Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Berakhir Damai


"Tempat apa lagi ini Bunda?" merasa penasaran tempat asing yang mereka tuju, Darriel bertanya.


"Ini kediaman keluarga Yoris. Kalian kenal Arven kan? kakek neneknya mengundang kita untuk makan malam bersama." Roze memberhentikan mobil tepat di depan sebuah gerbang tinggi.


Sebenarnya keluarga ini menawarkan jemputan namun Roze menolak karena tidak ingin merepotkan. Akhirnya tiba juga ia beserta ketiga anak remajanya di kediaman ini.


"Jadi keluarga Arven yang lain juga mengenal Bunda?" Darriel melanjutkan pertanyaan.


"Mereka tidak hanya mengenal. Tapi kabarnya saat bunda masih bayi, pernah diadopsi oleh keluarga ini. Tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu."


"Bunda, mendengar ceritamu aku hadi merasa bahwa bunda adalah seorang anak yang telah hilang dan ditemukan kembali." sambung Darriel.


Darriel memang aktif mengoceh sedangkan kedua kakaknya sama sekali tidak bersuara.


"Ya, jadi anggap saja mereka memang keluarga kita."


"Bunda, sungguh diluar dugaan, rupanya orang-orang di masa lalu bunda adalah orang-orang hebat."


"Oke, berhenti bicara, ayo kita masuk. Ingat, bersikap sopan dan biasa saja, jangan tegang."


Benar benar disambut hangat oleh keluarga ini, mampu membuat kecanggungan tak terlihat. Ada Arven beserta kedua orangtuanya dan kakek nenek juga. Dua paman Arven sedang berada di luar kota.


Ezra, ia tak melepas lengan ibunya sedikitpun, membuatnya terlihat seperti orang aneh.


Biasanya formasi duduk si triplet saat bersama di meja makan, posisi Ezra selalu berada di tengah kedua saudaranya. Tapi kali ini, ia hanya menempel dengan sang bunda seperti anak balita. Tapi meski demikian, Arven yang diam-diam mencuri pandang, tak sedikitpun merasa itu aneh. Ia malah melihat Ezra yang kini lebih imut dan sama sekali tidak menakutkan lagi baginya.


"Jangan takut sayang, mereka orang baik." Roze memberi penjelasan secara pelan.


"Kak, ada apa denganmu? Kau terlalu pendiam. Ini membuatku takut." bisik Darriel pada Ezra. Ia memang belum mengetahui kondisi kakak perempuannya yang sedang mengalami sedikit gangguan. Dan benar, Ezra menanggapinya hanya dengan gelengan kepala dan mukanyang masih datar..


Makan malam dimulai. Darriel menyenggol kaki Daniel, menyadarkan kakaknya ini dari diamnya yang tidak sedikitpun menyentuh makanannya. Darriel jadi tidak percaya diri untuk menyicip makanan lebih dulu.


Tanpa diduga, Daniel membalas dengan menyunting lutut Darriel.


Saling sunting senggol terjadi di bawah meja, berlangsung beberapa saat. Tak ada satupun orang yang menyadarinya.


Beberapa kali terlibat tanya jawab antara Kekuarga Yoris dengan Roze untuk menciptakan suasana akrab dan nyaman.


Ezra yang berada persis disebelah Darriel pun sama sekali tidak menyadari kelakuan dua saudaranya. Ia hanya fokus memainkan mulut gelas berisi air mineral didepannya.


hingga akhirnya,


Upss! Tak sengaja Darriel menyikut kakak perempuannya.


"Hehe, maaf, Kak." masih sempat tersenyum tanpa penyesalan.


Hening,


Tatapan Ezra berubah. Ia menoleh tajam. Gelas yang ia mainkan terjatuh hingga air gelas itu membasahi pakaian Ezra, membuat seisi ruang makan berfokus padanya. Ezra tak suka.


Oh, no! Tatapan apa ini? Hanya hal kecil tapi dia terlihat ingin membunuhku. Darriel merasa kedinginan. Siapa yang tidak takut jika ditatap dengan sorot tajam.


Brak!


Segenap keluarga Yoris tersentak. Ezra baru saja memukul meja.


"Sayang, ada yang salah?" Roze menyentuh jemari yang baru saja menghantam meja makan dengan tidak sopan. Namun demikian, Roze tidak bisa menasihati anaknya untuk saat ini, dihadapan orang lain.


Ketiga anaknya ternyata bahkan belum mencicipi hidangan.


Ezra hampir meraih gelas lain untuk membalas kedua adiknya, namun Roze menahan tangannya dengan kuat. Dari matanya tersimpan kemarahan. Roze mengerti bahwa situasi hati putrinya sedang kacau.


Gina, sebagai nyonya keluarga Yoris memberi kode agar pelayan mendekat dan membereskan pecahan gelas.


"Sayang, ini tidak masalah sama sekali. Oia, kau harus berganti pakaian. Ayo ikut dengan nenek." Ezra berdiri untuk mengiyakan ajakan ibu angkat bundanya ini.


Tidak hanya sekali Roze meminta maaf kepada keluarga Yoris. Ia benar-benar tidak enak pada keluarga ini karena sikap kaku ketiga anaknya.


Masing-masing dari anak itu mendapatkan sesuatu untuk mereka bawa pulang, yang telah disiapkan oleh keluarga Yoris.


Mereka bahkan mendapat tawaran untuk tinggal bersama, namun ibu dan anak itu kompak menolak.


Pada akhirnya, mereka sepakat untuk menjaga silaturahmi mulai sekarang maupun di masa yang akan datang. Apa lagi ... antara ketiga remaja ini sudah saling mengenal dengan Arven dan mengingat bahwa mereka sama-sama keluarga Park, meskipun belumlah akrab layaknya saudara.


Perjalanan hening tak bersuara. Daniel dan Darriel yang duduk di belakang memutuskan untuk pura-pura tidur agar tidak terlibat percakapan dengan bunda maupun Ezra.


Aku heran, kenapa kakak terasa sangat asing? Aku takut padanya. Darriel lagi-lagi membatin.


Roze berbelok memasuki kawasan tempat tinggal keluarga Park untuk mengantar Darriel pulang.


"Aku mau tinggal dengan ayah malam ini."


"Ya?" Roze nampak terkejut tiba-tiba mendengar Ezra mengatakan sesuatu. "Kau bilang apa, Nak?"


"Ayah. Malam ini, aku tinggal dengan ayah."


"Oke oke sayang, nanti turunlah bersama adikmmu."


Apa? Kakak mau bermalam di sini? Jangaaaan! Aku takut dengan tatapan tajamnya. Darriel cukup penakut. Ia merasa harus waspada kalau-kalau Ezra akan membalas yang tadi terjadi.


[Van, kami baru saja tiba. Ezra mau bermalam denganmu.] cepat-cepat Roze mengirim pesan pada Jevan.


Mobil terhenti. Seperti biasa sang penjaga menyapa dengan ramah dan menawari Roze untuk masuk.


"Terima kasih Pak, saya hanya mengantar anak-anak." ujar Roze.


Kemunculan Jevan menyambut anak-anaknya membuat Roze merasa tersentuh, ketika Ezra berjalan sangat pelan lalu memeluk Jevan.


Anak perempuanku ini, walau dalam kondisi mental yang kurang stabil, tapi masih ingat untuk berbagi waktu dengan ayahnya. Ezra, kamu luar biasa. Tinggallah sedikit lama dengan ayah. Biarkan ayah memberimu banyak perhatian sayang.


"Bunda, ayo jalan. Tunggu apa lagi?" Suara Daniel persis alarm merdu yang membangunkan Roze dari lamunannya.


Jevan hanya bisa menatap kepergian mobil Roze yang bahkan tidak memberi tanda pamit pergi. Merasa sedih? Tidak hanya sedih, Jevan merasa kasihan pada dirinya sendiri yang sama sekali tidak berarti apa-apa lagi bagi Roze Moza.


Di kediaman Park. Jevan mengajak dua anaknya ini untuk duduk bersama. Berharap bisa bicara dari hati ke hati. Jevan tahu bahwa kondisi kedua anak ini belum tepat untuk diajak membahas hal serius, tapi Jevan berusaha untuk tidak merusak suasana hati keduanya. Ia akan bicara baik-baik tanpa memaksa.


"Ayah ingin meminta pendapat kalian berdua. Apa kira - kira ... Ayah punya satu kesempatan untuk bersatu dengan bunda kalian?"


"Jangan!" kedua anak ini kompak menjawab satu kata dengan nada datar.


"Ayah, biarlah kita tetap begini saja. Kalian tidak bisa bersatu ketika bunda tidak mau. Keputusan bunda adalah tidak akan menikah." Hampir sama dengan tanggapan Daniel, Darriel rupanya tetap memihak ibunya sekalipun raganya lebih dekat dengan sang ayah. Padahal Jevan sedikit berharap anak ini akan merengek untuk memiliki keluarga yang utuh.


"Lalu bagaimana menurutmu, Ezra?" belum menyerah, Jevan berharap setidaknya salah satu dari ketiga anaknya memihak padanya dalam hal ini.


"Teman. Ayah bunda berteman saja. Ayah, aku mengantuk." sedikit kurang ngena, tapi tak apa. Ini adalah kata hati Ezra.


Bib,


Jevan segera membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. [Jevan, tolong jaga Ezra. Jangan sampai dia kabur lagi dari tempatmu.]


Benar, aku memang hanya pantas jadi ayah dari anak-anak kita, tapi sama sekali tidak pantas lagi untukmu, Roze. Jevan seperti menahan tangisan yang tiba-tiba akan meledak.


"Ayah, ada apa? Kenapa ayah jadi sedih?" Darriel merasa khawatir. Mungkin saja pesan yang baru saja dibaca ayahnya membuat sang ayah merasa sangat sedih.


Air mata yang sudah tertampung kini keluar sudah. Jevan akhirnya terisak. Segera Darriel merangkulnya. "Ayah, yang sabar."


Ezra ikut merasa sedih tentunya. Ia mendekat dan memeluk ayahnya. Ikut menangis dengan sang ayah.


Sepulang dari kantor, Jevan menjemput kedua anaknya.


Tiba di depan gerbang tinggi kediamannya, terlihat dua remaja itu sudah siap masing-masing dengan tas ransel dipunggung.


"Sayang, titip salam buat bunda kalian." sang nenek mengantar kepulangan kedua cucunya.


Benar, begini mungkin rasanya menyedihkan ketika tidak bisa melihat anak cucunya bersatu dalam satu ikatan keluarga. Jenni dan keluarga Park benar-benar mengharapkan ada setitik cahaya untuk membawa Jevan dan Roze kembali bersama. Tapi ... Entahlah ...


.


.


Mendengar kabar bahwa anak-anaknya akan akan pulang, Roze menyibukkan diri menyiapkan beberapa hidangan.


"Bunda, aku akan membantumu." Daniel mengambil alih beberapa potong bawang untuk ia haluskan secara manual.


Roze menilai bahwa putranya ini terlihat semakin bijak dalam bersikap. Peduli akan sekitar dan tidak hanya menjalani hidupnya yang monoton.


"Bunda, bagaimana komunikasi antara Kau dan ayah kami?"


"Ya? Oh,"


Sejak kapan kau peduli, sayang?


"Harusnya kami berdua baik-baik saja sayang." rasanya sedikit aneh jika Daniel membahas masalah satu ini. Tapi Roze hanya menanggapinya dengan santai.


Hidangan sudah siap dengan cepat.


"Bunda... Kami pulang." Darriel dan senyuman tampannya muncul dari arah pintu. Ada Ezra juga namun hanya membisu datar.


"Kemari dan duduklah. Kita mau siap makan untuk merayakan kepulangan kalian berdua."


"Bunda, ayah ada di luar."


"Oh? Kenapa tidak suruh masuk? Van! Masuklah!"


Daniel mengerjap beberapa kali. Cara bunda memanggil Jevan sangatlah natural, tanpa paksaan.


Jevan kemudian masuk.


"Duduklah Van, aku akan mengambil piring untukmu." Roze berjalan ke arah rak piring.


Jevan berjalan menyusul Roze dan menyentuh pundak wanita itu dari belakang dan ini sontak membuat Daniel berdiri ditempat. Ia takut bunda sedang sensi hingga terjadi pertengkaran.


"Van, apa yang kaulakukan ini?"


"Roze, terima kasih. Kau menyambutku dengan baik kali ini."


"Kau mengantar pulang anak-anakku, sudah seharusnya aku berterima kasih padamu."


"Roze, didepan anak-anak aku ingin bertanya, apakah aku masih bisa kembali padamu?" to the point, Jevan sudah tidak punya waktu untuk berbasa basi.


Pertanyaan yang itu-itu saja. Roze seharusnya sudah muyak. "Van, aku ingin Kau ingat ini. Dihadapan anak-anak aku akan mengatakan ini padamu. Kau, tidak lagi punya tempat dihatiku. Isi hatiku hanya dipenuhi dengan diriku sendiri dan ketiga anak kita." Dengan tegas Roze mengutarakan isi hatinya.


Sakit. Jevan merasakan sakitnya luar biasa sampai air matanya pun mengalir dari tempatnya.


Jevander mengangguk paham.


"Baiklah, aku sudah paham. Aku ... tidak akan memaksamu lagi." meski jelas terdengar menyedihkan, tapi Jevan tidak akan egois.


"Trima kasih atas pengertianmu, Van."


"Bunda," Daniel mendekati ayah ibunya.


"Kulihat kalian berdua sudah berdamai. Tidak ada salahnya beri ayah semangat dan pelukan terakhir." sumpah demi apa, tidak seorangpun mengira Daniel akan menciptakan lelucon ini.


"Ayah, kau sudah dengar jawaban bunda. Aku senang ayah menghargai keputusan bunda." Daniel merentangkan tangan dan maju memeluk Jevan. Kalau Jevan tidak salah ingat, ini merupakan pelukan pertama dari putranya ini.


Jevan ingin meratap. Tapi apa daya, ia memiliki sedikit rasa malu terhadap Roze dan ketiga anak mereka. Tapi seperti ini pun bisa dibilang kemajuan. Tanpa angin dan hujan, Daniel memberinya pelukan yang terasa tulus.


Melihat saudaranya memeluk ayah mereka, Darriel juga Ezra tidak mau ketinggalan. Datang mendekat dan mememeluk ayahnya dari sisi yang lain.


Begini saja sudah sangat cukup untuk anak-anakku. Aku akan berusaha menyingkirkan ego dan sebisa mungkin menjaga komunikasi dengan Jevan agar kami bisa mendidik anak-anak ini hingga kekak menjadi orang dewasa yang lebih baik dari kami berdua. Roze menyeka air matanya.


Ketiga remaja itu melepas pelukan untuk ayah mereka.


Darriel menghampiri ibunya. "Bunda, kami tahu, bunda berbesar hati berdamai dengan ayah hanya demi kami bertiga. Bunda, terima kasih untuk kebaikan hatimu." Darriel membawa ibunya mendekat pada Jevander.


"Ayah, bunda, walaupun keluarga kecil kita tidak seperti keutuhan keluarga orang lain, bisakah kalian berdua berjabat tangan untuk membuat janji akan selalu ada untuk kami?" Darriel mengambil tangan ayahnya agar terulur di depan ibunya.


Tak ada tapi-tapian, Roze menyambut tangan itu tanpa ragu.


Tidak puas hanya menggenggam tangan, Jevan menarik wanita itu kedalam dekapannya, tanpa kata. Ingin mengucapkan satu kata saja rasanya ia akan menangis.


Baiklah, begini saja dulu. Aku akan berhenti memaksamu. Tapi ... Aku Jevander Park, akan ... menunggumu, sampai akhir.


.


.


...TAMAT...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di suatu pagi yang indah.


Rasanya sinar matahari pagi ini lebih cerah dari pada hari-hari sebelumnya.


Roze mengendarai mobilnya menuju istana megah milik keluarga Lee yang kini menjadi tempat tinggalnya. Ya, seperti layaknya seorang anak perempuan, Roze ingin merawat sang ayah yang tulah lanjut usia.


Roze baru saja menyatakan pengunduran dirinya dari Barata's Hospital.


Apakah Roze sudah menyerah atas profesinya sebagai dokter anak? Tidak sama sekali. Baru-baru ini Roze menerima hadiah besar saat membuka amplop file berwarna coklat yang telah disiapkan oleh ayahnya sendiri, yaitu sebuah klinik. Roze kini bekerja sama dengan beberapa temannya untuk memberikan pelayanan kesehatan melalui klinik miliknya ini.


Tidak hanya Roze, ketiga anak kembarnya pun mendapatkan limpahan warisan dari tuan Lee, kakek mereka.


Tapi ... Bagi Roze ini bukanlah akhir yang manis. Justru dengan jaminan financial melimpah ini, anak-anaknya pun harus mendapatkan didikan yang benar, agar jangan sampai mereka salah dalam melangkah ketika dewasa nanti.


Jevander Park, Roze masih ingat bagaimana pria itu menikmati masa mudanya. Pria itu bebas seperti burung diudara menggunakan beragam fasilitas dari keluarganya untuk bebas terbang kesana kemari.


Kalau bisa, kalau bisa... Jangan sampai salah satu dari ketiga anak ini meniru sisi buruk ayah mereka.


Selesai...


Terima kasih readers... akhirnya cerita ini selesai dan antar Jevan dan Roze berakhir damai. semoga, keduanya boleh jadi orang tua yang baik bagi ketiga anak mereka yang kini beranjak dewasa.


Trima kasih yang tak terhingga bagi kalian semua yang sudah suport cerita ini dan setia membaca hingga akhir. Yuk tetap semangat bestie..


Oia, disini ada yang udah baca kisah Morga Megan?


Yuk baca kisah anak-anak mereka lagi, disana akan muncul semua cicit si buyutnya Antami grup.


(Setelah Tiga Hari Pernikahan) baru meluncur..