
Hai guys!
Aku shock, bisa2nya karya ini manjat ke rangking 4 karya baru.
Ini karena semangat kalian. Makasih ya, yuk kita sama2 semangat bestie!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"sayang, Kenapa kau jadi keras kepala begini? Aku bilang berhenti mendatangi rumah putriku. Dia bukan anak kecil yang bisa dibujuk rayu." Tuan Lee melihat istrinya yang baru pulang. ia tahu kegiatan istrinya belakangan ini adalah berusaha mendekati Roze Moza, guna memperbaiki kerumitan hubungan mereka.
Tuan Lee cukup sadar bahwa Roze adalah seorang pendendam. Dan lagi, putrinya itu sudah jelas mengatakan bahwa kemunculan ayahnya ini sudah sangat terlambat.
"Ini semua gara-gara kebodohanmu sebagai ayah, jadi aku yang harus mekerja keras akubat ulahmu. kalau saja Kau jujur tentang keberadaannya sejak dulu, kau dan aku tidak akan setersiksa ini."
"Aku sudah menjelaskan alasannya adalah karena dirimu."
"Dan itulah yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak sejak hari itu. Aku memikirkan betapa berdosanya aku ini, aku memikirkan betapa tersiksanya hidupmu karena merindukan putrimu diam-diam selama puluhan tahun. aku mau tanya, apa yang sudah Kau laukan sebagai ayahnya? Apa Kau ada saat dia ditinggalkan kekasihnya saat mengandung? Apa Kau muncul saat dia merasa takut dan malu menghadapi kenyataan hidupnya yang menyedihkan? Aku yakin bahwa Kau belum pernah menghapus air matanya satu tetespun."
Deretan kalimat yang keluar dari mulut istrinya membuat tuan Lee terdiam dengan muka tertuduh bersalah.
"Sebelumnya kita berdua adalah pasangan yang amat sangat saling mencintai. Tapi sekarang, aku merasa Kau meragukan tentang aku. Kau sembunyikan tentang putrimu yang malang selama puluhan tahun dariku. Kau mengira aku sejahat apa? Seharusnya Kau jujur tentangnya sejak awal. Tidak mungkin aku menolaknya. Aku akan dengan senang hati terima dia sebagai darah daging suami yang aku cintai."
Raut muka kecewa tampak jelas di wajah cantik perempuan tua itu.
"Kita sudah tua. Aku tidak ingin Kau mati tanpa mendapatkan maaf dari putrimu." nyonya Lee lalu menghilang dari pandangan setelah mengatakan itu. Memang, belakangan ini hubungan mereka berdua sedikit diwarnai ketegangan apabila membahas tentang Roze Moza.
.
.
.
Jevan mengetuk pintu beberapa kali sambil memanggil nama Ezra, sampai satu suara menyahutinya.
"Tidak perlu datang menemuiku." kedengarannya remaja perempuan itu berada tepat di balik pintu.
"Ayah ingin bicara denganmu. Bukankah kau sangat merindukan ayah sejak kau masih kecil?" membujuk Ezra seperti bujukan pada bocah TK.
"Apa yang ingin Kau katakan? Katakan saja." Ezra tak tahan rasanya ingin menangis. Mendengar bujukan ayahnya, ia seakan kembali ke masa kecil.
"Ezra, ayah ingin kita berdua membahas banyak hal. Ayah ingin mendengarmu, dan ayah ingin kau mendengarkan ayah. Ezra, ayah memang tidak ada gunanya lagi datang setelah kau sudah sebesar ini. Tapi Ezra, ayah menginginkan anak-anak ayah memberi ayah kesempatan. Percayalah, ayah sangat bahagia memiliki kalian."
"Bohong. Kau adalah orang yang tidak menginginkan bundaku. artinya, sama saja tidak memgharapkan keberadaan kami."
"Ezra ... "
"Bukalah pintunya. Akan ayah jelaskan apa yang terjadi."
"Meskipun dulu bunda tidak jujur tentang kondisinya yang sedang mengandung kami, seharusnya Kau terus bersama dia. Sehina apapun bundaku, seharusnya Kau menjadi kekasih yang baik. Seharusnya kasihani dia karena hidupnya begitu buruk. Bundaku bahkan tidak memiliki siapapun selain kami anak-anaknya."
Isak tangis Jevan terdengar. Betapa hebatnya getaran kesedihan yang lagi-lagi menyiksanya.
Dari balik pintu yang tertutup, Ezra pun menangis melawan perasaannya sendiri. Ayah yang ia inginkan, kini menghampirinya. Tapi ezra tak kuasa untuk bertemu.
"kau benar, kami sudah besar dan bisa menjaga diri masing-masing. Aku sudah tidak merindukanmu lagi, ... ayah!"
tiba tiba hening... keduanya termenung.
"Ezra, maaf." sama seperti ezra, Jevan bersandar di daun pintu yang sedikitpun tidak dibukakan untuknya. keduanya saling membelakangi, pintu sebagai pemisah.
"Dulu, ayah adalah seorang pengecut. Ayah meninggalkan bundamu demi menjaga nama baik keluarga. Ayah lupa bahwa kakek dan nenekmu adalah orang baik yang tidak memandang seseorang dari status sosial. Ezra, ayah tahu ini terdengar menyebalkan tapi asal Kau tahu, ayah tidak pernah melupakan bundamu sejak kami berpisah sampai detik ini."
"Lalu, kenapa sanggup menikah dengan orang lain? kalau cinta pada bunda, Ayah tidak akan menikahi orang lain,"
.
.
Roze kembali mendatangi Darriel. Anak itu benar-benar berangsur membaik.
"Roze," Mario Park lebih dulu menyapa saat berpapasan mata dengannya.
Roze hanya mengangguk.
Mario Park lalu menyampaikan maksud baiknya untuk membawa Darriel pulang ke kediamannya. "Selama ini Kau merawatnya sendirian,. Maka biarlah kini giliran kami yang merawatnya. Setelah ini masih ada beberapa upaya perawatan lanjutan. Kau juga bisa beristirahat dan mengerjakan pekerjaanmu dengan leluasa." seakan mengerti kelelahan yang dirasakan oleh Roze, ini memang terdengar melegakan. Tapi, Roze belum menjawab apapun. "Roze, Kau tenang saja. Akan ada tim medis pendamping yang kita siapkan. Apakah boleh?" permintaan ini terdengar sangat sopan. Roze tidak mungkin menolaknya.
"Baiklah, kalau Darriel setuju untuk pulang ke tempat Anda, Silakan."
Mario berterima kasih banyak atas kesempatan yang dipercayakan oleh Roze. Wajah pria tua itu tampak lega dan bahagia.
"Bunda, terima kasih, ya ... aku ... akan jaga diriku dengan baik, bersikap baik selama di sana." meskipun senyunya tampil dengan jelas, tapi mata Darriel menyiratkan kesedihan.
*Bunda, selama ini aku sudah menyusahkan bunda sendirian. Aku ingin bunda beristirahat dengan baik selama mereka merawatku. Aku tidak akan lama. Aku tetap akan pulang ke rumah kita. *
.
.
Pendek dulu ya bestie...