
"Bagaimana keadaanmu, jagoan? Istirahatlah kalau memang kau sangat lelah. Ayah akan menemanimu di sini."
Jevan menyentuh tangan Darriel. Bukan sekedar sentuhan, ia memegang tangan anak itu. Jevan kerap mendatangi ruangan ini, untuk berbicara banyak hal dengan Darriel.
Tak dapat ia sangkal, menyadari telah memiliki anak - anak dari Roze Moza begitu membahagiakan hatinya. Namun sayang, perasaannya belum mendapat sambutan dari ketiga darah dagingnya, terutama ibu mereka yang selalu bersikap dingin. Tapi tidak apa-apa, Jevander tidak akan menyerah.
Jevan sadar betul bahwa dirinya sungguh tidak pantas mengakui maupun diakui oleh mereka. Dirinyalah yang telah meninggalkan Roze, membuat wanita itu menanggung beban sendirian.
Tidak mudah bagi seorang wanita ketika ditinggalkan dalam kondisi hamil, tanpa suami, tanpa dukungan. Pasti banyak cemoohan dari orang lain, rasa takut, rasa malu, kesedihan, dan pasti semua itu sempat membuat Roze Moza tertekan walaupun sekarang ia terlihat baik-baik saja.
Membayangkan semua itu berhasil membuat Jevan menangis di samping Darriel. Meski tangisannya tak terdengar, tapi air matanya mampu menjelaskan semua kesesakkan yang ada.
.
.
[Daniel! Ayo daftar ekstrakurikuler. Kau pilih mau ikut yang mana?] sebuah gambar dikirim oleh Erwun melalui chat WA kepada Daniel, lengkap dengan pertanyaan.
Daniel menatap gambar tersebut sambil berpikir.
[Panahan saja] jawab Daniel, sesuai ekskul yang diminatinya sejak SMP. Baginya, Panahan sangat cocok dengan karakter dirinya.
Daniel terus melangkah, sampai di ruang rawat si Darriel. Hanya mengintip dari balik kaca saja sudah cukup. Ia hanya ingin memastikan apakah adiknya itu sudah bangun atau belum.
Tunggu! Terlihat seseorang disana. Daniel menebak bahwa orang itu adalah Jevander Park.
Sepertinya Darriel telah sadar.
Daniel membuka pintu itu pelan.
"Apa salah kami? Kenapa ayah meninggalkan kami?" suara pelan yang dipaksakan keluar. Pertanyaan Darriel ini sungguh terdengar menyedihkan.
"Riel, ayah tidak pernah tahu saat bunda mengandung kalian. Seandainya ayah mengetahuinya sejak awal, ayah tidak akan berpisah dari bunda kalian."
Darriel terdiam. Kedua matanya yang telah terbuka, kembali tertutup. Ia kembali tidur.
Daniel bisa dengan jelas mendengar. Tak hanya dirinya, ada Ezra pula disana.
Jevan beranjak dari duduknya. Ia harus beri waktu anak itu untuk istirahat yang cukup, seperti yang dikatakan Roze beberapa saat lalu pasca Darriel tersadar.
.
Roze baru saja memasuki ruangan pribadinya setelah selesai melakukan pemeriksaan pasien.
Bruak! Pintu yang baru ia tutup beberapa saat lalu tetiba terbuka dengan kasar.
Roze terkejut dan langsung berdiri.
"Ezra?"
Raut wajah anak perempuannya ini terlihat sedikit menakutkan.
Daniel menyusul dari belakang dan menutup pintu.
"Bunda, kenapa bunda tega sembunyikan tentang kami dari ayah? Ayah tidak akan tinggalkan kita kalau bunda jujur tentang kehamilan bunda sejak awal!"
Ayah lagi, ayah lagi, ayah lagi.
Ya ... Beberapa saat lalu, Ezra pun tak sengaja mendengar pengakuan Jevander Pak kepada Darriel.
Roze terdiam. Rasanya tidak mampu menjelaskannya.
"Ezra, kau datang memarahi bunda?"
"Ya! Ini semua salah bunda! Aku membenci ayah karena meninggalkan Bunda, tapi rupanya Bunda yang sengaja sembunyikan kami darinya?"
"Ezra! Berhenti membentak bunda. Apa kau gila?"
"Kalau saja bunda jujur sejak awal, ayah tidak mungkin meninggalkan kita. Ayah tidak akan memilih orang lain. Nana juga tidak akan menjadi korban." Ezra tak peduli akan peringatan Daniel untuk jangan membentak bunda mereka.
"Jadi Kau mau apa, hah? Kau merasa bersalah pada Jevander Park? Pergilah! Pergilah menangis minta maaf padanya. Tinggalkan bunda. Kemasi semua pakaianmu, keluar dari rumah, pulanglah ke ayahmu!" Daniel balas membentak Ezra.
"Kau diam! Jangan berani menantangku!" Ezra menunjuk muka Daniel.
"Kau yang diam! Beraninya kau meneriaki bunda kita."
Tak peduli, Ezra kembali menatap ibunya. "apapun alasan perpisahan kalian dulu, seharusnya bunda pertahankan ayah demi kami." suara Ezra mulai bergetar. "aku sangat kecewa dengan keegoisan bunda."
"Bunda, tenang saja. Kakak akan menyadari apa yang baru saja ia katakan."
"Daniel, keluarlah dari sini." sebelum air matanya benar-benar tumpah, Roze mendesak putranya itu untuk pergi.
Bukan malah pergi, Daniel melangkah ke arah ibunya. "Bunda, aku adalah temanmu. Kalau rasanya tidak tertahan, menangislah di pundakku."
Roze menatap dalam kedua bola mata putranya. Dalam sekejap, tubuh anak itu sudah masuk kedalam dekapannya. Roze benar-benar menangis.
.
.
Di kamarnya, Ezra pun sedang menangis.
"Bundaaaaa... bunda pernah bilang kalau ayah tidak menginginkan bunda sejak awal. Lalu kenapa aku tidak bisa memahaminya dan tega membentak-bentak bunda seperti tadi? Maafkan aku, bunda ... Aku sangat kecewa padamu." Ezra menangis sejadi-jadinya sampai ia pun tertidur.
Kamar kecilnya kembali hening, tidak ada lagi suara.
.
Daniel menyusul untuk pulang. Sampai di depan rumahnya, seseorang keluar dari mobil yang baru saja berhenti. Seorang wanita tua yang rupanya adalah neneknya Nana.
Tak lama lagi, menyusul mobil lain. Sama halnya, seorang wanita tua keluar dari sana. Dia tak lain dari ibu tirinya bunda.
"Daniel," seolah janjian, keduanya memanggil si pendiam itu bersamaan.
"Ada apa kau ke rumah cucuku, Nyona Lee?"
"Oh, maaf, mereka juga cucuku. Tentu sebagai seorang nenek yang perhatian, aku membawakan makanan lezat untuk mereka." jawab ibunya paman Jungki itu dengan ramah.
"Ayo Daniel, kita masuk." ajak keduanya, lagi-lagi bersamaan.
Daniel yang sempat bengong memperhatikan interaksi kedua nenek ini, mengayunkan langkahnya lagi. Malas berdebat, apa lagi keduanya sudah terlihat tua. Daniel hanya ingat akan kata 'kualat' jika sampai mengusir mereka.
Masuk ke dalam rumah. Seolah sudah terbiasa, kedua neneknya itu dengan lincah mengatur hidangan di atas meja makan.
Daniel mengetuk kamar Ezra. "Ezra ... keluarlah! kau kedatangan nenekmu." kemudian ia berlalu ke kamarnya, memberi kebebasan bagi kedua wanita tua itu untuk berbuat sesuka mereka.
Mendengar cara Daniel memberitahukan tentang kedatangan mereka, keduanya sempat adu tatap beberapa saat.
"Nyonya Lee, biarkan anak-anak menikmati masakan buatanku lebih dulu. Simpan saja milikmu di lemari pendingin."
"Tidak bisa, Nyonya Jenni Park. Aku sudah menyiapkannya sepenuh hati. Sebaiknya santap ini dulu."
Dari pada banyak berdebat, keduanya memutuskan untuk hidangkan kesemua masakkan bawaan mereka berdua.
Ceklek.
Suara pintu terbuka membuat dua wanita itu menoleh.
Ezra keluar dari sana dengan muka bantal namun ia tetap terlihat cantik seperti ibunya.
"Ezra sayang, kau baru saja bangun? Kesini sayang, nenek membawakanmu makanan lezat." sang ibu tiri si bunda itu masih memancarkan senyum dan keramahan yang sama, seperti sebelum-sebelumnya.
Ezra hanya melirik singkat neneknya Nana. Sampai hari ini, perasaan malu dan bersalah masih terasa mengingat perbuatan jahatnya terhadap Nana.
"Nenek hari bawa teman?" entah ada angin apa, nyonya Lee hampir saja larut dalam perasaan terharu ketika Ezra menyapa dengan nada lembut.
"Oh, ya... Kami berdua tidak sengaja bertemu di depan rumahmu. kau pasti senang kan, kau kedatangan kedua nenekmu." Nyonya Lee tak membuang kesempatan. Ia bujuk gadis remaja itu, memberinya rasa nyaman. Sementara Jenni masih terjebak dalam parasaan kikuk tidak mengerti harus apa.
Ezra mengangguk. Ia mendekat. Ya ... Tak perlu merasa sungkan karena ini adalah rumahnya. Dua orang ini hanya tamu.
Ezra mengambil tempat diposisi menghadap kedua wanita tua itu. Tak lama Daniel pun menyusul.
Meski siang tadi sempat saling membentak dengan kakaknya, Daniel terlihat santai saja seolah tidak ada ketegangan diantara mereka berdua.
Suasana hening selagi dinner berlangsung. Makanan habis dilahap oleh mereka berempat.
"Aku bisa memasak. Lain kali tidak perlu membawakan makanan untuk kami."
Suasana hening makin terasa setelah Ezra berkata lalu kembali ke kamarnya.
"Aku rasa kakakku benar. Tidak perlu terlalu perhatian. Kami cukup mandiri dan bisa mengurus makanan sendiri." Daniel pun berlalu ke kamarnya serta tidak lupa mengucapkan terima kasih dengan sopan.