Dari Peristiwa Menjadi Cinta

Dari Peristiwa Menjadi Cinta
Aku pulang


"Benar, kematian tidak akan membuatnya menjadi lebih baik. Tetapi dengan mati dia bisa mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia lakukan selana dia hidup. Apakah itu sudah membuat mu puas Valdo, atau kau ingin menanyakan nya lagi!" tegas Olivia yang masih di sertai bulir air mata yang menetes di pipinya.


"Bagaimana bisa aku berbicara lagi, sedangkan kau sudah membuat kebencian di dalam diriku menghilang karena jawaban dirimu, dan tangisan mu itu," ujar Valdo melihat Olivia yang sedari tadi meneteskan air mata ketika berbicara. Mendengar itu seketika Olivia pun terdiam.


Valdo berjalan ke arah Olivia dan mengusap air mata Olivia, lalu membungkuk. "Kaulah pemenangnya, aku tidak tau kalau aku bisa kalah dari seseorang maka dari itu aku akan memenuhi keinginan mu. Apa yang kau inginkan?"


"Aku menginginkan kau memaafkan Ayah dan Kakak mu, buatlah lembaran baru dengan keluarga mu dan hilangkan lah rasa kebencian mu terhadap mereka."


"Sesuai keinginan anda." Setelah mengatakan itu Valdo berjalan ke arah Ayah dan Kakak nya lalu berkata,"Aku pulang." mendengar itu Ayah dan Kakak nya lalu memeluk nya disertai air mata dari keduanya, tangisan mereka pecah tidak bisa terbendung karena kerinduan mereka dengan sosok yang sudah hilang bertahun-tahun dari rumah mereka. Begitu pula Valdo ikut meneteskan air mata nya.


Olivia yang melihat itu lalu tersenyum. "Valdo, sedingin apapun dirimu sekeras apapun hatimu jika kasih sayang keluarga yang menyelimuti mu, yang tadinya hatimu keras seperti batu berubah menjadi lembut, yang tadinya kau dingin dan tidak perduli dengan orang lain sekarang sudah menjadi peduli dan mengerti satu sama lain." Senyum hangat terlukis di wajah Olivia.


Olivia menghampiri mereka bertiga dan berkata, "Selamat Valdo kau sudah kembali pada keluarga mu."


Valdo lalu mengurai pelukan nya dari Ayah dan Kakak nya. "Siapa yang membuat ku datang kemari, siapa yang membuatku sadar? dan siapa yang membuat ku merasakan kasih sayang keluarga untuk yang pertama kalinya lagi. Itu adalah kau Olivia, kau seperti cahaya lampu yang redup ketika aku bertemu dengan dirimu tetapi aku mengganti nya dengan yang baru."


"Sehingga kau menjadi cerah kembali, dan aku berada di bawah melihatmu sambil berkata Akankah cahaya ini bisa berbicara kepada ku? akankah dia bisa menyinari jalan yang ingin ku telusuri, karena di setiap jalan ku hanya ada kegelapan."


"Aku ingin cahaya ini bisa ku bawa kemana-mana dan ternyata cahaya itu berkata iya, cahaya itu mengatakan kalau dia akan selalu berada di samping ku lalu aku membawanya dan jalan ku menjadi terang karena kejadian dirinya. Seperti itulah kau Olivia." Valdo tersenyum lembut melihat Olivia.


"***Apa ini? apakah ini ungkapan perasaan nya mengatakan kalau dia cinta padaku, eh … tapi tidak tidak tidak, itu tidak mungkin tapi jantung ku berdebar begitu kencang dari ketika dia mengusap air mata ku dan membungkuk di hadapan ku."


Ditambah lagi dia mengatakan hal yang seperti ini aku bahkan tidak bisa mengontrol detak jantung ku saat ini. Apakah dia mendengar suara detak jantungku yang sekencang ini***." Olivia tersipu gugup mendengar perkataan Valdo dan melihat senyuman nya.


"Emm' ketika aku melihat wanita ini aku begitu penasaran dan penuh tanda tanya di dalam pikiran ku, wanita ini sangat dekat denganmu dan juga kau sangat dekat dengan wanita ini. Apakah kalian sudah menikah?" tanya Alvaro yang sedari tadi sudah memperhatikan kedekatan Valdo dan Olivia.


Sontak Olivia dan Valdo mendengar itu merasa tersipu, Olivia lalu menundukkan kepala nya sedangkan Valdo hanya memejamkan mata nya dan berkata, "E'ekhem, ya' emm' ka-kami belum menikah, hanya saja kami sangat dekat." Dengan gugup dan sedikit terbata-bata Valdo menjelaskan tentang hubungan nya dengan Olivia.


"Ha' sangat dekat? kedekatan kalian ini sudah tidak wajar, kenapa kau tidak menikahinya saja Valdo."


"Ya benar, lagipula tidak baik di mata masyarakat jika kalian dekat tetapi tidak memiliki hubungan apa-apa." Timpal Edwin setuju dengan pernyataan yang di ajukan oleh Alvaro.


"Ohh yang benar saja! Valdo cepat katakan kalau kau tidak memiliki hubungan apa-apa dengan ku! kau tau jantung ini sudah tidak bisa di kendalikan lagi, tolong akhiri saja pembicaraan ini." Batin Olivia tertekan dengan perkataan yang di katakan oleh Edwin dan Alvaro begitu pula hal nya dengan jantung nya yang sudah hampir lepas dari tempat nya.


"E'emm itu tidak mungkin, ka-karena Olivia emm' mungkin saja dia sudah memiliki orang yang dia cintai. Jadi aku tidak bisa menikahinya." Gugup Valdo menjawab terbata-bata.


Mendengar itu Valdo hanya terdiam sembari menutup matanya dan tidak bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba Vania dan Tristan datang, Tristan lalu berlari menuju arah Olivia.


"Bibi Bibi, apakah Bibi tau aku baru saja bercerita tentang Bibi kepada Ibu. Ibu mengatakan kalau Bibi sangat cantik," kata Tristan dengan senyuman nya yang gembira.


Olivia lalu berjongkok. "Ohh begitu ya." Senyumnya.


"Ya!"


"Hhhh … terimakasih Tristan, kau seperti malaikat kecil yang datang dan menyelesaikan hatiku. Hahh syukurlah suasana tidak terlalu memanas karena kehadiran dirimu, dan jantungku juga tidak berdebar kencang seperti tadi." Olivia bersyukur karena kehadiran Tristan yang tiba-tiba.


"Dan juga aku mengatakan kepada Ibu ketika aku besar nanti aku ingin menikah dengan Bibi."


"Hehh' apakah anak Ayah ingin menikah dengan Bibi Olivia, sayang sekali seperti nya keinginan Tristan itu akan menghilang," timpal Alvaro melihat ke arah Tristan.


"Ha' kenapa?"


"Karena Bibi Olivia sudah menjadi milik Paman Valdo."


"Apakah ketika aku sampai disini, aku tidak memperkirakan kalau akan ada orang yang mirip seperti kak Jefri yang selalu mengolok-olok ku, ibaratkan seseorang ingin membunuh orang lain dengan banyak cara." Olivia tertekan dengan keadaan yang terus membahas hubungan nya dengan Valdo seperti saat ia ingin berangkat kemari ia juga di goda oleh Jefri dengan hal yang sama.


"Heeeeh, ternyata Bibi sudah bersama Paman Valdo hmm' kalau begitu Bibi tidak jadi aku nikahi. Kalau begitu tidak apa-apa deh."


Sontak Olivia merasa malu dan tidak bisa berkata apa-apa. "Olivia, wajahmu kenapa? kenapa memerah, apakah kau demam?" tanya Vania memperhatikan wajah Olivia yang memerah.


"Tidak, a'aku tidak apa-apa."


"Kau yakin?"


"E' ya. Ka-kalau begitu aku akan menghubungi kakak ku dulu." Mengatakan itu Olivia lalu meninggalkan Valdo dan keluarganya karena ingin menenangkan diri.


"Apa-apaan itu tadi, aku terkena kata-kata yang sangat hebat dan aku tidak bisa berkata apa apa. Aku hanya bisa menghindar, huhh." Keluh batin Olivia.