Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Ayahku Tameng Pelindung


Akhirnya! Setelah mati-matian melepaskan ikatan kuat yang melukai pergelangan tangan dan kakinya, Ezra kini terbebas. Meski bermandikan tetesan darah, ia tidak lantas jatuh begitu saja.


"Kau ... Jangan mendekat! Atau aku akan memukulmu lagi!" wanita itu tampak berani dengan kakinya yang terlihat sedikit gemetar.


"Minggir, aku mau lewat." Ezra dengan santainya melewati wanita asing itu, berharap wanita itu membiarkannya pergi dengan aman dari rumah ini.


Saat membuka pintu ruangan itu, Ezra menyadari bahwa dirinya sedang berada di lantai 2 sebuah rumah besar dan terbilang mewah yang hanya dimiliki para orang kaya.


Sedikit tertatih, Ezra mulai merasakan sakit.


Melihat ada peluang besar, wanita asing yang tampaknya sangat hoby memukul ini mengambil kesempatan untuk menyerang dari belakang.


Tapi ...


Mana dia sangka jika remaja yang menjadi sasarannya bukan orang yang mudah untuk dikalahkan, anak ini seperti memiliki insting kuat.


"Sudah kukatakan, biarkan aku pergi." Ezra berhasil menahan tongkat besi yang akan memukulnya.


Prenggg...


Tongkat itu terjatuh bebas dari ketinggian lantai dua, menghantam murmer lantai bawah.


Hanya anak perempuan baru gede, rupanya Ezra pun memiliki tenaga yang tak kalah dari orang dewasa. Dengan mudahnya ia menahan kedua tangan wanita itu. "silakan pilih. Kau ingin terjatuh seperti tongkat besi sialanmu itu, atau ... menggelinding di tangga ini?"


Sudah tidak ada ampun, Ezra sudah terlalu membuang banyak waktu.


"Lepaskan aku, kau ... anak kecil sialan!"


"Baiklah, kalau begitu ... selamat tinggal ..."


Brakkkk.


Mendorong tubuh wanita itu tanpa perasaan, membuat wanita itu menggelinding di tangga.


Siapa yang bisa hentikan aku? Tolong, seseorang muncullah!


Ezra menuruni tangga dengan santai. Tatapannya lurus menatap sosok wanita yang telah terkapar di lantai dasar. Sorot mata tajamnya membuat ia sekilas terlihat seperti seorang psykopat keji.


Tiba di lantai dasar, Ezra melangkahi tubuh wanita itu. Bukan berjalan mencari jalan keluar, Ezra malah meraih tongkat besi itu.


Jadi Kau masih bernapas? Aku akan menyelesaikan hidupmu detik berikutnya.


"Ezra!"


Degh...


Seseorang akhirnya muncul, apakah dia yang dikirim Tuhan untuk menghentikan Ezra? Sesorang ini muncul tepat saat Ezra sudah mengangkat tongkat besi itu persis di atas kepala wanita yang bahkan sudah tak bergerak ini.


"Bunda?"


"Ezra," Roze mendekat perlahan dengan perasaan takut dan merinding.


"Bunda ..."


Melihat kondisi putrinya yang berdarah dan babak belur, orang tua mana yang akan baik-baik saja? Belum lagi ada seseorang yang sedang tidak sadarkan diri. Apa yang telah dilakukan Ezra?


"Bunda, jangan takut." Ezra belum mengubah posisinya yang berdiri memijakkan sebelah kaki diatas punggung wanita itu.


"Ezra, lepaskan itu, sayang ..."


"Tapi dia hampir membunuhku, Bunda." Air mata anak itu tumpah, menggenangi wajahnya yang mengenaskan.


"Sayang, ini cukup, Nak. Jangan lakukan lagi." Roze memohon dengan penuh kelembutan membujuk putri berharganya yang tampak mengerikan.


Ezra mendekati ibunya. Roze memeluknya dengan erat. "Anakku. Ezralia-ku. Perempuan kecilku. Anak perempuanku yang baik hati."


Maafkan bunda terlambat sayang, apa yang telah kau lakukan ini, meski semua orang membencimu, bunda akan memaafkanmu.


Tak sanggup lagi Roze mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.


"Ezra!" Roze memgguncang tubuh kurus putrinya setelah sadar bahwa Ezra tak lagi bergerak dan jatuh terkulai lemah.


"Ezra bangun sayang..." Roze terus memeluk Ezra dalam pangkuannya.


"Bunda ... Sakit." Ezra, dengan mata hampir tertutup.


"Ya sayang, bunda akan mengantarmu ke rumah sakit."


"Bunda ... haus ..."


"Haus? Oke, tunggu disini sayang, bunda akan ambilkan air."


Roze meninggalkan Ezra yang terbaring lemah di lantai. Ia berlari menuju pantri untuk mencari air mineral.


"Jangaaan!" Suara seorang pria terdengar, begitu mengejutkan Roze hingga gelas yang dipegangnya terjatuh.


"Jevan?"


Mamanya Riri telah terbangun dan berusaha untuk kembali melukai Ezra. Tapi apa yang terjadi adalah tongkat besi itu berakhir memukul Jevander yang muncul menjadikan dirinya tameng bagi putrinya.


Mungkin pukulan dipunggungnya begitu kuat sampai mulut Jevan mengeluarkan banyak darah.


Bruk....


Wanita itu kembali terjatuh.


"A ...yah," Ezra. Mengulurkan tangannya tapi seketika itu juga tangannya kembali jatuh. Mungkin dia pingsan?


"Jevan ... Kau ... Kenapa Kau muncul disini? Tidak, kenapa Kau harus ikut terluka?" perhatian disertai wajah panik untuknya ini berhasil membuat Jevan melupakan rasa sakit. Ia malah tersenyum penuh arti dan menatap dalam kedua mata mantan kekasihnya ini.


Jevan hampir saja terjatuh dan beruntung Roze sempat menahannya, membuatnya sukses berada dalam pelukan wanita ini.


"Aku sudah bilang, bahkan jika harus menyerahkan nyawaku, aku akan selamatkan anak kita. aku keren, kan? Kau pasti terharu." meskipun terganggu dengan batuk darah, Jevan masih saja sempat berguyon.


"Kau masih bisa tersenyum." Roze melapas diri.


Ini bukan saatnya main tatap-tatapan. Ambulance harus segera datang.


"Aku akan mengantar Ezra ke rumah sakit. Kau bisa tunggu ambulance datang." Setelah menghubungi ambulance, Roze meraih tubuh putrinya.


"Roze, biar aku yang menggendongnya keluar."


"Urus dirimu sendiri, Jevan. Mungkin saja kau mengalami patah tulang belakang."


"Tidak, aku yang akan menggendongnya." Keras kepala, Jevan berjalan dengan gagah membawa tubuh putrinya itu keluar.


Sebelum benar-benar pergi, Roze menoleh ke belakang.


Aku sudah menghubungi ambulance untuk menjemputmu. Bertahanlah, kau harus hidup agar bisa menemukan putrimu kembali.


.


.


Bersambung bestiii...