Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Miss Indonesia - Error


[Apa bunda tidak merindukanku?]


[Tentu saja rindu. Ayo bertemu. Bunda akan menemuimu. Tunggu bunda ya,]


[Oke bunda, aku menunggu bunda.!] Yakin bahwa ibunya akan segera muncul, Darriel bersiap diri dengan mengatur penampilannya.


Tak sabar menunggu, Darriel keluar untuk menghampiri penjaga gerbang kediaman keluarga Park.


[Paman, seorang wanita cantik akan datang. Kalian harus tahu bahwa dia adalah bundaku. ] kedua penjaga mengangguk tegas.


Tin tin,


Mobil bunda benar-benar tiba sesuai perkiraan.


Kedua penjaga dengan sigap membuka gerbang tinggi itu namun siapa sangka mobil itu terhenti dan tidak berniat untuk melewatinya.


Sebelum ibunya keluar dari mobil, Darriel lebih dulu melangkah menghampirinya. Alhasil, sebuah senyum manis menyambutnya ketika Roze keluar dari sana. Melihat wajah cantik ibunya yang nampak bahagia, Darriel merasa senang.


"Waw! Anakku benar-benar semakin tampan."


"Tentu saja, siapa dulu yang melahirkanku. Bunda, ayo kita masuk dan minum segelas air." Darriel memberi tangannya untuk membawa bunda ke dalam.


Roze tersenyum dengan lembut lalu menyambut tangan itu dan menggenggamnya. "Tidak perlu masuk sayang. Melihatmu sehat dan baik-baik saja sudah lebih dari cukup."


"Begitukah?" Meski sedikit kecewa, Darriel tetap menghargai keinginan ibunya. "Bunda, apa kakak-kakakku baik-baik saja? Apa mereka sehat?"


"Baik sayang, tapi kak Ezra sedikit kurang sehat. Oia Riel, apa kamu nyaman disini? Orang-orang baik padamu, kan?" Hanya mengetahui bahwa putranya benar-benar aman di kediaman asing ini, Roze rasa itu lebih dari sekedar kabar baik.


"Sayang, bunda rasa harus segera pergi. Kau masuklah ke dalam."


"Bunda, bagaimana kalau aku ikut pulang denganmu? Disini memang aman dan nyaman, tapi, aku merindukan kalian setiap hari."


Tin tin,


Sebuah mobil memasuki gerbang. Tak lama keluar dua orang dari sana, yang adalah kakek neneknya Dariel. Melihat ada Roze ditempat ini, sudah pasti keduanya menghampiri.


"Roze, kenapa hanya di luar? Ayo kita masuk." Jenni menyapa dengan berusaha bersikap sebaik mungkin.


"Aku hanya menemui Darriel sebentar. Lain kali aku akan mampir ke dalam." Roze membalas ajakan dengan sikap cukup ramah pula.


"Riel, masuklah dengan kakek nenekmu. Lain kali pulanglah dengan bunda."


"Baik, tapi peluk aku sebentar." Keduanya berpelukan.


Sayang, baik-baik disini ya, tetaplah sehat dan jangan sakit lagi.


Roze pergi bersama mobilnya. Bersamaan dengan itu, seseorang pulang. Ia tak lain adalah Jevander Park. Pria itu ngotot untuk terbebas dari penjara ruang perawatan.


"Ayah, kau baru datang, bunda baru saja pergi." Wajah Darriel masih tampak girang pasca pertemuan dengan ibunya setelah menahan rindu berhari-hari.


"Bundamu kemari? Owh, kenapa tidak memberita ayah lebih awal?"


"Memangnya kenapa ayah harus tahu? Tidak ada hubungannya sama sekali."


.


.


Di rumah sakit.


Karena ayahnya sudah bebas dari ruang perawatan, Ezra kini tinggal seorang diri. Gadis remaja itu termenung di atas ranjang kecilnya.


Tak lama pintu terbuka.


Muncul seseorang yang tidak pernah diduga sebelumnya. Nana Park, disusul ayah ibunya dari belakang.


Aura positif yang terpancar dari diri Nana, memberi kesejukan baru bagi perasaan Ezra. Senyum tulus Nana benar-bebar membuat hati menghangat seketika.


"Sebelum pergi, aku ingin kita benar-bebar berbaikan." Semakin mendekat lalu mendekap tubuh Ezra yang hanya menatapnya sendu. "Ayo kita jadi teman mulai sekarang. Aku harap, kau benar-bebar bahagia kedepannya, Ezra." Memberi elusan di punggung Ezra.


Hening, belum satu kali pun Ezra bicara.


"Aku pergi ya,"


"Nana, maafkan aku." Terasa tangan Ezra membalas pelukan, membuat perasaan Nana semakin yakin jika ketulusannya bersambut. Nana cukup paham, permintaan maaf ini adalah prihal teragedi yang melibatkan mereka berdua di masa lalu


"Ya, aku memaafkanmu. Jadi, ayo berteman meskipun dari jarak jauh. Aku ... Kim Nana, akan menjadi teman yang baik."


Bukan lagi Nana Park, kini gadis itu kembali sebagai Kim Nana.


Ayah Nana telah berangsur sembuh dari tumor yang dideritanya. Saatnya pula untuk Nana untuk kembali pada ayah ibunya. Keluarga Park juga melepas Nana kembali dengan perasaan haru.


.


.


10 hari kemudian. Secara fisik, kondisi Ezra sudah membaik. Namun bagaimana dengan mental remaja ini, masih perlu penanganan serius.


Menurut analisa menis, Ezra masih terbawa dalam pengaruh suasana mental yang jauh dari kata stabil.


Daniel ditugaskan ibunya untuk menemani Ezra di rumah. Hmmm ... Ini lebih pantas disebut menjaga saudara perempuannya itu, memastikan bahwa Ezra tidak keluar dari rumah untuk saat ini.


Ezra yang introvert-nya tak ketulungan belakangan ini, ditemani oleh Daniel yang ... ya ... seperti yang kita tahu, remaja laki-laki satu ini tidak peka terhadap lingkungan sekitar.


Berulang kali memikirkan apa yang mesti ia bahas sebagai bahan basa-basi drngan sang kakak, terlintas sebuah ide di kepala Daniel.


ERWIN.


Ya ... Suasana akan lebih hidup jika ada kawan sejatinya itu.


[Win, ada tugas untukmu hari ini.]


[Apa?] seperti biasa, balasan datang secepat kilat.


[Pertama, beli buah. Kedua, antar ke rumahku. Ketiga, berbincang dengan miss Indonesia.] Miss Indonesia adalah julukan yang dibuat Erwin untuk Ezralia yang sangat ia kagumi. Entah kagum akan hal apa dari Ezra, Daniel tidak tahu.


[Oke, tunggu dalam waktu kurang dari 20 menit. Tapi aku akan mencatat tugas ini sebagai lemburan. Jangan lupa tambah bonus.]


Bukan hanya bonus. Aku bahkan sedang mempersiapkan hadiah besar atas kinerja bagusmu, Win.


Tepat 19 menit kemudian, seseorang mengetuk pintu. Daniel melompat dari tempatnya.


Membuka pintu. Erwin tampil dengan senyum manisnya, dengan satu tangan mengangkat tentengan ke depan wajah Daniel.


"Apa ini? Buah salak?" hah! Dari semua buah yang ada, kenapa harus buah satu ini? Ini lebih cocok untuk melempar kepala maling. Daniel sedikit merasa gemas.


"Hmmm! Satu, buah salak kaya akan manfaat. Dua, murah meriahhh!" papar Erwin menjawab ketidakpuasan Daniel.


Dengan tenang Daniel menutup pintu agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh Ezra.


"Win, begini ... Miss Indonesia sedang dalam mode Error."


"apaa? Hei! adik kurang aj*r! error? Bisa-bisanya kau memfitnah kakakmu dari belakang?" protes Erwin, tak terima idolanya dibilang Error.


"Tidak percaya? Ayo masuk untuk membuktikannya. Aku khawatir, bukannya dimakan, mungkin saja dia lebih tertarik untuk melempar buah ini ke wajah kita."


.


.


Bersambung dulu ya...