Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Saling Memaafkan


Ezra tiba di rumahnya tepat pada pukul 2 dini hari.


"Bunda, Niel, kakak pulang."


Mengetuk pintu terus menerus. Tidak ada respon sama sekali. Kembali Ezra melihat ke halaman rumah. Mobil bunda tidak ada.


Kenapa pukul sebegini bunda belum pulang?


"Niel! Kakak pulang! Buka pintu, Niel!"


Ah anak ini, dia pasti tidur nyenyak.


Tidak ada yang bisa Ezra lakukan selain menunggu.


Ponsel, kunci cadangan, ia tidak memiliki dua hal itu saat ini.


Duduk menunggu dengan sabar, Ezra diserang rasa kantuk luar biasa.


Haruskah aku tidur disini seperti seorang pengemis? Atau ...


Beberapa jam sebelumnya...


Roze dikejutkan dengan keberadaan Daniel karena mengira ketiga anaknya sedang menginap di rumah ayah mereka.


"Daniel? Kau pulang, Nak?"


Yang ditanya mengangguk dengan secuil senyum. "Iya, tadi aku hanya mengantar kakak sambil melihat keadaan Darriel."


"O... begitu, apa Darriel sehat?"


"Darriel pulih dengan cepat, Bunda. Sepertinya keluarga itu tidak main-main dalam merawatnya."


Roze mengangguk-angguk.


"Bagus kalau begitu."


Keduanya duduk bersama dihadapan televisi.


"Bunda, bagaimana perasaan Bunda saat ini? Apakah baik-baik saja ketika anak-anak bunda kini menerima ayah mereka?"


"Kenapa bertanya seperti itu? Bunda bersyukur kalau kalian menerima ayah dan saling memaafkan. Niel, Kau ... sudah bisa menerima ayahmu, kan?" Roze ingin memeriksa apakah Niel benar-benar telah berdamai dengan perasaannya terhadap Jevander Park.


"Emmm ... bunda benar, ayah kami memang bukan seseorang yang harus dimusuhi. Aku menerima kenyataan ini dan ... meskipun ayah bersalah di masa lalu aku sudah memaafkannya. Seseorang berkata padaku, bahwa waktu kita hidup hanya sementara. Jadi aku harus memaafkan dan mengakui ayah kandungku selagi dia masih ada." Ya, Daniel mempelajari hal ini dari Erwin, teman baik sekaligus teman sekelas dan patnernya dalam memburuh rupiah.


Waktu kita hidup hanya sementara, jangan sampai menyesal jika sesuatu terlanjur mengecewakan hari nanti. Terpengaruh dengan kalimat ini, Roze tiba-tiba berdiri di tempat. Tanpa kata ia tergesa menuju pintu keluar.  Nyonya Lee sudah tak ada lagi. Wanita itu telah pergi.


"Daniel, ayo temani bunda." sebuah kartu nama yang lengkap dengan alamat telah ditinggalkan oleh wanita tua itu yang terletak di lantai dekat pintu.


Keduanya pun pergi, meninggalkan rumahnya dalam keadaan terkunci.


"Bunda, kita mau kemana?"


"Ke rumah Tuan Lee."


"Apa semuanya baik-baik saja?"


"Entahlah, Niel, kabarnya kakekmu itu sedang sakit. Kita akan kesana untuk memastikan keadaannya."


Bunda ternyata masih peduli dengan ayahnya. Baguslah, bunda adalah orang yang baik. Dari luar bunda memang terlihat tidak bersahabat. tapi sesungguhnya bunda tidak sekejam itu terhadap yang namanya keluarga. Kalau bunda adalah manusia egois, tidak akan dia biarkan Jevander Park mengenal kami.


Tiba di sebuah kawasan yang hanya berdiri sebuah bangunan megah.



Luar biasa, bahkan kemunculan Roze bersama Daniel disambut dengan sikap hormat oleh penjaga pintu beserta para pelayan, layaknya majikan yang sudah biasa mereka layani.


Nyonya Lee merasa tak percaya. Roze akhirnya datang. Wanita itu sampai menangis dalam hati. Sungguh keajaiban.


"Nak, kalian berdua, ayo ikut denganku."


"Sayang, putri dan cucumu datang melihatmu. Apa Kau bisa bangun?"


Belakangan ini Tuan Lee memang hanya habiskan waktu di atas tempat tidur. Tumor yang ia sembunyikan selama ini sudah berkembang dan membuat lelaki tua itu menderita.


Ia sudah kehilangan selera akan lingkungan, kerap sakit kepala tiba-tiba dan rasa kantuk yang tidak mampu ia tahan. Sakitnya lagi, ia tidak berselera untuk makan.


Meski Jungki dan ibunya sudah membujuk untuk melakukan pengobatan seperti seharusnya, Tuan Lee menolak tegas dengan mengatakan biarlah dirinya mati pelan-pelan.


"Apa ini? Apakah hidupmu sangat melelahkan?"


Mendengar suara Roze, Tuan Lee membuka mata, perlahan. Ia menyadari bahwa putrinya itu berada disampingnya. Bukannya gembira, pria tua itu malah menangis.


Tergambar dari air matanya yang lolos begitu saja.


Daniel hanya diam tak bersuara di samping ibunya.


"Jangan hanya menangis, sayang, bicaralah dengan mereka berdua."


Tuan Lee ingin mengulurkan tangannya untuk putrinya namun ia merasa takut, malu, juga tidak percaya diri. Sungguh perasaan yang mengaduk emosi ketika melihat wajah kaku putri dan cucunya ini.


"Kau, Daniel kan? Boleh kakek pinjam tanganmu?"


Tidak langsung mengiyakan, Daniel sibuk memikirkan tangan kiri atau kanan yang harus ia ulurkan. Kemudian tangan kirinya pun bergerak.


"Daniel, apa bundamu sehat? Kakek ... Sudah lama tidak melihatnya."


"Bunda ada di sebelahku, Kakek."


"Begitu kah? Apa mungkin ... kakek masih pantas mendapatkan maaf darinya?"


Daniel menoleh kesamping, memastikan ekspresi ibunya. Ia ambil jemari tangan ibunya itu. "Tentu saja. Bundaku cukup pemaaf." Daniel pun menyatukan tangan kakek dan ibunya itu. Baik Tuan Lee, Roze dan nyonya Lee sama-sama tak bisa membendung air mata.


"Anakku," dengan dagu bergetar tuan Lee berusaha untuk bicara. "Tangan anakku ini, terakhir aku menyentuhnya saat tangan ini masih kecil di usia 7 tahun. Maaf karena saat itu ayah melepas tanganmu ini. Roze, maaf karena ayah meninggalkanmu."


"Aku bilang aku memaafkanmu walaupun aku membencimu, Ayah." Roze menahan tangisnya yang terasa akan pecah. "Aku juga minta maaf atas keegoisanku selama ini. Sekarang aku baru mengerti bahwa kesalahanku adalah terlahir dari wanita yang tidak kau cintai. Ayah, aku begitu benci saat mengingatmu tapi dasar hatiku selalu merindukanmu." Roze membenankan wajahnya di dalam pelukan sang ayah yang kini mendekapnya. Keduanya sama-sama menangis pilu.


Nyonya Lee memberi waktu bagi Roze dan tuan Lee untuk lebih banyak menghabiskan kebersamaan. Ia merasa terharu tapi juga lega luar biasa. Beban yang ditanggung suaminya itu akhirnya perlahan lenyap setelah hadirnya Roze disisinya.


Jungki yang sedari tadi hanya berdiri di balik pintu memilih saksikan moment haru itu dari tempatnya berdiri. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan dibalut tangisan yang sedang dirasakan ayah dan kakak perempyannya itu.


Nyonya Lee keluar dengan matanya yang memerah.


"Ibu, aku saja yang memelukmu." Jungki sadar bahwa ibunya juga merasakan hal yang sama dengannya. "Ibu, bagaimana perasaanmu saat ini? Sepertinya kakak sudah memaafkan ayah. Bagaimana denganmu? Apa Kau bisa menerima kakak sebagai putri ayah?"


"Aku ini sudah tua Jungki, aku tidak punya energi untuk menolak putri kesayangan suamiku."


"Ibu, aku sangat bangga padamu, kau adalah wanita yang sangat baik. Itulah kenapa ayah tidak tega menyakitimu. Ayah dan kakak adalah orang yang paling kasihan selama ini. Ayah sembunyikan kakak darimu selama puluhan tahun. Kakak membenci dan merindukan ayah dalam waktu bersamaan. Ayah terlihat kuat dan tegas, padahal ada beban berat yang ia pikul sendirian. Dan kakak juga seperti itu. Akhirnya mereka berdua bisa berpelukan seperti sekarang, ini adalah mimen yang sebenarnya mereka berdua rindukan."


"Ya ... Aku mengerti, Jungki. Aku pun ikut bahagia. Ayahmu pasti jauh lebih bahagia."


Saling melepas pelukan, keduanya berjalan bersama sambil bergandeng lengan.


"Ibu, apakah kau tidak apa-apa? Ayah mungkin hanya akan mendengarkan kakak seperti perkiraan kita berdua. Apa kau tidak cemburu?"


"Anak nakal! Kenapa aku harus cemburu? Dia juga anakku. Jadi bagaimana denganmu? Kau bukan lagi pewaris tunggal."


"Soal itu aku sudah tau jauh sebelumnya. Saat aku masih sangat muda ayah sudah berterus terang padaku."


"Dan kalian berdua merahasiakannya dariku. Sungguh keterlaluan."


.


.


Mario Park terbangun dan keluar dari kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Pria tua satu ini rutin berolah raga pagi dengan melakukan gerakan ringan yaitu berjalan kaki.


Ia tiba-tiba terpikirkan soal Ezra untuk mengajak cucu perempuannya itu untuk oleh raga bersama. Langkahnya menghantar dirinya menuju kamar milik Darriel untuk membangunkan Ezra.


"Apa dia sudah bangun?" Mario melangkah masuk setelah membuka pintu. Hanya ada Darriel yang masih tidur pulas. Ia segera mengecek kamar mandi tapi tidak ada siapapun.


Mario malah mendapati sebuah kertas yang diletakkan diatas nakas.


"Dia pergi?"


"Ezra, dimana putriku Daddy?" Jevan muncul di muka pintu.


"Jevan, putrimu pulang ke rumahnya. Apa Kau tahu?"


"Apa?"


Jevan ikut membaca pesan singkat yang telah ditinggalkan Ezra. Panik, Jevan segera mengontak penjaga gerbang melalui ponsel.


"Apa? Pukul 1? Lalu kenapa kalian ceroboh tidak memberitahu aku?" Jevan terlihat sangat kesal. Perasaannya sangat khawatir akan Ezra yang keluar rumah pada pukul 1 malam.


"Telpon ibunya. Pastikan anak itu pulang dengan selamat." Mario turun dengan geram untuk menemui kedua penjaga gerbangnya.


Kedua penjaga profesional itu dimarahi habis-habisan oleh Mario. Hampir saja ia mengeluarkan surat pemecatan atas kelalaian ini. Bisa-bisanya cucu perempuannya dibiarkan pergi dengan tukang ojek, mentang-mentang Ezra mengaku telah memiliki ilmu bela diri yang hampir sempurna.


Niat Mario untuk berolahraga pagi hilang sudah. Ia kembali ke dalam rumah besaranya dengan napas turun naik penuh emosi.


.


.


Sorry baru Up Bestoy...


Semangat.