Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Pendekatan


diusahakan, part ini tidak mengandung bawang merah.👇👇


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau sedang sakit rupanya?" oaman Jungky akhirnya muncul lagi di hadapan Ezra. Jungky memberikan obat-obatan yang tadi ibunya pesan untuk Ezra, karena anak itu menolak dibawa ke rumah sakit.


"Paman, jadi rupanya Kau pamanku sungguhan? Sulit dipercaya."


"Aku sudah bilang dari awal kalau aku adalah pamanmu. Bagaimana? Apa kau bahagia mengetahuinya?"


"Sebenarnya aku ingin marah tapi sudah terlambat." balas Ezra.


Sang nenek menempelkan kompres penurun panas di dahi Ezra yang sangat panas seperti air mendidih.


"Paman, lihat ibumu, dia sangat berlebihan padahal aku hanya demam biasa."


"Jangan banyak bicara sayang, makan buburnya. Nenek akan menyuapimu." si nenek duduk tepat di sebelah Ezra.


Ezra hanya menikmati perlakuan hangat ini. Entahlah, apa dia benar-benar menikmatinya, atau hanya pelarian karena sedang tidak berteguran dengan sang bunda. Hanya Ezralah yang tahu.


"Nenek," Ezra memanggil nenek setelah hening beberapa saat.


"Apa ... Paman Jungky pernah membentak nenek?"


Neneknya menggeleng sambil tersenyum.


"Ezra, nenekmu itu adalah ibu yang sangaaaat baik. Jadi dia tidak pernah mendapatkan bentakan dari paman." sela Jungky.


Ezra kini menunduk, rupanya ia menangis.


"Ada apa sayang? Apa yang sakit? Apa buburnya tidak enak?" sang nenek tampak khawatir.


"Bundaku juga sangat baik. Tapi aku dengan tega membentaknya." Ezra menangis.


Sang nenek memeluknya. "Nenek tahu kau pasti merasa bersalah, kan? Berjanjilah untuk mimta maaf dan tidak menyakiti bundamu lagi, sayang. Tidak mudah menjadi seseorang seperti bundamu." Ezra mengangguk dalam dekapan wanita tua itu. Sang nenek pun ikut berurai air mata.


Jungky hanya menunduk, memikirkan tentang kakaknya. Sungguh, masih terngiang di telinga Jungky tentang yang pernah dituduhkan Roze padanya, bahwa ia telah mencuri ayahnya, hingga Tuan Lee itu melupakan Roze.


...----------------...


Roze terlihat gelisah. Ia tidak bisa menikmati tempat nyaman ini seperti permintaan Daniel. Ia terus terpikirkan tentang Darriel yang mungkin saja mencarinya, lalu ada Ezra pula yang tinggal di rumah seorang diri.


"Bunda tenang saja. Mereka begitu peduli pada Darriel. Mereka terus datang menjenguknya tanpa diminta." hanya menyebutkan kata 'mereka', Roze mengerti siapa yang dimaksudkan putranya ini.


"tapi Kau yakin mereka membuatnya nyaman?"


"sudah pasti, Bunda. Darriel memang bilang bahwa tidak butuh mereka, tapi saat orang-orang itu tidak ada, dia gelisah menunggu. Mulut anak itu selalu menghianati hatinya sendiri." karena perkataan Daniel terdengar meyakinkan, Roze harus percaya. Ya ... Daniel memang tidak pernah diragukan dalam memberikan informasi apapun.


"Sepertinya Darriel sudah menerima keluarga barunya itu. Apa lagi saat itu Jevander Park telah dengan senang hati mendonorkan darah untuknya." rupanya Daniel pun tahu tentang hal ini. ah, tentu saja. Lagi pula itu bukan rahasia dan sangat wajar pula, sebagai ayah yang masih sehat menyumbangkan sedikit darah untuk putranya yang membutuhkan.


"Niel,  wajar saja ayah kalian mendonorkan darah untuk Darriel. Bunda bersyukur karena mereka memiliki golongan darah yang sama. Kau pun juga sama." Muka datar putranya terlihat malas mendengar ini. Roze berpikir untuk mengalihkan topik..


"Niel, bagaimana dengan kakakmu? Apa dia makan dengan teratur?"


"Tentu  ... ada neneknya yang mengantarkan makanan setiap hari."


Kaget dengar ini. Roze sampai menutup majalah yang ia pegang. "Nenek?"


"Ya. Ibu tirinya bunda. Neneknya Nana juga mulai ikut-ikutan."


Jadi mereka bergerak pendekatan pada anak-anak?


"jadi ... apa kakakmu menerima dengan senang hati makanan buatan mereka, Niel?"


"Ya ... rasanya juga enak, melebihi lezatnya masakan Bunda." keceplosan, Daniel gelagapan mengganti kalimatnya. "Dia selalu datang membawa makanan disaat yang tepat. Jadi apa boleh buat aku ikut memakannya karena lapar."


"Kedengarannya dia cukup perhatian. Baguslah, ada yang membantu bunda untuk mengurus kalian."


Apa yang istri ayah coba lakukan? Apa yang dia pikirkan sampai mendekati anak-anakku? Apa dia ingin menjadi seperti malaikat baik yang hendak memperbaiki keadaan?


...----------------...


Hari-hari berlalu. Darriel merasa tubuhnya semakin sehat.


Suara pintu terbuka. Masuk seorang pria tua yang belakangan ini ia kenal sebagai kakeknya. Oke, walaupun awalnya ia merasa tidak nyaman dengan kenyataan, tapi lama kelamaan hatinya mulai terbuka dan menerima keadaan dengan hati terbuka. Darriel terlihat sangat bahagia saat berbincang dengan kakeknha. Ia merasa senang karena memiliki keluarga besar yang begitu perhatian. Bahkan kakeknya ini bersedia melakukan dan memberikan apapun untuknya.


Soal bunda? Darriel mengesampingkan perasaan bundanya dalam hal ini. Bukannya tidak tahu diri, tapi bagaimana pun dia, bunda akan ada untuknya sampai kapanpun. Bunda juga sudah memberikan izin padanya, asalkan ia sembuh, bahagia dan sehat.


"Kakek, dimana nenek?" mencari keberadaan sang nenek, ibu dari Jevander Park yang kali ini tidak ikut.


"Dia sedang mengantarkan makanan untuk kakakmu. Mungkin bisa disebut sebagai pendekatan."


Darriel mengangguk.


"Oia, kamarmu di rumah kakek sudah siap. Kau hanya tinggal menempatinya.".


"hanya aku?" sahut Darriel, membuat Mario tak bisa berkutik. "kakek bermaksud memisahkan aku dari kakakku?"


"Oh, tentu maksud kakek adalah kalian bertiga. Tapi Darriel, bagaimana cara membujuk kedua saudaramu itu? Yang perempuan selalu membisu sedangkan yang laki-laki selalu sibuk. Dia sangat pandai menghindari kakek." keluh Mario.


"Mereka berdua memang begitu." jawab Darriel.


Tapi ngomong-ngomong, kenapa kakak hampir tidak pernah menjengukku? Apa mereka tidak peduli aku akan sembuh?


...----------------...


Di bagian administrasi pembayaran rumah sakit, Daniel akan membayar biaya yang harus ia selesaikan. Remaja itu menyerahkan kartu debit kepada petugas.


"Permisi, saya yang akan membayarnya." Entah datang dari mana, Jevan sudah berada di samping Daniel. Pria itu pun memberi kartu hitam miliknya kepada petugas.


Daniel menatap Jevan dengan malas. "Tak apa. Ayah tahu kau banyak uang tapi biarlah kau gunakan uangmu untuk dirimu sendiri. Soal Darriel, biar itu jadi urusanku, sebagai ayah kalian."


"Maaf, tagihan sudah dibayarkan." jelas petugas dengan singkat, penuh ramah.


"Apa? Siapa?" Jevan maupun Daniel balapan bertanya.


"Seorang pria tua. Dia ... Tuan Lee."


Gagal sudah keinginan Jevander untuk terlihat seperti pahlawan bagi putranya.


"Baiklah, kalau begitu terima kasih." Daniel Pergi. Jevan menyusulnya.


"Niel, ayo makan siang dengan ayah."


"Aku tidak lapar."


Jevan berhenti melangkah. Dia cukup mengerti karakter putranya ini. Dari pada dirinya merasa kesal, ia menghantar langkahnya keluar dari gedung rumah sakit. Tujuannya kemana? Menemui Ezralia, putri pemarahnya yang cantik itu.


Selagi memikirkan tentang Ezra, Daniel, Darriel, Jevan merasa bersemangat. Ia tidak sabar mendapatkan hati ketiga putra putrinya itu agar melalui mereka ia bisa dengan lancar beraksi mendekati Roze Moza yang kini tak tersentuh olehnya.


Jevan menyetir sambil bergumam dalam hati.


Aku heran, kenapa wajah anak-anakku itu tidak ada miripnya denganku. Roze benar-benar membenciku sehingga anak-anak hanya mendapatkan warisan garis wajahnya? Sedangkan aku? Mirip apanya mereka denganku? Apa jangan-jangan ... daun telinga atau ... jari kelingking saja?


...----------------...


Abis bestie...