
Valdo dan Olivia berjalan hingga sampai ke tempat air pancur itu, Olivia lalu mengeluarkan ponselnya untuk memotret air pancur itu. "Ini adalah kesempatan langka dan aku tidak akan menyia-nyiakan nya," ujarnya sembari mengambil ponsel yang berada di dalam tas nya.
Ketika Olivia hendak memotret air pancur itu tiba-tiba saja ada seseorang yang menabrak nya dari belakang hingga membuat ponselnya terlempar masuk ke dalam kolam air pancur.
"Oh tidak, ponsel ku … ." Lirih Olivia melihat ponselnya yang telah terjatuh ke dalam kolam air pancur.
"Malang sekali nasib mu Olivia, ponsel mu jatuh ke dalam kolam air pancur itu karena di tabrak oleh seseorang dan orang yang menabrak mu bahkan melarikan diri tanpa meminta maaf," ucap Valdo melihat Olivia dengan miris nya karena ponsel nya yang terjatuh ke dalam kolam air pancur.
"Berhentilah meledek ku, kau tidak tau ponsel itu sangat berharga … kau hanya bisa meledek ku tetapi kau tidak tau rasa kesedihan ku saat ini … ." Mata Olivia berkaca-kaca melihat ponsel nya yang terjatuh ke dalam kolam.
Valdo mengusap pelan kepala Olivia. "Haihhh, sepertinya kita harus pergi ke toko barang elektronik membeli ponsel baru untuk mu."
"Aku tidak punya uang untuk membeli yang baru."
"Aku yang membawa mu kemari bukankah aku juga akan membiayai mu jika kita berada disini. Maka aku akan menepati kata-kata ku, kalau begitu ayo kita pergi." Valdo memegang tangan Olivia lalu membawa nya pergi menuju arah tempat mobil mereka di parkir.
"Bukankah dia baru saja mengelus kepala ku, aneh. Jika dia terus memperlakukan aku seperti ini maka rasa suka ku akan semakin besar kepadanya. Valdo … bisakah kau mengatakan siapa yang kau sukai saat ini agar aku tidak terlalu berharap." Olivia melihat Valdo dari belakang dengan hatinya yang berharap bahwa Valdo akan bercerita tentang orang yang ia sukai.
Olivia dan Valdo pergi menuju ke toko barang elektronik membeli ponsel baru untuk Olivia. Setelah sampai di toko barang elektronik mereka lalu memilih dan membeli satu, lalu mereka pun langsung pergi dari toko itu untuk berjalan-jalan mengelilingi Kota.
Mereka berkeliling Kota hingga sampai malam hari dan setelah itu mereka pulang. Ketika sampai di rumah Olivia langsung masuk ke kamar nya dan membersihkan diri, setelah selesai membersihkan diri Olivia langsung mengenakan piyama dan turun ke bawah menuju halaman rumah untuk menelpon kakaknya kalau ia mengganti ponselnya.
"Ddrrtt … ddrrtt … ddrrtt …" Terdengar bunyi ponsel dari Ivan. Ivan yang melihat kalau ada nomor telepon yang tidak di kenal menelponnya merasa heran. "Ada apa? siapa yang menelpon mu?" tanya Anggi penasaran karena Ivan kelihatan tidak mengenal orang yang menelponnya.
"Entahlah aku tidak tau, ini nomor tidak di kenal," jawab Ivan melihat ponsel nya yang masih berdering karena telpon dari nomor tidak di kenal tersebut.
"Ayah Ibu, apakah itu bibi yang menelpon?" tanya Chika masuk ke dalam percakapan antara Anggi dan Ivan.
"Ibu juga tidak tau, Ivan sebaiknya kau mengangkat nya dulu siapa tau itu penting."
Ivan mengangkat telpon dari nomor tidak dikenal itu. 📞"Halo ini siapa?"
📞"Kakak ini aku Olivia."
📞"Olivia! kenapa kau mengganti nomor telpon mu?"
📞""Emm' tidak, aku bukan mengganti nomor telepon ku tapi hari ini ketika aku pergi berjalan-jalan ke Alun-alun Kota bersama Valdo, tiba-tiba saja aku tertabrak oleh seseorang hinga membuat ponsel ku terlempar ke dalam kolam air pancur dan aku tidak mungkin mengambilnya. Jadi Valdo membelikan ponsel baru untukku dan seperti itulah ceritanya."
📞"Ohh ternyata begitu, Kakak mengira kau mengganti nomor telepon mu. Baiklah kalau begitu aku akan menyimpan nomor mu yang ini."
📞"Ya, kalau begitu aku akan menelpon Fani dan Laura juga."
📞"Kalau begitu jaga diri mu baik-baik Olivia."
📞"Yaa."
"Ya, ia membeli ponsel baru."
"Ha? emang ponsel lamanya kemana?"
"Ponselnya terjatuh ke dalam kolam air pancur ketika mereka sedang berada di Alun-alun Kota."
"Eeehh, padahal Chika ingin berbicara dengan bibi," kelih Chika kesal karena tidak di biarkan berbicara kepada bibit nya.
Mendegar itu Ivan mengelus kepala Chika. "Chika, kau nanti bisa bertemu dengan bibi tetapi tidak sekarang. Maka dari itu Chika harus bersabar menunggu kepulangan bibi." Tukas Ivan untuk menghilangkan rasa kesal Chika.
****************
Beralih ke Olivia yang sedang menelpon Fani dan Laura untuk memberitahukannya kepada mereka kalau Olivia sudah mengganti ponsel dan nomor telepon nya. Setelah memberitahukan kepada Fani dan Laura, Olivia lalu menatap langit malam yang di penuhi oleh bintang.
Tiba-tiba saja Edwin datang menghampiri Olivia yang tengah berdiri di halaman rumah sembari menatap langit. "Olivia, apa yang sedang kau lihat?" tanya Edwin menghampiri Olivia.
"Ah' Tuan Edwin." Olivia terkejut akan kedatangan Edwin yang tiba-tiba.
"Hahaha, apakah aku mengagetkan mu? maafkan aku, oh iya dan jangan panggil aku Tuan panggil aku dengan sebutan Paman." Tukas Edwin agar Olivia mengubah cara nya untuk memanggilnya.
"Oh iya."
Edwin berjalan dan berhenti tepat di samping Olivia, lalu menatap langit. "Tuan Ed … eh tidak maksud ku Paman Edwin, kenapa anda keluar? apakah anda tidak ikut bermain bersama Valdo dan Tristan dan kak Vania beserta kak Alvaro juga."
"He' tidak perlu, mereka sudah cukup bersenang-senang. Aku hanya tidak melihat mu di sana dan ternyata kau berada di luar, apa yang sedang kau lakukan hingga berada di luar?"
"Ah' aku menelpon kakak ku dan teman-teman ku untuk memberitahukan kalau aku mengganti ponsel beserta nomor telpon ku."
"Ohh ternyata begitu. Olivia sejak kapan kau dekat dengan Valdo?" tanya Edwin memindahkan topik pembicaraan tentang kedekatan Olivia dan Valdo.
"Emm' sebenarnya kami baru saja kenal tetapi karena kami sudah mengerti satu sama lain dan juga ada beberapa hal yang terjadi di antara kami berdua membuat kami dekat satu sama lain, ya' jadi seperti itulah."
"Hmm' ini adalah kali pertama aku melihat Valdo dekat dengan seorang wanita selain ibunya. Ketika aku melihat kau membela kami kemarin aku melihat betapa teguh nya dirimu, kau bahkan meyakinkan Valdo kalau kami sudah berubah sepenuhnya."
"Aku sangat tersanjung dan juga sangat berterimakasih kepada mu, kalau bukan karena dirimu yang yakin kalau kami sudah berubah … mungkin Valdo tidak akan datang kemari." Edwin berterima kasih kepada Olivia yang sudah meyakinkan Valdo bahwa mereka sudah berubah dari sikap bejat mereka dahulu.
"Ee' Paman Edwin anda tidak perlu berkata seperti itu, mungkin saja ini adalah takdir."
"He' ya … takdir yang sangat menarik. Kau tau, kau mengingatkan ku dengan istriku." Edwin menyeringai, lalu menatap Olivia ketika menatap Olivia ia terbayang akan wajah istrinya yang sekilas terlihat di diri Olivia.
...****************...
...Masa yang indah memang sulit dilupakan apalagi dengan orang yang kita sayang......