
Rumah Sakit.
Daniel sama sekali tak menyangka jika kakak perempuannya akan mengalami luka separah ini.
Siapa yang berani melakukan ini terhadap kakak? Kenapa kakak membiarkan dirinya dipukul sebanyak ini? Bukankah mudah bagi seorang Ezralia untuk menghindar dari serangan?
Karena beberapa bagian tangan dan kakinya yang retak, membuat Ezra harus mendapatkan beberapa gips.
Ini adalah pengalaman pertama bagi Daniel melihat kakak perempuannya dikalahkan oleh orang lain.
Begitu banyak luka, memar, bahkan kedua kakinya mengalami tulang retak.
Persis seperti dugaan Roze, benar bahwa Jevander mengalami patah tulang belakang. Hal itu membuat Jevan harus terbaring di meja operasi malam ini.
.
Roze kembali termenung. Begitu banyak kejadian tak terduga yang terjadi di depan matanya hari ini.
"Bunda, saat ini kakek sudah dipindahkan ke ruang perawatan intensif."
"Daniel, bisakah duduk disamping bunda?" seolah tak mendengar apa yang disampaikan oleh Daniel sebelumnya.
"Ya Bunda. Aku disini." bukan duduk di samping ibunya, Daniel berjongkok dihadapan Roze dan menyentuh kedua tangan yang terasa lebih dingin dari sebelumnya. Dapat Daniel rasakan tangan dingin milik ibunya itu memberinya genggaman.
"Kau satu-satunya anak bunda yang selalu sehat. Baik secara fisik, maupun mental." sungguh Daniel belum paham apa yang dimaksud ibunya, tapi dengan patuh ia dengarkan dan membalas tatapan sendu ibuya ini.
"Jangan sakit ya Nak, jangan terluka, dan jangan pernah melukai orang lain." disentuhnya kepala putranya ini. Air mata lagi-lagi tak terbendung.
"Bunda jangan menangis. Aku tidak punya alasan untuk dilukai ataupun melukai orang lain. Orang lain memang tidak penting bagiku, tapi meski begitu aku tidak akan merugikan dan melukai mereka."
"Daniel, bolehkah bunda memelukmu?"
"Tentu saja." Daniel memberi pelukan lebih dulu.
Apa yang sedang ditakutkan oleh bunda? Aku merasa bunda sedang ketakutan, kebingungan dan sangat sedih.
"Bunda, tidak ada yang lebih berarti untukku selain Bunda, kakak, Darriel dan Erwin. Kalian adalah orang-orang yang sangat berharga bagiku di dunia ini. Aku akan ada untuk kalian sampai kapanpun. Jadi Bunda tenang saja. Jangan mengkhawatirkan aku berlebihan."
.
...****************...
Kantor polisi.
Memenuhi panggilan sebagai saksi, Roze hadir seorang diri. Tapi tidak, Mario Park rupanya menyusul. Pria tua itu tidak ingin ketinggalan karena ini menyangkut peristiwa yang mengorbankan anak cucunya.
Keduanya keluar dari mobilnya masing-masing.
"Pak, Anda juga datang?" Mario mengangguk.
"Ayo kita masuk, Roze."
Duduk berhadapan dengan dua orang petugas, pertanyaan pun dimulai oleh sang petugas.
"Anda adalah orang tua dari korban E (Ezralia) apakah anda mungkinmengenal wanita ini?" dan yang dimaksud adalah korban yang satunya, ibunya Riri.
"Saya tidak mengenalnya dengan baik. Tapi ... pernah beberapa kali kami bertemu atas nama orang tua pasien dan dokter anak." jawab Roze dengan lugas.
Roze pun tanpa ragu memberi keterangan mengenai pengancaman dan tuduhan yang diberikan oleh wanita itu terhadap dirinya.
Memperhitungkan laporan dari Roze ini, para petugas lalu memperlihatkan isi rekama CCTV di tempat kejadian perkara.
Disana terlihat dua hari sebelumnya seorang anak perempuan kecil mengendap keluar rumah pada pukul 10 malam. Anak itu tak lain ialah Riri, pasirn yang pernah dirawat oleh Roze.
Roze pun kembali mengingat akan anak itu, yang pernah mengeluh tentang sang ibu yang sering memukulnya sejak kecil. Teringat akan pertanyaan anak itu bahwa apakah dia boleh membalas ibunya, saat itu Roze hanya sekedar menjawab dan menyarankan anak itu untuk sebaiknya bersembunyi saja.
"Dari pernyataan sdr. Roze, kami akan kembali melakukan penyelidikan lanjutan. Tapi ... Silakan lihat lanjutan rekaman video ini."
Rekaman Video kembali berputar. Itu adalah moment ketika Ezra tanpa ragu membuang wanita itu hingga mengguling sampai ke lantai dasar.
"Bagaimana menurut anda tentang remaja ini? Tidak kah dia terlihat sangat kejam?" Tak hanya Roze, Mario Park pun ikut merinding.
"Apa kalian ingin mengatakan bahwa cucuku terlihat seperti seorang penjahat?" Mario mulai bersuara ketika melihat raut wajah Roze berubah pucat.
"Kami akan mendalami ini setelah kedua korban telah sadar. Untuk saat ini cukup dulu. Terima kasih telah bersedia memenuhi panggilan kami."
Keluar dari sana, Roze dan Mario tak banyak bicara. Keduanya masing-masing sibuk dengan pikirannya.
Tiba di samping mobil.
Roze tampak sangat tidak nyaman. Mario mendektinya. "Aku mengerti bagaimana perasaanmu, Nak. sebagai kakeknya, aku juga merasa sangat kacau memikirkan ini." Mario memepuk baha Roze, memberinya perhatian.
"Maafkan aku, aku sudah sangat berusaha memberinya pendidikan yang benar. Menjadi teladan yang baik. Tapi putriku,-"
"Sudahlah Roze, jangan bersedih. kita akan bersama-sama membimbingnya agar menjadi orang baik. Aku akan hidup lebih lama lagi agar bisa melihat cucu-cucuku itu tumbuh sampai dewasa dan menjadi orang baik."
Roze tak bergeming.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ezra dan Jevan sengaja ditempatkan di ruangan yang sama oleh keluarga.
Seorang remaja tampan dengan seragam sekolah lengkap mendatangi ruangan itu sambil membawa sebuah buket bunga yang ia sembunyikan dibalik punggung. Dia Arven, yang datang unyuk menjenguk Ezra, sepupu cantik kesukaannya.
"Hai, lihatlah, oppa ganteng ini sedang duduk disampingmu. Aku membawamu bunga. Kau pasti suka. Ezra, bangunlah sebentar."
"Arven, Kau datang sayang?" nenek Jenni membawa beberapa makanan ditangannya.
"Nenek, aku ingin makan yang nenek bawa itu."
"Jangan pura-pura minta makanan. Kenapa pegang-pegang tangan Ezra?" Nenek hampir melotot tak suka. Menggelikan sekali tingkah cucunya ini.
"Nek, dia ini akan menjadi wanitaku dimasa depan. Memangnya ada yang salah?"
"Kalian sepupu Arven, lagi pula kalian masih sangat muda. Sekolah yang benar dulu baru pikir yang aneh-aneh."
"Tidak masalah, Nek. Selagi bukan kakak beradik kandung."
"Arven, pergilah, renungkan kembali kegilaanmu ini. Bawa pergi bunga menggelikan itu. Cari pacar lain saja, jangan cucu nenek!"
Aku sudah curiga akan sikap anak ini dari awal. Ini tidak bisa dibiarkan. Kurang luas apa dunia ini menurutnya, sampai-sampai tidak ada lagi perempuan lain selain Ezra sepupunya sendiri.
Arven pergi dengan perasaan sedikit kesal. Baru kali ini sang nenek tidak memberinya dukungan atas hal positif yang ia inginkan.
...****************...
Di tempat lain.
Roze kini berada di ruang rawat ayahnya bersama nyonya Lee.
"Nak, apa Kau sudah makan? Ini makanlah dulu." layaknya seorang ibu, Nyonya Lee mengingatkan Roze untuk makan, takut jika Roze melewatkan waktu makan dikarenakan banyaknya hal yang harus ia pikirkan bersamaan.
"Trima kasih, ... Nyonya," Roze meraih kotak makanan itu untuk ia nikmati. Tidak apa, meski baru saling kenal tapi tidak buruk untuk menerima niat baik seseorang.
Jungky muncul dari arah pintu. Ibu dan kakaknya sama sekali tidak menyadari akan kedatangannya.
Seandainya sedari dulu kakak sudah berada dikeluarga Lee, mereka berdua ini pasti akan sangat akrab, karena pada dasarnya mereka sama-sama orang baik. Tapi ... yasudahlah, belum terlambat jika mau memperbaiki keadaan.
"Roze, aku ... Ingin jujur."
"Ya?" Roze menatap bingung dengan rasa penuh tanya. Soal apa lagi nyonya Lee ini ingin jujur? Batinnya.
"Aku, ... Merasa cemburu saat ... ayahmu kau panggil ayah, sedangkan aku, kau terus menyebutku nyonya Lee. Sebaiknya kau panggil aku ibu saja."
Deg...
Apa ini? Memangnya aku berhak memanggilnya ibu? Diakui oleh ayah saja itu suatu anugerah yang syukur-syukur aku dapatkan. Aku hanya ... tidak ingin terlalu serakah untuk memiliki keduanya.
"Mmmm... baiklah."
Hanya 'baiklah?' Roze, ... Kau benar-benar mirip Tuan Lee di masa lampau. Terkesan dingin, tapi baik dan penyayang.
"Permisi..."
Sepasang orang tua muncul tiba-tiba, memecah keheningan. Nyonya Lee seketika berdiri ketika melihat sosok mereka. Jangan lupa senyum hangatnya yang begitu tulus.
"Gina, Stefan, aku tidak menyangka kalian berdua sudah berada di negara ini."
"Nyonya Lee, apa kabarmu?" Wanita tua itu mendekat. "Aku datang untuk menjemput putriku, yang baru kembali setelah 40 tahun."
"Sssi-siapa yang Kau maksud?"
Tampaknya nyonya Lee benar-benar tidak paham.
.
Bersambung...