Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Ruangan Asing


Obrolan Telpon antara Jevan dan Roze terhubung sekitar pukul 5 pagi.


[Roze, Kau dimana?]


[Di rumah sakit. Kenapa?]


[Apa Daniel di rumah?]


[Tidak, dia bersamaku. Ada apa?]


[Sejak pukul berapa kalian di rumah sakit?]


[Sejak pukul 11 tadi malam. Ada apa?]


[Oh, tidak, aku hanya ingin memastikan sesuatu.]


[Apa anak-anak baik-baik saja? Kau terdengar panik, Jevan.]


[Em... Begini ... Ezra pergi tanpa berpamitan padaku. Pukul 1 malam tadi.]


[Apa? Van! Yang benar saja?]


[Aku akan memastikan dia pulang dengan selamat. Tenangkan dirimu, jangan panik.]


Jevan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di kediaman Roze, rasa takut dan khawatir ia rasakan saat menemukan ransel putrinya itu beserta jaket yang tergelefak di sembarang tempat.


"Ezra! Ezra!" Jevan tak tinggal diam. Ia mengitari rumah itu sambil terus memanggil nama putrinya.


"Kemana anak ini? Ezra, dimana Kau?" Jevan memungut ransel beserta jaket putrinya lalu kembali ke mobil.


.


Di rumah sakit.


Tuan Lee benar-benar berada di rumah sakit kali ini. Benar seperti perkiraan Jungki dan ibunya, hanya Roze Moza yang bisa membujuk pria tua itu.


Menindaklanjuti saran yang diberikan dokter, Tuan Lee saat ini tengah bersiap diri untuk melakukan serangkaian tes sebelum akhirnya akan dioperasa untuk pengangkatan tumor otak yang dideritanya.


"Roze, ambil ini." sebuah dokumen diberikan ke tangan Roze dan diterima begitu saja oleh putrinya itu.


"Apa ini ayah?"


"Bukan apa-apa. Roze, kalau operasi ini tidak berhasil, ayah akan pergi dengan tenang. Terima kasih, ya Nak."


"Jangan berpikir untuk pergi terlalu cepat. Kalau mau sembuh, hatimu harus bahagia."


Nyonya Lee masuk ke ruangan dimana suaminya berada. Disusul pula oleh Jungki dari belakang.


"Sayang, kemarilah, duduk disebelahku."


Nyonya Lee pun duduk disisi suaminya. Dengan rasa sedikit canggung Jungki mengambil posisi di kursi kosong yang berada disamping Roze.


Alangkah bahagianya dikelilingi oleh orang-orang ini, Tuan Lee berpikir, mungkin saja ini adalah kesempatan terakhir baginya.


"Bila aku kembali hidup setelah dioperasi ataupun mungkin aku akan langsung pergi, bisakah kalian bertiga saling menerima satu sama lain?"


"Ayah, kakak baru saja kembali padamu dan Kau berpikir untuk cepat mati? Bagaimana bisa?" Sedikit terhibur dengan perkataan Jungki, Tuan Lee terlihat ingin tersenyum.


"Bujang lapuk, kemarikan tanganmu." seumur-umur, Tuan Lee tidak pernah bercanda. Bisa-bisanya ia menyindir putranya ini dan terdengar seperti sebuah candaan.


"Aku tidak seperti yang Kau pikirkan ayah. Enak saja bujang lapuk. Aku sudah pernah bermalam dengan beberapa wanita."


"Apa?" Nyonya Lee spontan memukul lengan putranya. "Enak saja kalau bicara."


"Ya Tuhan! Apa begini sikap kalian dihadapan orang yang sekarat dan hampir mati?" pertengkaran hangat antar ibu dan anaknya itu dihentikan oleh protes dari Tuan Lee.


Tuan Lee tiba-tiba menyentuh kepalanya. Ini rasanya sangat sakit tapi ia tahan sebaik mungkin. Pria satu ini memang tidak pernah ingin terlihat kesakitan dihadapan orang lain, apalagi mereka yang adalah keluarganya.


"Ayah, apa kepalamu sakit lagi?" Jungki mengulurkan tangannya dan kini ia merasakan betapa dinginnya tangan sang ayah.


Pria tua itu penggeleng, sementara jemarinya dengan kuat mengepal menahan sakit.


"Jungki, dengarkan aku. Jika aku memang harus pergi, kau harus menjaga wanita-wanita ini, termasuk ketiga cucuku."


"Ayah tidak perlu mengatakannya, itu sudah kulakukan sejak dulu."


"Roze,"


"Ya Ayah," ikut menyentuh tangan sang ayah.


"Ayah bangga padamu. Kau wanita terhebat yang pernah ada."


"Ayah, Kau sudah mengulangnya sebanyak 20 kali."


"Istri..."


"Ya sayang,"


"Terima kasih atas kebesaran hatimu selama menemaniku. Maukah kau tetap peduli pada putriku bahkan cucu-cucuku saat aku tidak ada?"


"Tentu saja, Tuan Lee yang tampan. Kau sudah meminta hal ini terlalu sering. Bagaimana mungkin aku tega menolak mereka?"


Sreeet. Pintu terbuka.


"Semua sudah siap! Tuan Lee, tiba waktunya Anda untuk menuju ruang bedah."


Tim medis dengan sigap mendorong tempat pembaringan pasiennya.


"Ayah, semangat. Aku berjanji kau akan keluar dengan selamat." Jungki terus memberi semangat untuk pahlawannya itu.


Pintu ruang bedah tertutup.


Aku akan berjuang. Aku akan keluar dan bebas dari sakitku ini. Aku tidak bisa mati begitu saja dan meninggalkan putriku untuk kedua kalinya. Roze, ayah akan bertahan.


...****************...


Ponsel Jevan berdering.


Tertera nama Roze sedang memanggil dan ini membuat Jevan sejenak melupakan kebingungannya akan hilangnya Ezralia.


[Bicaralah, Roze,]


[Jevan, apa Kau bertemu Ezra?]


[Dia tidak ada. Kira-kira kemana aku harus mencarinya??]


[Setauku dia belum memiliki teman. Jevan, tolong cari anakku.]


[Dia juga anakku. Tidak mungkin aku membiarkannya hilang.]


[Baiklah, terima kasih.]


Telpon terputus.


"Itu saja? Roze! Apa kau hanya peduli dengan anak kita? Kalau bukan kerja kerasku anak-anak itu tidak akan hadir di perutmu." Jevan merasa perasaannya dikorbankan dalam hal ini.


Tak habis pikir dengan sikap Roze yang terlalu biasa-biasa saja sementara dirinya tidak berhenti berdebar tiap kali bicara dengan Roze walau tidak bertatapan langsung.


...****************...


Di sebuah kamar.


"Eh? Aku dimana? Kamar siapa ini?"


Ezra baru saja membuka mata.


Hanya ada dirinya di kamar asing ini.


Tunggu! Tangan dan kaki terikat? Ini tidak lucu!


"Bunda! Niel! Aku dimana?"


Ceklek.


Pintu terbuka.


"Sudah bangun rupanya?"


Orang asing? Siapa orang ini?


"Bisa lepaskan ikatan ini?"


Orang itu mendekat perlahan dengan sebuah tongkat besi ditangannya.


"Apa? Lepas? Hahahaha!" tertawa jahat.


Malah tertawa? Tidak sopan!


"Kenapa Kau mengikatku?"


Aku sudah memikirkan kemungkinan seperti ini sebelum memutuskan untuk terhubung dengan Jevander Park. Apa ini adalah strategi pemerasan? Trik kuno ini sering terjadi didalam cerita komik.


"Bebaskan aku sekarang sebelum aku memotongmu menjadi empat bagian."


Basssssh..


"Ahwww! Ssshhh!" tongkat panjang memukul kedua tulang kering kaki Ezra.


Apa ini saatnya kembali menjadi penjahat?


Kemarahan Ezra terpancing ketika rasa sakit begitu mengagetkan.


"Kau anak kecil, mulutmu begitu berani."


"Apa yang Kau inginkan? Uang? Hah! Aku bahkan baru sehari mengakui ayahku yang kaya raya."


"Waw! Menarik! Jadi ayahmu kaya raya? Sekaya apa ayahmu? Kau berkhayal sekarang?"


Ezra menarik nepas panjang. "Jangan banyak basa - basi. Aku beritahu, hal semacam ini hanya membuang-buang waktumu. Ayahku bukan orang yang bisa Kau peras."


Orang itu mengitari Ezra.


Bassssh!


Pukulan kembali Ezra terima dan kali ini melayang di kepalanya.


Orang asing itu mendekat lalu berbisik. "Jangan banyak menghayal. Terima saja pukulan dariku. Soal uang ... Aku tidak kekurangan uang untuk memeras orang lain. Aku hanya sedang memberi pelajaran pada ... ibumu, dokter tak beradab itu.


Apa? Ini bukan karena ayah, tapi ... bunda?


.


.


Bestie... Maap baru Up😊