Dari Peristiwa Menjadi Cinta

Dari Peristiwa Menjadi Cinta
Rasa Bersalah


"Varo!" ucap Vania yang terkejut melihat kehadiran Suaminya.


"Ba-bagaimana dengan Tristan? apakah dia sudah pulang dan apakah dia baik-baik saja?" tanya Alvaro dengan terengah-engah juga khawatir dengan keadaan anaknya.


"Tenangkan dirimu Varo, Tristan baik-baik saja. Lihatlah dia sedang bersama Ayah." Vania menunjuk Tristan yang sedang bersama Edwin, Alvaro pun menoleh dan melihat ke arah Ayahnya dan melihat kalau ada Tristan di sana. Ia langsung menuju ke arah Tristan dan memeluk nya.


"Tristan kau menakuti Ayah, kenapa kau sangat lama pulang dan kenapa arah mobil yang Kevin bawa menuju ke pemakaman?" tanya Alvaro sembari mengurai pelukan nya dan bertanya tentang mobil Kevin yang menuju arah ke pemakaman.


"Ayah, itu karena Paman Valdo dan Bibi Olivia ingin pergi ke makam nenek," jelas Tristan dengan polosnya.


"Valdo? Olivia? siapa mereka?"


"Orang yang selama ini telah pergi dari rumah ini selama bertahun-tahun dan tidak pernah kembali, hari ini datang dan entah sebab apa dia datang kemari." Edwin menimpali percakapan Alvaro dan Tristan.


"Apa! tidak mungkin." tegas Alvaro seakan mengerti siapa sosok yang sedang di bicarakan oleh Edwin.


Tiba-tiba pintu mobil terbuka, Olivia dan Valdo keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju halaman rumah. Melihat Valdo yang keluar dari mobil Alvaro dan Edwin langsung terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Sedangkan Vania yang melihat itu seakan tidak percaya kalau itu benar-benar Valdo Adiknya Alvaro.


"Yo' sudah berapa lama dan kapan terakhir kali kita bertemu," ujar Valdo melihat ke arah Alvaro dan Edwin. Sementara Olivia mendatangi Vania.


"Emm' permisi, apakah kau Ibunya Tristan? bisakah kau membawa Tristan ke halaman belakang rumah, karena tidak baik baginya mendengarkan pembicaraan yang selanjutnya." Pinta Olivia kepada Vania agar ia membawa Tristan menjauh dari Valdo Alvaro dan juga Edwin.


"Ohh apakah kau istrinya Valdo," ucap Vania melihat Olivia.


"E'em sebaiknya jangan urus yang itu dulu, emm' sebaiknya anda cepat membawa Tristan pergi ke halaman belakang." Vania langsung menuruti kata-kata Olivia dan membawa Tristan ke halaman belakang untuk menjauh dari Valdo Alvaro dan Edwin.


Sedangkan Kevin, Valdo menyuruhnya untuk pergi menjauh dan meninggalkan mereka berempat saja. Kevin menuruti perkataan Valdo dan pergi dari sana.


"Valdo kau kembali," ucap Edwin bahagia melihat anaknya itu yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak pulang. "Ini adalah suatu kegembiraan, kami tidak pernah menyangka kau akan kembali. Kami pikir kau akan pergi selama-" Sebelum Alvaro menyelesaikan rasa bahagia melihat Valdo perkataan sudah di potong oleh Valdo.


"Berhentilah berbicara tentang hal yang menjijikkan, jangan terlalu perhatian dengan diriku. Bahkan kalian tidak peduli kalau aku mati ataupun hidup di dalam rumah ini, dan sekarang kalian menunjukkan sikap kalian yang seperti ini setelah tidak melihat ku selama bertahun-tahun!. Heh' kalian sangat memalukan dan sangat menjijikkan."


"Valdo apa yang kau katakan!kau tidak seharusnya berbicara seperti itu kepada Ayah dan Kakak mu. Bukankah sebaiknya kalian menunjukkan hubungan yang harmonis sebagai keluarga karena sudah lama tidak bertemu, jangan terlalu membawa kebencian mu Valdo." Olivia menimpali perkataan Valdo dan menyuruh nya untuk menenangkan dirinya.


"Tidak Nona, dia benar kami sangatlah memalukan bahkan sangatlah menjijikkan," ucap Edwin disertai senyum pahit diwajahnya.


"Tidak Tuan anda tidak seperti itu."


"Heh' Valdo maafkan aku, aku hanya tidak percaya dan sangat senang ketika kau kembali karena itulah kata-kata itu keluar dari mulutku. Ketika kau pergi rumah ini seperti kehilangan seseorang dan aku pun juga merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat membuat ku merasa seperti dalam kebingungan dan kesedihan yang mendalam." Tukas Edwin melihat ke arah Valdo.


"Hehh' bukan hanya itu, senyum di rumah ini pun sudah mulai memudar karena tertutupi oleh debu hingga debu itu dibersihkan dan disitulah kami tau dimana kesalahan kami yang sebenarnya. Valdo kami tau kalau kami lah yang bersalah, seharusnya aku tidak menutupi apa yang sudah di lakukan oleh Ayah, seharusnya aku tidak menutupi itu darimu dan aku sungguh menyesal karena hal itu." Timpal Alvaro.


"Apakah kalian sudah selesai berbicara, apakah masih ada kata-kata menjijikkan yang akan keluar dari mulut kalian lagi? atau kalian akan mengatakan, Valdo pulanglah kami sangat merindukanmu. Itu sangat menjijikkan, berhentilah berbicara omong kosong orang tua dan terlebih lagi kau seorang Pria yang tidak tau malu."


Kalian masih bisa mengatakan kata maaf setelah kalian menghancurkan diriku berkeping-keping, kalian masih bisa mengatakan itu! ibaratkan kaca yang kau pecahkan dan kau menyatukan nya lagi maka pantulan nya tidak akan sama seperti sebelumnya," tukas Valdo yang masih menyimpan rasa kebencian dihatinya terhadap Ayah dan Kakak nya.


"Memang benar kaca itu tidak mungkin bisa memantulkan pantulan yang sama seperti yang sebelumnya, tetapi orang yang berada didalam pantulan kaca itu tetaplah sama. Apa yang berbeda? kau berada di dalam nya, kau melihat dirimu sendiri dari dalam pantulan itu. Lantas kenapa kau masih menyakiti dirimu sendiri lewat serpihan kaca itu." Timpal Olivia.


"Tapi jika seandainya kau mengatakan kau seperti kaca yang pecah itu, maka pemilik nya bisa membeli yang baru."Sambung Olivia yang disertai bulir-bulir air mata yang menetes di mata nya dan membasahi pipinya.


"Tapi bagaimana jika seandainya pemilik nya tidak memiliki uang untuk membeli yang baru?"


"Dia bisa bekerja!"


"Bagaimana jika seandainya dia dipecat dari pekerjaannya?"


"Dia bisa mencari pekerjaan yang baru."


"Jika dia tidak diterima di mana-mana, bagaimana?"


"Dia bisa mencuri."


"Tetapi jika dia tertangkap dan di interogasi."


"Maka dia akan mengatakan yang sebenarnya, kalau dia mencuri sebuah cermin hanya untuk membuat seseorang sadar kalau dia orang yang berada di hadapannya ini sudah berubah sepenuhnya!" tegas Olivia disertai rasa percaya diri dengan setiap perkataan nya.


Valdo pun tersenyum mendengar jawaban Olivia. "Tapi bagaimana jika seandainya pencuri itu tidak ingin mengatakan kebenarannya?"


"Jika begitu, maka lebih baik dia mati."


"Kenapa kau mengatakan dia sebaiknya mati."


"Karena menurut nya kesalahan nya begitu besar dari apa yang orang lain rasakan, dia merasa bahwa kesalahannya sudah tidak bisa di ampuni. Maka lebih baik dia mati membawa kesalahan itu selama lamanya."


"Kau tau, kematian tidak akan membuatnya menjadi lebih baik."


...****************...


...Bahkan seorang penjahat pun akan berubah jika sudah kehilangan sosok yang berharga bagi dirinya, dan itu akan terjadi jika kau memberinya kesempatan untuk berubah....