
Setelah Olivia menggantikan pakaian nya ia lalu keluar dari dalam mes. "Heh! ternyata di dalam tas itu berisi barang-barang mu ya," ujar Valdo melirik ke arah tas yang Olivia bawa.
"Jadi menurut mu apa, kau berpikir kalau aku tak bisa lagi memegang pistol. Apa kau ingin bertaruh?" tanya Olivia menantang Valdo bertaruh kepadanya.
"Oh' mari kita bertaruh, kau harus menembak seseorang yang menculik mu tepat di kepala nya. Bagaimana apakah kau sanggup?"
"Ha' kau hanya mengatakan hal yang seperti itu? taruhan mu cukup sederhana tetapi aku menerimanya. Kau mengatakan kita akan pergi ke Pulau itu disaat orang yang kau katakan itu tiba."
"Yaa benar, dia mengatakan seperti itu. Dia mengabarimu kalau dia sudah pergi ke Pulau itu dan menunggu kita disana."
"Padahal aku baru pulang dari pekerjaan ku dan aku melihat pesan darimu lalu aku terburu-buru datang kemari."
"Sudahlah ayo, kita harus mengejar waktu." Valdo dan Olivia pergi untuk membantu beberapa anggota militer yang lain, Valdo meminta kepada Olivia untuk membantu Laura dan Fani menyiapkan beberapa senjata yang diperlukan.
Olivia menuruti permintaan Valdo dan pergi ke tempat persenjataan, sedangkan Fani dan Laura yang sangat sibuk di tempat persenjataan tiba-tiba saja mendengar ada suara langkah kaki yang menuju ke arah tempat mereka berada.
Mereka lalu berbalik kebelakang dan melihat siapa yang datang, Fani dan Laura sangat bahwa yang datang adalah Olivia, Dan mereka lebih terkejut lagi melihat Olivia yang memakai baju kemiliteran.
"Olivia apakah ini benar-benar kau atau aku hanya bermimpi," ucap Laura yang merasa kalau apa yang dilihat nya hanya mimpi belaka.
"Apakah kau suka bermimpi disaat yang genting Laura? he' tentu saja ini aku," kata Olivia.
"Tapi bagaimana bisa kau memakai baju militer?" tanya Fani keheranan melihat baju Olivia.
"Huft … aku hanya ikut membantu dalam perang kali ini dan ada orang yang ingin bertaruh dengan ku, maka aku tidak akan melewatkan nya. Baiklah sebaiknya kita tidak perlu berbicara lagi, ayo kita selesaikan ini!"
Mereka pun menyelesaikan persenjataan yang ingin di bawa hingga seluruh persiapan selesai. Mereka lalu berkumpul di tengah lapangan termasuk juga Olivia, semua orang disana saling bertanya-tanya siapa wanita itu? siapa wanita itu? tetapi semua orang hanya berfokus untuk perang kali ini.
"Baiklah kalian sudah berkumpul di tengah lapangan ini! aku mengumpulkan kalian karena kita berada di dalam situasi yang sangat genting. Suatu eksperimen manusia telah di jalankan, ini bukanlah yang pertama kali melainkan ini adalah yang kedua kali." Valdo memberitahu kan kepada seluruh anggota alasan tentang perang yang akan mereka hadapi.
"Diantara kalian semua pasti sudah ada yang ikut di dalam misi waktu itu, maka dari itu kalian akan ku bawa seluruh nya. Aku akan memperjelas ini, jangan takut dengan kedudukan jika kalian bertemu dengan orang yang lebih tinggi pangkat nya dari kalian, contohnya seorang pemerintah yang telah melakukan eksperimen ini."
"Kalian takut membunuh nya karena dia memiliki kedudukan yang tinggi, maka akan ku perjelas yang bersalah tetaplah salah. Jika kalian tidak membunuh nya maka dialah yang akan membunuh kalian, Kalian mengerti!" tegas nya kepada seluruh anggota militer.
Semua anggota militer yang berada di sana menjawab dengan serentak. "SIAP KAMI MENGERTI!!"
"Bagus kalau kalian mengerti, misi kali ini aku akan meninggalkan sebagian untuk membawa Jet Tempur ke Pulau itu dan sebagainya lagi kalian harus ikut ke pulau itu."
"Kita tidak akan menaiki Helikopter karena suaranya terlalu berisik maka dari itu kita akan menggunakan Pesawat Militer, kita akan terjun ke bawah dengan menggunakan parasut. Kalian mengerti!"
"SIAP MENGERTI!!" teriak mereka yang serentak dengan suara yang tegas.
Mereka yang di minta untuk masuk ke dalam pesawat pun masuk, Olivia dan Valdo berada di dalam pesawat yang sama tetapi Olivia tidak ada berbicara dengan Valdo sedikit pun sepanjang perjalanan. Pesawat akhirnya lepas landas dan mereka berangkat ke Pulau Lantau.
Tidak berapa lama mereka sudah sampai di Pulau Lantau, satu persatu dari mereka terjun dari pesawat menggunakan parasut yang sudah disediakan, hingga sampai ke daratan. Valdo lalu memerintahkan mereka untuk mencari tempat yang cocok sedangkan Valdo melihat ke kanan dan ke kiri mencari seseorang.
"Dimana kau? bukankah kau mengatakan kalau kau sudah sampai di Pulau ini, tetapi aku tidak melihat mu. Dimana kau sebenarnya." Valdo melihat ke kiri dan kanan hingga matanya tertuju pada seseorang yang berjalan menuju ke arah nya.
Olivia yang melihat hal tersebut langsung mengarahkan pistolnya ke pada orang itu dan bersiap untuk menembak. "Tidak Olivia berhenti, jangan menembak nya." Valdo menghentikan Olivia yang bersiap-siap menarik pelatuk pistol.
"Kenapa! bisa saja itu musuh," ujar Olivia melihat ke arah Valdo.
"Tidak, dia bukan lah musuh."
"Lalu apa!"
Orang misterius yang melihat perdebatan antara Valdo dan Olivia pun berkata, "Waw! di tengah malam seperti ini apakah aku sedang melihat perdebatan dua orang kekasih di tengah peperangan ini. Bahkan aku sendiri tidak bermesraan dengan istriku, aku menyuruhnya untuk membeli tiket dan langsung terbang ke Tiongkok," ucapnya.
"Kenapa kau bercerita tentang keluarga mu, aku bahkan tak ingin mendengar nya," ketus Valdo.
Orang misterius itu berhenti ke arah Valdo dan melihat Olivia, Olivia terlihat bersiap-siap kapan saja untuk menyerang orang misterius itu. "Kenapa wanita ini terlihat seperti ingin menyerang ku kapan saja."
"Dia tidak mengenal mu tentu saja dia berniat untuk menyerang mu."
"Ohh benarkah, kenapa kau tidak memberitahukan tentang ku kepadanya."
"Masih belum saat nya, jika kau ingin memberitahukan nya sekarang kau beritahukan lah sendiri."
"Ohh kalau begitu dengan senang hati," ujar nya lalu berjalan menghadap ke arah Olivia. "Halo nama ku adalah Andi, aku adalah teman baiknya Valdo. Senang bertemu dengan mu."
Olivia yang mendengar nama Andi sontak terkejut dan melepaskan pistol yang berada di genggaman nya. "A'Andi, A'Andi … apakah, ha! tidak mungkin aku tidak percaya!" tegas nya serasa tidak percaya bahwa orang yang berhadapan dengan nya adalah seorang Laksamana yang telah lama menghilang dan sudah di katakan mati.
"Ha' tidak percaya? apa yang tidak kau percayai?" tanya Andi heran dengan ucapan Olivia.
Olivia melihat ke arah Valdo. "Valdo, apakah dia … Laksamana-" ucap Olivia terbata-bata bertanya-tanya.
...****************...
...Sesuatu kadang tidak sesuai kemauan dan tidak ekspektasi kita, tetapi terkadang hadir sesuatu yang membuat kita merasa cukup akannya......