Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Bahagialah


Pintu lift tertutup setelah Roze mengatakan 'enyahlah'


Jevan menghembus napas panjang lalu sebuah ide muncul di otaknya. Tangga darurat.


"Tidak perlu menyusul bunda-ku."


Jevan terkejut saat berbalik akan mencari tangga darurat agar bisa menyusl Roze Moza. Entah sejak kapan ia disana, Daniello Moza terlihat tak kalah dingin dari ibunya. ya... mereka berdua memang mirip. Jevan sangat menyadari itu.


"Daniel? kau ... disini?"


"jangan tanyakan sejak kapan aku berada disini. Pintu ruangan kerja Anda tidak tertutup rapat, jadi aku mendengar semuanya." sangat tenang, Daniel bahkan tersenyum kecut.


"Jadi ... aku baru saja sadar bahwa rupanya ... aku terlahir dari seorang wanita hina. Aku tidak akan bertanya seberapa hinanya bunda sampai-sampai dia tidak mendapat tempat yang layak dihati orang-orang yang dulu ia sayangi. Aku hanya ingin dunia ini tahu, bahwa ada aku untuk dia, bundaku." Daniel seperti sedang mempertegas bahwa, meski seluruh dunia menolak ibunya, tapi Daniel akan selalu ada untuknya.


"Daniel, aku ini memang salah, tapi aku tetap ayahmu. Tolong kau pahami itu, Niel. Bisakah? hmm? Ayolah,"


"Ayah? Ya ... aku memang darah dagingmu tapi ... Kau hanya menitipkan aku di rahim bunda lalu pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Kau tidak pernah muncul saat bundaku menangis kelelahan, saat kakak dan adikku menunggumu dan menyebut namamu dalam hayalan. Kau membiarkan aku menderita menyaksikan itu sendirian, bahkan kau hidup bahagia membesarkan anak orang lain." jiwa bejat seakan sedang merasuki Daniel, ia ingin meludah tapi disekitarnya tidak ada tong sampah.


Jevander tak kuasa membendung air matanya. Ia tak berani mengatakan apapun, hanya menunggu dan membiarkan Daniel bicara sepuasnya.


"Bundaku mungkin tidak berharga dan tidak ada artinya. Tapi bagiku dia adalah segalanya. Jadi tolong, jangan mengganggunya."


Sama seperti Roze, Daniel pun pergi. Jevan hanya bisa mengacak rambut di kepalanya dengan kasar, sambil menahan tangisnya yang seakan ingin meledak.


.


Daniel tiba di lobi kantor itu lalu ia menelpon sang bunda.


[Iya, Niel,] suara berat milik bunda menyapanya.


[bunda dimana?]


[Sedang menyetir.]


[Apa bunda sedang bersedih?] Daniel memang tidak pandai berbasa-basi.


[Oh, tidak. Bunda baik-baik saja. Kenapa Niel?] begitulah bunda. Nada suaranya mendadak ringan. Ia akan menutupi perasaan sebisanya.


[Bunda, ayo bertemu di hotel B.]


[Hotel? Kenapa tiba-tiba?]


[Bertemu saja dulu. Ada yang ingin aku bicarakan.]


Roze berpikir sejenak. [Baiklah sayang,]


.


...----------------...


Ezralia Moza.


Gadis remaja itu seperti biasa hanya seorang diri di rumah. Sepertinya ia memang sangat menikmati waktu mengganggurnya dengan bersembunyi di bawah selimut di siang bolong begini.


Ezra merasa kesepian karena sikap Daniel yang abai terhadapnya saat mereka hanya berdua saja. Saat sedang sendirian begini, Ezra memikirkan semuanya itu.


Ezra merasa sedih kala menyadari bahwa keluarganya terasa sangat jauh darinya. Kemarahan yang ia tumpahkan pada ibunya kemarin belum ada penyelesaian sampai detik ini. Daniel mengacuhkannya gara-gara hal itu, Darriel pun masih terbaring di rumah sakit pasca operasi.


Terdengar suara pintu terbuka, disusul dengan langkah kaki seseorang.


"Ra ...," suara itu memanggilnya. Ini seperti ibu tirinya bunda yang datang.


Ceklek,


Pintu kamarnya terbuka. Ezra mengintip dari balik selimut.


"Ra, kamu hanya berbaring malas, tidak bosan?"


Wanita tua itu malah duduk disamping Ezra.


"Ya ampun Ra, badanmu sangat panas. Kau demam." Nenek tirinya itu seketika panik lalu memghubungi Jungky.


"Sayang, kamu jangan khawatir ya, nenek ada disini menemanimu. Pamanmu akan segera kesini dan membawa kita ke rumah sakit."


Ezra menghembuskan napas panjangnya, malas. "ini hanya demam biasa. Nenek sungguh berlebihan."


"Suhu tubuhmu sangat panas. Bagaimana nenek bisa santai saja?"


Meski awalnya ogah-ogahan merespon nenek baru-nya ini, tapi makin kesini, Ezra terlihat mampu berkomunikasi lancar dengan sang nenek. Mungkin bukan atas dasar menerimanya, tapi karena telah terbiasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hotel B.


Seingat Roze, hotel ini akan diwariskan untuk Arven, oleh kakeknya, Mario Park.


"Bunda, bisa pinjam KTP?"


Daniel baru saja tiba langsung menghampiri ibunya yang duduk di lobi, sebelum mendatangi resepsionis. Tentu Roze mengeluarkan tanda pengenalnya dan berikan untuk Daniel.


Tak tanggung-tanggung, sebuah kamar 'President Suite' dipesan oleh Daniel dan berhasil membuat ibunya tercengang.


"Bunda, istirahatlah dengan nyaman disini. Aku yang akan membayarnya."


Roze hanya bisa tersenyum mengingat betapa bagusnya selera anak ini. Persis dengan bapaknya yang memiliki selera yang bagus.


Kembali mengingat kejadian malam pertamanya dulu dengan Jevan, juga terjadi di kamar president suite, sebuah hotel ternama di Amrik. Ah, tidak perlu mengingat masa lalu.


"Kenapa Kau ajak bunda kesini?"


Roze masih ingin tahu kenapa tiba-tiba putranya meminta untuk beristirahat ditempat ini.


Daniel mengambil tempat untuk duduk. "Bunda, duduklah disebelahku." Daniel menepuk sandaran di bahunya.


Roze menuruti dengan perasaan haru, ia bersandar di bahu putranya.


"Bunda, nikmati hidupmu dengan bahagia. Jangan bersedih karena masa lalu."


"Niel, kau terdengar seperti pria dewasa yang romantis. Ya ampun Nak, bunda yakin bahwa pasanganmu kelak akan sangat bahagia memilikimu." putranya bahkan masih mengenakan seragam sekolah, tapi Roze sudah berandai-andai jauh ke depan.


"Aku tidak akan memiliki pasangan. Aku hanya ingin menemani bunda."


Degh


Degh


Degh....


Roze merasa bersalah telah membuka pembicaraan soal ini. tapi, sebisa mungkin ia tampak biasa saja.


"Jangan bilang begitu. Sekarang kau masih sangat muda. Saat dewasa nanti, Kau akan kemana-mana dengan kekasihmu."


"Bunda, dalam tubuhku mengalir darah orang itu. Tidak menutup kemungkinan aku akan berubah menjadi jahat seperti ayah. Dari pada kesalahan yang sama terulang, lebih baik tidak memiliki pasangan."


"Apa maksudmu? Kau bilang ayahmu jahat? Jangan begitu. Dia tetap ayahmu."


Daniel mengambil jemari ibunya, jemari dingin yang sudah bekerja keras untuknya selama ini. "Bunda, hiduplah dengan bahagia, karena Bunda sangat berharga bagiku."


.


...----------------...