Dari Peristiwa Menjadi Cinta

Dari Peristiwa Menjadi Cinta
Hadiah Ulang Tahun


"Waktu itu ibuku sedang berada dalam perjalanan untuk pulang, dia adalah seorang ilmuwan. Sewaktu dia ingin pulang kembali ke rumah, di perjalanan ia berhenti di karenakan lampu lalu lintas sedang berwarna merah lalu ia menunggu lampu itu menjadi hijau, ketika ia sedang menunggu ia melihat dari kaca spion mobilnya bahwa ada sebuah truk yang melaju sangat kencang ke arahnya." Valdo menceritakan secara detail tentang masa lalu nya.


"Jadi ia memutuskan untuk menghindari truk itu, ketika ia ingin membuka sabuk pengamannya ia tidak melihat kalau ada sebuah truk di depannya yang sedang melaju menuju ke arahnya sama seperti truk yang berada di belakang nya. Lalu ia pun di tabrak oleh kedua truk yang berada di belakang dan di depan nya saat itu."


"Sedangkan aku dan kakak ku yang berada di dalam rumah, kami sedang asik bermain. Waktu itu kakak ku sudah memiliki sebuah ponsel dan juga mempunyai nomor telpon ibuku, ketika kami sedang asik bermain tiba-tiba ibuku menghubungi kakak ku. Tetapi suara yang keluar dari ponsel milik ibuku bukan suara ibuku melainkan suara orang lain."


FLASHBACK ON*


Orang itu berkata. 📞"Halo apakah ini dengan anaknya nyonya Clara?"


📞"Benar, ada apa ya? dan anda siapa? mengapa ponsel milik ibu saya ada bersama anda?"


📞"Emm' kami dari rumah sakit Freeman Hospital, ingin mengatakan kepada anda kalau ibu anda mengalami kecelakaan."


📞"Apa!" ponsel yang di pegang oleh Alvaro terjatuh dari genggaman nya ketika mendengar hal tersebut.


Valdo yang masih kecil melihat hal itu spontan bertanya kepada kakaknya, "Kak Varo ada apa? ada apa dengan ibu?" ujar Valdo dengan ekspresi wajah yang cemas nan takut.


"Valdo … ibu, ibu dia … dia kecelakaan … ." Lirih Alvaro memberitahukan kepada Valdo sembari menahan air matanya untuk tidak menetes dan sekaligus ia merasa sedikit syok dengan apa yang masih di dengarnya.


"Haa! tidak mungkin, Kakak pasti berbohong. Ibu tidak mungkin … ." nada suara nya yang tinggi perlahan mulai menjadi suara lirih seakan ada sesuatu yang ingin mengalir dari matanya namun ia masih menahan nya untuk tidak menetes.


"Tenanglah Valdo, Kakak akan menghubungi ayah kita akan pergi ke rumah sakit." Alvaro mengambil ponsel nya dan menghubungi ayahnya.


Panggilan telpon itu di angkat oleh ayahnya. "Varo ada apa? kenapa kau menelpon ayah, bukankah kau tau ayah sedang sibuk bekerja di perusahaan kita." ujar nya dengan santay seperti tidak terjadi kejadian apa apa.


"Ayah … ibu, ibu kecelakaan … sekarang dia berada di rumah sakit Freeman Hospita. Ayo kita kesana melihat ibu … hiks." Air mata Alvaro kini sudah tak bisa di bendung lagi bulir-bulir air mata kini mulai membasahi pipi nya.


"Apa." kaget nya. Secara tiba-tiba terdengar oleh Alvaro suara seorang perempuan yang berada di dekat ayah nya. Ia menelpon ayah nya sedari tadi menyalakan speaker pada ponsel nya tentu saja suara itu pasti terdengar oleh orang yang tidak berada jauh dari nya.


"Direktur Edwin, apa yang sedang anda lakukan bukankah kita ingin bersenang senang?" goda perempuan itu dengan nada suara yang menggairahkan. Lantas suara perempuan itu terdengar oleh Valdo karena speaker ponsel Alvaro menyala, Alvaro pun langsung mematikan sambungan telpon itu.


"Valdo, kita tidak bisa pergi bersama ayah, sebaiknya kita pergi bersama Asisten Kevin."


Suster pun mengantarkan mereka sampai di ruang operasi dan mengatakan kepada mereka, kalau ibu mereka masih berada di ruang operasi untuk di tangani. Alvaro dan Valdo menunggu di ruang tunggu, tidak berapa lama pintu ruang operasi terbuka. "Dokter, bagaimana keadaan ibuku," tanya Alvaro kepada Dokter yang menangani ibunya di ruang operasi itu.


"Maaf … nyonya Clara, sudah tiada … ." Dokter itu mengatakan dengan berat hati kepada Alvaro dan Valdo. Seketika Alvaro yang mendengar itu sontak berteriak, "APA!"


Valdo yang tidak ingin mendengarkan apapun dari Dokter langsung masuk menemui ibunya yang berada di dalam ruang operasi itu. Ketika ia melihat ibunya ia pun terdiam dan sangat terkejut melihat ibunya yang masih berlumuran dengan darah.


"Ibu … ibu baik baik saja, Valdo datang menjenguk ibu. Bukankah ibu berjanji akan merayakan ulang tahun Valdo hari ini … kenapa ibu diam saja." Ujar Valdo yang berdiri di samping ibunya yang sudah tiada, matanya teralihkan oleh tas belanja yang berada di meja operasi itu.


"Apa ini?" ucapnya melihat tas belanja itu. Sedangkan Alvaro dan Dokter yang berada di luar pun masuk ke dalam ruang operasi dan melihat Valdo yang seperti itu.


"Ohh itu adalah tas belanja yang di pegang oleh ibumu sewaktu kecelakaan itu terjadi, bahkan dia tak melepaskan tas belanja itu. Ohh iya di dalam tas belanja itu terdapat surat, ini suratnya." Dokter itu menjelaskan tentang tas itu lalu memberikan sepucuk surat yang ada bercak- bercak darah itu kepada Valdo.


Dalam surat itu tertulis:


...Selamat ulang tahun Valdo putraku yang ke 10 tahun, semoga di ulang tahun mu kali ini kau menjadi anak yang pintar, rajin, dan tidak sombong. Mungkin kau belum tau apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang, tapi ibu berharap kau menemukan seseorang yang baik. Tidak perlu cantik cukup dia tulus mencintaimu … sama-sama saling mencintai hanya itu saja, dan ini adalah hadiah dari ibu untukmu....


Valdo membuka isi tas itu dan melihat kalau ada baju angkatan militer yang pas sekali dengan ukuran tubuhnya. "Hahahaha … heh' ternyata ini hadiah dari ibu, aku sangat senang." Valdo tertawa tapi mata nya mengeluarkan buliran putih bening dari matanya yang mengalir tak henti di wajahnya. Disaat momen seperti itu Sang Ayah yaitu Edwin datang terlambat.


"Ayah …" ujar Alvaro yang melihat kedatangan ayahnya. "Dokter kau boleh pergi." Mendengar hal itu Dokter menuruti perkataan Alvaro tersebut lalu pergi. "Alvaro Valdo! apakah kalian baik baik saja." Nada suara Edwin yang tadi terkejut seketika mulai lambat dan pelan disaat melihat keadaan Valdo.


"Valdo apa yang kau lakukan!" tegas Edwin kepada Valdo.


"He' Ayah baru sampai, heh' lama sekali … aku sudah mengucapkan selamat tinggal kepada ibu, sekarang hanya tinggal kalian berdua kalau begitu ucapkanlah selamat tinggal, aku tidak akan mengganggu kalian berdua lagi." Valdo berjalan mendatangi Asisten Kevin dan berkata,"Asisten Kevin antarkan aku pulang."


"Tapi Tuan Muda, Tuan Muda Alvaro dia …" Valdo langsung menyambungi perkataan Asisten Kevin "Jangan pedulikan dia, bukankah disini masih ada ayah." jawab Valdo dengan tatapan mata nya yang kosong seakan tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya.


...****************...


...Setiap orang yang merasakan kehilangan akan menjadi seperti orang yang kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Maka terkadang kita harus bisa bersabar dalam menjalani musibah itu....