Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Nenek


"Roze, duduklah." Roze baru saja hadir di tempat dimana kedua orang tua Jevan meminta untuk menemuinya.


Sepertinya ini adalah tawaran makan malam bersama, melihat berbagai menu telah tersedia di meja.


Roze pun duduk seperti permintaan keduanya.


Meski terlihat menyimpan ketegangan, tapi pasangan tua ini berusaha menciptakan suasana santai.


"Roze, ayo makan dulu, Nak," dengan ramah, Jenni persilahkan ia untuk makan.


Roze tahu, pasti ada sesuatu sampai kedua orang ini sangat ingin menemui dirinya.


Dengan sikap tenangnya, Roze menikmati makanannya.


"Roze, begini ... Kenapa ... Dulu kau tidak berterus terang pada Jevan bahwa sedang mengandung?" sudah sangat tidak sabar, Mario mengesampingkan aturan saat makan.


Roze yang sedang memegang sendok dan garpu di kiri kanan tangannya, menaruh dua benda itu dengan tenang.


"kalian berdua benar ingin tahu alasannya?" rupanya keluarga Jevan ini begitu penasaran akan jalan cerita hidup anak-anak itu .


"Aku ... tersadar bahwa aku dan anak yang ku kandung memang tidak pantas untuk dia. Itulah alasannya." kenang Roze dengan mantap, namun perih terdengar.


"Roze, tidak ada orang di dunia ini yang tidak pantas untuk orang lain. Kau mengandung keturunan kami. Maka bagaimana mungkin kau tidak pantas?"


"ada berbagai alasan kenapa dia meninggalkan aku. Salah satu yang paling mendasar adalah ... karena ... dia sangat menjaga nama baik keluarganya. Aku hanya putri seorang mucikari yang hidup tanpa pengakuan seorang ayah, bahkan ibuku pun meninggalkanku."


Rupanya seorang Roze Moza yang terlihat tegar dan tenang, memiliki cerita hidup yang nyaris mengenaskan. dapat Mommy Jeni pastikan bahwa wanita di depannya ini menyimpan segumpal kekecewaan di hatinya.


"Roze, kau jangan bilang begitu. tuan Lee adalah ayahmu." Mario bermaksud agar Roze tahu bahwa tuan lee tidaklah sejahat yang dipikirkan Roze.


Rasanya air mata Roze akan tumpah.


"Ya ,.. dia memang orang baik. Dia menjaga hati istrinya dan menyembunyikan tentangku. Aku mengerti itu semua."


"Roze, demikian halnya dengan Jevan. Waktu itu dia menikahi Hani  demi membalas budi pada keluarga itu. Tapi yang harus kau tahu, Jevan dan Hani tidak menjalani pernikahan seperti yang seharusnya. Mereka hanya menikah tanpa cinta."


"Tanpa ada cinta atau tidak, dia telah menikahi orang lain. Maaf, tapi ... Sebenarnya aku tidak pernah ada niat untuk mengungkapkan tentang anak-anak kepada Jevan. Tapi sayangnya ini terjadi dan kalian pun mengetahui tentang mereka."


"Roze, kami sangat bersyukur bahwa Jevan memiliki keturunan. Kami berdua tidak peduli datangnya dirimu dari mana. Tapi Roze, bisakah memaafkan Jevan dan beri dia kesempatan untuk kembali?"


Kembali? Rasanya Roze ingin tertawa namun tak bisa. Kesempatan ke dua? Sudah banyak kesempatan yang telah terbuang sia-sia.


"Kalian boleh menemui anak-anakku kapanpun. Terima kasih karena sudi mengakui keberadaan mereka." setelah mengatakan itu, Roze berdiri setelah merasa cukup berkata-kata.


"Roze, jangan pergi dulu." begitu berbalik, tatapanya bertemu dengan wajah Jevan. Roze tidak menyadari kedatangannya. "ayo bicara sebentar, aku mohon."


"Maaf, aku harus pergi. Ada janji dengan pasien."


"Roze! Ayolah kembali bersamaku. Ayo menikah dan hidup bahagia dengan anak-anak kita" tepat dihadapan kedua orang tuanya, Jevan melamar Roze Moza secara memaksa."


Tawaran yang sangat luar biasa menggiurkan. Sebuah janji bahagia dari seorang Jevander Park.


Setelah beberapa saat, "Silakan temui anak-anak kapanpun kau ingin. Untuk menikah, berikan tawaran itu pada wanita lain saja."


"Roze, tapi aku inginnya menikah denganmu."


"Apa itu pernikahan? Maaf, aku tidak menginginkan hal itu. Sejak lahirpun aku tidak hidup didalamnya."


Roze pergi dari sana tanpa menunggu lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di rumah, Ezra merasa sedikit berbeda, ia lega. Lega telah berbagi perasaan kecewanya.


Bukannya langsung membersihkan diri lalu berebah, Ezra memilih membuat hidangan dari mie instan.


Daniel tidak ada. Bunda apa lagi. Belakangan ini, Ezra-lah yang tinggal di rumah ini sendirian.


Tapi hal ini bukanlah hal baru. Bunda memang kerab tinggal di rumah sakit saat shif malam atau saat Darriel memang sedang dirawat. Daniel? Ada dan tiadanya dia terasa sama saja.


Pintu terbuka menandakan munculnya seseorang.


"aku pulang,"


"Niel, sini, ayo makan."


Niel berbelok ke meja makan. "Kau tidak ke rumah sakit?" tanyanya padama sang kakak.


Keduanya menikmati makan bersama seraya berbincang.


Apa kak Ezra yang sesungguhnya, telah kembali? Kenapa malam ini dia banyak bicara?


Aku perhatikan Daniel sudah banyak berubah. Dia bukan lagi adikku yang pendiam?


Keduanya sama-sama saling menyelidik.


Tok tok tok...


Pintu kembali memberi tanda bahwa sedang ada orang yang datang.


Kedua remaja itu sama-sama berdiri dan menghampiri pintu. Siapa pula yang bertamu malam-malam begini?


"Selamat malam..."


Tamu yang datang ialah seorang wanita tua. Ia tersenyum manis.


"maaf, ada apa ya?" sekilah, Daniel merasa pernah melihat orang ini.


"Nenek datang membawa makan malam untuk kalian berdua."


keduanya membukakan jalan tanpa kata. Wanita itu masuk.


"Jangan heran atau merasa bingung. Aku adalah ibu dari bunda kalian." Wanita itu dengan lincah memgeluarkan beberapa kotak makanan dari dalam tas yang ia bawa. Tanpa banyak tanya, wanita itu memasukkan beberapa ke dalam lemari pendingin.


Beberapa kotak makan berikutnya ia buka untuk dihidangkan.


"nenek yang membuat semua ini. Ayo kemari, makanlah."


Ezra maupun Daniel hanya melihat dari jarak yang tidak jauh.


"Paman kalian, oaman Jungky, dia yang mengantar nenek kemari."


Wanita itu berbicara sendiri, menjelaskan siapa dirinya dengan ramah. Ezra maupun Daniel, kini sadar betul bahwa wanita ini adalah ibu tiri bunda mereka. Keduanya menahan diri untuk mendekat.


"Anda adalah ibu tiri bunda kami?" dengan nada jutek Ezra bertanya.


Wanita itu mengangguk.


"Aku memang ibu tirinya. Tapi aku tidaklah kejam. Kakek kalianlah yang terlalu bodoh menyembunyikan bundamu yang berharga itu dariku. Tapi kalian tenanglah. Aku sudah memarahi kakekmu habis-habisan."


Dengan jurus ampuhnya, sang nenek berhasil membujuk dua remaja itu untuk mendekat.


"Makanlah sayang, bundamu pasti tidak sempat masak yang enak karena sangat sibuk bekerja dan menghawatirkan adik kalian. Untuk itu nenekmu inilah yang harus turun tangan."


Sangat hati-hati, kedua remaja itu mulai mencicip masakan sang nenek. Tidak sanggup bersusta, makanan ini memang terasa lezat.


Makan malam masakan sang nenek berakhir.


"Pulanglah! Terima kasih atas makanannya." walau sedang mengusir, Daniel tidak lupa ucapkan terima kasih.


Sebelum benar-benar pergi, sang nenek mencoba bertanya.


"Apa kalian berdua ada waktu besok? Ayo pergi bersama. Nenek akan membeli semuuua yang kalian berdua inginkan."


Kedua remaja itu kompak menggeleng.


Wanita tua itu terpaksa pergi sambil mengelus dada.