Dari Peristiwa Menjadi Cinta

Dari Peristiwa Menjadi Cinta
Rencana Bodoh


"Ohh benar kah? kalau begitu-" Olivia bergerak dengan sangat cepat mengambil pisau yang berada di lingkaran pinggang dua penjaga itu dan mengarahkan kedua pisau itu ke arah leher dua penjaga itu hingga membuat leher mereka tergores.


"Aku tidak ingin berkelahi dengan kalian, aku pernah hampir membunuh dua orang penjaga yang menjaga gerbang ini waktu aku pertama kali datang kemari. Dan sekarang aku juga akan melakukan hal yang sama kepada kalian berdua, tetapi-" Olivia menjatuhkan kedua pisau yang ia pegang. "Aku tak berniat untuk membunuh kalian maka aku akan masuk sendiri."


Ketika Olivia masuk ia langsung menuju ke arah mes nya Valdo, Toni yang melihat dari kejauhan kalau itu adalah Olivia langsung berlari dan menghalangi nya untuk tidak pergi ke mes nya Valdo. "Tidak, Nona Olivia anda tidak diizinkan untuk datang kesana!" teriak Toni yang panik.


Olivia hanya menatap dingin ke arah Toni, melihat aura dingin yang keluar dari Olivia Toni langsung tidak bisa berkata apa-apa. Dari kejauhan Fani Laura dan Arya melihat bahwa Toni sedang menghadang seseorang melihat siapa orang yang sedang di hadang oleh Toni.


Setelah mengamati dengan seksama dan mengetahui kalau yang sedang di hadang Toni adalah Olivia mereka lalu berlari ke arah Toni untuk membantu nya mencegah agar Olivia bisa pergi ke mes nya Valdo. "Olivia!" teriak Fani dan Laura di susul oleh teriakan Arya. "Nona Olivia!"


"Olivia kau tidak boleh masuk," ujar Fani.


"Olivia kau tidak boleh pergi ke sana." Timpal Laura.


"Nona Olivia jangan pergi kesana." Arya mencoba mencegah Olivia untuk tidak pergi ke mes Valdo.


"Hee~ aku baru saja menghadapi dua ekor lalat yang hampir saja mati di tangan ku dan sekarang ada empat ekor rusa yang menghalangi jalan ku. Apakah rusa rusa ini sudah cukup luar untuk menghadapi ku." Tatap Olivia dengan dingin ke arah Fani Laura Toni dan Arya.


Fani dan Laura yang mengerti apa yang maksud dari perkataan Olivia langsung menyingkir dari jalan, Toni dan Arya yang melihat Fani dan Laura yang menyingkir karena tidak punya pilihan lagi mereka juga ikut menyingkir dari jalan Olivia.


Olivia melanjutkan berjalan menuju arah mes nya Valdo, sesampainya Olivia di depan pintu mes nya Valdo ia lalu membuka pintu, tetapi pintu nya terkunci. "Ck!kenapa harus hal seperti ini yang menghalangi ku." Tanpa pikir panjang Olivia menendang pintu itu dengan keras sebanyak lima kali dan pintu akhirnya terbuka.


Olivia masuk ke dalam mes mencari Valdo kemana-mana tetapi tidak menemukannya, yang ia temukan hanya tumpukan botol alkohol di meja di dekat sofa. Oliva duduk di sofa tersebut. "Hah, ternyata kau meminum ini lagi. Sudah berapa banyak yang kau minum."


Ia menunggu Valdo pulang di mes nya, sedangkan Valdo yang berada di ruang kerja markas militer teringat kalau ia meninggalkan ponsel nya di mes. Valdo bergegas kembali ke mes, ketika di tengah jalan ia melihat Fani Laura Toni dan Arya yang berada di jalan menuju mes nya.


Fani dan yang lainnya melihat Valdo ingin menuju ke mes nya langsung panik dan tidak tau apa yang harus mereka perbuat. "Bagaimana ini! Jenderal Valdo ingin kembali ke mes nya!" panik Laura.


"Jangan bertanya! saat ini seluruh pikiran ku sedang berhenti berpikir, dan aku tidak tau bagaimana caranya lolos dari sini," ucap Toni yang pasrah.


"Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini jadi aku tidak tau bagaimana menghadapi Jenderal Valdo yang seperti itu." Timpal Arya.


"Ohh tidak, hehh! tolong siapa saja tolong buat rencana, walaupun rencana itu tidak masuk akal sekalipun!" tegas Fani pasrah dengan kondisi sehingga tidak bisa berpikir lagi.


Laura mengangkat tangan nya dan mengajukan saran nya. "Aku tau!" ucap nya dengan percaya diri.


"Apa?" tanya Fani.


"Kita akan menghalangi nya sehingga Jenderal Valdo tidak bisa lewat," jelas Laura dengan rencananya.


"Ha?"


Valdo akhirnya sampai di hadapan mereka berempat, mereka yang melihat hati Valdo yang suram dan tatapan nya yang seperti ingin membunuh seseorang langsung membuat mereka gemetar. "Hee kenapa kalian menghalangi jalan ku, apakah kalian tidak punya pekerjaan lain selain menghalangi jalan ku? menyingkirlah."


Mereka semua yang gemetar melihat Valdo seperti itu tidak bisa berkata apa-apa, Laura yang tidak ingin Valdo meneruskan perjalanan nya menuju mes lalu membuka pembicaraan. "A' emm' anu Jenderal Valdo," ujar Laura dengan terbata-bata dan juga tubuh yang gemetar karena ketakutan.


"Ya ada apa?" tanya Valdo melirik dingin ke arah Laura.


"Be-begini ka-kami tidak ingin membiarkan anda lewat, ka-karena atap mes anda lepas." Dengan gemetar dan tanpa pikir panjang Laura mengucapkan apa pun untuk mencari alasan.


Semua mata tertuju kepada Laura. "Laura apa yang kau katakan, sebaiknya kau masuk ke dalam akal." Fani miris mendengar apa yang di katakan Laura dan bahkan tidak bisa di masukkan ke akal.


"Perkataan tidak masuk akal apa ini, Laura … kau bukan membuat semuanya semakin baik tapi kau malah membuatnya semakin memburuk." Toni pasrah mendengar perkataan tidak masuk akal dari Laura yang membuat keadaan semakin buruk.


"Atap mes ku lepas? bagaimana bisa?"


"Ohh tidak, aku merasa kuburan kita sudah terbuat di tempat ini." Arya tersenyum di detik-detik terakhir menganggap bahwa ini adalah akhir dari perjalanan hidup nya.


"Aa' emm' ti-tidak saya salah, bu-bukan atap mes anda yang lepas ta-tapi pintu mes anda telah di bobol oleh seseorang."


"Laura! kenapa kau berkata jujur, bukankah itu sama saja kau mengatakan kalau ada orang yang masuk ke dalam mes nya." teriak Fani kesal dengan Laura tetapi tidak bisa di ungkapan karena dirinya sedang ketakutan melihat ekspresi Valdo yang mengerikan setelah mendengar hal itu.


"Apa! kenapa kalian tidak memberitahukan nya kepada ku dari tadi, kenapa kalian baru saja memberitahukan nya kepadaku sekarang! menyingkir lah!" tegas Valdo dengan tatapan nya yang kejam aura dingin yang mencekam keluar dari diri nya.


Tanpa basa-basi lagi mereka berempat langsung melepaskan genggaman tangan mereka masing-masing dan memberikan jalan kepada Valdo untuk menuju ke mes nya.


Valdo lalu bergegas berjalan menuju mes nya dan ingin melihat siapa yang telah menerobos masuk ke dalam mes nya.


...****************...


...Terkadang rasa panik itu bisa menghancurkan segala nya, karena disaat kita panik kita mengucapkan dengan jujur apa yang seharusnya kita sembunyikan....