Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Tidak Perlu Menungguku


Daniel, sarapanlah dulu. Berhenti memperhatikan kakak perempuanmu!"


Suara ibunya menyadarkan Daniel. Kak Ezra berada tepat dihadapannya, tapi terasa tak ada. Ezra menikmati sarapan dengan sangat tenang tanpa protes ini dan itu.


"Kak, apa ... Kau baik-baik saja?" Daniel iseng bertanya. Apa yang ia dapatkan? Hanya sebuah anggukan.


Roze merasa heran, Daniel pun terlihat tidak biasa. Tidak pernah putranya ini begitu peduli dan perhatian.


Sarapan pagi berlangsung aman, tertib dan lancar.


"Kak, pulang sekolah aku akan menjemputmu dan kita berdua sama-sama ke rumah sakit."


"Aku tidak sekolah lagi."


"Apa?" pernyataan ini membuat Roze maupun Daniel tersentak.


"Aku sudah keluar dari sekolah karena kasus kriminal."


"Nak, tadi malam pihak sekolah menghubungi bunda, kau boleh sekolah lagi."


Ezra menggeleng berat. Ia tidak punya muka untuk kembali ke sekolah. Seluruh sekolah sudah terlanjur mendengar kabar tentang dirinya.


"Kalau begitu, apa kau mau pindah sekolah?"


Tak ada reaksi ataupun jawaban.


Sepertinya aku harus mengirim hadiah ke lembaga pembinaan. Mereka ternyata berhasil membina kakakku hanya dalam satu malam.


Daniel masih merasa sikap kakaknya yang terlampau tenang memberinya kesan aneh. Tapi itu lebih bagus dari pada Ezra yang sebelumnya.


.


.


Jevan menyempatkan waktu untuk menemui Darriel sebelum anak itu akan di operasi.


Ini adalah moment ke dua ia bertemu dengan anaknya ini.


Berbeda dengan sebelumnya, ekspresi Darriel kali ini nampak murung. Tak ada senyum mengembang seperti saat pertemuan pertama mereka.


"Hai, Darriel, kau sudah bersiap?"


Jevan yang muncul tiba-tiba dengan wajah bersahabat tidak membuat Darriel merespon dengan baik. Anak itu masih dengan ekspresi yang sama.


Jevan tidak peduli. Ia sudah perkirakan hal ini.


Roze pernah bilang jika Darriel sudah menunggu ayahnya sejak masih kecil. kalimat itulah yang menjadi peganggan yang meyakinkan Jevan bahwa Darriel akan menyambutnya dengan baik.


"Aku mungkin tidak akan keluar dengan selamat. Tidak perlu menungguku."


Jevan menangkap ada kekecewaan yang tersirat dari kata-kata putranya ini.  Tidak mengapa saat ini ia diacuhkan oleh Darriel. Jevan memakluminya sebagai seseorang yang sedang sakit.


.


.


Pulang sekolah, Daniel meminta Erwin langsung mengantarnya ke rumah sakit.


Tiba di tujuannya, Daniel berhenti sejenak mengayunkan langkahnya. Bukan bunda, tapi ada beberapa orang yang sedang menunggu di depan ruang operasi. Menyadari kedatangan Daniel, kesemuanya menoleh kearahnya. Wajah khawatir yang sebelumnya terlihat jelas, berubah menjadi tegang dan salah tingkah.


Daniel memantapkan langkah lalu duduk di kursi tunggu lainnya. Tanpa menyapa, tanpa basa-basi. Ransel sekolah ia taruh di samping duduknya.


Daniel tidak peduli sama sekali walau ia tahu beberapa dari mereka. Ya ... Ada kakeknya Nana yang duduk bersebelahan dengan seorang wanita tua yang mungkin sebagai neneknya Nana. Ada sepasang kakek nenek lainnya tapi Daniel pun tidak kenal dan tidak ambil pusing.


Sepertinya mereka ingin menyapa Daniel lebih dulu, akan tetapi rasanya tidak mampu melakukannya. Menurut kabarnya, butuh persiapan khusus untuk bicara dengan remaja satu ini.


Asik menscrool beranda media sosialnya, seseorang yang baru saja datang, duduk di sebelah Daniel. Tapi remaja itu tudak melirik sekali pun.


"Daniel, apa sekolahmu lancar?" tanya orang itu basa - basi, membuat Daniel menoleh singkat.


"Maaf, kita tidak saling kenal."


"Oh, Kau tidak mengenalku? Aku paman Jungky. Saat kau kecil aku pernah menontonmu bermain basket sendirian pukul 5 subuh."


"Oh ..." Daniel menunjukkan ekspresi malasnya. Orang ini adalah pria sok akrab yang mengaku sebagai adiknya bunda.


"Kau ingat yang pernah kubilang? Aku adalah adik bundamu satu-satunya. Oia, aku juga berteman baik dengan ayahmu. Kami sudah seperti saudara." Jungky bersikap penuh percaya Diri seperti biasanya.


"Bunda tidak punya adik. Aku ... tidak punya ayah." balas Daniel, terdengar sangat jelas di setiap telinga orang yang berada di situ.


Wajah Jungky nampak kecewa, tapi ia tetap tersenyum.


Anak ini benar-benar mirip dengan ibunya dari semua sisi. Batin semua orang.


.


.