
"Hai, kak Ezra ..." sapa Erwin dengan sopan, sukses membuat Daniel ingin muntah mendengar sapaan manisnya.
"Kenapa panggil dia kakak? Dia itu seumuran denganku!" Daniel protes dengan nada pelan tapi menggeram.
"Ya ampun, aku lupa. Sorry, terlalu bersemangat"
Oke, buah salak siap disajikan. Tanpa biji, tanpa kulit. Keduanya duduk masing-masing di sisi kanan Ezra.
"Kak, makanlah ini."
Ezra sedang serius dengan sebuah buku matematika di tangannya. Melihat ini Erwin seketika mengingat PR matematika yang belum ia kerjakan.
"Ezra, ini makanlah, ini namanya buah salak. Cobalah dan kau akan ketagihan." Erwin memberi sepotong salak mendekat ke wajah Ezra menggunakan tusuk sate. Ezra meliriknya kemudian mengambil itu tanpa kata, lalu benar-benar memakannya.
Menemani Ezra sungguh menegangkan. Tak ada satu pun basa basi dari Erwin yang ia jawab dengan kata-kata. Tatapannya saja mampu membunuh. Erwin tak habis pikir dan bertanya-tanya, apa yang telah terjadi sehingga Ezra jadi sekaku ini.
Sungguh sangat disayangkan jika manusia cantik ini benar-benar Error. Erwin membatin.
.
.
Di rumah sakit. Roze mendapatkan kabar duka tentang mamanya Riri yang kini telah memghembuskan napas terakhirnya. Wanita itu bahkan belum sempat bangun sebentar. Lalu Riri? Dimana gadis itu kini? Tidak ada yang tahu keberadaan Riri. Memikirkan hal ini berhasil membawa airmata lolos keluar.
Roze diam-diam mengkhawatirkan gadis kecil itu. Apa anak itu makan? Apa dia memiliki seseorang yang baik disisinya? Mengingat mantan pasiennya itu membuat Roze kembali ke masa kecilnya.
Menemukan sedikit kemiripan dari kisah hidupnya dan Riri, tentu saja Roze terbawa perasaan. Anak yang selalu dekat dengan ibunya tapi selalu tersakiti. Bedanya, Roze tidak mengalami kekerasan fisik seperti yang dialami Riri.
"Selamat siang, bu Dokter..."
Tersadar dari lamunannya, Roze sontak berdiri karena terkejut. Riri adalah orang yang baru saja menyapanya.
"Riri?"
"Bu dokter, ibuku ... sudah meninggal."
"Ya Riri, bu dokter tahu. Turut berduka, ya," Roze mendekat lalu mendekap gadis itu. "Riri yang sabar, ya ..." Roze dapat merasakan anggukan kepala Riri.
"Ri, lalu bagaimana kamu bisa kemari? Tinggal dengan siapa kamu?"
"Bu Dokter, aku akan pergi cari ayah. Ayah mungkin di suatu tempat bersama keluarganya. Aku akan temukan ayahku."
Menghilang. Riri tiba-tiba menghilang.
"Riri, Riri! Riri, Riri? Riri!"
Roze sekali lagi tersadar. Kali ini ia terkejut mendengar nama Riri keluar dari bibirnya sendiri. Tak ada siapapun di ruangan ini selain dirinya.
Ya ... Baru saja aku berhalusinasi.
Tak ingin pikirannya terus terganggu, Roze beranjak untuk pergi menemui sang ayah di ruang perawatan.
Tuan Lee sudah bangun. Namun demikian, lelaki tua ini belum pulih sepenuhnya. Melihat kedatangan putrinya, ia berusaha tersenyum.
"Ayah, apa hari ini rasanya lebih baik?"
Tuan Lee mengangguk.
"Nak, aku dengar Ezra mengalami trauma berat, apa Kau sudah mendapatkan solusi untuk menyembuhkan dia?"
"Ayah jangan dulu memikirkan banyak hal. Jevan akan mengurusnya." Roze menjawab seadanya dan memang akan seperti itu.
Tuan Lee membenarkan apa yang dikatakan putrinya lewat anggukan.
.
Hari ini Daniel dan Erwin baru saja mengikuti kegiatan ekstrakurikuler panahan untuk persiapan perlombaan yang akan diadakan antar SMA. Sangat kebetulan Daniel terpilih menjadi utusan dari sekolahnya. Untuk itu, Erwin harus stay on menjaganya agar Daniel tetap sehat sampai hari perlombaan tiba.
Mampir ke pusat penjualan alat olahraga, keduanya datang untuk berburuh alat panahan terbaik.
Tak lupa Erwin mengingatkan agar Daniel ingat untuk selalu kenakan topi serta masker untuk mencegah tak ada gadis yang menggila saat bertemu Daniel.
Dengan setia pula Erwin bertanya jawab serta bernegosiasi dengan pramuniaga yang bertugas melayani. Dalam situasi seperti ini tentu saja Daniel akan mengandalkan Erwin.
Dunia mungkin terlalu sempit sehingga keduanya harus bertemu Jevander Park di tempat ini. Oh keliru, keadaan yang terjadi adalah keduanya melihat Jevan sedang melihat-lihat alat panahan, sedangkan pria itu tidak melihat mereka.
"Ayo kita sapa ayahmu." Ajak Erwin.
"Ch, kau saja. Aku tidak mau."
Daniel melirik Erwin tak suka. Dari wajahnya saja kelihatan kalau dia tidak senang akan perkataan Erwin barusan.
"Halo, Pak, Anda disini? Kebetulan sekali."
"O ... Kau, Erwin, datang dengan siapa kemari?" Jevan bertanya ingin tahu. Biasanya, dimana ada Erwin, disitu ada Daniel.
"Aku datang dengan Daniel." Dilihatnya Daniel sedang berpura-pura memegang ini dan itu asal-asalan.
Ya ampun orang ini! Sungguh tidak pandai berakting. Memalukan!
Erwin menjelaskan semua tanpa perlu Jevan bertanya. Mulutnya dengan lancar dan bersemangat memuji kehebatan Daniel dalam olahraga memanah, tembakan panahnya sempurna bahkan sambil menunggang kuda pun, busur panah yang ia lepaskan selalu tepat sasaran. Erwin memuji temannya itu dengan tulus dan antusias, seperti sedang menceritakan kebolehannya sendiri. Jevan menilai bahwa Erwin ini memang sangat tepat menjadi teman baik untuk putranya.
Aku tidak menyangka, putraku memiliki hobi yang sama denganku. Ini sangat membahagiakan.
Oke, putra putrinya memang tidak mewarisi tampang wajahnya, tapi Jevan bersyukur, masing-masing dari ketiga anak itu memiliki kemiripan lain dengannya.
Daniel memiliki hobi memanah seperti dirinya, Ezra yang memiliki makanan kesukaan yang sama dengannya, serta si Darriel yang mewarisi sikap ceria dan wajah ramah tanpa dosa persis dirinya.
"Daniel," Jevan menyapa Daniel yang sedang pura-pura sibuk dan tidak melihat.
"Oh, ya ..." jawab Daniel, kaku.
Pada akhirnya, setelah bujuk rayu Erwin, Daniel membiarkan Jevan membayar tagihan belanjaannya.
"Terima kasih." Ucap Daniel saat mereka keluar dari sana.
"Sama-sama. Apa kalian berdua sudah makan?"
"Sudah,"
"Belum!" Erwin meraba perutnya yang kebetulan sedang kosong. Ia tahu Jevan hendak mentraktir mereka berdua untuk itu ia lagi-lagi ambil kesempatan ini, tak peduli kalau Daniel mengatakan 'sudah'.
Anak bodoh ini! Kenapa dia selalu menghindari ayahnya sendiri? Dasar anak durhaka! Tenang saja Pak Jevan, aku akan berpihak pada anda untuk urusan Daniel. Sedikit merasa kasihan pada orang tua ini yang jelas terlihat ingin memiliki momen dengan putranya tapi selalu diabaikan dengan halus. Erwin tak tega melihatnya.
Jevan masuk ke mobil lebih dulu.
"Win apa kau sudah gila? Dia memang ayahku tapi hubungan kami tidak seperti ayah dan anak pada umumnya."
"Begini kawan, justru karena pria kaya ini adalah ayahmu, kita harus memanfaatkan dia sebaik mungkin." Erwin merangkul sembari menyeret Daniel menyusul masuk ke dalam mobil Jevan.
Setelah menghabiskan sepiring makanan dengan cepat, Erwin meminta izin ke toilet. Sengaja, ia ingin Daniel punya waktu berdua dengan ayahnya.
"Daniel, ayah berencana untuk melamar bunda kalian." akhirnya Jevan memanfaatkan moment empat mata ini untuk mengutarakan rencananya.
"Jangan lakukan. Aku tidak setuju kalian bersama."
"Tapi kenapa Niel? Ayah mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kita."
"Kalau ingin membentuk keluarga utuh, tidak harus menikah dengan bunda. Bunda tidak akan menerima ayah."
"Tapi bundamu itu sudah memaafkan ayah."
"Memaafkan memang mudah. Tapi belum tentu bunda melupakan kesalahan yang ayah lakukan. Dan aku, tidak ingin bundaku hidup dalam ikatan dengan orang yang telah menyakitinya."
"Tidak ada yang tak mungkin Niel, buktinya bundamu sudah menerima dan memaafkan Tuan Lee, kakek kalian."
"Ayah dan kakek sangat berbeda. Bunda memliki darah dan daging kakek di tubuhnya, semantara ayah hanyalah orang luar yang pernah singgah lalu pergi."
"Niel, tapi ayah menyesali semuanya dan ingin memperbaiki keadaan."
"Sebesar apapun penyesalan, semuanya sudah sangat terlambat. Ayah, aku mohon padamu, tolong hargai keputusan bunda untuk tidak menikah. Dia sudah jelas pernah menolakmu. Ayah tenang saja. Tentang kami bertiga, kami akan tetap jadi anakmu. Kuharap kau dan bunda hidup bahagia, meskipun kalian tidak bersama."
"Tidak bisakah Kau mendukung ayah sedikit saja? Ini demi kita semua. Kalian seharusnya memiliki kedua orang tua yang sah dari suatu ikatan pernikahan. Agar orang tidak memandang remeh kalian suatu hari nanti." entah dengan usaha apa lagi, Jevan menyadari bahwa tidaklah mudah bekerja sama dengan Daniel
"Kita tidak bisa memaksa semua orang menilai kita dengan baik karena setiap orang memiliki penilaian berbeda tentang kita. Kami bertiga memang lahir secara tidak sah. Ini memang sedikit memalukan tapi ... untukku tidak masalah sama sekali. Aku hanya perlu mengabaikannya."
.
.
oke,
Part ini cukup.
Ya ampun.. Masih bersambung pula bestie!