Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Berawal Dari Pesta


"Fara, kamu siap - siap ya, hari ini kita mau main ski, sebentar lagi aku ke kamar kamu", kata Tissa dari sambungan telepon kamar. "Oh oke...", Farada lalu melihat buku kecilnya yang berisi catatan kegiatannya selama di Jepang di tangannya, "bentar ya, aku siap - siap dulu", lanjutnya kemudian.


Teine Ski Resort


Disinilah Farada sekarang berada untuk belajar bermain ski. Lajur untuk bermain ski di tempat ini terbentang melewati dua zona yang di hubungkan dengan gondola.


Farada tergabung dengan beberapa orang yang juga baru belajar main ski dengan arahan dari seorang mentor. Mereka diajarkan bagaimana cara bermain ski yang benar. Walau secara teori Farada sudah pernah belajar tapi secara praktek dia belum pernah melakukannya. Alhasil, dia harus jatuh bangun di atas salju sampai akhirnya mulai sedikit bisa dengan bantuan telaten dari Tissa.


Setelah beberapa kali harus jatuh bangun main ski, Farada lelah, Ia duduk selonjor di atas salju, dari arah belakang Tissa yang sedang meliuk, kaget. Di depannya Farada mendadak duduk, Ia mengerem dengan menjatuhkan diri tepat berhenti di belakang temannya, percikan salju mengenai muka Farada. Farada yang kena ciprakan salju, membalas, Ia mengambil sebongkah salju dan melemparkannya ke badan Tissa. Tissa pun membalas lemparan tersebut, Ia pun tak mau kalah, dan membalasnya. Aksi lempar - lemparan salju pun terjadi di iringi tawa cekikikan mereka berdua.


Tiba - tiba...Plaakkk !!


Lemparan Farada tepat mengenai muka seseorang yang melintas lewat tengah bermain ski. Orang tersebut terjatuh karena kaget.


"Heiii!!...siapa yang melempar hah !!", tanya pria tersebut berteriak sambil bangun, Ia jatuh terjerembab.


Mati gue !...batin Tissa, Ia mengenal pria yang kena lemparan Farada tersebut. Pria tersebut menatap tajam padanya dan kemudian beralih pada Farada yang segera berbalik badan dengan muka ketakutan.


Sebelumnya...


Molan dan Tommy sedang bermain ski di tempat yang berbeda, mereka yang sudah terbiasa, mengambil track di bagian umum. Namun, ketika melewati sekelompok gadis yang sedang istirahat bermain ski sambil ngobrol, Tommy tiba - tiba berhenti, naluri play boy berontak. Ia tanpa permisi ikut bergabung dengan para gadis yang rata - rata cantik tersebut. "Hai gadis...boleh ikut nimbrung ya", dengan pede nya Tommy ambil tempat di sebelah salah wanita yang berasal dari Jepang.


"Aishh...ini bocah nggak bisa liat yang bening - bening dikit, maen sosor aja dah", gerutu Molan yang juga ikut berhenti, tapi Ia hanya berdiri, tak ikut bergabung. "Woy..ayook!", ajak Molan setelah itu, namun teriakannya tak di gubris oleh Tommy, dia tetap sok akrab dengan wanita - wanita itu.


"Ah bodo amat dah lu!", Molan tak punya waktu, Ia segera meninggalkan temannya tersebut dan melanjutkan meliuk - liuk di salju. Namun waktu dia berbelok ke arah yang sedikit datar, tiba - tiba muka dan matanya terkena lemparan taburan es, Ia kaget dan terjatuh.


***


"Maafkan teman saya tuan, dia nggak sengaja", Tissa segera minta maaf. Dia melihat aura amarah di wajah Molan ketika pria tersebut mau menghampiri Farada.


Molan kemudian berhenti dan melirik Tissa, Ia berusaha mengingat, " kamu salah satu karyawan hotel xxx, bukan?". Tissa mengangguk ketakutan, pria dihadapannya ini terkenal kasar jika marah. "Maaf tuan, kami tadi sedang bermain lemparan salju, nggak ngeliat tuan lewat", katanya sembari menangkupkan tangan di dada. Molan menahan amarahnya kemudian dan berusaha memasang kembali kacamata pelindungnya. "haduuhh...liat - liat makanya kalo main lemparan es, disini banyak orang lewat, kal..".


"Ehh..ada apa ini?", sekonyong - konyong Tommy datang dari arah belakang, Ia berhenti di dekat Farada dan melihat gadis tersebut sedang ketakutan. "Kamu kenapa? kok ketakutan gitu?", tanyanya dengan suara dibuat selembut mungkin. "Yaelah, ini lagi, laler ijo kalo ngeliat perempuan !, maunya nimbrung aja!", Molan kemudian meraup salju dan melemparkannya pada Tommy. "Oh, kamu habis dimarahin dia...aduh..sakit bro!, kira - kira dong!", Tommy menggerutu sambil membersihkan percikan es di mukanya yang terkena lemparan Molan.


"Ayo..!, pergi dari sini!", perintah Molan tanpa hiraukan gerutunya Tommy. Molan kemudian segera memasang kembali panel ski di kaki dan pergi, tapi baru akan mengayuh tongkatnya, Ia tersandung dan kembali terjatuh. Tommy tertawa terbahak, sedangkan Farada cekikikan sambil menutup mulut dengan membuang mukanya ke samping, begitupun Tissa.


"Diam !", teriak Molan membentak, lalu buru - buru meninggalkan mereka, Tommy kemudian menyusul di belakang, masih dengan tertawa - tawa.


Setelah keduanya pergi, Farada menghampiri Tissa dengan merangkak, "kamu nggak dimarahi orang itu nanti?".


"Nggak apa - apa, dia memang kasar tapi bukan kejam, baik dia sebenarnya mah", kata Tissa cuek, "ayo, kita lanjutin, tapi pelan - pelan Fara, di depan turunannya agak curam".


***


Di kamar hotel, Farada merebahkan badannya di sofa setelah Ia mandi air hangat. Cuaca yang minus membuat suasana jadi mager. Seharian ini dia bermain ski membuat badannya lelah. Apa kabar usaha gue yah?, dua hari ini belum ada kabar dari Dian? gumamnya pelan, kemudian matanya tertuju pada ponsel di nakas.


"Halo mbak Dian, apa kabar?", katanya setelah sambungan terhubung dan merebahkan kembali badan di sofa.


"Hai kak Fara, aiihh..yang sedang liburan baru ngasih kabar, gimana disana? enak nggak?, lagi dimana nih sekarang?", cerocos Dian di seberang.


"Duh..!, nanyanya satu - satu dong!, kabarku baik, aku lagi dikamar nih sekarang, tadi seharian main ski", Farada menjeda sebentar, "gimana kabar disana, katering?, lancar nggak?", tanyanya.


"Alhamdulillah, lancar, eh iya...kemarin ada ibu - ibu datang, berdua. Mereka nanyain kamu, trus aku bilang kamu lagi keluar kota, nggak bilang ke luar negri. Soalnya mereka nanyanya detil, katanya kamu ada janji tapi nggak datang".


"Hah..?, ibu - ibu?, siapa yah?, aku ada janji apaan?", Farada berusaha mengingat - ingat, "perasaan aku nggak ada janji apa - apa dengan ibu - ibu deh, trus..? mereka bilang apa lagi?", sambung Farada kemudian.


"Yaa..nggak nanya apa - apa lagi, cuma manggut - manggut doang trus setelah mereka pesan minum sebentar lalu pergi, tapi sebelumnya mereka memaksa minta nomor hp kamu, yaa...aku kasih aja jadinya", kata Dian.


Ting ..tong !


Bel kamar Farada berbunyi.


"Mbak Dian, udah dulu ya, ada tamu kayaknya", Farada perlahan berjalan ke pintu, "yang penting semua lancarkan?, kalo ada apa - apa tolong tangani dulu disana ya", ucapnya sambil melihat kearah lobang kaca kecil pintu, siapa tamu yang datang.


"Oke kak, have fun disana ya", Dian kemudian memutus sambungan telepon.


Tissa masuk sambil membawa satu set pakaian terbungkus rapi. "Apa itu Sa?", tanya Farada sambil mengekori Tissa menuju sofa.


Farada gelengkan kepalanya, "Nggak bawa sih", katanya sambil meraih gaun dari tangan Tissa. Farada tidak suka acara pesta - pesta sebenarnya, tapi karena ini acara yang diadakan oleh pihak klub hotel, mau tak mau dia harus ikut.


"Cobain dulu deh, kamu nggak suka acara party - party gitu ya?", ujar Tissa karena melihat mimik muka Farada yang ogah - ogahan. Farada tersenyum lalu gelengkan kepalanya, "bukan nggak suka, tapi memang nggak ada waktu untuk acara begini disana", Farada berusaha mengelak.


Farada lalu mencoba gaun yang diberikan Tissa, gaun yang pas membaluti tubuhnya. Tissa sedikit membelalakkan matanya. Penampilan cantik tomboy Farada berubah menjadi gadis cantik nan anggun. "Fara, kamu kayak bunglon deh...", tanya Tissa. "Hah..?, kok bunglon?", Farada yang sedang mematut dirinya depan kaca besar berpaling ke arah Tissa heran.


"Kamu itu tadinya yang terlihat tomboy, tiba - tiba berubah loh".


"Laahh..bisa gitu haha, biasa aja ah".


"Ehh serius, emangnya kamu nggak pernah pake gaun yah?", selidik Tissa.


"Jarang sih, aku biasanya pake stelan, kalo nggak pake jeans paling pake kulot atau rok panjang, itu juga jarang, seringnya pake jeans hihi", ucap Farada sambil berputar - putar bak seorang putri. "Acaranya jam berapa sih?".


"Jam 7 malam, ya udah...aku balik dulu ke klub di bawah ya, ntar aku kesini lagi, kita barengan kesana", Tissa berkata sambil berjalan kearah pintu. "Siip...", Farada mengangkat jarinya membentuk huruf O.


***


Pesta.


Dentuman musik disko bergema di aula yang terhubung dengan kolam berenang di gedung yang terpisah dari bangunan hotel. Acara pesta sudah dimulai. Acara tertutup yang terbatas pada undangan tertentu. Beberapa pasang pria dan wanita dari berbagai negara terlihat berjoget mengikuti alunan irama musik disko yang menghentak.


Farada dan Tissa juga ikut bergabung, tetapi mereka mengambil tempat terpisah, di pojok agak jauh dari lantai joget. Lalu Tissa mengajak Farada untuk bergoyang, tetapi gadis itu menolak, "kamu aja, aku disini nggak apa - apa kok", katanya sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok. "Yaudah, kamu disini ya, jangan kemana - mana loh, aku nggak enak kalo nggak ikut, kan klub yang ngadain, ntar aku di tegur".


"Iya udah sana, nggak apa - apa", Farada mendorong Tissa untuk segera meninggalkannya.


Selang beberapa saat kemudian, tiba - tiba arena pesta yang tadinya gelap berubah terang. Tommy lalu mengambil alih acara, musik pun berhenti.


"Mari kita sambut yang punya acara kali ini, yang khusus malam ini mengadakan pesta...Molan Pangestu !", Tommy lalu menunjuk ke arah seseorang.


Hadirin tepuk tangan dengan sorot mata tertuju pada tangga. Molan terlihat dengan wajah sumringah berjalan turun menuju pintu kaca penghubung aula dengan kolam berenang, ini tempat sebenarnya acara berlangsung. Hadirin pun segera berpindah mengikuti dari belakang.


Farada masih terpaku berdiri bersandar di tembok, bau alkohol terasa menyengat di hidungnya, Ia pusing. Dari arah lift, Ia melihat seorang wanita berjalan seorang diri dengan langkah anggun tapi terkesan angkuh menuju kolam berenang tempat acara yang sekarang ini berlangsung.


Sementara itu musik dansa pun sudah di perdengarkan dari arah luar. Farada yang masih betah dengan kesendiriannya tiba - tiba di kagetkan oleh Tissa yang datang menghampirinya, "Hei...ayo kita gabung disana, ngapain kamu sendiri disini", Tissa pun menarik lengan Farada yang terpaksa harus mengikutinya. Tetapi, ketika mereka sampai diluar, Tissa langsung di ajak dansa oleh seseorang. Kembali, Farada harus gigit jari di tinggal sendiri. Ia bingung harus ngapain, dia belum pernah ikut acara - acara seperti ini. Dalam kebingungannya tersebut, seorang pria perawakan bule tanpa basa basi menggamit tangannya untuk mengajak berdansa. Bau alkohol tercium dari mulutnya.


Tommy berbisik pada Molan ketika dia melihat Donna terlihat menghampiri mereka. "Bro, itu Donna kesini...". Molan mengikuti arah pandangan Tommy, "Hadehh..., lo ntar ambil alih acara, gue mau kabur dari sini", balas Molan pada Tommy sambil melemparkan senyum palsunya ke arah Donna.


"Kamu kok nggak ngasih tau aku kalo kamu udah disini, tadi aku nungguin kamu loh!", ujar Donna sambil memeluk dan mencium pipi Molan yang hanya diam tak menjawab. Tommy membuang mukanya melihat adegan tersebut, Ia lalu berpindah tempat.


Farada mengikuti alunan musik dengan kaku. Awalnya, pria bule tersebut masih sopan, tetapi ketika tangannya mulai memegang pinggang, dan menarik tubuhnya hingga menempel, Farada terperanjat, dengan gerakan reflek Ia mendorong pria tersebut. Posisi mereka yang berada di tepi kolam berenang membuat pria tersebut terjungkal ke dalam air. Farada sendiri juga kaget, Ia ketakutan sambil menutup, "maaf..", ujarnya sambil lari dari tempat itu.


Tetapi, kejadian itu justru jadi tontonan menarik orang - orang sekitar, mereka tertawa, termasuk Molan, dia tertawa paling kencang, dan menghampiri pria bule temannya itu untuk membantu keluar dari air.


***


Farada sampai di sebuah ruangan yang agak jauh dari tempat tadi. Ia berencana ingin langsung kembali ke kamarnya, tapi Ia berhenti sebentar menarik nafas, kakinya juga pegal. Ia duduk setelah Ia melihat sekeliling sepi, lalu mengurut perlahan kakinya, Ia tak terbiasa memakai sepatu heels, walau hak sepatu tak begitu tinggi, tapi tetap kakinya terasa cenat cenut.


Ia merenung sejenak sambil melirik jari manisnya yang melingkar sebuah cincin perak. Lalu di keluarkannya dari jari manis. Bicara tentang sebuah cincin Ia senyum sendiri, tak menyangka gara - gara cincin tersebut akhirnya dirinya sampai disini, di tempat ini.


Cincin yang Ia putar - putar di tangannya tiba - tiba lepas dan bergulir ke lantai, Ia berdiri untuk mengejarnya, tapi cincin tersebut berhenti bergulir di kaki seseorang. Farada mendongak dan membulatkan matanya, Molan !. Pria tersebut mengambil cincin yang tergeletak dekat sepatunya.


"Sini cincinku..!", minta Farada tanpa basa basi. Molan tak hiraukan permintaan Farada, Ia melihat cincin tersebut


dengan muka konyol, lalu memasukannya ke dalam kantong celananya. "Sini dong..jangan becanda!", paksa Farada sambil berusaha merogoh kantong celana Molan.


Tiba - tiba Molan menarik tangan Farada ke sudut ruangan yang agak tersembunyi. Dari arah pintu belakang terlihat Donna berjalan sambil celingak celinguk mencarinya seseorang. Molan mendorong tubuh Farada ke tembok, dan bersikap seolah sepasang kekasih yang sedang berci**man. Farada tanpa berkutik tak bergerak, "Sstt...! diam!", jari Molan menempel di mulut.


Donna sekilas melirik kearah mereka lalu membuang pandangannya.


-


Lanjut


[Note: semua percakapan di buat dalam bahasa Indonesia]