Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Tidak Bisa Tidur


Roze Moza tengah mengikuti sebuah acara jamuan makan malam bersama seluruh tim dokter dirumah sakit tempat ia bekerja, Salah satu dari mereka tiba-tiba bertanya setelah rasa penasaran yang tidak lagi bisa dibendung.


Roze terdiam sejenak ketika pertanyaan ini tiba-tiba dilontarkan untuknya. Baik, bukankah sebaiknya bicara jujur? Teman-temannya sedang mempertanyakan apa sebenarnya hubungan Roze dengan pemilik Fashion Park itu, Jevander Park. Ya .. siapa yang tidak kenal orang itu yang belakangan ini menjadi donatur terbesar bagi pasien penderita berbagai penyakit jantung di rumah sakit mereka.


Yang menjadi pertanyaan besar adalah, kenapa Jevander Park itu bahkan mengirimkan buket bunga untuk seorang dokter anak andalan mereka, Roze Moza.


"Dia ayah dari anak-anak saya." jawab Roze, apa adanya. Sudah pasti siapa saja akan tercengang.


Terjawab sudah semua kecurigaan. Tapi, tentu pertanyaan tidak hanya sampai disitu. Semua orang sadar bahwa Roze adalah seorang ibu tunggal untuk ketiga anak kembarnya.


"kami tidak pernah menikah. hanya mantan kekasih." jawabnya lagi berterus terang.


Cukup. Sampai disini saja semua orang sudah mengerti apa yang telah terjadi. Selebihnya adalah privasi yang harus dihargai.


Meskipun sangat disayangkan mengapa mereka berpisah, tapi biarlah itu menjadi bagian dari masa lalu Roze yang tidak harus mereka ketahui.


Di mata mereka yang mengenalnya, Roze adalah pribadi yang lebih banyak diam, bahkan terkesan dingin tak bersahabat. Tapi jika sudah berhadapan dengan pasien, wanita ini berubah menjadi sosok yang sangat ramah. Seolah memiliki dua karakter dalam dirinya.


Walaupun terlihat dingin dan tidak peduli, tapi orang-orang ini mampu memberinya rasa hangat, sehingga Roze merasa nyaman berdampingan dengan mereka.


Roze tidak pernah mengorek masa lalu orang lain, jadi tidak ada alasan bagi rekan-rekannya ini untuk melihat dan ingin tahu masa lalunya pula.


...----------------...


Sejak tiba di kediaman ayahnya ini sore tadi, Ezra tidak satu kali pun keluar dari kamar Darriel, cari aman.


"Kak, apa benar bunda sehat? Setiap aku menelponnya dia selalu bilang kalau dia baik-baik saja." Darriel baru saja bangun setelah beristirahat sesuai anjuran dokter


"Bunda sehat, Riel. Tapi bukankah kau keterlaluan? Sudah sehat bukannya pulang ke rumah kita malah pulang ke rumah orang." Ezra kembali ketus ketikan mengingat kelakuan Darriel ini yabg menyebalkan.


"Ya, mau bagaimana ya, aku hanya sedang memanfaatkan fasilitas kesehatan ekstra yang mereka sediakan untukku. Lagi pula ... kasihan mereka karena kulihat terlalu bersemangat meringankan beban bunda."


"Sayang, makan malam sudah siap. Ayo keluar dari kamar."


Nenek bahkan menjemput kedua cucunya keluar untuk makan malam.


Pintu terbuka nenek tampil dengan senyuman hangatnya.


Ezra tak berkutik. Perlahan ia palingkan wajah. "Ezra, ayo sayang. Makanan kesukaanmu sudah tertata di meja makan." sang nenek kembali memberi uluran tangan.


"Aku ... Tidak lapar. Kalian saja." ujar Ezra tanpa berani menatap lawan bicara.


Sang nenek meraih paksa tangan kurusnya itu. "Tidak bisa sayang, atau kau akan kelaparan nanti malam." Jenni tahu, cucunya ini masih canggung.


Mario Park tampak lega setelah dua cucunya hadir di ruang makan.


"Kakek, Nenek, aku datang..." suara tak ading terdengar. Wajah tampan Arven muncul kemudian.


"Hei! Sini sayang, kau harus berkenalan dengan dua sepupumu. Kenapa kemarin Kaubtidak ikut saat mama papamu kesini?"


"Nenek, aku tidak perlu berkenalan dengan mereka. Mereka adalah temanku. Benarkan Daniel?"


"Dia Darriel. Bukan Daniel." protes sang kakek. Arven terkejut. Bisa-bisanya ia lupa kalau sepupunya ini kembar tiga. Kemudian Arven menyadari, disini tidak ada sosok Daniel. Ia segera paham kenapa anak satu itu tidak ada. Pasti mereka sulit membujuknya.


"Baiklah, karena kalian sudah saling kenal, ayo makan. Arven, duduklah."


Arven mengelus perutnya. "Sebenarnya aku masih kenyang. Tapi karena ada Ezra aku tidak keberatan untuk makan lagi." apa-apaan ini? Semua mata tertuju padanya setelah apa yang baru saja ia katakan. Arven, tertarik pada Ezra?


Arven sengaja memilih duduk disamping Ezra. "Hai, lama tak jumpa Ezra," yang disapa hanya mengangguk dengan senyum tipis.


"Akhirnya aku punya saudara laki-laki. Darriel, saat Kau sehat nanti, ayo keluar untuk berkuda dan main bilyard denganku."


"Oke," Jawab Darriel. Arven sedikit memiliki kemiripan dengan Darriel. Ramah dan selalu terlihat gembira.


Makan malam berlangsung hangat dan santai, kecuali Ezralia yang memiliki perasaan tak menentu dalam hatinya.


"Ezra, kamu kenapa? Apa makanannya tidak enak?" Mario merasa cucu perempuannya ini tampak tidak bersemangat.


Ezra menggeleng sangat pelan. Ia pun sudah tidak tahan. Dari tadi ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya namun makanan itu seolah tertahan dan tidak mampu ia telan.


Makanan yang menumpuk dimulutnya terpaksa membawanya berlari mencari tempat pembuangan. Sang nenek merasa khawatir lalu menyusulnya.


"Sayang, kenapa?" Ezra telah memuntahkan kembali makanannya.


Ezra menggeleng.


"Entahlah, aku tidak bisa menelannya." jujur Ezra. wajahnya terlihat panik.


"Maaf Sayang, mungkinkah kau merasa tertekan karena tidak nyaman?"


"Ezra, kenapa? Kau sedang sakit?" Arven yang merasa khawatir harus memastikan keadaan Ezra.


"Ayo, biar aku saja yang menuntunnya ke kamar, Nek." Arven ingin mengambil alih Ezra dari sang nenek agar neneknya kembali melanjutkan makannya. Akan tetapi nenek tidak membiarkannya. Ia sudah membaca gelagat nakal Arven yang sangat jelas mengirimkan sinyal cinta pada Ezra. Macam tidak ada cewek lain saja.


...----------------...


Setelah jamuan makan malam bersama usai, Roze memilih untuk langsung pulang.


Tiba di halaman rumahnya, sebuah mobil mengkilat sudah terparkir manis disana.


Begitu Roze turun dari mobilnya, seseorang juga turun dari mobil berwarna putih itu.


Wanita ini, ya ... lagi-lagi dia, ibunya Jungky. Penampilannya yang anggun tampak sedikit kacau.


"Roze," ia menagis. Tepatnya berlutut dihadapan Roze sambil menangis.


"Roze, tolong ayahmu." nyonya Lee ini tampak sangat putus asa dan tentu saja berhasil menyita perhatian Roze Moza.


"Menolongnya? Memangnya dalam hal apa tuan Lee membutuhkan pertolongan dari seseorang yang tak berharga baginya?"


Nyonya itu menggeleng sambil mengatup kedua tangannya memohon. "Nak, ayahmu, mengidap tumor otak." dengan susah payah ibunya Jungky ini ingin menjelaskan panjang lebar.


"Oh, lalu apa hubungannya denganku?" Roze menanggapi berita ini dengan suara datar dan sikap dingin.


"Bangun. Jangan memohon untuknya seperti ini. Kalau sakit seharusnya keluhkan ke dokter keluarga kalian. Aku hanya seorang dokter anak."


Roze bergeser hendak melanjutkan langkahnya.


"Roze, tolong, Nak. Ayahmu tidak mau mendengarkanku untuk operasi seperti saran dokter. Roze, ayahmu harus dioperasi sebelum tumor mengganas menjadi kanker. Tolong bujuk dia, aku mohon, Nak."


"Anda yang dicintai saja tidak mampu membujuknya. Bangunlah! Jangan menyia-nyiakan waktu Anda. Mungkin mati adalah keinginannya, maka biarkan saja."


...----------------...


Di kediaman Park, tepatnya di kamar Darriel yang dimana Ezra juga berada.


Sudah lewat tengah malam, tapi Ezra tak kunjung menutup matanya. Ia merasakan keresahan dan kegelisahan yang teramat sangat mengganggu.


Lelah dengan rasa tidak nyaman, akhirnya ia angkat ranselnya setelah menulis sebuah surat.


...DARRIEL, KAKAK SENANG MELIHATMU SUDAH SEMBUH. KAKAK PULANG, RIEL, JAGA DIRIMU, JAGA SIKAP, INGAT BAHWA INI BUKAN RUMAH KITA, JADI BERSIKAP YANG BAIK. SAMPAI JUMPA....


...Tertanda, Ezralia....


Ayah, Nenek, Kakek, maaf, tidak ingin mengganggu tidur kalian jadi aku pergi tanpa berpamitan.


Ezra melangkah keluar setelah menatap pintu kamar sang ayah dan kakek neneknya secara bergantian.


"Neng Ezra? Mau kemana, Neng?" penjaga gerbang utama yang masih siaga terlihat syok melihat putri majikannya ini keluar di tengah malam.


"Emmm aku ... belum pernah bermalam dirumah orang lain. Itu sebabnya aku ... memilih untuk pulang."


"Tapi Neng, semua orang sedang tidur. Tidak ada yang bisa mengantar Neng,"


"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri. Bisa tolong orderkan ojek, Pak?"


"Tapi Neng,,"


"Kalau tidak bisa tak apa."


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Abis... Lanjut besok ya beatie...