
"Bu dokter, apa ada cara supaya aku cepat sembuh?" pertanyaan polos seorang gadis kecil berusia 7 tahun yang didampingi oleh ibunya,
"Minumlah obatmu dengan teratur, dokter janji, kau akan segera sembuh." jawab Roze.
"Tapi bu dokter, aku tidak suka minum obat."
Roze tersenyum semakin ramah. Anak ini sungguh berbeda dengan Ezra kecilnya. Kalau anak ini sangat penakut minum obat, saat Ezra kecil dulu, saking inginnya sembuh dari demamnya, dia pernah hampir menelan semua obat sekaligus hanya dalam sekali minum. jika ia tidak diawasi, benar-benar tidak ada takutnya.
"Kau lihat, gadis di dalam foto ini?" Roze menunjukkan foto masa kecil Ezra, yang memang ia pajang diatas meja sebagai penyemangat. "Dia cantik dan pemberani. saat sedang sakit, dia sangat suka minum obat."
"Oh ya? Ternyata ada anak perempuan yang lebih keren dariku? Kalau begitu aku akan berani minum obat, bu dokter." ibu dari anak itu tak tahan menahan tawanya atas kelucuan mulut tumpis putri kecilnya ini, demikian halnya dengan Roze.
'ya ... kau harus lebih keren darinya." sambung Roze pula, memberinya semangat.
"Bu dokter, lalu siapa nama anak laki-laki ini?" sebuah bingkai yang posisinya berada di ujung meja, menarik perhatian gadis kecil itu.
"oh, ini, dia bernama Daniel."
"Daniel? Bu dokter, aku ingin bertemu dengannya. Apa boleh kami berteman?"
Per.intaan polos ini lagi-lagi menimbulkan tawa dua wanita dewasa yang mendengarnya.
"Dia bukan anak-anak lagi. Dia sudah tumbuh besar, sangat besar."
Wajah imut itu nampak kecewa. Mungkin ia berpikir bahwa anak laki-laki itu seusia dengannya. Harapannya untuk berkenalan pupus dalam sekejap.
"Bu Dokter, apa dia setampan kakak Ello?"
"Kakak Ello? Siapa itu? Kakakmu?" Roze tak berhenti menanggapi tumpisnya mulut kecil ini.
Gadis kecil itu menggeleng. "Kakak Ello, dia sangat tampan kayak Oppa Korea."
"Sheiraaaa!"
Ibunya gadis kecil itu sepertinya harus mengakhiri drama yang mulai melenceng, mengingat betapa gilanya anak ini ketika wajah kakak Ello yang diidolakannya muncul di layar ponsel.
Segera gadis kecil itu diajak untuk berpamitan.
"Bye Sheraa, semoga cepat sehat, ya ..." gadis itu dengan wajah ceria sambil melambai.
"Kakak Ello!"
Baru saja say good bye, gadis itu kembali heboh memanggil nama seseorang yang baru saja membuka pintu.
"Daniel?" Roze berdiri dari tempatnya.
"Hai kakak Ello!"
dengan akrabnya pasien kecilnya ini memanggil Daniel dengan nama kakak Ello.
"Bu Dokter, dia kakak Ello." terlihat senyum yang begitu mengembang.
Daniel menoleh ke bawah mengikuti arah pandang bundanya. Kedua alisnya berkerut kala gadis kecil dihadapannya berlari dan memberinya pelukan erat.
Wajah Daniel mulai panik tak tertolong, meski tidak juga menolak aksi berlebihan ini.
Makhluk kecil dari mana ini?
"Sheiraaa!" Ibu dari anak itu kembali bersuara.
"Hei Sheira, jadi kakak Ello tampan yang kau maksud adalah kakak ini?" Roze mendekat dan berjongkok disamping anak itu. Sheira mengangguk dengan senyum lebar.
"Sheiraaa!"
Merespon kode larangan dari ibunya, Sheira melepas pelukannya.
"Sorry, kakak. Oia, Kakak, aku punya sesuatu untuk kakak." anak kecil itu merogoh tasnya dan mengambil sesuatu dari sana.
Daniel mengambilnya tanpa kata.
"Sheira, ayo kita pulang."
Tak peduli seberapa inginnya Sheira berlama-lama berbincang dengan idolanya, tubuh kecilnya tetap diseret pergi oleh ibunya.
"Daniel, benarkah kau setampan itu?" Roze menyelidik wajah putranya dengan wajah serius.
Daniel nampak salah tingkah dalam diamnya.
"Kau benar tampan rupanya. Pantas saja anak kecilpun mengidolakanmu."
Daniel hanya menggeleng malas. Bisa-bisanya ada anak sekecil itu yang sangat menggemarinya. Oke dirinya adalah idola dadakan tapi ... Ah sudahlah, bagi Daniel itu juga tidak penting.
"Jadi ada apa kau ke sini?"
Roze mengalihkan pembahasan.
.
.
...----------------...
"Ezraaa... Ezraaa! Buka pintu... ini aku, Arven."
Remaja laki-laki itu tak berhenti memanggil nama Ezra. Ia sudah tiba di rumah Ezra sejak 5 menit lalu, tapi pintu tak kunjung dibukakan.
Ia datang menjemput Ezra karena permintaan Nana untuk bertemu.
"Ezra, bukalah pintunya. Aku ingin bicara. Kau tenang saja, ini bukan tentang perasaanku. Ayolah Ezra, kalau tidak aku akan masuk lewat jendela."
Ceklek.
Pintu terbuka.
"Astaga! Ezralia! Kenapa kau tidak masuk sekolah berhari-hari?"
"Kau mau bilang apa?"
"Oh iya, sebaiknya aku masuk dulu." tanpa dipersilakan, Arven memasuki rumah yang baginya terasa sangat - sangat sempit itu.
"Ezra, itu ... Kau ... Tidak seharusnya kau berhenti sekolah. Satu lagi, rupanya kita adalah sepupu, tapi kau merahasiakannya dariku." tentu Arven telah mengetahui semuanya. Cukup menyebalkan bahwa Ezra adalah putri dari paman Jevan.
Ezra tetap tidak mengatakan apapun. Belakangan ini, Ezra sangat malas berbicara.
"Ezra, Nana ... Dia memintaku untuk menjemputmu. Dia sudah bangun."
Bicara soal Nana, sepertinya Ezra tertarik. Ia menoleh. "baiklah, aku juga harus bertemu dengannya." akhirnya suara Ezra terdengar juga.
Ezra keluar dari rumah setelah beberapa hari ia berkurung. Perasaannya tidak tentram jika belum meminta maaf pada Nana.
"Pegang yang kuat. Kita harus ngebut." Arven dengan bahagia merasakan pelukan Ezra dari belakang.
Pelukan Ezra lumayan juga. Aku bahagia. Batin Arven berteriak kesenangan.
Turun dari motor, Ezra melepas helm lalu mengenakan topi dan masker mulut untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Memang, belakangan ini Ezra rasanya sangat takut untuk keluar rumah. Serasa dirinya mendapatkan sorot tajam dari orang-orang yang kebetulan melihatnya. Ezra terus merasa tertuduh untuk kesalahan yang telah ia perbuat.
"Jalan menunduk? Kau bisa menabrak tubuh orang lain. Santai saja, tidak akan ada yang akan memarahimu selama ada aku. Ayolah, percaya padaku." Arven menaut paksa jari jemari Ezra. Senyum bahagianya kembali mengembang, sebab Ezra membiarkan yang dilakukannya.
Tiba di ruangan yang ditempati Nana.
Nana tiba-tiba merasa sesak di dadanya saat melihat dua tangan saling bertaut.
CEMBURU.
Ya ... Nana merasa cemburu.
Tapi ... Tak apa, perasaan sukanya pada Arven sudah tidak penting.
"Nana, Ezra ... Kalian berdua bicaralah. Aku akan duduk disana." Arven menunjuk sofa yang ada.
Nana tersenyum ramah. Senyuman ini, justru menyakiti perasaan Ezra. Ada baiknya jika Nana memarahinya habis-habisan.
"Ezra, aku ... minta maaf. Ezra, selama 16 tahun aku telah merebut tempatmy di samping daddy. Aku mengakuinya." Nana menahan betapa beratnya perasaan sedih sekaligus bersalah yang menekan hatinya.
"Ezra, aku akan pergi tinggalkan daddy. Kau, berjanjilah untuk bahagia bersama daddy."
"Em ... Nana, kau tidak harus pergi meninggalkan ayahmu."
Air mata Nana turun begitu saja mendengar kata 'ayahmu' yang dikatakan Ezra. Rasanya ada kesakitan yang tertaahan di dadanyam
"Aku ... Tidak akan mengambilnya darimu. Aku juga berjanji, tidak akan mengganggumu lagi. Nana, maaf karena telah mencelakaimu."
Nana menggeleng. "Ezra, kau tidak bersalah."
Ezra tak bergeming.
"Kau pun tidak perlu berusaha merebutnya. Dia memang ayahmu. Akulah yang telah mengambil tempatmu, padahal aku bukan putri kandung daddy." Nana terus menangis. Dirinya merasa sangat bersalah.
Ezra yang sedari tadi terus menunduk malu, mulai mengangkat wajah. Mengejutkan baginya bahwa Nana bukanlah putri kandung Jevander Park.
.
.
Tetap semangat Bertieeee!
🥰🥰🥰🥰😙😙