Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Tidak Butuh Diakui


Sore telah berganti malam.


Daniel mulai merasa lapar. Ia pun beranjak pergi.


Yang katanya kakek neneknya itu hanya mampu mengantar kepergiannya dengan memandang tanpa bisa berkata apa. Memang terasa sesak ketika mengingat lagi tajamnya ucapan remaja itu.


Kantin Rumah Sakit begitu ramai pengunjung. Meski begitu, masih ada satu meja yang kosong. Daniel membawa makan malamnya duduk dan menikmatinya sendirian. Abaikan saja setiap orang yang ada di sekeliling.


Srreeeet.


Kursi yang berseberangan dengannya bergeser lalu diduduki oleh seseorang. Dia adalah Jevander Park.


"Makanlah. Jangan fokus padaku."


Jevan tahu, anak ini tidak begitu menyukai kehadirannya.


"Daniel, ayah mengerti, Kau pasti sangat marah dan kecewa pada ayah, kan?"


Baru saja Daniel menghabiskan makan malamnya. Entah apa yang harus Daniel katakan. Ini pertama kalinya bertemu empat mata dengan Jevander Park dalam situasi yang sudah berbeda.


"Aku tidak akan membuang energi menyimpan kemarahan pada ayah yang bahkan tidak menyadari bahwa aku adalah anaknya." jawabnya jujur dengan nada dinginnya. Jevan membungkam tak berkutik.


"Punya ayah atau tidak, itu tidak penting bagiku." Lagi, pernyataan ini jauh lebih menusuk.


"Sepertinya Anda cukup menerima dan mengakui keberadaan kami sebagai orang-orang yang berasal dari Anda. Terima kasih tidak memarahi bundaku, karena dengan lancang melahirkan kami, meskipun dia tau bahwa dirinya tidak pantas lahirkan darah daging Anda. Aku pastikan satu hal, kakakku, tidak akan pernah lagi mengganggu ketenangan Anda." Daniel berusaha tetap tenang, jangan sampai orang-orang sekitar mendengarnya.


Jevan masih diam, mempersiapkan apa yang hendak ia katakan berikutnya.


"Daniel, bundamu adalah orang yang ayah cintai."


"Cinta? Cinta yang seperti apa? Cinta yang menyakiti bundaku? Cinta yang tidak bisa dipertanggungjawabkan?"


"Daniel, ayah tahu, hanya dengan meminta maaf tidak akan mampu membuat kesalahan ayah terhapuskan. Tapi ... Bisakah kita memulainya dari titik awal? Ayah ... Benar-bebar masih ingin memulai lagi dengan bundamu, bahkan jika kalian bukan darah daging ayah." akhirnya Jevan mengatakan isi hatinya, diantara banyaknya hal yang ia pikirkan untuk dikatakan pada remaja ini.


"Aku tidak butuh seorang ayah. Sampai kapanpun, aku adalah Daniello Moza, yang hanya memiliki bunda. Pergilah ke Darriel atau Ezra, mereka adalah orang yang menunggu Anda sejak dulu. Meskipun Anda membawa mereka, bunda masih punya aku."


Merasa sudah cukup banyak berkata, Daniel beranjak pergi.


Sakit, kalau bisa meminta, Jevan tidak ingin mendengar ini lagi. Mengetahui kedua anak itu begitu menginginkan dirinya, bukannya bahagia yang terasa, Jevan semakin merasa sedih dan kecewa pada dirinya sendiri.


Tidak ingin membuang waktu untuk bicara lebih banyak dengan putranya, Jevan menyusul.


"Yang ayah maksudkan adalah ... kita menjadi keluarga utuh. Bukan ingin mengambil kalian dari bundamu."


Langkah Daniel terhenti. Tanpa menoleh ke belakang, ia berkata :


"Aku tidak tertarik bergabung menjadi bagian dari keluarga Anda. Aku pun tidak butuh untuk diakui oleh Anda. Kembalilah seperti sebelumnya, tidak saling mengenal. Kuharap Anda bisa bekerjasama dalam hal ini."


Seberapapun kuatnya Jevan mencegah, Daniel tetap melangkah tinggalkan dia. Ya ... Tentu saja ... Daniel bukanlah seorang bocah kecil yang bisa dengan gampang diseret paksa. Dia adalah remaja beranjak dewasa yang memiliki langkah lebar.


.


.


Ezra melihat keluar melalui kaca jendelanya yang transparan. Begitu banyak memory yang terputar di pikirannya.


Tentang kali pertama ia menanyakan 'mana ayah' ibunya mengatakan sedang bekerja di tempat yang sangat jauh.


Begitu giatnya ayah bekerja hingga tidak ingat pulang? Ibunya lagi-lagi mengatakan harus mendapatkan uang yang sangat banyak untuk Darriel..


Saat beranjak memasuki usia remaja, Ezra teringat pernah membully seorang teman sekelasnya hanya gara-gara anak lelaki itu menyukainya.


Dasar anak miskin, kurus, jelek, tidak punya bapak. Enak saja menyukai aku! Apa kau tidak punya cermin di rumah?


Itu adalah hinaan terparah yang pernah Ezra ucap dari bibirnya.


Kalau saja masih diberi kesempatan untuk bertemu sekali saja, rasanya Ezra ingin berlutut dan meminta maaf dengan tulus.


Kini Ezra kembali menangis, meratapi betapa hancurnya perasaannya kini. Ezra benar-benar menyadari betapa jahatnya dirinya selama ini.


*Bukan ayah, bukan bunda, bukan karena siapapun, aku memang jahat kerena diriku sendiri. *


Angin dingin mulai terasa menusuk hingga ke tulang. Ezra menutup gorden jendela.


Baru hendak merebahkan tubuh, Ezra mendengar suara ketukan pintu utama.


"Ezra . . ."


Mengenal suara siapa itu, Ezra menahan langkah.


"Ezra ... ini paman Jungky. Kau sendirian kan? Ayolah, buka pintunya."


Sama sekali Ezra tidak tertarik untuk membuka pintu.


"Ezra, kau masih ingat keinginanmu dulu? Bertemu ayah, kan? Bukalah pintumu, Paman benar-benar membawa ayahmu kali ini."


tanpa sadar Ezra melangkah maju. Ia seolah sedang terasuk Ezra kecil.


Tapi tidak, ia hanya menyandarkan punggung dibelakang pintu.


"Ezra ... kau tega membiarkan kami tergigit nyamuk diluar? Rasanya sangat gatal. Ayolah, paman tahu kau dengar kan?"


"Paman, ... jangan menemuiku lagi." Suara Ezra terdengar pelan dan sangat perlahan. "Aku, sudah tidak butuh Paman. Yang kulakukan pada Nana park, bukan karena  menginginkan dia mati agar bisa ambil kembali ayahku. Aku ... hanya ... membalaskan dendamku karena dia meninggalkan bunda. Paman, aku ... ingin memulai hidup yang baru. hanya dengan bunda dan adik-adikku."


"Ezra ... kau terdengar sangat membenci ayah." suara Jevan Park akhirnya terdengar. Bergetar, menahan kesedihan.


"Ya ... benar ....' Ezra kembali menangis hebat, tanpa terdengar siapapun.