Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Lari atau Mati!


Hidupku sudah hampir sempurna ketika kasih sayang penuh sudah kudapatkan dari ayah dan bundaku. Bunda yang baik dan penuh pengorbanan, ayah kaya raya yang tak beda dari seorang pria kampret yang dulu menyakiti bundaku.


Tapi ada apa ini? Seseorang menjadikanku sandera yang dengan entengnya merendahkan bunda. Menjengkelkan!


Terus memukuliku semaunya? Penjahat ini, sepertinya, dia bosan hidup.


...----------------...


Berita kurang menyenangkan datang dari Daniello yang baru saja kembali dari rumah setelah diminta ibunya untuk memeriksa kamera CCTV melalui layar komputer. Tentang Ezra baru saja diterima oleh Roze, wanita itu merasa sekujur tubuhnya melemah dan tak mampu bersuara ketika menyadari bahwa putri satu-satunya itu menghilang dibawa pergi seseorang saat anak itu tertidur di teras rumah sendirian.


"Ini penculikan Bunda, sebaiknya lapor polisi."


Daniel dengan tenang merangkul ibunya yang seperti sedang kebingungan. "Bunda, percayalah, kakak pasti aman-aman saja" dalam hati kecilnya memang berharap tidak ada hal mengerikan yang menimpa kakaknya itu.


Drrrt drrt drrrt


Panggilan dari Jevan P.


Roze menjawab tanpa sapaan.


[Roze, bagaimana?]


[Apa kau pernah menjahati orang? Jevan, anak itu dibawa pergi seseorang.]


[Apa? Maksudmu? Seseorang mungkin dendam terhadapku? Tidak ada orang yang menaruh dendam terhadapku, kecuali kamu, Roze.]


[Apa Kau masih bisa bercanda saat Kau tidak bisa menjaga anakku, Jevan? Kalau terjadi apa-apa dengan Ezra, itu adalah kelalaianmu!]


[Baiklah baiklah, ini memang salahku. Aku akan melakukan apapun untuk menemukannya.]


[Jangan hanya bicara. Buktikan.]


Telepon berakhir.


"Daniel, kirimkan video itu kepada ayahmu.]


"Baiklah, Bunda." sesuai titah dari ibunya, Daniel mengirimkan bukti rekaman CCTV yang tadi ia ambil dari komputer ibunya.


"Lalu, apa yang harus kita berdua lakukan bunda?"


"Kita tunggu saja kabar dari ayah kalian."


Di situasi seperti ini, sedikit membingungkan jika Roze harus bertindak. Ia tidak tahu hendak mencari kemana putrinya itu karena tidak memiliki tanda yang jelas dimana keberadaan putrinya.


...----------------...


Beberapa kali Jevan memutar video singkat yabg baru saja ia terima dari Daniel.


Siapa ini sebenarnya?


Jevan lalu menghubungi seseorang.


[Aku mau Kau cari informasi tentang orang dalam video ini. Kalau bisa dapatkan dalam 1 jam.]


Menunggu kabar dari seorang suruhannya.


Jevan menunggu dengan perasaan cemas. Sangat cemas.


Aku benar-benar tidak memiliki musuh. Pesaing dalam dunia bisnis? Tentu saja banyak, tapi sejauh ini aku selalu bersaing dengan sehat. Aku yakin tidak punya pesaing yang mengincar keluargaku. Jika ada, hal seperti ini akan terjadi sejak nana bersamaku. Atau ... jangan-jangan musuh daddy? Ataukah Tuan Lee? Dari semua orang, musuh kemungkinan datang dari dua orang tua itu.


Drrrt drrrt drrrt


Mommy memanggil. Jevan segera menjawab.


[Jevan! Bagaimana cucu perempuanku? Apa dia ketemu?]


[Sebentar ya Mom, aku masih mencarinya.]


[Apa kau butuh bantuan daddymu?]


[tidak perlu. Seseorang sudah membantuku.]


[Biklah sayang, pokoknya temukan Ezra. Kalau dia kenapa-kenapa, itu adalah kesalahanmu.]


[Aku mengerti. Tenang saja. Tunggu dirumah. Jangan bikin Darriel panik mengkhawatirkan kakaknya. Mommy tolong jaga anak itu, ya...]


[Iya. mommy paham. Oia, apa kau sudah dengar bertita tentang Tuan Lee? Dia sedang dioperasi saat ini.]


[Begitu kah? Aku baru dengar.]


[Dan kau tahu Jevan, Roze sudah berbaikan dengan ayahnya. Mommy merasa terharu. Nak, akankah dia juga bisa menerimamu kelak?]


Jadi dia sudah berdamai dengan ayahnya? Roze, tindakanmu benar. Kau akan merasa bahagia karena ayahmu jelas menyayangimu.


[Baguslah. Mom, jangan bahas perasaan dulu. Saat ini yang terpenting adalah menemukan Ezra. ]


Hubungan Telepon berakhir.


Ponselnya kembali berdering. Jevan menjawabnya dengan cepat.


[Pak Jevan, orang itu sudah ditemukan.]


[Lanjut!]


[Dia seorang wanita yang baru kemarin ditinggal pergi oleh putrinya. Tercatat juga bahwa belum lama ini putrinya pernah dirawat di rumah sakit tempat ibu remaja yang diculik itu. Dokter Roze Moza sangat akrab dengan pasien yang merupakan putri dari wanita si penculik ini.]


Alamat sudah ditemukan. Jevander melaju kencang dengan harapan besar akan menemukan Ezra disana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


[Kai siapa?]


Seseorang sedang menghubungi Roze Moza melalui telepon. Sungguh merinding kala mendengar nada suara seorang wanita yang sedang menyapanya.


[Sayang sekali dokter, anda melupakan suara saya.]


Roze mulai menebak.


[Ibunya pasien Riri?]


[Nah! Pintar sekali! Sekarang, dimana putriku? Kau pasti menyembunyikannya, Kan?]


[Untuk apa aku sembunyikan putrimu! Tunggu! Apa Kau yang mencuri anakku semalam?]


Terdengar suara jahat wanita itu tertawa, seiring dengan ringisan Ezra yang tiba-tiba. Sudah pasti remaja itu sedang menerima hantaman dan entah sudah keberapa kalinya.


[Jangan apa-apakan putriku! Apa Kau tahu yang Kau lakukan ini merupakan tindak pidana?]


[Stop bicara soal hukum! Bawa kembali anakku sebelum putrimu ini mati sia-sia!]


Pembicaraan berakhir. Dalam sekejap muncul sebuah pesan yang berisi alamat.


JANGAN BERANI MEMBAWA POLISI ATAU SIAPAPUN ATAU KAU HANYA AKAN BERTEMU JASAD ANAK INI.


"Bunda ada apa? Ada berita tentang kakak?"


Melihat wajah ibunya yang kini semakin panik, tidak mungkin Daniel melewatkan perhatiannya.


"Bunda akan jemput kakakmu. Kau tunggui saja kakekmu bersama nenek. Bunda akan kembali bersama Ezra."


Roze pergi setelah berhasil meyakinkan bahwa semua baik-baik saja dan Roze terpaksa harus berbohong jika dirnbya pergi dengan dampingan polisi.


Sampai di mobil, Roze berpikir untuk menghubungi Jevan. Ia pun memanggilnya melalui saluran telepon.


[Iya, Roze,]


[Van, Ezra sudah ketemu. Aku akan menjemputnya. Kau tidak perlu mencarinya lagi.]


[Tapi Roze,]


Telepon berakhir. Roze tidak mengizinkan Jevan mengatakan apapun lagi.


...----------------...


Kembali ke ruangan asing itu.


"Bundaku tidak menyembunyikan putrimu! Lepaskan aku selagi aku memintamu baik-baik dan biarkan aku pergi dari sini. Aku tidak ingin bundaku bertemu dengan orang sepertimu."


Dengan rupa yang hampir seperti wujud korban pembunuhan, Ezra mengalami banyak luka berdarah. Tidak main-main, orang ini ternyata lebih sadis dan kejam jauh melebihi dirinya. Baru kali ini ada yang berhasil menghajar Ezra sampai tubuhnya penuh lebam membiru dan darah segar menetes kian banyak.


"Sssuuuut! Diam! Anakku sebentar lagi akan tiba bersama ibumu." bertingkah seperti orang kurang waras, Ezra berhasil dibuat merinding.


"Aku bilang bunda tidak mengambil anakmu!" tegas Ezra.


PLAK..


Sebuah buku menjadi alat untuk menampar wajah Ezra kali ini.


"Kau baca ini! Putriku dengan jelas menulis disini bahwa dia akan bersembunyi dariku sesuai dengan ajaran bu Dokter!"


"Itu hanya lelucon! Orang bodoh mana yang mempercayai buku harian di zaman ini?"


PLAK..


Kembali menerima tamparan yang lebih keras, Ezra tertunduk lesu. Penglihatannya terasa penuh dengan kunang-kunang.


Berhenti menamparku wanita asing,


Sepertinya stok kesabaran akan siksaan Ezralia sudah benar-benar habis.


Tiba-tiba saja Ezra berdiri di tempatnya.


Wanita itu terkejut sesaat.


Dengan santai Ezra pun melepas sisa ikatan di tangan dan kakinya.


"Larilah!" suruh Ezra dengan suara dingin. Saat ini ia sedang berperang melawan dirinya sendiri untuk tidak menyerang wanita asing ini.


Wanita itu kembali meraih tongkat besinya. "Kau bisa berdiri? Bukankah kakimu patah oleh besi ini?" wajahnya sedikit gugup. Bagaimana mungkin ada orang sekuat ini?


"Larilah sebelum aku benar-benar akan menghabisimu."


.


.


Abis dulu ya Bestoy.. Yuk semangat ah! Lope deh ama kalian.😊