
"hei, sayang..."
"Hmmm. Bunda," Darriel terlihat sudah kembali fresh.
Roze duduk di kursi yang ada di samping pembaringan Darriel.
"Riel, kalau nanti sudah waktunya keluar dari rumah sakit, apa yang pertama kali ingin kau lakukan, hmm?"
"aku ingin beristirahat di rumah ayah. Bolehkah, Bunda?"
"Dirumah ayah? Kenapa? Bukankah kau ingin kita pindah dari kota ini?"
Darriel menggeleng pelan.
"Bunda, kurasa ayah tidak terlalu buruk. Karena jantungku masih diberi kesempatan berdetak, aku berpikir untuk berbaikan dengannya. Bolehkah?"
Roze mengangguk meski tak sanggup menjawab iya. Ia juga tidak tahu apa yang telah terjadi sehingga putranya ini berpikir tentang ayahnya.
"antara orang tua dan anak memang harus memiliki hubungan yang baik." Roze merespon singkat.
"Bunda, bunda pernah bilang bahwa ayah dengan kita tidak ditakdirkan bersama. Tapi nyatanya, ayah sangat menginginkan kita."
Darriel menunggu respon sang bunda yang ekspresi wajahnya mendadak berubah.
"Sebenarnya apa yang membuat kalian berpisah? ayah yang tinggalkan bunda atau ... Bunda yang tidak menginginkan ayah kami?"
Roze terpaku dalam perasaan tak menentu.
"Darriel, kalau keinginanmu adalah berbaikan dengan ayah, silakan. Bunda sama sekali tidak keberatan. Biar bagaimanapun, kau berhak atas ayahmu demikian juga sebaliknya. Soal bunda dengan ayah, kalian tidak perlu mengetahuinya."
"Kenapa bunda tidak bisa berterus terang? Apakah masalahnya ada di bunda? Memangnya seburuk apa bunda sehingga ayah tidak menginginkan bunda?"
Amarah penuh tiba-tiba menguasai. Roze sudah berdamai dengan masa lalu, tapi ini sama saja dengan mengorek luka dalamnya yang sudah tertutup.
"Bunda, ayah sangat menyesal telah meninggalkanmu. Ayolah jangan egois. Beri dia kesempatan agar kita berlima bisa bahagia bersama di masa depan." Darriel memohon dengan muka kasihan.
"Istirahatlah, kau tidak boleh terlalu lelah." Roze pergi membawa amarahnya. Belum terlupakan kemarahan Ezra kemarin, hari ini Roze dibuat emosi karena perkataan Darriel.
.
PARK FASHION
Roze tak peduli akan tatapan semua orang yang ia lewati.
"Permisi, apa saya bisa bertemu Jevander Park?"
"Maaf, apa anda sudah membuat janji?" dengan ramah pula petugas di kantor itu kembali bertanya.
Roze menggeleng.
"Kakak?" Roze menoleh. Jungky menghampirinya. Roze tidak perlu bertanya mengapa pria itu berada ditempat ini.
"Kau ingin menemui Jevan? Ayo ikut, aku akan mengantarmu."
Rahang mengeras yang terlihat jelas, Jungky menebak bahwa kakaknya sedang marah.
"Kak, masuklah ke ruangan itu." Jungky menunjuk ke arah pintu yang tak jauh dari lift yang baru saja mengantarkan keduanya.
Jevan sontak berdiri dari duduknya, terkejut. Melihat siapa yang ada di hadapannya, Jevan meminta sang sekertaris yang baru saja mengantarkan beberapa file, untuk keluar.
"Apa yang sudah kau katakan?"
Jevan disambar dengan pertanyaan membingungkan dari Roze Moza yang mendadak muncul dihadapannya.
"Maaf, Roze, Kau ... Duduklah, kita bicara."
"Jevan, anak-anak menyalahkan aku atas masa lalu kita. Kenapa mereka tidak punya ayah seperti orang lain, mereka sebut itu keegoisanku yang tidak mempertahankanmu disisi kami." Roze tidak menanggapi permintaan Jevan untuk duduk.
"Roze, sorry. Aku tidak bermaksud begitu."
"Jevander, bisakah kau menghilang dari pandangan anak-anakku? Tolong pergilah, kembali ke negara asalmu dimana anak-anakku tidak akan menemukanmu lagi."
"Aku akan pergi jika kau dan anak-anak ikut denganku dan mau hidup bersamaku."
"Aku sedang serius, Jevander Park!"
"Aku juga serius, Roze Moza!"
Suasana tenang di ruang kerja Jevan berubah tegang.
"aku tidak pernah ingin merahasiakan kehamilanku darimu. Aku ingin mengatakannya waktu itu tapi Kau terburu mengucapkan selamat tinggal lalu pergi. Jevan, aku bahkan mengajakmu hidup bersama meskipun tidak menikah, tapi Kau tidak mau."
"itu karena aku tidak tahu kondisimu, Roze. Percayalah, aku sangat menyesal untuk itu."
"Jevan, ..." Roze sangat marah sampai rasanya ingin menangis.
"Waktu itu aku memang tidak sanggup jujur padamu bahwa Ayah dan ibuku meninggalkanku sendirian sejak aku masih sangat muda. Mereka memilih kebahagiaan masing-masing tanpa membawaku. Aku kesepian dan haus akan kasih sayang orang lain. Malam itu aku memintamu tetap denganku meski kau akan menikahi orang yang pantas. Meskipun tidak mencintai aku, setidaknya waktu itu tetaplah bersamaku karena rasa kasihan."
Roze terdengar ingin menangis di ujung kalimatnya. Jevan terasa sedabg dipukul berulang kali. Sakit rasanya mendengar hal ini.
"Aku, begitu gila mencintaimu, menyukaimu, tapi kau, membuangku karena berbagai alasan. Jevan, sekarang kau muncul bersama keinginan konyol untuk kembali bersama bahkan menawarkan pernikahan bahagia, bulshiit! Manusia macam apa Kau ini?"
"Roze! Tenanglah. Aku tahu kau marah tapi ..."
"Kalau kau sangat menginginkan anak-anak, silakan. Buktikan bahwa Kau tulus. Buat mereka nyaman denganmu. Anak-anak tidak perlu mengetahui apa alasan kita berpisah, aku tidak akan mengatakan bahwa kau meninggalkanku karena aku wanita terhina. Karena aku, tidak ingin anak-anakku membenci ayah mereka. Aku tidak ingin mereka menjadi sepertiku yang tidak bisa memaafkan." teringat akan ayahnya, tagisan Roze kembali ingin meledak.
Rasa ini sungguh menyiksanya. Roze segera pergi dari sana.
Selagi wanita itu masih terlihat, Jevan mengejarnya.
"Roze, tunggu!"
Roze sudah tiba di dalam lift, hendak kembali ke lantai dasar. Ia hanya menyorot tatapan tajam ke arah Jevan yang menahan langkah di depan lift, tidak berani untuk masuk..
"Enyahlah!"
.
.
Semangat guys....