
Darriel dibuat tercengang saat mobil yang membawanya bersama kakek nenek memasuki halaman sebuah hunian.
Waw... Tempat ini terlihat seperti istana.
"Ayo Riel, kita masuk."
Pertama kali menginjakkan kaki memasuki istana tempat tinggal ayahnya ini, Darriel tidak berhenti tercengang dalam diam. Senang? Tentu saja. Tapi, meskipun segalam bentuk kekaguman yang terpapar begitu menyilaukan, Darriel merasa ada yang kurang. Ia tidak nyaman berada disini tanpa kedua saudaranya, ataupun binda mereka.
"Istirahatlah sayang, semoga kau nyaman tinggal disini." nenek keluar dari kamar setelah menyelimuti cucunya itu.
Jauh berbeda dengan tampilan kamarnya bersama Daniel, kamar ini begitu luas untuk ia tinggali seorang diri. Kalau sudah begini, Darriel jadi rindu dengan ranjang susun yang ada di rumahnya, tepatnya di kamar miliknya dan kak Danniel.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Kembali ke ruang tengah di kediaman Roze.
Usai pengakuan dosa dan permintaan maaf langsung dari Roze kepada kedua anaknya, suasana menjadi hening, hanya terdengar deru napas dan sesegukan dari sisa tangis Ezra.
Mengetahui sempat tidak diinginkan oleh bunda membuat Ezra merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga. Apa yang harus ia katakan dalam situasi ini? Ezra merasa hatinya teramat sedih.
"Sayang, Kau adalah manusia yang sangat kuat. Jangan menangis lagi, Nak. Semua sudah berlalu. Keadaan sudah membaik. Maaf karena bunda mengakui sesuatu yang tidak menyenangkan untuk kau dengar." entah sudah menghabiskan berapa puluh menit, Roze masih mendekap Ezra dengan penuh kasih.
Daniel menjatuhkan kembali bokongnya di sofa. Apa yang dirasakan Ezra tak ada bedanya dengan yang dirasakan di dalam hatinya. Daniel tertunduk menyembunyikan air mata kesedihan.
Jevan yang belum beranjak dari sana, ikut larut dalam suasana tapi apa yang bisa ia perbuat? Meskipun kesedihan kini menghantamnya, ia tidak mampu merangkul mereka yang telah ia sakiti itu, untuk menangis bersama.
"Bunda, aku menyayangimu." Ezra menatap nanar wajah ibunya setelah keluar dari dekapan hangat itu.
Roze memberi senyuman termanisnya. "bunda juga menyayangimu. Ezra, sekarang ... berbincanglah dengan leluasa bersama ayahmu. Jangan menyiksa perasaanmu lagi. Bunda ingin kau merasa bahagia, memiliki semua yang kau inginkan."
Ezra menatap dalam kedua bola mata ibunya. Adakah dusta disana? Ezra tidak menemukan dusta di mata ibunya. Bunda sungguh mulia hatinya, mau melepas anak-anak untuk ayah yang tidak pernah bertanggungjawab atas hidup mereka selama 16 tahun.
Roze mengangguk. Jevan yang mendengar itu lantas berdiri.
"Bunda, aku sangat benci Ayah."
Degh.
Terpaksa tertahan lagi langkah Jevan yang baru saja akan bergerak. Ezra menoleh kearahnya dengan pelan.
Roze menuntun putrinya untuk kembali berdiri.
"Aku benci ayah, tapi aku sangat rindukan dia. Bunda, aku harus bagaimana?" Ezra mengungkapkan perasaanya tepat di depan Jevan, membuat tatapan mereka saling bertemu.
Jevan tidak lagi menahan diri. Ia hampiri kedua perempuan cantik itu dan dan seketika mendekap tubuh Ezra. Pelukan ini sedikit tak bersambut, tapi Jevan tidak membiarkannya terlepas.
Ezra menangis lagi. "Menangislah, jangan katakan apapun dan menangislah saja." Air mata Jevan pun ikut menetes lagi.
Roze perlahan menjauh. Ia akan memberi Jevan keleluasaan untuk dekat dengan anak-anaknya.
Roze pergi dengan mobilnya. Ia berpikir sebaiknya pergi berbelanja stok dapur seperti sayuran, buahan serta bahan lauk. Rasanya sudah sangat lama ia tidak mengolah masakan untuk keluarga kecilnya di rumah.
Pahit manisnya masalalu biarlah menjadi kenangan. Aku adalah Roze Moza yang sudah berdamai dengan masa lalu. Aku memaafkan mereka yang telah menyakitiku, walau kesalahan mereka tak akan kulupakan. Biarlah bekas luka yang mereka tinggalkan boleh mengingatkanku bahwa hidup memang tidak selalu memberi rasa nyaman seperti yang aku harapkan.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf Bestie, singkat.