
Ketika aku mengatakan kepada untuk menjauh dari tempat itu dia mengatakan sesuatu yang tak seharusnya dikatakan oleh anak-anak seumuran dirinya. dia berkata kalau itu adalah kasih sayang terakhir ibunya, dan waktu itu pandangan nya berubah menjadi dingin. Dia menunjukkan sifat nya yang sebenarnya dari kepribadian sikap dan semuanya.
Dia berubah menjadi orang yang sangat dingin dan sangat kejam, kata-kata nya membuat semua orang sakit hati ketika mendengar nya. Yang paling membuat ku terkejut adalah, di umurnya yang ke 11 tahun dia bekerja demi membiayai dirinya sendiri, aku tidak tau tentang hal itu. Aku mengetahuinya setelah dia pergi dan disaat itu aku sadar di mana kesalahan ku.
FLASHBACK OFF*
"Sebenarnya di waktu Clara mengatakan kalau dia menyukai ku, aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga menyukai nya tetapi hati ku menolak untuk membenarkan nya, he' bukankah lucu itu Olivia."
"Clara pasti membenci ku karena aku telah melakukan banyak hal kepadanya,dan aku bahkan membuat anaknya berada dalam neraka. dia pasti tidak akan memaafkan ku." ujar Edwin menertawakan dirinya sewaktu dulu dan merasa bersalah kepada Clara istrinya yang sudah meninggal.
"Apa yang Paman katakan, itu tidak benar." Olivia melihat Edwin dengan tatapan yang serius.
"Hmm?"
"Bibi Clara pasti akan memaafkan Paman, karena dia mencintai Paman. Sebejat apapun Paman bibi Clara pasti akan memaafkan Paman, mungkin dengan kepergian bibi Clara Paman jadi sadar dan bisa merubah diri Paman. Jadi karena itu Paman tidak perlu mengatakan kalau bibi Clara tidak akan memaafkan Paman, bibi Clara pasti akan memaafkan Paman percayalah."
"Aku memang tidak Terlalu mengerti tentang cinta, tetapi aku banyak mengetahui nya dari istri kakak ku. Dia pernah berkata padaku jika seandainya seseorang sangat mencintai orang yang dia cintai sejahat apapun seburuk apapun kelakuannya terhadap kita, kita pasti akan memaafkannya."
"Jadi karena itulah Paman harus percaya kalau bibi Clara sudah memaafkan Paman, dan ini adalah jalan Paman untuk memulai lembaran baru dan membuat kebahagiaan bersama." Olivia meyakinkan kepada Edwin agar percaya bahwa istrinya Clara sudah memaafkan nya walaupun begitu banyak kesalahan yang telah ia lakukan.
"He' kau memang sangat menarik, kurasa Valdo tidak salah memilih calon istri."
mendengar itu Olivia seketika tersipu. "A'a emm' itu tidak mungkin, mungkin saja Valdo sudah menyukai seseorang." Gugup Olivia yang terbata-bata di setiap ucapan nya.
"Ya tentu saja, dia menyukaimu kan."
"Heeeeee~~~" Wajah Olivia seketika merah seperti tomat mendengar perkataan yang Edwin ucapkan.
"Hahaha." Edwin tertawa melihat Olivia tersipu hingga memerah seperti tomat.
"***Clara, ternyata ada kepribadian seseorang yang mirip dengan dirimu. He' aku senang berkat kata-kata dari nya, perasaan ku yang merasa bersalah kepada dirimu dan takut kau tidak akan memaafkan ku seketika hilang dan menjadi kebahagiaan yang sangat indah."
"Apakah kau menyampaikan kata-kata itu melalui dirinya, he' aku tidak tau yang jelas jika seandainya kau berada disini kau pasti akan tertawa seperti ku dan bangga pada anak-anak kita***." Edwin tersenyum dengan bebasnya saat itu melewati pembicaraan dan tawa bersama Olivia.
****************
Dua minggu pun berlalu, Olivia lalu berpamitan pada Edwin Alvaro Vania dan Tristan. "Sampai jumpa semuanya, aku senang mengenal kalian, Kak Varo Kak Vania Paman Edwin dan Tristan. Aku seperti merasa berada di rumah ku sendiri berkat kalian, karena itu terimakasih atas segalanya. Aku pasti akan datang kemari lagi nanti."
"Hiks … hiks … Bibi benar kan Bibi akan datang kemari lagi dan bermain bersama Tristan lagi," ujar Tristan sembari menangis tidak merelakan kepergian Olivia dan Valdo.
"Tentu saja Bibi pasti akan datang, jadi Tristan jangan bersedih Bibi akan datang lagi bersama Paman Valdo."
"Janji!"
"Yaa janji."
"Berhati-hatilah kalian di jalan," sambung Vania.
Sontak mendengar itu membuat Valdo dan Olivia tersipu. "Apa yang Kak Alvaro katakan, bisa-bisanya bercandanya kelewatan," kesel Olivia yang masih sedikit tersipu.
"Sudah sudah, sebaiknya kalian bergegas jika tidak kalian akan ketinggalan pesawat." Edwin melerai pembicaraan itu dan menyuruh Olivia dan Valdo untuk bergegas berangkat ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat.
"Kalau begitu kami berangkat dulu Paman Edwin, jagalah dirimu baik-baik."
"Tentu." Edwin mengangguk dan tersenyum.
Setelah mengucapkan salam perpisahan Olivia langsung masuk ke dalam mobil, sedangkan Valdo ingin berpamitan kepada Ayahnya. "Ayah aku akan pergi kembali ke Tiongkok, jagalah dirimu baik-baik."
"Tentu saja Ayah akan menjaga diri Ayah baik-baik, dan kau juga harus menjaga dirimu baik-baik. Dan juga kirimkan kabar baik untuk Ayah mu ini ketika kau berada di sana, paling tidak kau kabari kepada Ayah mu ini kapan tanggal pernikahan mu."
"E'ekhem ya' emm' aku akan mempertimbangkannya nanti, kalau begitu aku pergi dulu sampai jumpa." Mengatakan hal itu Valdo menaiki mobil dan melambaikan tangan nya kepada keluarga nya, Edwin Alvaro Vania dan Tristan membalas lambaian tangan itu dan mobil pun berjalan menuju ke bandara.
Sesampainya di bandara Olivia dan Valdo berpamitan juga kepada Kevin, setelah berpamitan kepada Kevin Olivia dan Valdo langsung menuju Check-in untuk memeriksa tiket dan pasword, lalu masuk kedalam pesawat. Tidak berapa lama pun pesawat lepas landas terbang menuju ke Tiongkok.
Perjalanan itu sangat nyaman tanpa hambatan apapun, hingga sampai ke Tiongkok keesokan harinya. Valdo lalu mengambil mobilnya yang ia titipkan kepada keamanan bandara, setelah mengambil mobilnya Valdo lalu mengantarkan Olivia pulang ke rumahnya.
Setelah mengantarkan Olivia pulang Valdo lalu kembali ke markas militer, sesampainya dia di markas militer ia pun langsung menuju ke mes nya. Dia merasa seperti sangat bahagia, ketika masuk ke dalam mes ia langsung duduk di sofa.
"Huhhh lelah sekali, tapi aku senang. He' kuharap tidak terjadi sesuatu yang menyakitkan lagi, cukup hanya kejadian itu saja yang membuat ku sakit sesakit-sakitnya." Valdo bermonolog dengan dirinya sendiri sembari lega dengan keadaan yang semakin baik dan berharap tidak terjadi hal yang buruk lagi.
Tiba-tiba saja ponsel Valdo berdering. "Ddrrtt … ddrrtt … ddrrtt …" Valdo langsung mengangkat telpon tersebut.
📞"Halo ada apa kau menelpon ku?"
📞"Yaa ku dengar kau sudah kembali ke Tiongkok."
📞"Tidak perlu berbasa-basi langsung ke intinya saja, untuk apa kau menelpon ku?"
📞"Yaa seperti itulah Valdo, dia agar berbicara langsung pada intinya tanpa berbasa-basi maka aku akan mengatakan nya langsung pada intinya. Mereka juga sudah kembali ke Tiongkok, mereka tidak menemukan orang yang mereka cari di Swiss, mereka sudah tau siapa wanita itu dan mereka hanya perlu mendatangi di mana tempat ia tinggal."
📞"Jadi maksud mu apa?"
📞"Kau tau kan, Olivia seperti boom waktu yang akan meledak kapan saja. Dia membuat semua ini menjadi cepat, semua waktu yang seharusnya berjalan lambat sangat cepat maka biar aku berikan kau satu solusi."
📞"Apa!"
📞"Biarkan mereka mengambil boom waktu mu!"
...****************...
...Mengorbankan seseorang yang kita sayangi memang sulit, tapi jika di buat sebuah pilihan antara kekasih atau kekayaan yang mana yang akan kita pilih......