Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Traktir Seisi Kantin


"Siapa yang kau maksud dengan putrimu, Gina?"


"Wanita yang berada disebelahmu itu, Nyonya Lee."


Mendengar pernyataan ini, spontan Nyonya Lee melindungi Roze dibelakangnya. "Ini tidak lucu, nyonya Yoris. Dari mana Kau bisa seyakin itu?"


"Besanku, dia yang mengabariku. Kau tahu, saking bersemangatnya aku, walau sedang berada di belahan dunia lain, aku pulang untuk menemuinya. Tidak, persisnya mungkin 38 tahun yang lalu aku kehilangan dia. Agar tidak kebingungan akan maksudku, Nyonya Lee, silakan Kau lihat dokumen ini." Gina menyerahkan sebuah map coklat pada Nyonya Lee.


Karena penasaran, Nyonya Lee membukanya.


Mengejutkan! Satu hal yang baru ia ketahui, rupanya Roze Moza pernah diadopsi oleh Gina dan Stefan saat berumur dua bulan.


Ada banyak foto - foto Roze saat bayi hingga berusia 2 tahun beserta data-data lengkapnya.


Alova Yoris, begitulah ia dinamakan oleh Stefan dan Gina saat itu.


Semakin membuat nyonya Lee terbelalak ketika menemukan bahwa saat Roze berusia remaja, sepertinya Helena telah kembali menghubungi Gina untuk mengambil kembali putrinya. Sungguh Helena ini menganggap hidup putrinya hanya mainan.


Roze pun ikut tak bisa berkutik seperti nyonya Lee. Jujur, melihat kembali masa lalunya bersama foto-foto ini begitu mencubit perasaan.


Lalu apa artinya semua ini? Setelah berusia 40 tahun dan berhasil melewati begitu banyak kisah sendirian, semua ini tak berarti lagi bagi Roze. Orang tua angkat? Ia sama sekali tidak menyimpan memori tentang mereka.


"Tidak perlu berpikir keras, Nyonya Lee. Sekali pun aku menyeretnya pergi, aku tidak akan mampu. Aku sadar bahwa sudah sangat terlambat bagiku untuk menemukannya." Gina mendekat ke harapan Roze. "Kau memang pernah menjadi putriku satu-satunya. Roze, bagiku ... Kau tetaplah Alova Yoris." tanpa permisi, yang katanya mama Gina ini memeluk Roze dengan penuh hangat.


Pelukan ini ... pelukan yang begitu hangat dan tulus. Pelukan yang bahkan tidak kudapatkan dari perempuan yang telah melahirkanku.


"Sayang, saat orang-orang kembali melepaskanmu, ingatlah bahwa kau punya keluarga Yoris yang akan menyambutmu dengan tangan terbuka."


Roze mengangguk dengan perasaan haru penuh bahagia. Ia tak menyangka bahwa ada orang yang begitu kehilangan akan dirinya dimasa lalu, sementara ada pula yang meninggalkannya begitu tega.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya di kediaman keluarga Yoris.


Sebuah berita diumumkan ditengah keluarga setelah Stefan dan Gina berhasil memgumpulkan ketiga putra serta menantu dan cucu mereka untuk duduk bersama.


"Saudari kalian, Alova Yoris, dia sudah kembali."


"Benarkah?" kakak tertua adalah yang terlihat paling terkejut. Siapa lagi kalau bukan Arsen, papanya Arven.


"Tapi untuk pulang ke keluarga kita itu tidak mungkin. Karena dia lebih dulu bertemu dengan ayah kandungnya dan masalah diantara mereka telah selesai."


"Dan yang belum kalian ketahui, dia adalah Roze Moza, yang memiliki anak dengan Jevander Park."


Apa? Jadi... Onty baru itu adalah mamanya Ezra? Ya ampun! Dunia kenapa terlalu sempit? Arven mulai berdecak dalam hati. Belum cukupkah aku bersepupu dengannya sebagai anak dari adiknya mama? Kenapa lagi bundanya itu jadi adiknya papa? Kalau begini, semua orang pasti akan menentangku untuk mengencani Ezra. Arven mulai menebak-nebak akan situasi percintaannya dimasa depan.


"Roze Moza? Ya Tuhan! Dia sahabatku saat Sekolah Menengah di Seoul, Pah. Bisa-bisanya dia terjebak dalam cinta palsunya si Jevander Park itu? Aku perbah memukul Jevan di sekolah, Itu karena dia menyakiti Roze. Ya ampun Roze, jauh-jauh pindah ke Amrik rupanya dia tetap bodoh dalam menilai orang." Kim Rain Yoris, putra ke tiga Stefan, menjadi yang sangat terkejut saat mendengar nama Roze Moza disebutkan. Tentu saja, karena Roze adalah sahabatnya. Ia pun tal menyangka jika seharusnya mereka berdua sama-sama dirawat oleh keluarga Yoris sebagai putra putri angkat.


Kim Rain Yoris kembali merasa kesal setelah baru mengetahui hal ini setelah belasan tahun. Ia mengira bahwa sahabat lamanya itu saat ini tengah bahagia dengan seorang pria, tapi rupanya ...


Segera keluarga itu mengatur jadwal makan malam bersama Roze dan ketiga anak-anaknya. Merencanakan sambutan kecil sebagai tanda bahwa keluarga Yoris tidak pernah melupakan Roze alias Alova Yoris.


...****************...


"Win! Win! Tunggu!"


"Apa Niel? Cepatlah! Aku sudah sangat lapar!" Erwin bergegas melangkahkan kaki menuju kantin mumpung lagi istirahat.


"Aku juga lapar dan aku akan mentraktirmu."


"Baiklah, kalau begitu aku akan makan banyak. Eh, tapi biasanya Kau selalu membawa bekal. Kenapa dengan kali ini?" tak biasanya Daniel ke sekolah tanpa bekal sehatnya.


"Bunda sangat sibuk. Aku sudah beberapa hari tidak bawa bekal. Kau baru sadar?"


"Hah! Memangnya aku perhatian? Mana aku tahu kalau Kau tidak bawa bekalmu."


Tiba di meja pojok kantin. Erwin benar-benar makan besar seperti katanya.


"Trima kasih Kawan. Kau adalah temanku yang paling baik tanpa pamrih, tidak seperti si Rahayulia si tukang nyontek PR-ku tapi belum satu kali pun mentraktirku. Dasar tidak tau balas budi." pujian singkat dari Erwin membuat seisi kantin menoleh. Pasalnya, terdengar nama sang ketua kelas dominan itu keluar dengan lantang dari mulut Erwin.


"Erwinnn!"


"Astaga, dia dengar?" Erwin nampak panik sementara Daniel biasa saja tanpa merasa bersalah. Ya emang gak bersalah sih. Rahayulia yang diam-diam mereka juluki mbak Yul itu melangkah dengan wajah geram. Sudah pasti Erwin akan tamat.


"Kau bilang apa? Gosipin aku sepagi ini?"


Erwin meninggalkan tempat duduknya lalu berdiri dibelakang Daniel. Tak lupa juga piring makannya ia angkut sekalian.


"Daniel, minggir atau kuah bakso ini akan menghujani kepalamu juga." Rahayu tak peduli lagi akan status Daniel yang seorang seleb tiktok dadakan.


"Semua orang, silakan kembali makan dengan nyaman. Aku akan mentraktir kalian semua. Tolong, lupakan apa yang baru saja Erwin katakan. Dia hanya bercanda."


"Apa?" Rahayulia sepertinya mulai tergerak. Daniel cukup memgenal karakter ketua kelasnya ini, si pecinta gratisan.


"Kalian boleh nambah kalau mau."


"Daniel, apa kau serius?" Yulia mulai melupakan perasaan marahnya terhadap Erwin.


"aku serius! Kapan aku pernah main-main?"


Dalam sekejap kantin kembali heboh dengan suara dentingan sendok garpu dan piring yang bertabrakan.


"Eh Niel, kau mentraktir semua orang? Please! Hidup ini terus berlanjut. Belum tentu kau cepat mati. Bagaimana kalau kau tidak sempat menabung lalu bangkrut?" Erwin mulai perhitungan, bahkan bukan dirinya yang mengeluarkan uang. Ia hanya khawatir kalau Daniel akan terus mentraktir seisi kantin. Masalahnya, perihal mentraktir ini sudah sekian kalinya dilakukan Daniel.


"Tenang saja, Win. Jangan cemaskan masa depan. Kau mau dengar sebuah rahasia?" Daniel memberi kode agar Erwin mendekat.


Daniel pun berbisik. "Ayah dari ibuku sangat tajir. Semua sahamnya yang ada di Park Fashion sudah menjadi atas namaku."


"Haa?" Erwin terkejut. "Bukankah pemilik Park Fashion adalah ayah dari ayahmu?"


Daniel mengangguk.


Keduanya menyelesaikan makan dan Daniel melakukan pembayaran. Erwin yang masih penasaran membawa Daniel keluar dari kantin menuju tempat yang sepi.


"Jadi kedua kakekmu adalah orang sukses?"


Daniel lagi-lagi mengangguk datar.


"Ya Tuhan. Kau luar biasa, tapi kenapa aku tidak merasa iri?"


"Kau memang tidak perlu merasa iri. Kita berdua akan sama-sama menikmatinya."


Erwin melotot. "Apa maksudmu? Jangan melibatkanku dengan rencana kotormu." Erwin masih mengira bahwa Daniel tidak benar-benar menganggap kakek neneknya.


"Rencana kotor apa? Kita akan memanfaatkan uang banyak dari kakekku untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus bekerja gila-gilaan seperti sebelumnya.


"Apa maksudmu? Aku tidak paham"


"Kuliah di Luar Negeri. Kakek Mario menawarkanku untuk kuliah di luar dan aku boleh mengajak teman. Temanku itu adalah Kau. Siapa lagi?"


"Luar Negeri? Ya Tuhan. Aku takut membayangkannya. Kau tidak serius kan?"


"Aku tahu kakekku sedang berusaha mengambil hatiku. Melihatnya begitu bersemangat membuatku merasa kasihan padanya. Biar bagaimanapun, dia tetap kakekku. Aku tidak bisa terus menolaknya. Kata bunda ... aku tidak boleh mengabaikan kepedulian keluarga."


"Jadi kau sudah menyetujuinya?" Erwin sambil memijat kepalanya yang mendadak ringan.


"Aku bilang aku akan memikirkannya. Lagipula masih ada waktu satu tahun."


Erwin mengangguk anggukkan kepala. "Baiklah, kita berdua akan memikirkannya. Kalau memang kau tidak bisa berjauhan denganku, terpaksa aku akan mengikutimu."


Lah, kenapa terdengar seperti mereka adalah sepasang kekasih? Daniel hampir saja menjewer kuping Erwin, merasa geli. Tiba-tiba saja keduanya tertawa lepas, menertawai apa yang sedang mereka pikirkan.


Suara bel berbunyi, tanda harus balik ke kelas, menjumpai berbagai persoalan dari guru matematika. Tertawa lepas harus berakhir dulu sampai disini.


"Ayo kawan." saling merangkul, keduanya berjalan bersama.


"Win,"


"Hmmm"


"sebesar apapun kau menyukaiku, tolong jangan pernah jatuh cinta padaku. Itu hanya akan merusak pertemanan kita berdua."


"Csssh, aku masih sangat normal,"


.


.


Abis ya...


Sampai jumpa...