Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Pengakuan Dosa


Rumah sakit.


"Apa benar kakek dan nenek bersedia tanggung resiko dengan keputusan konyol untuk merawatku? Aku ini sangat merepotkan dan tidak berguna sama sekali. Kalian berdua pasti akan menyesal." entah apa maksudnya Darriel mengatakan demikian.


"Tidak ada kakek maupun nenek yang menyesal merawat cucunya. Darriel, kami akan dengan senang hati direpotkan olehmu. Ayolah kita pergi."


Mario dan Jenni membawa pergi Darriel dari rumah sakit setelah semua urusan selesai. Keduanya tahu, Darriel jelas belum menerima mereka sepenuhnya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, keadaan akan berubah jadi lebih baik. Yakin keduanya.


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di perjalanan pulang.


"Bunda, biaya perawatan Darriel, semuanya sudah dibayar oleh kakek yang satunya." Daniel memecah keheningan dalam perjalanan.


"Kakek yang satunya?" Roze mengulang pernyataan sambil bertanya. Namun secepat kilat ia pun langsung paham. "Kakek Lee maksudmu kan? Baguslah," Roze bersikap cuek, seolah itu tidak masalah.


"Bunda tidak keberatan?"


"Kenapa harus keberatan? Meskipun kita berkeras menolak, dia akan melakukannya. Bahkan beliau mendatangkan dokter spesialis jantung dari luar negeri."


"Begitu kah? Dia cukup baik rupanya." puji Daniel.


Ya... Setelah banyaknya hal yang terjadi belakangan ini, Roze berusaha berdamai dengan amarah masa lalunya yang sedianya memang sudah ia lupakan sejak lama. Namun, usahanya itu gagal oleh karena kemunculan orang-orang itu kembali, bahkan dengan cara yang tidak menyenangkan.


Roze kembali harus memendam amarah dan keegoisannya setelah mempelajari beberapa hal, bahwa anak-anaknya memiliki kepribadian yang tidak sama. Roze berjanji akan memberi kebebasan bagi putra putrinya. Jika mereka ingin berhubungan baik dengan ayah mereka, silakan. Itu tidak masalah. Anak - anak berhak diterima dan menerima keluarga itu, bahkan berhak menolak jika tidak ingin.


...****************...


Kembali ke kediaman Roze.


Terlihat Jevan masih disana, masih pada posisi yang sama. Pria itu sepertinya tidak peduli apa kata orang yang melintas, ia tidak malu untuk terlihat seperti orang yang aneh.


"Ezra, ayah memang menikahi ibunya Nana. Tapi kami hanya menikah. Ayah pun setuju menikahinya karena tahu bahwa dia memiliki pria yang dicintainya. Dan dihari yang sama setelah pernikahan ibunya Nana pergi untuk merawat ayah Nana yang sedang sakit parah. Kau pernah dengar kata 'balas budi?' ayah menikah denganya karena alasan itu."


Tak peduli Ezra mengerti atau tidak, akhirnya Jevan menjelaskan semua pada gadis remaja itu, semuanya, termasuk waktu ia kembali ke Amrik untuk mencoba kembali bertemu Roze. Ya, bertemu, setidaknya mendapatkan maaf. Jevan mengakui pada Ezra bahwa dirinya memang jahat pada Roze dalam banyak hal.


Ezra kembali terdiam. Ia menangis sedih walau tak terdengar. Kedengarannya, Jevander pun tersiksa oleh perasaannya sendiri selama ini.


"Ezra, terima kasih karena sudah hadir di dunia ini. Maaf karena ayah datang sangat terlambat."


"Apa yang Kau lakukan di sini?"


Dengan pelan Jevan mengangkat pandangan.


"Roze?" Jevan salah tingkah saat matanya bertemu dengan tatapan Roze dan anak laki-lakinya. Ia pun berdiri.


"Maaf, aku datang ke sini."


"Ezra, Kau tidak persilakan tamu untuk masuk?" Roze yakin bahwa Ezra mendengar.


"Darriel sudah pulang dan dia dibawa oleh ayahmu." terlihat jelas wajah Jevan menggambarkan kebahgiaan setelah mendengar bahwa putranya yang satu berhasil di bawa oleh Mario Park.


Roze kembali mengetuk pintu.


Ceklek.


Pintu yang sejak tadi terkunci, sudah terbuka. Ezra menghilang ke kamarnya.


"Roze, bolehkah aku masuk? Aku ingin mengobrol dengan anak-anak." meski terdengar memaksa, Jevan teguh mencoba.


"Silakan!"


Roze masuk lebih dulu, disusul oleh Daniel dan Jevan di belakangnya.


"Silakan berbincang dengan leluasa. Maaf, rumah kami hanya tampak seperti ini."


Roze meletakkan barang bawaannya.


"Ezra! Keluarlah! Jangan pura-pura abaikan ayahmu." Dengan suara dingin Roze meminta Ezra untuk keluar dari persembunyiannya.


"Daniel, ambilkan minum untuk ayah kalian. Bunda mau istirahat."


Roze menghilang di balik pintu kamarnya hanya dengan beberapa langkah. Jevan menatap saja pintu itu lama, tanpa tahu harus bagaimana.


Tug,


Daniel letakkan gelas air mineral dihadapan ayahnya yang sibuk memandangi pintu kamar ibunya.


"Trima kasih, Niel."


Anaknya itu tidak menjawab. Hanya duduk tegak dengan muka tanpa ekspresi.


"Bagaimana sekolahmu? Apakah lancar?" Jevan membuka pembicaraan.


"Tentu saja."


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"


"Semua lancar."


Bicara dengan Daniel, harus siap menjadi lawan bicara yang aktif. Jevan harus punya banyak bahan pertanyaan.


Ceklek.


Pintu kamar Ezra terbuka, membuat Jevan merasa lega. Namun, bukan menghampiri ayahnya tapi ia berbelok ke kamar sang bunda yang berada persis disebelah kamarnya.


"Bunda..."


"Bunda!"


Sambil mengetuk, ia terus panggil nama ibunya yang sudah berhari-hari tidak bertegur sapa dengannya.


Pintu terbuka. Tampak Roze telah mengenakan pakaian yang lebih santai.


Ezra memeluk ibunya. "Bunda, maafkan aku."


Ezra sudah tidak mampu lagi membendung perasaan sedih dan bersalahnya. Ia ingin berbaikan dengan sang bunda sekarang juga.


"Kenapa minta maaf? Kau tidak salah."


Tidak seperti Daniel yang tenang, Jevan dibuat penasaran. Apa yang trlah terjadi antara Ezra dan Roze? Itulah yang ia pikirkan dengan pandangan tidak lepas dari keduanya.


"Bunda, maaf karena aku memarahi bunda waktu itu."


"Ya sayang, bunda juga ya, kau benar, seharusnya ... bunda mengatakan tentang kalian sejak awal untuk menahan agar ayah kalian tidak tinggalkan kita." Roze melepas pelukan lalu memyentuh rambut panjang putinya yang tampak lusuh tak terawat.


Jevan kembali berdebar. Ini adalah tentang dirinya dan masa lalu.


Roze menatap nanar putrinya ini, ingatan membawanya ke mada lalu, saat baru memgandung anak-anaknya.


"Saat itu bunda egois. Bunda bahkan telah melakukan ... usaha untuk menghentikan kehidupan kalian. Bunda adalah orang yang menyebabkan Darriel sakit-sakitan."


Deg...


Semakin berdebar dengan perasaan campur aduk, tidak tenang, Jevan berdiri ditempat. Ini terasa seperti Roze dengan sengaja memperdengarkan hal ini padanya.


Tidak hanya Jevan, Daniel juga merasa tertarik dengan bagian ini. Ia pun tanpa sadar berdiri, dengan tatapan tak percaya.


"Bunda bilang ... apa?"


Ezra merasa merinding. Bukan kah baru saja bunda mengakui sebuah dosa besar?


"Bunda tiba-tiba kehilangan. Bunda kebingungan. Bunda kecewa dan harus menanggung malu sendirian. Rasanya bunda akan hilang akal sehat jika mempertahankan kalian, tanpa seseorang disamping bunda. Bunda bertekat melenyapkan janin yang sedang tumbuh tanpa pikir panjang."


Ezra jatuh terduduk dilantai. Seluruh tubuhnya bergetar. Ia menggeleng dengan wajah ketakutan.


Jevan beserta Daniel mendekat namun Roze berjongkok lebih dulu. Dengan sentuhan lembut ia peluk putrinya itu. "Jangan takut sayang, bunda tidak akan apa-apakan kamu lagi."


.


.


Bestie! Makasih dukungannya ya.. Sehat selalu....