
Guys... Bapak aku lagi sakit dan sedang di rawat di ruang ICU. Mohon doanya ya ...
...****************...
Hanya sebuah senyum kecil penuh makna yang tergambar di wajah cantik Ezra. Semakin merasa bersalah telah mencelakai Nana yang tak bersalah, merasa kecewa bagaimana ibunya ditinggalkan demi orang lain. Perasaan campur aduk itu rupanya mampu membangkitkan sebuah senyuman kecil di bibir manis Ezra.
"Itu artinya ... Kau dan bundamu ... memang sangat berharga dan berarti bagi ayahmu. Aku memang telah salah mengira bahwa, Kau merampas ayahku. Tapi ... Baru-baru ini aku menyadari, dia tidak memilih bundaku karena bunda tidak berharga untuknya."
Senyumannya kembali merekah, namun jelas terlihat menyimpan banyak kekecewaan disana.
Nana menyadari itu. Meskipun belum pernah diposisi Ezra, tapi dia bisa merasakan kekecewaan di hati Ezra.
Pintu ruangan itu kembali terbuka lebar. Mereka sama-sama menoleh.
"Ezra," panggil Jevan. Dari raut wajah yang terlihat, sepertinya orang - orang ini telah mendengar apa yang Ezra katakan.
Ayahnya Nana, kakek neneknya Nana, dan sepasang orang lainnya yang tidak Ezra kenal. Mereka kompak berhenti melangkah.
Ezra tidak begitu percaya diri untuk mengangkat muka di hadapan mereka, sebab apa yang telah ia perbuat. Dia merasa malu juga sedikit takut. Kembali Ezra menatap ke arah Nana, meski tidak benar-benar bertatapan. Ia menarik napas dalam bersiap melanjutkan perkataannya.
"dulu, saat aku masih kecil, bunda berbohong mengatakan ... ayahku sedang bekerja di tempat yang jauh, demi uang yang banyak untuk pengobatan adik kembarku. Bunda memberiku harapan palsu tentang seorang ayah. Karena tidak menyadari bahwa bunda berbohong, aku menunggunya setiap saat. Setiap bangun pagiku aku berlari ke kamar bunda, sambil berharap mungkin saja akan mendapati ayahku yang sudah pulang." kenang Ezra. Dinginnya ruangan ini terasa semakin menusuk bagi setiap mereka yang hanya mampu mendengar tanpa bisa berkata.
"saat kekacauan yang membuat kakimu terbakar, malam itu menjadi malam dimana bunda menceritakan yang sebenarnya padaku, bahwa aku tidak perlu menunggu dan hanya boleh melihat ayah dari jauh. Aku ingin marah pada bundaku tapi aku tidak bisa. Karena aku sadar, hanya bunda yang bisa menerimaku dengan semua keburukanku. Jadi Nana, jangan berpikir untuk mengembalikan ayahmu padaku. Karena sejak awal, dia ... memang tidak pernah menjadi ayahku."
Dengan mengatakan hal ini, Ezra sedang menusuk hatinya sendiri, terlebih bagi mereka yang mendengarnya, terasa amat sangat pedih.
Termasuk Roze Moza yang kebetulan hendak menjenguk Nana bersama sebuket bunga di tangannya. Wanita itu menahan langkah untuk masuk. Mendengar kisah lama putrinya kembali membuatnya merasa sedikit tercubit.
Terdengar suara langkah kaki. Ezra keluar dengan pandangan tertunduk. Arven menyusulnya.
Tidak mengetahui keberadaan ibunya, Ezra lolos melewati pintu dengan langkah lebar. Tidak satupun mampu menahan kepergiannya. Mereka semuanya membisu.
Roze putuskan untuk masuk dan tidak lupa mengetuk memberi tanda kehadirannya. Dengan ramah ia menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu menjenguk Nana.
Mereka terlihat senang, namun bahkan tidak mampu untuk tersenyum. Apa yang baru dikata-katakan oleh Ezra masih mempengaruhi pikuran dan perasaan mereka.
"hai, Nana. Saya ibunya Ezra. Bagaimana keadaanmu?"
Nana menyunggingkan senyum lebar. Ia gerakkan tangannya untuk digapai oleh Roze. Roze pun melakukannya. Tidak ada salahnya untuk menyambut tangan remaja ini, pikirnya.
"Aku sudah sehat. Onty, terima kasih karena datang menjengukku."
Roze mengangguk legah. "maafkan Ezra ya, Nana. Dia tega lakukan ini padamu."
"ini bukan kesalahan Ezra, onty, aku terjatuh sendiri karena kebodohan kakiku." untuk kesekian kalinya keluarga itu mendengar Nana mengatakan ini. Ezra memang tidak mendorong tubuhnya hingga terjatuh.
...----------------...
Di lorong sepi, Arven berhasil menenangkan Ezra dari kesedihan mendalam yang dirasakannya. Mereka saling berpelukan.
"Ezralia, menangislah sampai kau legah. Kakak Arven ada bersamamu."
Seperti permintaan Arven, Ezra terus menangis. Menangis sampai legah. padahal tidak ada yang memarahinya atau menyakitinya, tapi Ezra merasa sangat sedih. Ia sedih atas apa yabg sudah ia katakan di ruang rawat Nana beberapa saat lalu.
"Baiklah, ayo. Tapi sebelum itu, maukah kalau aku traktir makan?"
Ezra mengangguk.
Keduanya berjalan bersama. Arven tidak melepas gandengan tangan Ezra yang begitu membahagiakan hatinya.
Tiba di suatu tempat.
"Ven, tempat apa ini?"
"Tunggu dulu, tolong jangan panggil aku dengan ujung namaku. Itu terdengar seperti kau sedang menyebut nama mamaku. Panggil saja aku Arven."
"Memangnya siapa nama mama kamu?"
"namanya Given. Papaku Arsen. Itu sebabnya aku diberi nama Arven." remaja tampan itu menjelaskannya lengkap tanpa diminta.
"Terus tempat apa ini?"
"kita kan mau makan. Tentu ini tempat makan. Ayo masuk."
Keduanya memasuki tempat yang terlihat sangat-sangat luar biasa itu.
Wah. Ternyata di tempat ini hanya berisi orang-orang yang terlihat luar biasa juga. Ezra merasa penampilannya terlalu biasa jika ia melihat penampilan orang lain.
"Tak apa. Santai saja. Jangan pedulikan orang lain." dengan sikap tenang, Arven benar-benar memberinya ketenangan.
"Arven, apa kamu punya kakak atau adik?"
"Aku punya kakak. Dia perempuan. Dia juga cantik sepertimu. Namanya Venar. Dia sekarang sedang kuliah di Inggris."
"O..."
Makanan datang. Tampilan dari menu yang dibawa menambah kesan kemewahan sesuai dengan tempatnya ini yang memang sangat keren.
Meskipun di luar sana matahari masih memancarkan cahaya, tapi serasa mereka sedang makan malam romantis.
"Papa mamaku sering makan malam romantis disini."
"Oh ya? Tapi, bukankah makanan disini mahal? Kau membawa uang yang banyak?"
"jangan khawatir. Aku sudah bilang, keluargaku tidak ada yang miskin sejak zaman nenek moyang."
Arven seperti tersadar akan sesuatu dan ia merasa tidak enak. "em ... maksudku ... keluarga kita."
"Kau dengan mudah menganggap aku ini keluarga?"
"Meski aku tidak menganggapnya begitu, tapi nyatanya kita adalah sepupu. Nana benar, kau harus kembali ke ayahmu. Aku tidak tahu ada masalah apa sampai kalian dulu terpisah dari paman, tapi ... aku harap kalian bisa maafkan paman Jevander."
"Sudahlah Arven, kita sudah besar. Punya ayah atau tidak, itu sama saja. Sejak awal dia memilih Nana dan ibunya dan tinggalakan bundaku. Itu artinya, kami tidak berharga baginya. Biarlah tetap seperti itu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...