
"Res...kamu bener-bener nggak ingat sama aku ya? dulu kita sempat beberapa kali bertemu, waktu kamu kuliah di London," tanya Samantha membuka percakapan, gadis itu kemudian mengambil posisi duduk. Beberapa kali bertemu, dia merasakan bahwa Restu ini seolah tak mengenalnya, Pembicaraannya sangat kaku sekali.
Restu yang sedang berjalan untuk mengambil air mineral di kulkas, menoleh pada Samantha sambil mengernyitkan dahi, ini pertanyaan yang kesekian kalinya terlontar dari mulut gadis itu, dan Ia berusaha mengingat tapi tak menemukan apa-apa."Hm...mungkin...dulu kita pernah bertemu, cuma karena aku fokus ke kuliah, jadi saya nggak mengingat dengan siapa saya saja pernah bertemu disana," Restu menjawab diplomatis, sambil menyerahkan air mineral pada Samantha. Daya ingatnya dalam mengingat wajah seseorang mungkin sedikit payah!
Samantha manggut-manggut mencoba memahaminya, pria ini memang tergolong kuper kalau boleh disebut begitu, "Kalau...Sylvia Lumintang, ingat?"
Restu terkejut dan tertegun sesaat... mendengar nama itu disebut. Dia merubah posisi duduk, menegak-kan punggungnya. "Kamu kenal dengan Sylvia?" Restu melontarkan pertanyaan balik.
Samantha tersenyum tipis menampilkan kedua lesung pipinya, "Dia sepupu aku..." jawab gadis itu mengunci pandangan Restu, "dan...kita dulu beberapa kali ber-interaksi, ketika aku menemani Sylvia bertemu kamu, disebuah kafe di sudut kota dekat kampus, masih belum ingat?"
Gesture Restu menjadi serba salah setelah mendengar pengakuan Samantha."Ahh..ya, baru ingat!" Restu kembali mengatur posisi duduknya, agak maju ke depan, sambil menggoyangkan telunjuk ke arah gadis manis itu," kamu yang selalu memakai topi itu?, rambut Bob pendek?"
Samantha mengangguk, meng-iyakan. "Aku dan Sylvia sepupu-an dari mama, tapi, papaku asli Inggris, sedangkan Sylvia papanya orang Indonesia asli."
"Oohh...i see, cuma waktu itu kamu kelihatan tomboy banget...dan, saya kira kamu itu bule lho! Ngomongnya juga english."
Ucapan Restu disambut tawa renyah Samantha. "Karena aku lahir dan besar di London, dan baru beberapa tahun ini tinggal di Indonesia. Waktu itu, bahasa Indonesia-ku masih terbata-bata, jadi malu!"
"Dan, sekarang sudah lancar, lebih medog!" sambung Restu menimpali sambil tertawa sampai menampakkan giginya yang rapi.
Samantha tertegun melihat tawa Restu. ternyata pria yang dia sangka manusia dingin, kaku seperti tak tersentuh, ternyata asyik kalau sudah kenal...ketawanya itu loh! aura kegantengan-nya menjadi-jadi. Eh!
"Ngomong-ngomong, Sylvia dimana sekarang, Samantha?" tanya Restu memecah konsentrasi Samantha yang sedang ber-khayal.
Gadis itu mengangkat wajahnya sambil menguasai pikiran, "Panggil Titha aja biar lebih akrab, itu panggilan kecilku...," ujarnya menjeda kalimat, "Sylvia bekerja disini, di hotel ini..." jawab Samantha kembali mengunci pandangan mata Restu untuk melihat reaksi pria di hadapannya ini, yang sukses terperanjat.
"Hah?...oh ya?"
Obrolan terhenti ketika Restu mengangkat tangannya, dia merasa seperti ada orang di balik pintu, samar ada bayangan dari pantulan cahaya lampu koridor luar. Dan, langkah itu seperti menjauh.
"Sepertinya ada orang di luar?" jawab Restu. Beberapa saat baru dia melangkahkan kaki menuju pintu.
"Siapa?" tanya Samantha sambil ikut melihat keluar kamar.
"Nggak ada siapa-siapa, mungkin karyawan hotel atau tamu tadi yang lewat..." jawab Restu melihat ke kiri lalu kanan lorong kamar, dan berpindah melirik jam tangannya.
"Mungkin sih, kan besok ada seminar, jadi tamu banyak yang sudah datang hari ini," Samantha menimpali perkataan Restu, dan juga melirik jam tangannya, "kalau gitu, aku balik ke kamar ya? udah malam juga, thank u waktunya, Res...kapan-kapan kita ngobrol lagi ya," ujar Samantha sambil mengerling dan berlalu pergi.
"Oke...sama-sama," pria itu mengangkat jempolnya.
***
Farada duduk termangu di pinggir kolam berenang yang tak jauh dari kamarnya, malam itu tak ada siapa-siapa selain dirinya, yang sedang bersedih. Tatapannya hampa melihat ke arah air kolam di hadapannya...dagu bertopang di kedua tangan yang di sanggah oleh kedua lutut tertekuk.
Tadi sore, pesanan soto ayam buatan karyawannya telah datang setelah dia menelpon Dian , asisten yang sekarang dia serahkan untuk mengurus kafe di Jakarta dua hari yang lalu. Dia pinta dikirimkan memakai tupperware dengan bumbu yang terpisah-pisah, agar tidak basi dalam perjalanan, serta harus packing yang kuat, agar tak berantakan isinya. Maklum, terkadang paket suka di lempar-lempar atau di hambur-hambur nggak karuan oleh cargo jika sudah di masukan ke bagasi pesawat, bukan?
Di dapur kamar, dengan semangat membara, sambil bernyanyi tak jelas, soto yang dikirimkan Dian lalu Ia panaskan di kompor kecil yang memang di siapkan untuk para karyawan yang tinggal di hotel, kemudian racikannya di tabur sesudahnya.
Setelah semua lengkap, soto khusus itu segera siap untuk di hantarkan ke pangeran kesayangan-nya, idolanya.
Tujuannya, di samping untuk memberi kejutan, agar terkesan sebagai istri yang baik kelak...juga untuk mencairkan suasana yang tadi sore sempat tegang gara-gara si Molan sang trouble maker itu. Huh!
Dengan langkah ringan, dan tersenyum simpul tiba-tiba tubuhnya tertegun sebelum mengetuk pintu kamar Restu. Dia mendengar ada suara samar orang sedang mengobrol. Itu suara perempuan. Suaranya renyah terdengar. Dan, yang membuat kening mengkerut ternyata pangerannya itu bukan manusia cuek, bukan manusia kutub! buktinya, sekarang ini dia mendengar pria itu ikut tertawa menimpali. Obrolan yang begitu akrab. Apa mereka sengaja yah tidak menutup pintu rapat? agar di dengar oleh orang gitu?
Perlahan matanya mengembun. Dia bukan gadis yang cengeng!
"Hai..."
Farada mengangkat wajahnya cepat, air mata yang mengembang dia usap. Dia menoleh ke samping ke arah datangnya suara. Ternyata, Molan berjalan menuju ke arahnya dengan senyum ceria.
Pria menyebalkan!
Farada tak membalas sapaan Molan, Ia sedang tak semangat untuk adu urat leher dengan pria tersebut, dan Ia kembali menatap ke depan dengan malas.
Tapi, tunggu! itu bukan minuman kaleng yang biasa dia acak-acak di kulkasnya, itu ada lambang bintangnya. Dan, bau alkohol tercium dari aroma mulut pria urakan ini.
Farada merebut kaleng di tangan Molan, dan...benar, itu minuman beralkohol. Walau masih dalam toleransi yang di perbolehkan pemerintah. Farada berdecak setelah melihat minuman itu, lalu tanpa basa-basi dia membuangnya ke arah tempat sampah di dekat taman kolam berenang. Lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
"Aiishhh..kamu ini. Aku baru sedikit meminumnya...isinya masih banyak lho itu!" cicit Molan menggerutu sambil mengusap tengkuknya.
Farada hanya diam tak bersuara. Gadis itu tak menanggapi gerutuan Molan. Pandangannya tak berubah menatap air kolam, seolah dia tengah sendiri sekarang.
"Aishh...wanita kalau sedang patah hati, seolah dunia ini kiamat!...oohh wanita, padahal hidup it...awww! sakit Farada!" Molan meringis mengusap-usap lengannya.
"Lebay!"
"Cubitanmu tipis sekali, kayak ditusuk ja...."
"Berisik!" bentak Farada sambil melotot kearah Molan. Setelah itu Ia kembali seperti tadi, memandang air kolam berenang.
Molan memandang terpana, tak percaya gadis itu membentaknya. Sepertinya luka hatinya perih sekali, pikir Molan.
"Maaf, aku cuma nggak mau di ganggu..." ucap Farada lirih. Gadis itu merasa bersalah melampiaskan kekesalannya pada Molan. Eh..tapi pria itu memang mengesalkan, bukan?
Molan merubah duduknya searah dengan pandangan Farada. "Beruang kutub itu, ngapain kamu?" tanya Molan dengan nada datar, berubah serius. Dia ingin gadis itu berbagi, agar rasa kesal nya berkurang.
"Siapa?"
"Laki-laki itu, berbuat apa sama kamu? hingga seorang Farada yang katanya terkenal ceria, bisa dibikin patah hati gini?"
"Aku nggak patah hati..." sahut Farada cepat, bibirnya mengerucut.
"Lah, itu apa namanya? jadi marah-marah..." Molan terkekeh melihat betapa menggemaskan nya Farada kalau bertingkah seperti itu.
Farada diam, dia belum mau bersuara.
"Makanya, kalau jatuh cinta...jangan sampai pikiran di kuasai, cukup hati saja"
Farada langsung menoleh, "Maksudnya?" baru kali ini dia mendengar kalimat seperti itu, "bukannya hati yang berperan ya?" sambungnya kemudian.
"Fungsi akal pikiran adalah mengontrol hati serta anggota tubuh lain...hati akan menangkap apa yang di perintahkan pikiran, jadi..." Molan celinguk-an mencari minumannya yang terbuang.
"Nggak ada minum alkohol!" sambut Farada, seolah mengerti apa yang di inginkan pria ini, "terusin..ih!"
Molan menggaruk kepalanya, "Jadi, kalau cuma hati yang dikuasai cinta, masih ada pikiran nanti yang akan mengontrolnya ketika kamu terjatuh...tapi, kalau pikiran yang dikuasai, suatu saat kamu terjatuh tidak ada yang mengontrol pikiran itu sendiri. Makanya, seseorang menjadi stres, patah hati berlarut, dan depresi dan bahkan sampai bunuh diri!"
Farada menatap Molan tak percaya, bahwa kata-kata itu keluar dari mulut dari seorang yang trouble maker atau urakan. Lalu, dia mencoba mencerna kalimat bijak itu, kemudian manggut,-manggut.
"Aku ngerti...hm...kamu pernah menyukai seseorang? atau jatuh cinta mungkin?" tanya Farada kemudian. Hatinya mulai tenang ada teman bicara.
"Hah?" Molan lalu berdiri dan tiba-tiba dia loncat menceburkan dirinya ke dalam air dan berenang.
Astaga orang ini!
Farada mengusap dadanya, tak menduga melihat tindakan pria itu. Jangan lupa, Molan masih memakai pakaian lengkap yang sangat rapi.
"Sini..kita mandi malam-malam, melupakan gundah di hati...ayo!" teriak Molan, sambil jumpalitan dalam air, timbul tenggelam sambil tertawa-tawa layaknya anak kecil.
Farada kembali geleng-gelengkan kepala sambil tertawa cekikikan melihat tingkah Molan yang menghibur.
-
Bersambung