Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?

Daddy! Ibuku Bukan Pilihanmu?
Cepat atau Lambat!


"Bunda! Bunda! Tolong!"


Sedang dalam masa pemulihan dan tidak bisa tudur nyenyak, Jevan terbangun mendengar jeritan seseorang, yang tak lain adalah putrinya sendiri.


Walau sakit pasca operasi masih terasa, pria itu nekat bangun dari pembaringannya. Ya, dalam beberapa jam pasca membuka mata, Ezra selalu menjerit tak karuan, seperti sedang ketakutan.


"Ayah disini. Ayah bersamamu. Ezra, Kau bisa dengar?"


Ezra membuka mata spontan. Lama ia tatap wajah Jevan yang sedang mendekapnya. "Ayah, seseorang terus mengejarku. Bawa aku pergi dari sini." keringat dingin keluar seperti biji jagung besarnya. Ezra benar-benar ketakutan.


"Ayah, ambilkan pisau... aku akan habisi orang itu." masih setengah merancau, Ezra berhasil membuat ayahnya merinding.


Sebentar ketakutan, sebentar berubah berani, sebentar menangis, lalu tertawa dingin.


"Hanya ada kita berdua. Ayah akan menjagamu, jadi jangan takut, ya,"


Sebenta-sebentar berubah, Ezra kembali tertidur saat dirinya merasa aman.


Trauma pasca tragedi yang menimpanya membuat kewarasan Ezra terganggu rupanya. Jevan harus tersiksa menyaksikan anak perempuannya menderita sedikit gangguan pada mentalnya.


Jangan renggut kebahagiaan putriku, Tuhan, mungkin ini adalah teguran untukku sebagai orang tua yang tidak kompeten. Tuhan, tolong kembalikan Ezra seperti sebelumnya, aku berjanji akan melindunginya, dan menjadi ayah yang bisa dia andalkan.


.


"Jevan, ayo bicara di luar."


Roze tidak lagi berbasa basi menanyakan apaka Jevan sudah pulih dan tidak lagi merasakan sakit luka operasinya. Seharusnya untuk seorang pria, luka sekecil itu tidaklah begitu serius.


Jevan yang melihat keseriusan dari ajakan Roze, hanya mengikuti dengan perasaan gembira. Kapan lagi bisa punya waktu untuk bicara dengan Roze, pikirnya.


Hanya menunggu yang ingin dikatakan Roze, Jevan patuh dalam diam.


"Ezra butuh seorang konselor berbakat. Van, aku harap kau bisa kerjasama untuk kesembuhannya."


"Roze, a-aku juga sudah memikirkan hal ini. Tentu aku akan bekerjasama denganmu. Kau bilang saja apa yang harus aku lakukan."


"Hanya itu?"


Pertanyaan singkat itu menghentikan langkah kaki beralas heels 5cm milik Roze yang langsung beranjak pergi setelah menyelesaikan apa yang hendak dikatakannya.


"Bagaima denganmu? Kau sendiri, bukankah kau pun membutuhkan konsultasi ke ahli yang tepat?" begitu halus cara Jevan menanyakan perihal kesehatan mental Roze Moze.


Jevan kembali melanjutkan, "Roze yang dulu aku kenal memiliki wajah ceria dan penuh semangat. Bukan seorang wanita dingin seperti yang ada di depanku saat ini. Roze, aku juga ingin kau sembuh dari semua masa lalu buruk yang Kau simpan sendiri."


Lebih tepatnya ... Kau harus mengesampingkan egomu dan kembali membuka kesempatan untukku. Aku berjanji, di sisa usiaku aku akan membahagiakanmu. Sadar bahwa isi hatinya hanya dianggap sebagai omong kosong, Jevan hanya mampu mengungkapkannya di dalam hati.


"Jangan mempertanyakan tentang kesehatan mentalku. Aku mampu berdiri tegak di depanmu saat ini, menandakan bahwa aku telah berhasil bangkit dari kejamnya dunia yang harus kuhadapi sendirian."


Jevander terasa membeku. Roze bahkan tidak berbalik menghadap dirinya. Merasa bersalah, Wajah Jevan tampak menyesali apa yang baru saja ia sarankan.


"Fokus saja pada anak-anak itu jika memang menginginkan mereka. Bayar semua masa kecil yang sudah mereka lewati tanpa seorang ayah. Aku ... Hanya ingin mereka mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan diusia mudaku."


"Jika memang kau berpikir seperti itu kenapa tidak sejak awal Kau kenalkan anak-anak padaku?" dengan lembut Jevan menahan tangan Roze saat wanita itu hampir kembali melangkah.


"Karena aku tidak ingin mengganggu hidupmu. Aku berpikir belum tentu kau bisa menerima anak-anak yang berasal dari aku. Tapi setelah tahu kau membuka tangan lebar untuk mereka, aku cukup tersentuh."


"Kalau begitu ayo kita menikah dan menciptakan hidup bahagia. Berikan aku kesempatan untuk kembali ke hatimu."


Roze menarik tangannya dengan sopan. "Pernikahan tidak penting bagiku." lalu pergi.


"Roze! Aku tidak akan menyerah! Kau akan kembali padaku cepat atau lambat!" tak peduli koridor ini dipenuhi dengan suaranya, Jevan mantap mengungkapkan niatnya.


"Itu urusanmu." Roze tidak lagi ambil pusing dengan keinginan Jevan.


.


.


Bersambung...