
Restu mengedarkan pandangannya kearah pintu kedatangan terminal II bandara Soetta dan melihat satu persatu penumpang yang baru saja tiba dari berbagai kota Indonesia. Sedikit terlambat tapi ketika melihat papan digital kedatangan, pesawat dari Bali baru saja landing, jadi besar kemungkinan Farada belum keluar.
Benar saja, beberapa saat dari kejauhan sosok yang di tunggu terlihat berjalan berdua dengan Tissa sedang menyeret koper mereka masing-masing.
Restu melambaikan tangannya memberitahu posisinya yang kemudian segera di hampiri gadis tersebut.
Tissa mengangguk hormat pada Restu, "Sore Pak Restu."
"Sore," Restu menjawab pendek dengan senyum cukup ramahnya. "Penerbangannya, lancar?" sambung pria tersebut berbasa-basi.
"Alhamdulillah, lancar Pak! cuma tadi delayed aja beberapa menit," sambung Tissa yang kemudian melambaikan tangannya kepada dua orang terlihat sudah menunggunya. "Maaf Pak Restu ... Fara, orangtuaku sudah menunggu, aku langsung berangkat ya."
Restu mengangguk.
"Oh, iya Sa. Salam sama orang tua kamu ya, kapan waktu aku main kerumahmu deh," ujar Farada sambil lambaikan tangannya. "Sampai ketemu lusa!"
"Sip!" Tissa mengangkat tangannya membentuk huruf O.
"Sudah lama, Mas?" tanya Farada setelah Tissa melangkah menjauh. Ia mengiringi langkah Restu meninggalkan area bandara menuju parkir mobil.
"Belum sih, saya pikir tadi akan terlambat karena sempat tertahan di tol, ada kemacetan parah!"
"Iya, tadi pesawatnya harus ganti, aku dengar pesawat sebelumnya ada sedikit kerusakan setelah terbang dari Lombok."
"Ooh!" Restu bergumam sambil membukakan pintu mobil buat Farada lalu ambil alih koper yang berada ditangan gadisnya tersebut kemudian memasukkannya ke bagian jok belakang.
Tumben! Pikir Farada tercenung mendapat perlakuan hangat dari pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. Biasanya cuek aja!
Perlahan mobil Camry Restu meninggalkan area parkir bandara lalu segera menuju tol.
"Semalam, saya sudah ngobrol dengan orang tua kamu bicarakan rencana pernikahan kita ini."
Farada menoleh, Ia menyimak. "Terus ... tanggapan mereka, gimana?"
"Prinsipnya, mereka sih setuju aja. Mama kamu pikir lebih cepat lebih baik. Kalau Papa kamu ... beliau juga setuju, hanya saja, ingin bicara lebih dalam lagi dengan kamu mengenai hal ini." terang Restu sambil menggerutu karena jalanan tersendat macet.
Farada sedikit kaget lihat Restu menggerutu dan memukul pelan setir mobil hanya karena macet. Pria yang biasanya selalu tenang dan dingin hadapi situasi seperti ini, kali ini berbeda. Sepertinya sedang ada masalah. Ia melirik wajah calon suaminya itu, ada yang aneh menurutnya.
"Kenapa?" tanya Restu karena merasa diperhatikan.
"Mmh ... kamu lagi ada masalah, Mas?" tanyanya ragu.
Restu gelengkan kepala cepat, "Nggak? emang wajah saya terlihat sedang ada masalah?"
"Hm, gimana yah? Yaa ... begitu, terus muka Mas sebelah kiri seperti ada yang aneh gitu, atau ... Mas lagi sakit gigi?"
Restu mengusap pipi kirinya, dan memastikannya lewat spion. Ternyata masih membekas tamparan Sylvia kemarin. Walau tidak terlalu kencang, tapi cukup terasa karena wajahnya yang putih hingga rona memerah sedikit kentara.
"Mas?" ulang Farada menyadarkan Restu dari diamnya.
"Oh, pipi saya ini digigit nyamuk semalam, tanpa sadar saya menepuknya agak keras."
Farada mengernyit dahi mendengar jawaban absurd calon suaminya itu. Pikirannya jadi melebar, "kamu berantem lagi dengan Molan?"
"Hah? ... kok tiba-tiba bawa nama Molan? ini nggak ada hubungannya dengan dia." Seketika diingatkan dengan Molan, wajah Restu berubah karena adiknya tersebut berhasil menjebaknya kemarin. Dia ingin memberi kejutan!
"Oh, maaf Mas, bukan ingin bawa nama Molan. Soalnya kamu dan adikmu itu pernah berantem, kan? aku pikir kembali terjadi salah paham."
Farada masih ingat betul soal baku pukul dirumah Molan beberapa bulan yang lalu. Dia masih terbayang betapa beringasnya seorang Molan yang terkadang bertingkah konyol dihadapannya. Ah ya! apa kabarnya dia sekarang?
"Iya, kan berantemnya juga karena kamu, lupa ya?" Restu memandang Farada sinis.
Farada ingin menyanggahnya. Bukankah mereka ribut karena sebuah fakta yang baru terungkap? Walau, dia pun ada andilnya disitu. Akhirnya gadis itu memilih diam, jika obrolan ini dilanjutkan ujungnya pasti dirinya dengan Restu yang ribut.
"Kenapa? Kok kamu diam?"
"Nggak apa-apa, aku lapar tadi belum makan siang di hotel sebelum berangkat," Farada mengalihkan pandangannya keluar jendela kaca.
"Nanti setelah keluar tol, kita makan dulu," jawab Restu lalu kembali fokus ke jalan raya yang macetnya sudah mulai mengurai.
Restu akhirnya menjawab juga karena Farada beri isyarat terganggu.
"Halo?"
"Mas, surat pengunduran diriku sudah aku serahin sama sekretaris kamu. Aku perlu tanda tangan untuk lampirannya, tapi kamu pergi katanya!"
Restu terdiam sejenak, wajahnya berubah murung. Tapi sekali lagi, egonya mendominasi.
"Oke! Aku lagi ada perlu diluar, be-" omongan Restu terpotong.
"Tolong tanda tangani, besok aku ambil! Aku perlu untuk tempat kerja yang baru lusa nanti."
Farada kembali menoleh kearah Restu, suasana dalam mobil yang hening membuat percakapan mereka lamat terdengar. Dan itu suara perempuan! Sepertinya sedang mengomel?
"Kamu memangnya pindah kemana?" tanya Restu masih fokus berbicara di ponsel, yang tanpa sadar gadis disebelahnya sedang memperhatikannya.
"Kamu nggak perlu tahu, dan tak perlu mencari tahu, karena itu bukan urusan kamu."
lalu telepon langsung diputus sepihak dari seberang sana.
Restu berdecak dan ketika meletakkan ponsel di nakas mobil, pandangannya bersirobok dengan Farada.
"Itu ... ada staf yang mengundurkan diri kemarin, tadi dia mencari aku karena belum aku tanda tangani suratnya," terang Restu kemudian. Dia tak ingin Farada berpikir macam-macam terhadapnya. "Bukan sesuatu yang penting!"
Farada menatap manik mata Restu sejenak, lalu mengangguk tanda mengerti. Walau itu ... Menyisakan banyak tanya dalam hatinya, karena ada yang aneh dengan sikap Restu ini. Apa itu tadi? dengan karyawan sendiri bicaranya? ... Aku - Kamu? Tapi Farada memilih untuk tidak membahasnya.
***
"Dek, ayo ke ruang depan, papa nunggu kamu, ada yang mau di obrolin."
"Iya Ma, sebentar adek lagi beresin berkas yang mau dibawa ke kantor, lusa."
Setelah membenahi berkasnya, Farada kemudian keluar kamar menyusul mamanya menemui sang papa di ruang tengah.
"Kenapa Pa? ..." ujar Farada langsung mengambil tempat di tengah antara papa dan mamanya tersebut, Ia sempat melirik jam di dinding menunjukan baru pukul 8 malam.
Pak Handoko mematikan televisi kemudian melepas kacamatanya dan melihat anak gadisnya itu sejenak, lalu bertanya, "Gimana pekerjaan kamu, ada kendala?"
Farada gelengkan kepalanya pelan, "Baik Pah, lancar nggak ada kendala. Lusa, aku sudah mulai kerja di Luxury Jakarta ini. Padahal aku udah nyaman di Bali, ehh ... di pindah. Macet-macetan lagi deh!" rungutnya.
"Ya, namanya kerja perhotelan Fara, apalagi yang punya banyak cabang seperti Luxury itu, harus siap di rotasi." ujar Pak Handoko tersenyum.
"Kalau Mama sih senang kamu di rotasi kesini, jadi nggak jauh-jauh dari Mama. Masa punya anak cuma dua tapi dua-duanya di luar kota semua?" sambung Ibu Herlina kemudian, "Oh ya, kakak kamu Farhan dalam satu minggu ini mungkin kembali dari tugas di Libanon, rencananya langsung ambil cuti."
"Oh ya? duh ... udah kangen banget aku sama Bang Farhan!" Wajah Farada berubah antusias. Dia sudah lama sekali tak bertemu dengan kakak laki satu-satunya itu, karena sedang tugas negara di Libanon.
"Mudah-mudahan nanti bisa sekalian menghadiri pernikahan kamu," sahut sang mama selanjutnya.
Farada terdiam. Entah mengapa, bicara tentang pernikahan dia ini, menjadikan semangatnya redup. Kadang, Ia ingin mencari sebuah waktu untuk merenung dan bertanya benar kepada hatinya. Benarkah dirinya akan menikah dengan Restu? pria yang begitu dikagumi di awal dulu.
Pernah dia mencari jawaban, tapi yang muncul justru keraguan, atau dia mengalami sindrome menjelang nikah? Banyak pasangan yang sudah mendekati hari H pernikahan justru malah ribut karena banyak hal. Tetapi setelah menikah justru mesra dan akur. Itu juga dialami oleh kakaknya Farhan dengan Kak dora. Apa dirinya juga seperti itukah?
"Fara? Kamu kok jadi melamun?"
Suara papanya membuyarkan lamunan Farada. "Eh ... Papa, ngomong apa tadi?"
Pak Handoko hembuskan napasnya perlahan. Dia merasa anak gadisnya tersebut meragu. Dia memperhatikan wajah anaknya itu beberapa saat. Lalu, "Papa mau tanya benar sama kamu ... Sebenarnya, kamu siap nggak menikah dengan Restu? tepatnya, apa Restu itu memang sudah pilihan hati kamu?"
Farada langsung tertunduk mendengar kalimat papanya tersebut. Narasi yang juga merupakan sebuah tanya dalam hatinya.
Sedangkan Ibu Herlina hanya diam. Dia saat ini menyerahkan sepenuhnya ke Farada, tak ingin memaksanya lagi. Walau kemarin malam dia sudah melihat kesungguhan Restu sewaktu meminta pernikahan mereka dipercepat. Tapi, saat ini dia melihat anaknya tidak antusias sama sekali kalau bicara pernikahannya. Hal itu Ibu Herlina tangkap dimulai ketika berbicara di telepon sewaktu Farada disuruh kembali dari Jogyakarta dulu.
"Mama ... Papa, boleh nggak adek minta waktu tiga hari ini berpikir, merenung? adek mau bertanya ke hati adek dulu," sahut Farada perlahan dengan wajah memohon.
Pak Handoko dan Ibu Herlina serempak menghela napasnya, "Iya Dek, Itu lebih baik!"