
"Bagaimana perasaanmu, Kak? Anakmu sendiri sepertinya tidak sudi untuk bertemu denganmu."
Jungky menyetir untuk dirinya dan Jevan, kembali menyindir pria yang menurutnya sedang tertimpa kemalangan ini.
"Kau terdengar senang menyaksikan kesialanku, apa kau punya dendam padaku?"
Jungky mengembang senyum sinisnya. "Kukira kau harus ingat bahwa aku adalah adiknya Roze Moza. Tentu aku menyimpan kemarahan padamu setelah tahu kau meninggalkan kakakku begitu saja. Tapi sudahlah, Kak. Kau tidak perlu terlalu berusaha. Biarkan kembali seperti sebelumnya, anggap kau tidak pernah menghamili kakakku. Lagipula ... Kau punya Nana."
"Bisakah Kau diam? Kau tidak akan mengerti perasaanku karena belum jadi ayah."
Mobil membawa keduanya melaju ke rumah sakit.
.
"Riel, Darriel, Dariel sayang ... Bunda menunggumu bangun, sayang ... "
Baru saja Darriel dibawa keluar dari ruang operasi. Walau belum sadarkan diri, tapi ia berhasil keluar dengan selamat.
Di ruang privat ini, Darriel mendapatkan perawatan intensif lanjutan. Roze berbisik ditelinganya banyak hal. Banyak kata positif yang akan memberi anak itu semangat.
"Darriel mau ayah kan? Darriel harus sembuh biar bisa bertemu ayah. Ayah tidak akan mengabaikanmu lagi, sayang ... Bangun ya Riel ..."
Sangat berharap bahwa anak itu akan bangun dengan kondisi lebih sehat.
Darriel tidak boleh terlalu lama diganggu. Roze harus keluar.
Suka tidak suka, ia harus bertemu kembali dengan mereka yang mengaku sebagai bagian keluarga Darriel dan merasa berhak atas remaja itu.
"Roze, apa kami boleh menjenguknya?" Mario Park adalah yang paling berani bertanya ditengah mencekamnya kemunculan Roze Moza. Tuan Lee Saja berasa tidak memiliki muka untuk berdebat dengan putrinya.
"Masuklah secara bergantian, satu per satu." Roze melangkah pergi. Namun, ia kembali berhenti lalu berbalik dan menghampiri Mario Park.
"Aku ... tidak pernah membayangkan bahwa keberadaan anak-anakku diterima dengan lapang dada oleh Anda. Maaf, karena ... orang sepertiku ... melahirkan anak-anak dari garis keturunan Anda. Emmm ... terima kasih juga karena ... ikut peduli pada putraku." Roze kemudian kembali berbalik. Terserah orang-orang ini mau menilai dirinya bagaimana, Roze tak peduli sama sekali.
Kembali ke ruangannya, Roze tak pernah berharap mendapati orang ini disini.
"Hai kakakku!" Jungky menampilkan senyum pepsodennya.
walaupun diabaikan, tapi Jungky tidak hilang akal. "kak, waktu itu kau mendamprat pipiku kiri kanan. Bukankah setidaknya kau mengobatinya? Pipiku masih terasa ngilu." sambil memijat kedua pipinya dengan wajah polos.
"katakan, kau mau bilang apa? Jangan banyak basa basi!"
"Ehmmm!" Jungky mengatur posisi duduknya di hadapan Roze. dari sikapnya ia memang sangat terniat untuk hal ini."kak, itu ... ahhh, aku bingung harus mulai dari mana. Rasanya semua yang ingin kukatakan akan membuatmu marah." nampak sekali nada bingungnya dibuat-buat.
"Silakan pergi kalau masih bingung."
Panik karena Roze tetap bersikap dingin, "kak ... tolong maafkan ayah ..." akhirnya Jungky mengungkapkannya.
"hanya itu yang ingin Kau katakan?"
Jungky menjelaskan bahwa Mario Park dan sang istri sangat terpukul atas apa yang telah terjadi. Mereka merasa bersalah telah menikahkan Jevander dengan wanita lain tanpa menyadari keberadaan Roze yang tengah mengandung cucu mereka.
Roze menilai bahwa Jungky cukup bermaksud baik.
"Tidak masalah jika mereka mau bertemu anak-anak. Aku tidak melarang, itu terserah mereka."
Hanya yang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan anak-anak itu? Akankah mereka merasa nyaman dengan situasi?
Jungky pergi dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya, kakak perempuannya itu mau menanggapi apa yang ia bicarakan. Pelan-pelan, Jungky yakin bahwa keadaan akan membaik.
Untuk Jevander, walau tahu pria itu sedang pusing dan rasanya sedikit terlihat kasihan, Jungky sama sekali tidak ingin membahas tentang pria kurang ajar itu dengan sang kakak.
.
.
"Daddy ..."
Nana sudah terbangun pasca operasi. Ia tersenyum kala membuka mata dan melihat orang-orang tersayang sedang berada di dekatnya.
Tidak hanya ada Daddy Jevan, tapi appa, eomma, dua orang yang sangat ia rindukan juga berada disisinya, kedua orang tua kandung Nana.
"Apa rasanya masih sakit?" tanya Ha Ni, ibunya.
Nana menggeleng dengan bibirnya yang terus menampilkan senyum yang menggambarkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Daddy, sepertinya ... Sudah tiba waktu yang tepat untuk aku pulang ke tempatku seharusnya."
"Kenapa bilang begitu?"
"Daddy, temanku yang bernama Ezra, dia adalah anak Daddy seharusnya. Daddy, aku sangat menyesal telah merebut tempatnya."
Nana rupanya masih mengingat dengan jelas insiden yang menimpanya. Jevan yakin, Ezra sendirilah yang telah mengungkapkan kebenaran pada Nana. Jevan kembali merasa sakit ketika membayangkan wajah Ezralia.
"Tidak perlu merasa bersalah, Nana. Fokus saja dengan kesembuhanmu."
Jevan keluar dari ruangan Nana.
"Jevan," Hani menyusulnya Jevan. Terlihat suaminya pun mengikuti dari belakang. "kami berdua ... Minta maaf! Karena kami berdua, kau rupanya meninggalkan kekasihmu saat itu." keduanya terdengar benar-benar merasa menyesal dan baru menyadari bahwa karena merekalah Jevan akhirnya menjadi pria tak bertanggung jawab.
"Ini bukan salah kalian berdua. Akulah yang bersalah. Ini memang terasa berat bagiku, tapi aku akan berusaha menjalaninya. Aku ... Tidak akan menyerah untuk mendapatkan pengakuan dari anak-anakku."
.
.
Semangat Bestie...