
Persis seperti ibunya yang memberi ruang bagi Ezra dan Jevander Park, Daniel pun beranjak untuk menyingkir. Ia merasa bahwa dirinya tidak diperlukan disini
"Niel," Jevan memanggil putranya itu sebelum benar-benar pergi menghindar.
"aku akan keluar. Silakan berbincang dengan leluasa."
"Niel, tolong jangan menghindar lagi. Ayah ingin kita berdamai." permohonan Jevan membuat Daniel harus berhenti melangkah.
"Jangan terbebani oleh sikapku. Anggap saja, dulu bunda berhasil melenyapkan aku sehingga tidak pernah dilahirkan. Kita berdua tidak perlu jadi ayah dan anak." sedikit keras kepala, Daniel kembali bergerak pergi.
"Ayah tahu kau sangat kecewa dan tidak menginginkan kehadiran ayah. Daniel, kau tidak perlu buru-buru memaafkan ayah. Tapi, setidaknya ... terima kenyataan bahwa kita adalah ayah dan anak. Pikirkan yang ayah katakan ini. Sekeras apapun kau menolak, aku adalah ayahmu."
"Aku mengerti." Daniel benar-benar pergi kemudian. Jevan maupun Ezra sama-sama menghembus napas panjang melihat kepergiannya.
"Tak apa Ayah, aku akan membujuknya. Dia akan menurut padaku." Ezra merasa sedikit kasihan melihat kesedihan di wajah ayahnya.
...----------------...
Menjelang malam, Erwin tiba di sebuah taman. Entah ada angin apa, Daniel mengajaknya untuk bertemu di tempat ini. Belum pernahnya Daniel seromantis ini.
Daniel sedang duduk di sebuah kursi pendek. Erwin yang ditunggunya mulai terlihat.
"Tumben Kau tidak sabaran menunggu hingga bertemu di sekolah besok. Apa kau mulai merindukanku?" seperti biasa, ada-ada saja yang Erwin katakan untuk menggoda Daniel.
Daniel menoleh dengan tatapan kosong.
"Kau membuatku takut. Apa ada yang ingin Kau katakan padaku? Apa ada masalah? Jangan membuatku khawatir." Erwin tak berhenti melontarkan pertanyaan. Saking seringnya menghabiskan waktu bersama, keduanya mulai saling mengenal akan kebiasaan dan kepribadian antara keduanya.
"Win. Jevander Park adalah ayahku."
"Ya? AP-APA.......?" Siapa yang tidak kaget kalau mendengar berita yang langsung pada intinya ini? Yang benar saja, ini sungguh berita aneh dan sulit untuk Erwin mempercayainya. Lagi pula, mana mungkin Daniel yang pendiam, cuek yang bahkan senyumannya harus dibayar mahal, merupakan putra kandung seorang Jevan Park yang ramahnya bukan main. Mereka benar-benar tidak memiliki kemiripan.
Daniel memang tidak pandai dalam memulai apa yang ingin ia katakan. Langsung pada intinya pula membuat Erwin hampir berhenti bernapas.
"Aku tidak tahu kenapa harus mengatakan ini padamu. Memang sulit bagimu untuk mempercayai tapi ... kenyataannya memang begitu."
"Ja-jadi, maksudmu, orang itu, ayahmu? Si Nana Nana itu, juga saudarimu?"
Perbincangan berlangsung hanya membahas soal hubungan rumit keluarga Daniel. Erwin benar-benar tak habis pikir mengapa Daniel menolak keras kehadiran ayahnya. Bukankah menyenangkan ketika memiliki ayah kaya raya seperti Jevander Park?
"Sabar ya kawan, kau memang perlu memikirkan ini baik-baik. Kesempatan kau mengenal ayah kandungmu hanya sekali. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Waktu hidup di dunia ini sangat singkat. Aku juga tidak ingin Kau menyesal."
Erwin menepuk bahu Daniel, berharap teman baiknya ini mendapatkan kekuatan.
...----------------...
Roze kembali ke rumah saat waktu sudah malam. Hanya ada Ezra seorang diri, ayahnya sudah tidak nampak. Tapi satu yang nampak berubah, Ezra terlihat lebih bersemangat. Terlihat dari raut wajahnya jika remaja itu sedang bahagia. Ya... Mungkin saja gadis kecilnya ini mendapatkan kelegaan dan ketenangan setelah berbaikan dengan ayahnya.
"Bunda pulang bawa apa? Bunda, ayo makan, Ezra sudah memasak makan malam. Bunda pasti lapar, kan?" hidangan makan malam pun sudah terhidang dengan rapi di meja makan. Ezra pasti sudah berusaha membuka google untuk membuat ini semua.
Roze tidak menanyakan perihal perilaku gadis ini yang tampak sangat berbeda.
Keduanya duduk berhadapan di meja makan.
"Bund,"
"Hmmm?"
"Apa rasanya lezat?"
Sedikit keasinan tidak mampu membuat Roze mengakui bahwa makanan ini kurang memuaskan. "Enak sayang, tapi alangkah baiknya supaya jangan menambah banyak garam."
"Baiklah Bunda, lain kali akan lebih enak."
Keduanya menikmati makan malam dengan tenang.
"Bunda,"
"Apakah ... Aku boleh ... Main ke rumah ayah besok? Ayah akan menjemputku saat dia pulang kerja."
"Kenapa tidak boleh sayang, tentu boleh."
"Aku akan membawa pakaian ganti. Apakah boleh beberapa hari disana? Aku pasti akan pulang ke rumah kita bunda."
"Ya... Tentu saja kau memang harus menjalani kondisi itu mulai sekarang. Kau bahagia kan sayang?"
Ezra mengangguk tanpa ragu. "Iya Bunda, aku sangat bahagia bisa mengenal ayah."
"Syukurlah. Asal kau bahagia, bunda mendukungmu. Darriel juga disana. Kalian harus saling menjaga dan saling mengingatkan. Walaupun mereka adalah kakek, nenek dan ayah kalian, tapi jangan bertingkah sesuka hati disana. Jaga sopan santun. Sehabis makan cucilah piringmu seperti biasa."
Ezra kembali mengangguk paham.
.
Malam semakin larut tapi Daniel belum juga pulang. Roze mulai kepikiran dan mulai menghubungi putranya itu.
[Ya?] suara pelan menyapa dari kejauhan.
[Dimana kamu, Nak? Kenapa belum pulang?]
[Aku di tempat aman yang sepi, bunda. Entahlah, aku ... merasa sedikit malu bertemu dengan bunda untuk saat ini. Aku ingin sendiri dulu, bunda. Jangan mengkhawatirkanku. Aku akan jaga diri.]
Kenyataan bahwa bunda pernah berusaha menggugurkan kandungannya membuat Daniel merasa sedih. Pernah tidak diharapkan untuk lahir ke dunia ini ternyata memberi rasa pahit di hati Daniel.
[Bunda ...]
Roze tidak lagi terdengar namun telpon masih terhubung. Daniel sangat yakin bahwa ibunya masih disana.
[Maaf bunda, karena kelahiran kami, bunda pasti sangat terpuruk saat itu.]
[Apa yang kau katakan itu tidak benar, sayang. Bunda sangat bahagia saat kalian lahir. Ayolah sayang, kau dimana, bunda jemput sekarang ya..] Tak terduga, reaksi ibunya terdengar biasa dan santai saja.
Hening...
[Hei! Kalian adalah satu-satunya alasan bunda harus berterima kasih banyak pada ayah kalian. Karena tanpa dia, bunda tidak akan punya Ezra, Daniel dan Darriel.]
...****************...
Pagi yang cerah membuat hati siapa saja merasakan kesejukan. Kembali bekerja, Roze di sambut dengan sebuket bunga di atas mejanya.
Secarik kertas dengan tulisan...
...TERIMA KASIH UNTUK KEBAIKANMU, ROZE....
...AKU TIDAK AKAN MENGECEWAKAN ANAK-ANAK....
...By Jevan P....
Roze menggeleng malas. Orang ini sungguh tidak punya kemampuan menulis, persis seperti Daniel.
Si Jevan sedang belajar sok romantis sekarang? PD sekali dia memamerkan tulisan tangan yang acak-adul begini.
"Aku memang memaafkanmu Jevan, tapi tolong kau tidak perlu meninggalkan bekas, karena aku sudah lama membakar sampah yang dulu kau tinggalkan untukku."
.
.
Di posisi lain, Jevan melangkah ringan memasuki gedung perusahaan beserta beberapa orang yang berjalan dibelakangnya. Wajah ramahnya terlihat begitu ceria. Memikirkan tentang buket bunga yang tadi ia kirimkan untuk Roze membuatnya senyam-senyum sendiri. Jantungnya benar-benar menggebu seperti orang yang sedang jatuh cinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bestie... Sorry baru up. Soalnya kemarin ikut karnaval. Abis pegal seluruh badan nih🤭