenderal Polisi itu kan. Hmm' begitu banyak anggota polisi dan Inspektur kenapa hanya wajah mu saja yang ku kenali."


"Oh ya aku lupa kau adalah seorang pelatih yang melatih seluruh anggota polisi yang di awal masuk kecuali aku, sangat terhormat bisa bertemu denganmu tetapi lebih terhormat lagi jika aku membunuh mu." Olivia menyeringai melihat Syahrul dan Rian.


"Hanya dengan berkata tidak akan membuktikan apa-apa." Remeh Rian.


"Kalau mari kita lihat, apakah kami akan tertangkap ataukah kau." Timpal Syahrul.


Pertempuran Olivia dengan Marsekal dan Inspektur Jenderal Polisi pun sangat sengit, setiap ada celah selalu saja tidak di biarkan begitu saja hingga Olivia membuat rencana. Ia lalu mengambil pisau secara diam-diam dan melukai kedua kaki Rian, luka Rian itu sangatlah dalam hingga membuat nya tidak bisa berdiri.


Olivia mengambil kesempatan itu lalu menembak kedua kaki dan kedua tangan nya Rian, peluru pistol milik Olivia pun habis. "Disaat seperti ini kenapa kau malah habis, kalau begitu aku hanya akan menggunakan pisau dan akan mengisi ulang nya nanti." Olivia menjatuhkan pistolnya.


"Kau mungkin bisa mengalahkan Rian hingga ia menjadi se mengenaskan itu tetapi kau tidak akan bisa mengalahkan ku, aku adalah senior mu," ucap Syahrul membanggakan dirinya.


"Kedudukan bukan lah apa-apa, aku tidak berpikir kalau pangkat mu itu tinggi dan juga terlalu bangga, tak pernah sedikit pun terbesit dalam hatiku menganggap mu sebagai senior."


Tanpa berpikir panjang Syahrul menembak ke arah Olivia, Olivia hanya bisa menghindar dan menunggu pistol itu ke habisan peluru. Syahrul terus menembak Olivia hingga pelurunya habis, Olivia yang melihat ada celah laku berlari ke arah Syahrul, Syahrul melihat Olivia yang berlari ke arah nya menghalang serangannya dengan tangannya.


Olivia menyerang Syahrul dengan pisau nya hingga membuat tangan Syahrul terluka sangat dalam, karena jarak yang begitu dekat Syahrul juga tidak ingin melewatkan kesempatan ia lalu berkelahi dengan Olivia, dengan tangan nya yang terluka dan darah yang bercucuran.


Syahrul yang sudah banyak kehilangan darah tentu saja sudah sangat lemah, Olivia melihat banyak kesempatan lalu menarik tangan Syahrul kebelakang dan menekan badan Syahrul dengan kaki nya sekuat mungkin hingga membuat kedua tangan Syahrul patah.


"Aakkhh!!" teriak Syahrul kesakitan. Teriakan Syahrul membuat ruangan itu bergema hingga terdengar dimana-mana.


Olivia berjalan ke arah pistolnya dan mengisi ulang kembali pistol tersebut, setelah mengisi ulang ia menembak kedua kaki Syahrul.


*Dor … dor


"Akh! kau! kau bukanlah manusia." Tatapan Syahrul tajam ke arah Olivia dengan wajahnya yang pucat menahan rasa sakit karena tembakan dan tangannya yang patah.


"Aku manusia, hanya saja aku pernah mengalami hal seperti ini dan sangat terpuruk. Aku tak pernah berani lagi memegang pistol tetapi selalu saja ada orang yang ingin merubah hidup ku, hingga aku pun berubah."


"Aku terpuruk karena melihat iblis yang membunuh teman ku di depan mataku, dan membunuh semua orang. Aku melihat mereka mati di hadapan ku menurut ku itu wajar, tetapi kalian! kalian yang tak mempunyai hati, kalian menculik dan membeli seluruh anak dari Panti Asuhan hanya untuk di jadikan bahan eksperimen."


"Apakah kalian sadar! kalian lah yang tidak mempunyai hati, kalian manusia bi*ad*p. Orang seperti kalian pantas untuk mati." Olivia menembak kepala Syahrul, suara tembakan nya terdengar dan menggema di seluruh ruangan itu.


*Dorr


Setelah menembak kepala Syahrul Olivia lanjut menembak kepala Rian yang sudah terkulai lemas menahan pendarahan kaki dan tangannya.


*Dorr


****************


Beralih ke Andi, ia sedang berada di ruangan yang dipenuhi berkas-berkas. "Tempat apa ini?" tanya nya bingung dengan ruangan yang ia masuki itu.


Andi lalu melihat salah satu berkas yang ada disana, berkas itu berjudul Foto Kematian. Ketika Andi melihat seluruh foto yang ada di berkas itu ia mengenal tiga wajah familiar. Pertama adalah foto ibunya Valdo, kedua adalah dirinya sendiri (Andi), dan yang ketiga adalah wartawan bernama Josua.


"He! kenapa bisa begini? aku sudah tau kenapa aku bisa di bunuh dan wartawan Josua juga ikut di bunuh. Tetapi kenapa foto ibunya Valdo juga ada disini?" tanya nya dengan bingung dan heran melihat foto ibunya Valdo yang ada di buku berjudul Foto Kematian itu.


...Riwayat Kematian....


...Nama : Clara...


...Kematian : Di pemberhentian lampu merah...


...Sebab kematian : Karena dia telah mengetahui informasi**....


"Apa! kenapa sebab kematian nya sama seperti ku? apa jangan-jangan pembunuhan ibunya Valdo sudah di rencanakan sebelumnya."Andi lalu mengambil Wokitoki nya dan bergegas memberitahukan nya kepada Valdo.


...****************...


...Mau se pintar apapun kau menyembunyikan kesalahan kelak kesalahan itu akan tertangkap seiring waktu berjalan, sama seperti pepatah *Sepandai pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga*...