
Dengan senyum malu Ezra menyambut kepulangan bundanya. Hari yang sudah sore tentu saja menjadi waktu sebentar lagi sang ayah akan menjemput dirinya. Terus saja ia menebar senyum selama dua hari terakhir ini.
Roze yang baru saja pulang tentu merasa lelah dan lapar. Ezra sudah memasak beberapa menu. Sayur bening bayam dengan lauk ayam Goreng. Cukup sederhana.
"Waw... Ezra, kalau kamu terus rajin memasak seperti ini, bunda akan bersemangat saat pulang ke rumah." Roze mengagumi dam memberi putrinya itu sedikit pujian.
"Enak bund?"
"enak. Oia, jadi kah ayahmu menjemput?"
Ezra mengangguk dengan senyum malunya. "Bunda, bolekah aku ajak Daniel? Soalnya ... Aku malu saat datang tanpa dia."
"Ya boleh, lah. Ajak dia juga."
Yang diomongin baru saja pulang, masih dengan seragam sekolah. Jalan menunduk seperti seorang pemalu.
"Niel, makan Nak."
"Ya ..."
Ia terus ke kamar dan keluar lagi beberapa menit kemudian dengan pakaian berbeda.
Daniel bahkan tidak mampu menatap mata ibunya walau sedetik. Roze mengerti dengan sikap ini, Daniel masih merasa malu seperti yang diakuinya semalam. Malu karena merasa dirinya adalah aib yang menyulitkan bunda di masa lalu.
"Daniel, ayah akan jemput kita berdua. Kau bersiap, ya,"
"Kau saja. Aku tidak bisa."
"Please Niel... Setidaknya kau antar aku sampai bertemu dengan Darriel. Aku malu pergi sendirian."
"Kau tidak pergi sendiri. Kan ada ayahmu."
Ayah yang ditunggu Ezra akhirnya muncul. Terdengar dari suara mobil yang membunyikan klakson.
Jevan mengetuk pintu yang tampak sedikit terbuka.
"Ayah, masuklah!" seru Ezra dari dalam, membuat Jevan membuka pintu tanpa sungkan. ia pun masuk setelah melepas sepatu.
Selain anak-anaknya, Roze adalah orang yang sangat igin dilihat oleh mata, hati dan pikirannya. Akan tetapi, wanita itu tidak ada. Hanya ada Ezra yang sudah siap dengan tas dipunggung, dan Daniel yang diseret paksa olehnya.
"Ayo Niel! jangan keras kepala! Aku minta tolong temani aku sampai bertemu Darriel disana." rupanya Ezra sedang setengah mati memaksa Daniel untuk ikut. Beginikah keakraban anak-anaknya selama ini? Jevan merasa terharu dan kembali menyesali karena tidak menyaksikan anak-anaknya ini tumbuh.
"Daniel, setidaknya temui Darriel di tempat ayah.Dia selalu menceritakan tentang kalian berdua setiap hari. Kau yakin tidak mau menemuinya?" Jevan ikut bicara, mencoba luluhkan Daniel yang tidak bergerak dari tempat duduknya walau ditarik paksa oleh Ezra.
Dengan alasan yang tepat, Daniel pun beranjak dari duduknya. Benar, satu-satunya alasan ia akan ikut yaitu untuk bertemu adik kembarnya.
Jevan sedikit lega karena akhirnya Daniel mau ikut.
Sampai di mobil. "kalian tidak berpamitan sebelum pergi?" tanya Jevan.
kedua anak itu menggeleng lalu menjelaskan bahwa bunda mereka sedang keluar.
Mobil melaju. Hanya ada keheningan dalam perjalanan. Jevan yang biasanya banyak bahan pembicaraan pun bingung harus memulai dengan mengatakan apa. Ezra menikmati perjalanan dengan hanya memandang dari kaca mobil di sampingnya. Sedang Daniel, janan harap anak itu membuka pembicaraan lebih dulu dalam situasi ini.
"Bunda?" Ezra tiba-tiba menyerukan kata bunda seraya buru-buru menurunkan kaca jendela di sampingnya. Sangat kebetulan, Roze berhenti tepat disebelah mereka.
Jevan ikut meoleh kesamping, membuat kedua netranya menemukan Roze disana. Wanita itu memberi senyum tulus pada Ezra, putrinya. Jevander menghangat seketika melihat pemandangan indah ini. Ezra menjulurkan tangannya, memiminta untuk disambut oleh ibunya.
"Bunda, aku hanya akan tinggal dengan ayah beberapa hari."
"Iya, Kau sudah mengatakannya beberapa kali. Bunda tidak lupa."
"Bunda mau ke mana? Jaga diri, ya Bunda... hati-hati karena sebentar lagi gelap. Jangan pulang terlalu malam."
"pasti sayang. Bunda mengerti." entah dari mana Ezra belajar menjadi sosok semanis ini, Roze sampai lupa kapan terakhir putrinya ini bersikap dingin.
Drama mengharukan kedua tangan itupun berakhir dan saling melepas ketika lampu merah berganti warna.
Sedekat ini hubungan mereka. Ya ampun, aku merasa tersiksa memikirkannya. Aku merasa seperti seorang egois yang coba mengambil anak-anak darinya. Sekali lagi, maafkan aku, Roze.
Tiba di kediaman Park.
Kakek, nenek, beserta Darriel sudah menunggu rupanya.
Jujur, bertandang ke kediaman ayahnya ini sungguh memberi rasa canggung bagi Ezralia. Fakta bahwa ia telah menjahati Nana Park tidak pernah hilang dari ingatan. Tidak hanya ayah, ketika datang ke tempat ini artinya ia harus bertemu dengan orang-orang yang mungkin tidak menyukai dirinya dan kejahatan yang telah ia lakukan.
"Turunlah, tunggu apa lagi?" Jevan sudah keluar dari mobil tapi Ezra tidak kunjung bergerak, membuat Daniel sedikit geram. Ia pun menyusul keluar.
Seorang security dengan sigap membukakan pintu mobil dan mempersilakan untuk Ezra. Gadis remaja itu pun keluar namun tidak berani mengangkat wajah. Melihat keberadaan kakek neneknya Nana membuat nyalinya makin menciut. Aneh, padahal belum lama ini sang nenek juga datang dan menemui dirinya di rumah, tapi rasanya sulit untuk terbiasa.
"Ezra...! Daniel, kalian berdua akhirnya tiba. Ayo kita masuk, sayang," sang nenek memecah kecanggungan.
Ezra seperti sedang mencari-cari. Dari balik punggung Daniel, matanya diam-diam kemana-mana. Dimana Nana? Kenapa Nana tidak disini? Bukankah dia sudah lama keluar dari rumah sakit?
"Masuklah! Jangan berdiri dibelakangku." Daniel lagi-lagi terganggu dengan sikap Ezra.
"Sayang, ayolah..." sang nenek mengulurkan tangan dengan lembut. Tampak Ezra menelan susah payah.
Sadar bahwa kakaknya itu sedang terserang rasa panik, Darriel turun tangan. "Ayo masuk kakak, kau tenang saja, disini ada aku." bisiknya.
Yang lain melangkah masuk, kecuali Daniel yang diam ditempat. Semua kembali berbalik saat menyadari Daniel tertinggal.
"Daniel, kenapa masuh disana? Ayo masuk." Mario bersuara.
"Maaf, aku ... hanya mengantar kakak." setelah dengan sopan berpamitan, Daniel berbalik lalu pergi. Lagi pula is sudah melihat Darriel tanpa harus masuk ke dalam rumah.
Kepergiannya mampu mengiris hati kakek neneknya yang sudah terlanjur berharap lebih. Makan malam istimewa untuk ketiga cucunya tentu sudah siap. Tapi apa ini? Daniel pergi begitu saja.
.
.
Abis bestie... Kita lanjut besok ya...